Ungkapkan lewat tulisan
Jumat, 05 Juni 2015
Rabu, 25 Desember 2013
Horor
The Last Piano
author : Syifa
Cast : Agatha, Raihan, dan Nunik
Berawal dari suatu malam yang sangat
dingin, angin berhembus sangat kencang, gemerincik air jatuh dari langit kini
terdengar lebih keras. Sebuah mobil sedan tua berwarna biru gelap dengan cat
yang sudah lusuh menyusuri jalanan yang berpagarkan pohon besar dengan lambat
namun pasti. Suara petir kini menemani hujan dan angin yang sudah seharusnya
ada dalam pertunjukan alam di malam ini.
Di dalam mobil ada seorang gadis berusia
16 tahun yang mulai terganggu dengan suara angin, hujan, dan petir secara
bersamaan, lalu ia menarik selimut yang sudah jatuh ketika ia mulai terlelap.
Sedangkan pria paruh baya yang sedang mengendalikan sebuah mesin yang bisa
mengantarkannya ke tempat tujuan dan hanya bisa terdiam menyaksikan sebuah polemik
antara angin, hujan, dan petir.
30 menit pun berlalu, kini hujan sudah
mulai mengurangi intensitas airnya, angin yang sudah menjadi angin yang
seharusnya dimalam hari, dan petir yang sudah memelankan suaranya hingga nyaris
tak terdengar sama sekali. Mobil tua itu tiba di sebuah pintu gerbang besi yang
sudah karatan. Pria paruh baya itu keluar dari mobilnya,
“Agatha…ayah mau buka dulu
gerbangnya…kamu tunggu dulu di sini.”, kata ayah yang keluar berjalan sebanyak
3 langkah agar bisa membuka gerbangnya,
namun Agatha hanya diam tak peduli, ia malah semakin menaikan selimutnya. Ayah
pun kembali dan mengemudikan mobilnya agar bisa masuk ke dalam halaman rumah.
“Agatha…bangun, kita sudah sampai.”, kata Ayah sambil mencoba untuk mengambil
barang bawaan di kursi belakang.
Agatha keluar dengan payung yang keluar
terlebih dahulu dari kepalanya, Agatha terus berjalan tanpa menghiraukan ayah
dan barang bawaannya. Kini mereka sudah tiba di depan pintu rumah, ayah menaruh
semua barang bawaannya dan mencoba membuka pintu dengan serangkaian kunci yang
sangat beragam di tangannya,
“yang mana ya?...ah mungkin yang ini, “,
kata ayah sambil terus mencoba membuka pintu, “hah…ternyata yang ini…pintu
sebesar ini, tapi kok kunci nya kecil yah…Agatha, bisa bantu ayah bawa sebagian
barang-barang ini?”, Tanya ayah, tapi Agatha kembali tak mengeluarkan sepatah
kata pun sambil membawa 2 koper dan menariknya.
Memasuki rumah yang sangat besar, Agatha
terus berjalan lurus menuju ruang tengah dan terlihat ada tangga utama yang
sangat besar, namun terlihat agak rapuh. Ayah pun ikut masuk dan menutup
pintunya,
“uhuk…uhuk..uhuk…hauh di sini sangat
berdebu…uhuk..uhuk..”, kata ayah sambil mengibas-ngibaskan tangan nya di depan
wajahnya.
Agatha terus berjalan dan berpikir untuk
menaiki tangga itu, tapi sebelum sampai tangga, Agatha melihat ada sebuah piano
yang tertutup kain putih tepat di samping kanan tangga. Agatha pun melepaskan
kainnya,
“uhuk..uhuk..uhuk…” Agatha pun merasa
sensitif karena debunya, ia melihat lihat piano itu, “Steinway &
Song…klasik…tapi sayang gue gak suka main piano…”, kata Agatha sambil menutup
kembali kainnya. Agatha pun menaiki tangga, namun di anak tangga ke 7, Agatha
sempat terhenti,
“Atha…kamar ayah ada di bawah pojok
kanan, dan kamar kamu ada di atas pojok kiri, kalo ada apa-apa, panggil ayah
aja…”, teriak ayah,
“iya…”, Agatha terus menaiki anak tangga
dan berjalan menuju kamarnya, tapi di dinding tepat di depan Atha berdiri
sekarang ada sebuah lukisan sebuah taman, “hemh…indah sih, tapi kenapa gue
ngerasa Horor yah…”, Atha mengusap lengannya dan mengangkat kedua bahunya.
Atha pun masuk ke kamar, di sana ada
sebuah kursi tua yang membuat Atha agak sedikit terkejut, “wwwuuhhh…bikin kaget
aja…gue kira apa…oke Atha…apa yang harus loe lakuin sekarang? Dan yang harus
gue lakuin sekarang adalah tidur yang nyenyak setelah menikmati perjalanan jauh
dari Jakarta – Yogya, jam 9 lebih 18 menit…hauh…gila..pinggang gue serasa mau
patah, tapi…hmmss..hmmss..badan gue gak enak banget, apa gue mandi
dulu?...ah…mandi nya besok aja, sekarang gue mau tidur…huwwwaaah…”, Atha
langsung menjatuhkan badannya di kasur.
Ayah dan anak itu sudah mulai terlelap
dan waktu pun menunjukkan pukul 24.01, kembali ke bawah tepat di sebelah kanan
tangga, secara perlahan kain putih itu mulai turun, dan Tut piano itu satu
persatu tertekan kebawah dan mengeluarkan serangkaian nada ceria.
Keesokan harinya, Atha pun bangun dengan
sedikit meringis kedinginan,
“hauh…dingin banget yah…jam berapa
sih?”, Atha pun melihat jam tangan yang semalaman tidak lepas dari pergelangan tangannya,
“jam 5 lebih 30 menit...”, Atha pun keluar dari gulungan selimut tebalnya dan
beranjak dari ranjangnya menuju pintu, lagi-lagi Atha merasa terganggu dengan
kursinya, “hhhhwwuuuhh…loe…kursi, hanya sebuah kursi dan akan menjadi sebuah
kursi untuk selama-lamanya, loe udah bikin gue kaget dua kali…dasar loe…hauh…bikin
kesel aja…” Atha pun keluar dari kamarnya dengan menggerutu sendiri, kursi itu
pun sedikit bergeser.
Atha mulai menuruni anak tangga, namun
yang pertama ia lihat adalah kain putih nya tergeletak di bawah lantai, Atha
pun turun lebih cepat dan kembali menutup piano itu dengan kain putih,
“aneh banget…perasaan tadi malem udah
gue tutup lagi…”, Atha pun pergi ke dapur, di sana sudah ada ayah yang sedang
memasak,
“selamat pagi…”, kata ayah sambil
menggerak-gerakan tangannya dan mengendalikan wajan,
“pagi…”, jawab Atha yang masih saja
acuh,
“gimana tidurnya? nyenyak?”, Tanya ayah
yang kini sudah menuangkan nasi goreng ke dalam piring,
“kenapa ayah beli rumah ini sih?tangga nya aja
udah tua, udah gitu, jauh sama orang lagi…sejak kapan ayah jadi tipe
individualis?”, Tanya Atha sambil minum segelas air putih,
“Atha…denger ya…bagaimanapun ayah masih
dalam suasana berkabung, jadi ayah nggak mau terlalu deket-deket sama banyak
orang”, jelas ayah,
“tapi gak harus di rumah ini juga
kan…ibu pasti marah kalo liat rumah ini…kotor, banyak debu, dan…Tua.”, papar
Atha sambil melihat ke arah sekitar,
“sudah-sudah…sekarang kamu mulai masuk
sekolah, nanti ayah anterin kamu, tapi sebelum itu, kamu harus cobain dulu
masakan ayah…Wualla…nasi goreng ala ayah…ayo silahkan…”, dengan ragu Atha
mencicipi nasi goreng ayah, dan keraguan itu terjawab dengan rasa kekecewaan,
“kenapa? Gak enak yah…?”, Tanya ayah sambil menunggu kepastian,
“ayah udah liat ekspresi wajah aku
kan…”, dengan datar Agatha beranjak pergi meninggalkan ayahnya,
“gak enak dong…mana…” ayah pun mencicipi
nasi goreng yang lebih kebanyakan garam, “Hauh…asin banget…”, kata ayah sambil
meringis.
Agatha pun pergi ke sekolah bersama
ayah,
“apa ayah nggak masuk?”,
“ma’af, barusan om Adi telpon ayah, dia bilang
dia mau ketemu sama ayah, ada yang mau ia omongin, kamu masuk sendiri gak
apa-apa kan?”,
“yaudah…aku masuk sendiri…dan…jangan coba
jemput aku..aku mau pulang sendiri,” Agatha keluar dari mobil tanpa pamit,
“atha…atha..kalo lagi marah, kamu mirip
sama ibu kamu…”ayah tersenyum sendiri dan mulai mengemudikan mobilnya.
Di lorong kelas yang ramai Atha masih
bingung mencari kelas 2-2, lalu ada seorang gadis berkacamata menghampiri Atha,
“Kamu anak baru ya…”,
“kok loe bisa tau…”,
“ya tahu toh…la wong saya baru liat wajah
kamu…”,
“emh…loe tau kelas 2-2 gak?”,
“wualah…kebetulan…aku juga kelasnya di
sana…oiya perkenalkan nama aku Nunik Pratiwi..”, kata gadis itu sambil
mengulurkan tangannya.
“Unik….?”, kata Atha agak bingung,
“Nunik mbak…Nuuu…Nik…he..he..”, kata
Nunik sambil tersenyum,
“maksud gue, nama loe
unik…Nunik…cchhh…nama gue Agatha…panggil aja Atha…”,
“owh mbak Atha…”,
“gak pake Mbak…emangnya loe pikir gue
mbak tukang jamu apa?”,
“hahaha…yoowes…Mbak…eh Atha…kalo gitu kita
pergi ke kelas yuk…” Atha dan Nunik pun pergi ke kelas bersama.
Waktu menunjukkan pukul 13.35, bel
pulang pun berbunyi,
“Atha…rumah kamu dimana?”, tanya Nunik
sambil membereskan buku-buku yang masih berserakan di meja,
“rumah gue gak jauh kok dari sini, gue
belum tau pasti alamatnya, yang pasti rumah gue itu terpencil, besar, tua,
dan…emh…di sana ada piano tua,”, jelas Atha sambil beranjak untuk keluar kelas
dan disusul oleh Nunik,
“kamu bilang rumah tua?ada piano tua nya
juga?...walah…jangan bilang kamu tinggal di desa sebelah…”, kata Nunik agak
menyeringai,
“kan udah gue bilang, rumah gue deket
dari sini, kenapa sih dengan muka loe?aneh banget deh…udah hampir sampai, gue
duluan yah…”, kata Atha sambil berbelok arah, Nunik masih penasaran, dia
melihat Atha dari kejauhan.
Setelah sampai di rumah Atha terkejut
dengan tukang kebun yang memakai baju compang-camping,
“wwwwhhuuuhhh….”, wajah Atha menjadi
pucat,
“ada apa toh mbak…”, Tanya tukang kebun
itu,
“gak apa-apa…”, kata Atha sambil
berlari, tukang kebun itu tak meepaskan pandangannya pada Atha.
Melihat anaknya berlari, ayah pun
bingung, “ada apa tha?”, Tanya ayah,
“apa ayah punya tukang kebun baru?”,
Tanya Atha,
“tukang kebun?enggak…emangnya kenapa?”,
“tadi aku lihat di depan rumah ada pria
tua, bajunya robek-robek, trus dia pegang gunting besar, aku kira dia tukang
kebun baru,”,
“owh…mungkin itu pemilik rumah
sebelumnya, dia memang seperti itu, namanya pak Sumardi rumahnya deket kok dari
sini…oiya kata Om Adi, dia mau kamu jagain anaknya,”
“apa ayah pikir di sini tempat penitipan
anak?gak mau…suruh aja baby sitter,”,
“hei…anaknya Om Adi itu seumuran kamu…masa iya
di titipin ke Babysitter?”,
“owh...kirain…”,
“nanti sore dia ke sini…”,
“hemh…”, kata Atha sambil pergi ke
kamarnya, lagi-lagi Atha memperhatikan pianonya dan membuat bulu kuduknya sedikit
berdiri.
Malam pun tiba, saatnya makan malam,
“lha…kata ayah sore, kenapa jam segini
belum datang juga?”, Tanya Atha,
“mungkin dia belum beres packing
barangnya…sekarang kamu makan dulu…ini ayah beli di deket tempat kerja ayah,”,
Atha pun langsung makan nasi yang di campur dengan rendang sapi dan gudegnya
“nah..ini baru enak…”, kata Atha yang makan
dengan lahap, ayah hanya bisa tersenyum.
Suara mobil terdengar semakin dekat,
“nah mungkin itu om Adi…ayah bukain dulu
pintunya yah…”, Ayah pun beranjak,
kini Atha tinggal sendiri, ia merasa ada
yang memperhatikan dari belakang, Atha pun berbalik ke belakang, tapi tidak ada
apa-apa selain piano tua yang tertutup dengan kain putih. Atha pun kembali
mengalihkan pikiran, namun lagi-lagi rasa itu menghinggapi Atha, ia pun kembali
berbalik, dan tetap saja tidak ada apa-apa, “aneh banget…”, dari kejauhan
terdengar suara tawa ayah dan om adi,
“atha…nil oh yang nama nya om adi
itu..”,
“heuh..malam om…”,
“dan ini Raihan anak nya om Adi…oiya
masa iya, Raihan mau dititipin ke Babysitter,”, kata Ayaha, om adi pun tertawa,
“atha pikir anaknya masih kecil…ternyata
seumuran…”,
“gue 5 bulan lebih tua dari loe…”, kata
Raihan
“ahahaha…ayo kita makan malam…”, kata
Ayah mencairkan suasana.
Waktu kembali menunjukkan pukul 24.01,
lagi-lagi kain putih itu secara perlahan jatuh ke lantai, tut piano mulai
tertekan dan menjadi sebuah nada yang tak beraturan, seperti sedang meluapkan
rasa kesal dan marah.
Raihan mulai terganggu dengan suara
piano itu,
“sssshhhh…berisik banget sih…”, Raihan menutup
kepalanya dengan bantal dan melanjutkan kembali tidurnya.
Keesokan harinya, tepat di meja makan
dengan menu nasi goreng ala ayah,
“ayo nak Raihan di cicipi nasi
gorengnya…”, kata ayah,
“iya om…loe…kalo gak bisa main piano, udah deh
nyerah aja…berisik tau…”, kata Raihan pada Atha yang baru tiba di ruang makan,
“apaan sih loe…yah…aku berangkat duluan
yah…”, kata Atha,
“kamu gak sarapan dulu?”,
“aku sarapan di sekolah aja…”. Atha pun
pergi.
Atha pun tiba di sekolah dengan wajah
kesal,
“kenapa toh tha?”, Tanya Nunik,
“gue kesel aja…ada penghuni baru di
rumah gue…”, kata Atha,
“penghuni baru…tapi firasatku lain…dia
penghuni lama, jauh sebelum kamu datang ke rumah itu..”, kata Nunik yang
membuat Atha bingung,
“maksud loe, cowok sok dewasa yang baru
pindah…euh..maksudnya baru numpang ke rumah gue tadi malam adalah penghuni
lama? Gitu?...”,
“tapi dia bukan laki-laki…dia
perempuan…”, kata Nunik yang semakin membuat Atha kebingungan,
“loe aneh banget sih hari ini?tadi di
rumah loe makan apa sih…?heran gue…”, kata Atha yang mulai meninggalkan Nunik,
namun Nunik tetap terdiam dan membatin,
“Aura
hitam…Merah yang sangat kuat…seorang gadis berambut pirang,…sebuah
piano…kemarahan…balas dendam….”.
Bel istirahat pun berbunyi seperti biasa
Atha dan Nunik pergi ke Kantin, kali ini Atha yang membuka pembicaraan,
“Nik…apa ini perasaan gue aja kali
ya?...setelah gue pindah rumah ke rumah itu, gue ngerasa ada yang aneh…pertama
ada sebuah lukisan yang baru banget gue lihat, dan lukisan itu seperti
menyimpan sebuah misteri, trus di kamar gue…gue kesel banget ma tu kursi…tiap
pikiran gue kosong, adaaaa aja yang gue pikirin tentang kursi itu, udah gitu
yah…di rumah itu ada sebuah piano tua…nama nya Steinway, pas gue searching di
google, itu keluaran tahun 1853..tua banget kan…berarti rumah itu udah ada
sejak zaman penjajahan dulu…yang bikin gue aneh nih yah…gue kan buka kain putih
yang nutupin pianonya, udah gitu gue tutup lagi deh tuh…pas pagi, kain itu udah
jatoh aja di lantai…aneh banget kan…”, jelas Atha,
“tha…apa kamu pernah denger dari orang
sekitar?”,
“hahaha..loe bercanda ya...gue kan gak
punya tetangga…”,
“gini loh…rumah itu…emh…ini menurut dari
cerita orang dulu…rumah itu dulunya rumah dari seorang Menir kaya raya, dia
punya anak perempuan yang punya kelainan mental, suaminya adalah seorang
jendral, dan tentang piano itu, anak perempuan itu sangat suka bermain piano,
bisa di bilang piano itu adalah tempat curhatnya dia, semua nada yang
dikeluarin dari piano itu adalah perasaan si pemain…”, jelas Nunik
“tunggu…tadi pagi si sok dewasa bilang
ke gue kalo loe gak bisa main piano nyerah aja deh…berisik…itu berarti nada nya
nggak enak di denger, dan apa itu berarti dia lagi kesel?tapi aneh…kok gue gak
denger yah?”, kata Atha bingung sendiri.
Semenjak perbincangannya dengan Nunik,
Atha terus memikirkan semua hal tentang rumah itu, tapi itu tidak membuat Atha
menjadi paranoid.
“aku pulang…loe…ayah gue mana?”, Tanya
Atha pada Raihan,
“Bokap loe pergi ke Jakarta sama Bokap
gue…”, jawab Raihan sambil baca komik di ruang tamu,
“owh..kapan mereka balik?”,
“minggu depan…”,
“apa…kenapa biarin dua manusia berbeda
tinggal dalam satu rumah….hauh…”, kata Atha sambil naik ke atas tangga,
“hei…lagi pula loe bukan tipe gue…”,
teriak Raihan, Atha pun masuk ke kamar dan tanpa sadar ia duduk di kursi tua
itu, tiba-tiba aja ada yang masuk ke dalam pikiran Atha.
Sebuah kenangan masa lalu, seorang anak
gadis yang terkurung di kamarnya selama berbulan-bulan lalu anak itu mencoba
untuk bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangannya, Namun suara
Handphone membuyarkan semuanya,
“ayah
memanggil..ya Hallo…”,
“Tha…ayah ada urusan mendadak…kamu gak
apa-apa kan bareng Raihan…minggu depan ayah pulang…udah yah..ayah tutup..”,
“tapi yah…belum juga ngomong…main tutup
aja…tapi…barusan itu apa yah?...hah…Nunik…”, Atha pun menelpon Nunik dan
bertemu di taman.
Dengan sabar Nunik menunggu Atha yang
datang agak terlambat,
“ma’af gue telat…”,
“nda apa-apa…ada apa toh tha?”, Tanya
Nunik
“Nik…makin ke sini makin aneh aja…pas
tadi gue duduk di kursi itu dan loe harus tau, ada yang masuk ke pikiran gue…”,
Atha pun menceritakan semua pada Nunik,
“tha…ada yang mau aku omongin sama
kamu…sekarang ini kamu lagi dikelilingi oleh aura hitam, ada yang mau nyelakain
kamu…dan kamu juga harus tahu…ini tentang piano itu, kamu harus pindah
secepatnya dari rumah itu..”,
“bagaimana bisa?ayah pergi ke Jakarta,
dan gue tinggal di rumah sama Raihan,”, tiba-tiba ada yang masuk ke pikiran
Nunik, Atha akan berteriak minta tolong, Raihan yang tertusuk pisau dan….
“Nik….kenapa…?”,Tanya Atha yang
membuyarkan Firasat Nunik,
“Tha…aku gak mau ini terjadi sama
kamu…sekarang juga..kamu harus pergi dari rumah…kalau bisa Raihan juga harus
ikut keluar”,
“ah serius loe Nik…”, Nunik hanya terdiam, dan
terlihat seperti bukan Nunik, itu membuat Atha ketakutan, Atha pun meninggalkan
Nunik.
Hari mulai gelap, hujan mulai turun,
Atha pun tiba di rumah, ia langsung berkemas, namun selama ia berkemas, ada
sekelebat cahaya yang melintas tepat di hadapan Atha, Atha semakin panic,
“hhhhhaahhh…gue harus keluar dari rumah
ini secepatnya…Raihan…ya..dia juga harus ikut,” Atha pun keluar sambil membawa
koper menuju kamar Raihan, “Han….Raihan…”, Atha terus mengetuk pintu kamar
Raihan, tapi pintu nya tak kunjung terbuka, Atha pun membuka sendiri pintunya,
dan alangkah kagetnya ketika Atha masuk ke kamar Raihan, Raihan sedang mencium
Lem Aibon, “Hei…loe gak sayang sama diri loe apa?”, kata Atha sambil melempar
lem nya,
“hei…apa-apaan nih…”, kata Raihan sambil
mengambil kaleng lem nya, “denger ya…gue lem sepatu gue…ngerti loe?..hei
ngapain loe bawa-bawa koper segala?”,
“Raihan…kita harus keluar dari rumah ini
secepatnya…”,
“kenapa?apa loe takut terjadi apa-apa
sama kita berdua?”, kata Raihan dengan nada meledek,
“sekarang, kita dalam bahaya…”,
“loe aja kali…gue enggak…” kata Raihan
sambil tiduran,
selama perdebatan itu tiba-tiba ada yang
kembali masuk ke pikiran Atha, sebuah buku diari, “Diari…”,
“apa?” kata Raihan yang mulai beranjak dari
kasurnya.
Atha dan Raihan pergi ke kamar Atha, di
sana mereka mencari sebuah buku diari,
“sebenarnya buku apa sih yang loe
cari?”, Tanya Raihan,
“buku…kita harus nemuin buku itu…”, Atha terus
mencari buku itu di rak buku, Raihan mulai mencari di laci, ia membuka laci dan
membalik laci nya,
“apa ini yang loe cari…”, tanpa sepatah
kata, Atha merebut Diari itu dan membukanya, “bahasa apaan nih?”, Raihan mengernyitkan
dahinya,
“mana gue liat…ini…bahasa belanda…lagian
buat apa sih?”,
Atha mengeluaran smartphone nya, ia
mulai mengetik tulisan itu di Google translate “Ik ben niet gek… ‘aku tidak gila’, ze zijn gemaakt als deze… ‘mereka yang membuatku seperti ini’…moet ik uiteindelijk mijn leven?...
‘haruskah aku mengakhiri hidupku’…hah..ini gila…”, Kata Atha sambil membuka
halaman lainnya, “vandaag was een zeer
plezierige… ‘hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan’, Ik stapte uit en speel de piano de hele dag…
‘aku keluar dari kamar itu dan bermain piano seharian’, piano is mijn enige… ‘piano adalah temanku satu-satunya’.” Lalu
Atha membuka halaman terakhir dan tertulis bahwa hari itu adalah hari terakhir
gadis itu menulis di buku diari nya, ia menceritakan betapa kejamnya mereka
(bangsa jepang) membantai seluruh keluarga gadis itu, dan gadis itu mengatakan
bahwa ini adalah akhir dari hidupku.
Lalu pikiran Atha kembali di rasuki,
Atha melihat bahwa gadis itu telah menyaksikan pembantaian seluruh keluarganya
di belakang rumah, “hhhhhaahhh….”, Atha mulai berkeringat dingin…
“loe kenapa?”, Tanya Raihan,
“lukisannya….” Atha pun keluar dan di
ikuti oleh Raihan, Atha melepas Lukisan itu, setelah itu Atha hendak turun,
namun apa yang terjadi, piano itu kembali mengeluarkan suara yang sangat
menegangkan dan tak beraturan,
“tha…loe liat gak?”, kata Raihan agak
ketakutan,
“ya…gue liat…balik badan loe…kita balik
ke kamar loe…” mereka pun mencoba menghindar, namun suara piano itu semakin
keras, dan kini sosok gadis berambut pirang dengan noda darah di dadanya berada
tepat di depan Raihan dan Atha, “pergi loe…”, kata Atha yang menjauh…namun
sosok itu semakin mendekat…Raihan dengan cepat turun ke bawah dan memainkan
pianonya, Raihan memainkan lagu Nina Bobo, sosok itu menjauh dari Atha, dan
kini berada tepat di samping Raihan mendengarkan permainan Raihan dan menangis,
Raihan agak gemetaran,
“Tha…cepet cari cara…gue takut nih…”,
Atha kembali ke kamarnya ia kembali membaca diarinya, di sana di jelaskan bahwa
gadis itu bukan mati di tangan orang jepang, tapi ia mati di tangan orang yang
sangat mencintainya, seseorang yang sangat terobsesi padanya, sementara Raihan
memainkan pianonya, tiba-tiba di belakang ada yang menikam Raihan dengan sebuah
Gunting besar, Atha langsung teringat pada kakek itu, lalu ia hendak turun ke
bawah, namun apa yang terjadi?, Raihan sudah tergeletak tak sadarkan diri
dengan darah yang mengalir di atas tut piano, dan terlihat seorang kakek yang
pernah Atha lihat sebelumnya,
“Raihan…Nunik…”, Atha menelpon Nunik…
“Nik tolong gue…gue beneran dalam
bahaya…”, Atha pun menangis dan mulai ketakutan…Atha pun mencoba untuk keluar
dari rumah, tapi lagi-lagi sosok gadis itu mengikuti Atha, bahkan Sosok itu
terus mendekati Atha.
Atha sudah hampir pasrah, tapi sosok itu
membisikan pada Atha bahwa ia harus menyelamatkan diri dan ungkapkan semua
kasus nya, tapi kakek itu sudah menyadari keberadaan Atha, kakek itu pun
mengejar kemana Atha pergi, Atha pun terus berlari, Atha menemukan jalan buntu,
kakek itu pun hendak menusukan guntingnya pada Atha, tapi Atha menendang kaki
kakek itu hingga ia terjatuh, lalu Atha kembali berlari ke bawah,
“Atha….”, kata Raihan yang sudah sangat
kesakitan,
“loe…tahan dulu sakitnya…”, Atha pun
memapah Raihan keluar dari rumah itu, tak lupa juga Atha membawa lukisan itu,
kini Atha dan Raihan tiba di halaman belakang, terlihat ada sebuah pohon besar
yang sama persis seperti yang ada di dalam lukisan, “ini tempatnya…tempat
dimana orang tua gadis itu dibantai, lalu bayangan masa lalu pun terlihat, Atha
membalikan badannya dan terlihat seorang gadis yang sedang memainkan piano
dengan nada yang tak beraturan, lalu Atha juga melihat ada seorang laki-laki
yang menusuk nya dari belakang hingga gadis itu tewas, dan laki-laki itu adalah
kakek yang pernah Atha lihat. Pikiran lain terlintas ketika laki-laki itu
menggali lubang tepat di bawah piano nya dan mengubur gadis Belanda itu di
dalamnya, setelah itu lubang itu di tutup oleh kayu dan Karpet.
Kakek itu kini sudah bangkit, dan
kembali mencari Atha, ketika Atha hendak berlari, Atha pun terjatuh, kakek itu
mengacungkan guntingnya dan hendak menusuk Atha, namun apa yang terjadi?kakek
itu malah tersungkur di hadapan Atha dan Raihan. Sebuah tombak besar menancap
tepat di punggung kakek itu dan menembus hingga ke jantung,
“dank u….”, sosok itu mengucapkan kata
terakhir dan menghilang, dan masih sempat-sempatnya Atha mentranslate kata-kata
itu di Google Translate.
Nunik pun tiba di rumah Atha,
“Athaaa….” Nunik dengan cepat memeluk Atha..
“loe telat…pertunjukannya udah
selesai…”,
“kamu ini…masih sempet-sempetnya
bercanda toh…hah…darah…”.
Mobil polisi pun tiba, banyak polisi
yang berada di TKP dan mencatat semua keterangan dari Atha.
“ini memang sedikit mustahil, tapi bapak
harus percaya…dan ada satu hal yang ingin aku kasih tau sama bapak…di bawah
piano itu ada jasad pak…”,
“benarkah?...petugas…ayo kita geser
piano itu dan ayo kita lihat ada apa di bawah piano itu. Mereka pun melakukan
pembuktian,
“di sini ada jasad…”, teriak salah
seorang petugas,
“jasadnya masih utuh…ini di awetkan…dan
kau nak…kau sudah memecahkan sebuah kasus, kasus ini adalah kasus mendiang
ayahku, ternyata gadis ini tidak hilang, dia tewas di rumahnya sendiri,
baiklah…kasus sudah terpecahkan..dan kau harus periksa dirimu di psikiater…”,
kata Polisi
“aku normal pak…kalau aku gila, mana
mungkin aku bisa sekolah dan memecahkan kasus mendiang ayahmu?”,
“ahahahaha…kau benar…ada kalanya kita
percaya dengan hal-hal yang memang tidak masuk akal”, para polisi pun pergi.
5 hari kemudian, Ayah dan Om Adi
kembali, Atha dan Raihan sedang bermain di halaman depan rumah,
“hei…anak muda…ada angina pa kalian
bermain bersama?”, kata ayah,
“sore ini anginnya bagus..jadi kami main
bersama”, kata Raihan sambil tersenyum pada Atha
“apa terjadi sesuatu?”, Tanya Om Adi
“tentu saja…kami mengalami suatu
kejadian di luar nalar…”, kata Atha,
“benarkah?”,
“lalu apa kau akan menuangkan kejadian
itu ke dalam sebuah cerita pendek?”, kata Ayah dengan nada menggoda, semuanya
tertawa dan masuk ke dalam rumah.
The End
Senin, 23 Desember 2013
My Inspiration Room
Cerita tentang penghuni Hamparan Harapan...
para tinta yg terdeportasi pun harus kmbali ke daerahnya yang sangat gelap dan berdesakan, si Mr Cartridge yang masih terdiam tak berguna harus masuk kedalam ruang yang sama gelapnya tapi dia memiliki ruang yang cukup untuk dirinya sendiri, si Mrs Earphone akan pergi menemani si pemilik ruangan, tumpukan kertas harus menerima banhwa diri mereka sudah tak layak berada di sebuah tempat datar yang dinamakan "hamparan harapan", tumpukan buku yang merasa terpojokan di hamparan pun akan kembali mrasakan kebersamaan mreka dengan sebangsa mereka di sebuah tempat yang bernama "rak pengetahuan", persahabatan antara tipe x dan balpoin pun akan terus berlanjut, harapan mereka adalah mereka bisa menjadi senjata yang terbaik dan bermanfaat bagi si pemilik ruangan maupun pelajar lain yang ada di dunia ini. tak lupa juga penggaris yang masih belia harus mencoba menjadi yang terbaik dalam segala hal yang harus ia luruskan. seperti halnya gulungan kabel yg tak tearah harus berusaha keluar dari belitan masalah, masalah membuat mereka memiliki rasa kebersamaan. setelah masalah selesai, mereka akan berpisah dan kembali bertemu dalam masalah selanjutnya.
Hamparan harapan pun kini terlihat lebih luas dari sebelumnya, bagaimana tidak? hampir semua imigran telah dikembalikan ke tempat asal mereka. kini Hamparan Harapan hanya memiliki beberapa warga tetap yang memang seharusnya berada di sana. sebuah dunia nyata dan maya bersatu di sekitarnya, Mr. Printer yang belum juga menyadarkan diri membuat semua merasa kehilangan dan semua berharap Mr. Printer bisa kembali terbangun dan mengoceh meski itu terdengar agak mengganggu ketenangan tapi semua sangat merindukan ocehan itu. sang pengeras suara yang pandai bernyanyi pun ikut menemani mereka di Hamparan Harapan. tak hanya itu, sebuah kotak yang terkumpul semua rasa terima kasih pun rela mengisi ruang di Hamparan harapan meski ia harus selalu terpojok bersama sebuah kabel yang bisa menghubungkan kita ke dunia maya.
tak semua yang pergi membawa kehilangan, tapi tak sedikit yang tertinggal merasa bahwa mereka yang pergi meninggalkan sebuah kenangan. — di my inspiration room.
para tinta yg terdeportasi pun harus kmbali ke daerahnya yang sangat gelap dan berdesakan, si Mr Cartridge yang masih terdiam tak berguna harus masuk kedalam ruang yang sama gelapnya tapi dia memiliki ruang yang cukup untuk dirinya sendiri, si Mrs Earphone akan pergi menemani si pemilik ruangan, tumpukan kertas harus menerima banhwa diri mereka sudah tak layak berada di sebuah tempat datar yang dinamakan "hamparan harapan", tumpukan buku yang merasa terpojokan di hamparan pun akan kembali mrasakan kebersamaan mreka dengan sebangsa mereka di sebuah tempat yang bernama "rak pengetahuan", persahabatan antara tipe x dan balpoin pun akan terus berlanjut, harapan mereka adalah mereka bisa menjadi senjata yang terbaik dan bermanfaat bagi si pemilik ruangan maupun pelajar lain yang ada di dunia ini. tak lupa juga penggaris yang masih belia harus mencoba menjadi yang terbaik dalam segala hal yang harus ia luruskan. seperti halnya gulungan kabel yg tak tearah harus berusaha keluar dari belitan masalah, masalah membuat mereka memiliki rasa kebersamaan. setelah masalah selesai, mereka akan berpisah dan kembali bertemu dalam masalah selanjutnya.
Hamparan harapan pun kini terlihat lebih luas dari sebelumnya, bagaimana tidak? hampir semua imigran telah dikembalikan ke tempat asal mereka. kini Hamparan Harapan hanya memiliki beberapa warga tetap yang memang seharusnya berada di sana. sebuah dunia nyata dan maya bersatu di sekitarnya, Mr. Printer yang belum juga menyadarkan diri membuat semua merasa kehilangan dan semua berharap Mr. Printer bisa kembali terbangun dan mengoceh meski itu terdengar agak mengganggu ketenangan tapi semua sangat merindukan ocehan itu. sang pengeras suara yang pandai bernyanyi pun ikut menemani mereka di Hamparan Harapan. tak hanya itu, sebuah kotak yang terkumpul semua rasa terima kasih pun rela mengisi ruang di Hamparan harapan meski ia harus selalu terpojok bersama sebuah kabel yang bisa menghubungkan kita ke dunia maya.
tak semua yang pergi membawa kehilangan, tapi tak sedikit yang tertinggal merasa bahwa mereka yang pergi meninggalkan sebuah kenangan. — di my inspiration room.
Cerita Bersambung
Cool…What’s
Ur Name?
Hari senin adalah awal dari segala
aktifitas semua orang, meski tak banyak mereka yang hanya diam di hari senin,
tapi begitulah adanya. Banyak sekali yang memulai aktifitas mereka di hari
senin, entah itu bekerja, belajar, melamar pekerjaan sampai mereka memulai
pekerjaan baru setelah mereka memutuskan untuk keluar dipekerjaan lamanya di
hari sabtu.
Di
sebuah jalan yang tak begitu besar, seorang gadis berjilbab putih dengan tas
gendongnya berlari sekencang-kencangnya.
“Hhhhhaahhhh…aku
bisa terlambat…”, gadis berjilbab itu terus berlari tanpa menghiraukan lambaian
tangan dari seorang gadis berjilbab lainnya yang berada di persimpangan jalan,
“hei…kenapa
dengannya?”, gadis berjilbab lainnya menurunkan tangannya dan melanjutkan
langkahnya,
10
menit pun berlalu, kini gadis berjilbab putih itu tiba di sekolah.
“Reva…kenapa
kau tidak masuk?”, Tanya gadis berjilbab yang melambaikan tangannya di
persimpangan jalan yang baru saja tiba,
“aku
lupa…”, gadis yang sering dipanggil Reva itupun terdiam,
“apa?
Apa kau lupa membawa buku pelajaranmu?”, Tanya gadis berjilbab lainnya sambil
merebut tas Reva,
“Milly…aku
lupa, bahwa hari ini aku tidak melihatnya,” Reva pun membesarkan matanya,
“kau
melotot padaku?”, Milly memicingkan matanya,
“hei…apa
yang sedang kalian bicarakan di depan gerbang sana? Ayo cepat masuk, sebentar
lagi upacara akan segera di mulai,” teriak salah seorang guru pria sambil terus
menghampiri mereka berdua.
“baik
pak…”, mereka berdua pun berlari menuju lapang untuk melaksanakan upacara di
hari senin.
Di
kelas yang berada di pojok gedung, terdengar suara seorang guru pria yang
menerangkan tentang matematika. Jutaan angka seakan berhambur keluar dari
mulutnya melewati setiap pasang telinga 24 murid dan lewat begitu saja seperti
rombongan mobil jema’ah haji yang berlalu begitu saja di depan sebuah Bandara.
“Siapa
yang akan mencoba rumus ini?”, Tanya Guru pria itu sambil melihat semua
muridnya,
“kkkkkrrrriiiiinnnnggggg….”,
suara bel istirahat pun berbunyi,
“baiklah,
kita akan bertemu di hari rabu. Ku harap kalian bisa mengerti dengan pelajaran
kali ini, terima kasih atas perhatiannya, Wassalamu’alaikum,” guru pria itu pun
membereskan buku-bukunya dan segera bergegas,
“Whhhhooooaaaaaaa….”,
Milly bergeliat dan menguap,
“hei…tutup
mulutmu, apa kau mau syaitan menertawakanmu?”, kata Reva sambil menutup mulut
Milly dengan tangan kanannya,
“benarkah?”,
Milly segera menutup mulutnya, “Aiissshhh…Syaitan itu, hei mau kemana kau?”,
Tanya Milly yang bergegas untuk mengikuti Reva,
Di
kantin, Reva melihat sekeliling bangku kantin yang penuh dengan para siswa.
“Hhhaauuuhhh…ku
kira hari senin kantin ini akan sedikit kosong,” Reva terus berjalan dan
bergumam sendiri,
“kosong
kenapa? Bukankah ini waktunya istirahat?”, Tanya Milly yang terus mengikuti
Reva dari belakang,
“ini
hari senin, ku pikir mereka akan mengosongkan perut mereka untuk sementara
waktu,” kata Reva yang kini menemukan tempat duduk di ujung Kantin,
“lalu
kau sendiri kenapa tidak shaum?”, Tanya Milly yang kembalimemicingkan matanya,
“emh…itu…ah…tadi
malam aku belajar sampai malam, jadi aku bangun agak siang,” Reva pun
memalingkan wajahnya,
“tadi
malam kau belajar? Lalu kenapa facebook mu aktif semalaman? Kau tidak sedang
mengadakan forum belajar bersama di akun Facebook mu kan?”, Tanya Milly yang terus
menatap Reva dengan tatapan yang sangat tajam,
“ahahahaha…aku
hanya sedang merasa bosan, jadi sesekali aku membuka Facebook, hemh…” Reva pun
tertawa canggung,
“apa
kau benar merasa bosan? Apa bukan karena kau sedang mencari seseorang?”, Milly
semakin menjadi,
“sssshhhh…baiklah
aku mengaku, benar…semalaman aku mencari seseorang, orang itu selalu ada di
dalam pikiranku, tapi sejauh aku memikirkannya, aku belum mengetahui siapa
namanya,” Reva terlihat kesal,
“kenapa
begitu sulit? Apa yang sebenarnya kau sulitkan? Tidak ada hal yang sulit di
dunia ini…”, jelas Milly sambil menusukkan sedotan ke atas minuman gelas
“benarkah?”,
Kali ini Reva terlihat kebingungan,
“begini…apa
yang kau pikirkan tentang dia?”, Tanya Milly yang terus menghabiskan
minumannya,
“dia
itu rapih, rambutnya, matanya…wuah…Subhanallah…”, Reva membayangkan seseorang
yang selama ini di perhatikannya,
“ya…kau
bisa menyebutnya dengan salah satu keterangan yang sudah kau pikirkan tadi,
misalnya si Rapih…si Rambut…eh…tunggu, setiap orang memiliki rambut dan itu
terlalu umum,” Milly masih merasa belum yakin,
“jadi
bisa kusimpulkan bahwa dia itu sangat dingin, ahahahah…aku suka laki-laki yang
seperti itu,” Reva tersenyum sendiri,
“ck..ck..ck…dingin
apanya? Apa kau mau di setiap bertemu kalian hanya diam saja?”, Milly terlihat
kesal,
“tidak
juga…akan ku ajak dia bicara, dan aku akan melontarkan banyak pertanyaan
padanya, dan aku akan mengawalinya dengan bertanya, ‘Cool…Siapa
Namamu?...ahahahah” Reva tersenyum dan mencoba meyakinkan Milly,
“apa
kau seorang Wartawan?”, Milly menggeleng-gelengkan kepalanya,
“ya
tentu saja aku akan menjadi seorang wartawan yang merangkap menjadi seorang
host yang akan mewawancarai idolanya sendiri, bagaimana? Bukankah itu
menyenangkan?”, Reva tertawa sendiri,
“bagaimana
karena saking dinginnya, dia hanya menjawab iya dan tidak? Bagaimana
perasaanmu?”, Tanya Milly,
“ssshhh…apa
tidak ada kosa kata lain dalam hidupmu?”, tiba-tiba Reva berteriak, semua mata
pun tertuju pada Milly dan Reva,
“sssstttt…pelankan
suaramu…”, Milly terlihat malu,
“ma’af…aku
hanya terbawa suasana, aku yakin dia akan menjawab dengan baik setiap
pertanyaan yang akan ku ajukan padanya, hemh..”, Reva kembali tersenyum,
“baiklah…lalu,
apa kau memiliki keberanian untuk berbicara padanya?”, Milly semakin memancing
Reva,
“entahlah…aku
tidak yakin, tapi jika itu bisa terjadi, maka apa boleh buat? Bukankah baru
saja kau mengatakan bahwa tidak ada hal yang sulit di dunia ini?”, Reva pun tak
henti-henti tersenyum,
Bel
masuk pun berbunyi, semua murid kembali ke kelas nya masing-masing dan kembali
belajar hingga akhirnya bel istirahat shalat Dzuhur tiba.
Tepat
berada di wc masjid, Milly menunggu Reva yang belum juga keluar dari kelas.
Lalu ada seorang anak laki-laki dengan gaya yang sedikit urakan menghampiri
Milly,
“ada
apa?”, Tanya Milly dengan dingin,
“ada
apa katamu? Kau yang ada apa?”, tiba-tiba anak laki-laki itu berteriak pada
Milly,
“hei…apa
yang sedang kau lakukan?”, teriak Reva yang berlari ke arah Milly,
“owh…aku
tahu, pasti karena si kutu buku ini…”, anak laki-laki itu memandang Reva dengan
sinis,
“tidak
ada kaitannya dengannya, aku memutuskanmu karena alasan lain…”, jelas Milly
yang mulai gemetaran,
“Milly…”,
Reva menggenggam tangan Milly erat-erat,
“aku
pikir aku bisa merubah sikapmu menjadi lebih baik, tapi ternyata aku salah
sangka pada diriku sendiri, aku belum mampu mengubah diriku sendiri, bagaimana
mau bisa mengubahmu?”, Milly semakin berkaca-kaca,
“ma’afkan
aku…ini pasti karena kejadian kemarin, dengar…kemarin aku hanya sekedar mampir
ke rumah Teguh, tapi aku tidak tahu jika di sana sedang mengadakan pesta
seperti itu..”, jelas anak Laki-laki itu, Milly pun meneteskan air mata,
“Ando…Milly
sedang merasa terguncang, jadi lebih baik biarkan Milly untuk sementara ini,”
kata Reva yang hendak menyeret Milly,
“diam
kau kutu buku…ini semua pasti karena kau yang mempengaruhi Milly, benarkan?”,
Ando menahan tangan Milly, “sejak awal kau tidak menyetujui hubungan kami,
karena tak ada pacaran dalam kamusmu, benarkan? Dan…aku yakin kau tidak akan
memiliki pacar sampai kapanpun, nikmati masa mudamu…”, Ando pun menghempaskan
tangan Milly dan pergi,
“hauh…apa
dia gila? Apa dia pikir aku ini ibumu? Kenapa dia mengatakan kalau aku tidak
menyetujui hubungan kalian? Cckkk…hubungan apa?”, Gumam Reva,
“sudahlah…aku
pergi dulu…”, Milly pun melepaskan tangannya dari genggaman Reva dan pergi
meninggalkan Reva sendirian.
Satu
minggu sejak kejadian itu, Reva dan Milly jarang bersama. Kembali di hari
senin, Reva berjalan agak lambat karena hari masih pagi. Reva berharap bahwa ia
bisa bertemu dengan Milly, tapi ternyata tidak bahkan Milly tidak masuk
sekolah.
Sesekali
Reva menengok ke arah tempat duduk Milly, dan memikirkan tentang sahabatnnya
Milly. Jam istirahat pun tiba, Reva tidak pergi ke kantin karena kebetulan hari
ini Reva sedang mengosongkan perutnya. Selama istirahat Reva hanya diam di
kelas. Jam pulang tiba, Reva pulang sendiri.
“Sob…”, Reva mengirim pesan pada Milly,
“yah…”, Milly pun membalas pesan dari
Reva,
“apa kau sakit?”
“tidak…”
“lalu kenapa kau tidak
masuk hari ini?”
“aku hanya ingin
berpikir saja”
“berpikir tentang
apa?”,
“entahlah…aku berpikir
untuk mengubah diriku agar menjadi lebih baik”
“begitukah?”
“iya…”
“aku minta ma’af…aku
pikir, kata-kata Ando tak sepenuhnya salah, mungkin kau terpengaruh oleh
kata-kataku, jika kau ingin mengubahnya, kau harus terus berjuang,”
“tidak…kau tidak ada
kaitannya dengan hal ini, ini sudah keputusanku, kau seperti ini karena sikapku
akhir-akhir ini kan?
“jujur saja..iya…aku
merasa tidak enak hati…”
“jangan begitu, aku ini
sahabatmu, sahabat lebih penting daripada pacar,”
“benarkah? Terima
kasih…”, Reva pun tersenyum, tak lama kemudian Reva tersadar
bahwa kini ia sedang berada di halte bis. Reva pun duduk, lalu ada seseorang
yang duduk di sebelah Reva dan menjatuhkan payungnya,
“ma’af…”,
suara berat dan sejuk anak laki-laki itu pun terdengar sangat indah di telinga
Reva,
“dia…”, Reva pun membatin dan terdiam
memandangi siapa yang sedang berada di sampingnya,
Merasa
risih karena terus diperhatikan, anak laki-laki itu pun balik melihat Reva.
Detak jantung yang tiba-tiba berdetak dengan begitu cepat membuat Reva merasa
lemas dan hampir menjatuhkan ponselnya,
“kau
baik-baik saja?”, Tanya anak laki-laki itu sambil terus menatap Reva yang
sedang menatapnya,
“hemh…apa?...owh…ada
pesan,” Reva mengalihkan perhatiannya pada Ponselnya,
“benar, sama-sama…hei, kau sedang dimana?apa
kau sudah pulang?” milly membalas pesan dari Reva,
“halte, sudah, dia ada
di sampingku…”, jawaban pesan Reva pada Milly,
“benarkah?”,
“emh…sebenarnya…”,
Reva kembali melihat ke samping dan hendak memulai pembicaraan dengan anak
laki-laki tadi, tapi sayang anak laki-laki itu sudah naik bis terlebih dahulu,
“hei…kemana dia?”, Reva pun menunduk karena kesal.
Keesokan
harinya, seperti biasa Reva berjalan seperti biasa. Kali ini Milly sudah berada
di persimpangan jalan untuk menunggu Reva,
“Bat…”,
teriak Milly pada Reva,
“hei
Sob…”, Reva terlihat lemas,
“kenapa
denganmu?”, mereka pun kini berjalan bersama, “bagaimana? Bukankah kemarin dia
berada di sampingmu?’, Milly merasa penasaran,
“iya…tapi
dia menghilang ketika aku hendak membalas pesan darimu,” Reva semakin merasa
kesal,
“benarkah?
Kalau begitu ma’afkan aku…tapi…apa kau akan marah padaku karena masalah ini?”,
teriak Milly,
“hei…”,
Reva kaget, “mana mungkin? Oiya…apa kau sudah baikan hari ini?’, Tanya Reva
yang kembali bersemnagat,
“lalu
bagaimana menurutmu?”, Milly menaikkan dagunya,
“ahahahaha…aku
rasa kau sudah baikan…”, mereka pun tertawa bersama dan melangkah bersama.
Atmosfer
kelas memanas di pelajaran pertama, ini karena ada perubahan jadwal tiba-tiba
yang dilakukan oleh guru matematika.
“kenapa
kalian tidak mengerjakan tugas yang saya berikan? Bukankah kemarin saya sudah
bilang bahwa jadwal hari senin di ubah menjadi hari selasa?”, jelas pak guru
dengan begitu kesal,
“ma’af…”,
seorang anak laki-laki berkaca mata mengangkatkan tangannya, “ini salahku…aku
lupa memberitahu mereka,” jelas anak laki-laki itu,
“Ahmad…kau
itu ketua kelas, seharusnya kau mengingat semua hal yang sudah di amanatkan
kepadamu, bukankah ada ponsel? Facebook? Kenapa kau tidak mengabari mereka
dengan itu semua?” Pak guru semakin kesal,
“ma’afkan
aku pak…”, Ahmad pun tertunduk,
“baiklah…sebagai
gantinya kalian harus membayar infak untuk kelas, Rp. 500,- per soal dan
kumpulkan di bendahara, kalian mengerti?”, kata Guru itu sambil terus melihat
anak-anak didiknya,
“iya
pak…”, semua pun mengiyakan,
“berapa
so’al?”, Tanya Milly,
“20
soal di kali 500, berarti Rp. 10.000,-
uangku hanya ada Rp. 3.000,- bagaimana ini?”, Reva pun mulai berfikir,
“aku
hanya ada Rp. 4.500,- Ahmad…apa ada keringanan? Kami kekurangan uang, apa bisa
kami membayar sisanya besok?”, Tanya Milly,
“ma’afkan
aku…aku akan membayar sisanya untuk kalian,” jawab Ahmad,
“tidak…jangan…jangan
terlalu membebankan dirimu sendiri,” Kata Reva, “pak…Ma’af…apa bisa, jika kami
mengerjakan so’al-so’al ini sebelum jam pulang?”, Reva pun mencoba memberanikan
diri,
“ya…bisa
di atur, kumpulkan di meja saya sebelum jam pulang, Wassalamu’alaikum,” guru
Matematika pun pergi,
“hei,
Reva…sudah bayar saja, ini lebih mudah kan…atau kalau tidak kita minta ganti
rugi saja pada Ahmad si ketua kelas, bukankan dia yang sudah menyebabkan ini
semua? Lagi pula apa artinya uang Rp. 10.000,- ?”, teriak salah satu siswi,
“hemh…”,
Reva hanya tersenyum,
“sekali
lagi ma’afkan aku…”, Ahmad semakin merasa menyesal,
“tidak
apa-apa…kami akan mengerjakannya,” Milly pun mencoba menenangkan Ahmad,
Jam
istirahat pun tiba, semua orang pergi ke kantin, sedangkan Reva, Milly dan
Ahmad pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan so’al yang di berikan oleh pak
guru. Bel masuk pun berbunyi,
“sudah
masuk…”, kata Milly,
“ya…”,
Reva masih menghitung,
“tersisa
7 so’al lagi…bagaimana?apa kalian mau menyelesaikannya?”, Tanya Ahmad yang
sudah tak karuan,
“kita
bayar saja…otak kita harus istirahat sejenak, setelah ini kita harus menghafal
al-quran, benarkan…ayo kita masuk…”, Reva pun bergegas,
Mereka
bertiga kembali ke kelas,
“ini…kami
tidak mengerjakan 7 so’al, masing-masing bayar Rp. 3.500,- dan ini total ada
Rp. 10.500,-” Reva pun meberikan uang pada bandahara kelas,
Pelajaran
Alquran pun berlangsung, benar saja, setiap murid harus menghafal. Setidaknya
mereka bertiga sudah istirahat untuk sejenak. Bel istirahat pun tiba, mereka
bertiga baru saja keluar dari ruang guru,
“terima
kasih, sampai jumpa besok…”, Ahmad pun pulang terlebih dahulu,
“sssshhh…lapar
sekali,” Milly merengek,
“benar…bagaimana?
Aku hanya punya uang Rp 500,-” Reva mengeluarkan uang logam dari saku roknya,
“aku
punya Rp. 1.000,- ” Milly pun mengeluarkannya dari tasnya. “ayo ikut aku…”,
Milly menyeret Reva ke kantin,
“hahahaha…”,
Reva tertawa terbahak-bahak,
“bagaimana
menurutmu?”, Milly membuka bungkus roti harga Rp. 1.000,- dan membelahnya
menjadi dua,
“kita
sangat beruntung, Alhamdulillah…dan ini minumnya,” Reva menusukkan sedotan ke
atas minuman gelas harga Rp. 500,- . mereka pun duduk dan makan bersama.
Keesokan
harinya, Reva menyuruh Milly untuk berangkat terlebih dahulu. Reva pun berjalan
dan kini ia tiba di sekitar Halte. Dari jauh Reva melihat anak laki-laki yang
selama ini ia perhatikan, dan beberapa pegawai negeri Sipil
“hei…cool…sebenarnya
siapa namamu? Aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan namamu…”, Reva pun
kembali berjalan menuju Halte,
anak
laki-laki itu masih berdiri di sana. Tak lama kemudian, bis tiba dan anak
laki-laki itu pun bergegas naik,
“hei…”,
Reva pun hendak berlari mengejar anak laki-laki itu, “hemh…apa ini?”, Reva
melihat ada sebuah buku yang terbungkus dengan rapi tergeletak di Halte, “Rakis
Taura Fauzi…buku siapa ini?”, Reva pun membuka-buka buku tersebut, “tak ada
siswa lain di sini? Apa mungkin ini miliknya?”, Reva terus membuka bukunya, “buku
Matematika…wuah…ini buku PR Matematika, dan…bukankah sekarang tanggal 23
Oktober? Jika tidak mengumpulkan tugasnya mungkin dia…”, tanpa pikir panjang
Reva mengejar bis itu. “Heeiiii…Cccccoooooolllllll…”, teriak Reva sambil terus
berlari, “ah…aku ini bodoh atau apa…Paaaaakkkk Suuuupppiiiirrrrr…hhheeennntiiikkkaaannnn
Bbbiisssnnnya…”, teriak Reva
“hei…apa
gadis itu mengejar bis ini?”, Tanya seorang pegawai Sipil pada orang di
sampingnya,
“sepertinya
begitu…pak supir, tolong hentikan mobilnya…”, teriak penumpang lain,
“Hhhhhaaahhhh…terima
kasih…”, Reva naik lewat pintu depan,
“ada
apa?”, Tanya Supir bis,
“ada
buku yang tertinggal di halte…dan ini milik c Cool…”, jawab Reva sambil
melihat-lihat,
“cool
katamu?”, supir bis kebingungan, “apa ada yang bernama Cool di sini?’, teriak
supir bis, tak ada yang mengaku karena namanya begitu aneh,
“ahahaha…pak
supir ma’afkan aku…namanya Rakis Taura Fauzi…”, jelas Reva yang masih
kecapekan,
“baiklah…apa
di sini ada yang bernama Rakis Taura Fauzi?”, supir bi situ kembali berteriak,
“Aku…”,
anak laki-laki itu melepaskan earphonenya dan berdiri,
“bukumu
terjatuh di halte…dan ku pikir ini buku PR mu, jika kau kehilangan ini mungkin
kau akan di hokum oleh gurumu…hhhhaaahhhh…” Reva sangat kelelahan,
“itu
tidak masalah…tapi terima kasih banyak untuk hal ini..”, Anak laki-laki yang
bernama Rakis itu pun memasukkan bukunya ke dalam tas,
“jadi
itu namamu…”, Reva tersenyum pada Rakis,
“apa
maksudmu?”, Tanya Rakis,
“hhhaaahhh…aku
bisa terlambat…baiklah, aku pergi dulu…pak supir terima kasih banyak,” Reva pun
segera bergegas turun dari bis dan berlari.
“hei…sepertinya
dia menyukaimu…” kata salah seorang penumpang pada Rakis.
Reva
pun terlambat 10 menit, tapi tak ada guru pelajaran yang masuk di jam pertama
jadi Reva masih bisa beristirahat. Jam istirahat pun tiba, Reva tak
henti-hentinya tersenyum.
“ck..ck..ck..sebegitu
senangkah dirimu?”, Tanya Milly,
“benar…”,
Reva hanya mengangguk dan tersenyum,
“Milly…bisa
kita bicara sebentar?”, tiba-tiba Ando menghampiri Milly
“baiklah…”,
Milly pun beranjak dan pergi.
“cckkk…”,
Reva sedikit kesal karena di tinggal oleh Milly,
“hei…apa
kalian tahu? Sekolah Harapan sedang memanas dengan sekolah kita, jadi mulai
sekarang kita harus berhati-hati jika berjalan, siapa tahu kita yang menjadi
korban salah sasaran mereka,” kata salah seorang siswa yang berada di belakang
Reva,
“benarkah?
Hhhaahhh ini pasti karena Ando…dia itu si pembuat onar,” siswa lain pun
menambahkan,
Reva
semakin berpikir bahwa Ando sebaikya tidak mendekati Milly, setelah bertemu dengan
Ando Milly menjadi murung. Jam pulang pun tiba.
“Reva…kau
pulang duluan saja,” Milly menepuk pundak Reva,
“baiklah…”,
Reva merasa ada yang aneh, Reva pun mengikuti Milly dari belakang.
Ternyata
Milly menemui Ando di halaman belakang sekolah,
“apa
yang sudah kau putuskan?”, Tanya Ando dengan pelan,
“aku
akan tetap memutuskanmu…ma’afkan aku,” Milly pun tertunduk,
“ccchhh…terlihat
sekali bahwa Milly masih menyukai Ando,” kata Reva yang berada di balik semak,
“kenapa?
Apa karena si kutu buku itu?”, teriak Ando,
“ssshhh…kenapa
dia selalu mengaitkannya denganku?”, gerutu Reva,
“hentikan…hentikan
menyalahkan Reva, dia tidak ada hubungannya dengan ini, lebih baik kau dan aku
intospeksi dulu,” jelas Reva,
“hahahaha…kau
mencoba untuk mengajariku sekarang? Yang benar saja?”, Ando merasa tidak
terima,
“begitulah…ini
alasan mengapa aku sangat tidak tahan denganmu, sikapmu yang tidak mau menerima
kesalahan diri sendiri dan kekanak-kanakan,” jelas Milly,
“apa
kau bilang…”, Ando menganggkatkan tangan kanannya,
“hentikaaaaannnn…”,
teriak Reva yang keluar dari semak, “apa kau juga seorang pecundang yang hanya
berani pada seorang gadis?”, Reva semakin kesal pada Ando,
“Apa
katamu?”, Ando semakin marah
“ya…kau
hendak memukul Milly kan? Apa kau mau bertindak seperti jagoan? Ini bukan
tempatmu untuk menjadi jagoan, apa kau mengerti?”, Reva memelototi Ando,
“ssshhhh…kutu
buku ini benar-benar, apa kau benar-benar ingin…”, belum sempat menyelesaikan
kata-katanya, Milly dan Reva malah berlari, “Hei…tunggu…”, Ando pun ikut
berlari,
Terjadilah
aksi kejar-kejaran antara Milly, Reva dan Ando,
“kenapa
kita harus berlari?”, Tanya Milly,
“bukankah
dia hendak memukulmu?”, jawab Reva yang terus menyeret tangan Milly,
Mereka
sudah semakin jauh, Ando semakin mengejar. Kini mereka di hadapi 2 jalan,
“kau
mau ambil yang mana?”, Tanya Reva,
“entahlah…aku
pilih yang kiri saja,” jawab Milly,
“dalam
film, jika kau memilih jalur kiri kau akan tamat,” Reva mulai kesal,
“lalu
kau memilih jalan mana?”, Tanya Milly,
“kau
yang kanan saja, aku jalan yang kiri…”, jawab Reva,
“hei…apa
kau mau tamat?”, Milly berhenti berlari,
“ssshhh…ini
adalah pengorbanan, percaya padaku…”, Reva mencoba meyakinkan Milly, “ayo cepat
lari, Ando semakin dekat…jika kau terlebih dulu tiba di rumah, kabari ibuku,
dan bilang padanya bahwa aku butuh do’a seorang ibu, sampai jumpa…”, Reva
memilih jalur kiri, sedangkan Milly memilih jalur kanan.
Di
luar dugaan, Ando malah mengejar Reva.
“sshhh…sebegitu
bencikah dia padaku?”, Reva terus berlari, karena focus berlari, Reva tak
memperhatikan ada batu besar di depannya, Reva pun tersandung dan terjatuh, “Wwwwoooaaaaa…dia
semakin dekat…”, Reva pun beranjak dan kembali berlari,
“tunggu…kenapa
aku mengejarnya?”, Ando pun berhenti berlari,
“kenapa
dia diam?”, Reva menoleh ke belakang dan berpikir, “biar saja…ini kesempatanku
untuk pergi,” Reva pun kembali berlari, tak jauh Reva berlari karena terlalu
menoleh ke belakang, Reva menabrak seorang anak laki-laki dan kembali terjatuh,
“ma’afkan aku…”, Reva kembali terbangun dan hendak berlari, tapi tiba-tiba ada
yang menarik tasnya, “haduuuhhh…apa dia teman c Ando?”, Reva mencoba untuk
berlari,
“hei…kau
berhenti di sana…”, teriak Ando,
“jika
ini akhir dari hidupku, aku berharap ibuku bisa menjadi lebih mandiri, ayah
bisa mengirimku do’a, Milly bisa mendapat teman baru dan aku bisa berada di
sisi-Nya dengan tenang,” gumam Reva yang masih tertahan sambil menutup mata, “Asyhaadualla Illaaha Illallah,
Waasyhaaduanna Muhammadarrasuulullah,” Reva menutup matanya,
“hei…Rakis,
kemana saja…?”, sapa Ando pada anak laki-laki yang sedang menahan Reva,
“heuh…”,
Reva dilepaskan begitu saja, dan berbalik. Adegan yang sangat menakjubkan, Ando
sedang berpelukan dengan seorang anak laki-laki yang berseragam SMA dan
mengenakan jaket,
Kini
mereka bertiga berada di sebuah tempat Mie ayam, Reva memandangi mereka berdua
yang sedang asik mengobrol,
“tadi
malam si Anggi telah menyayat wajah seorang siswa dari sekolah Pembangunan
dengan pedangnya,” kata Ando sambil makan mie ayam,
“itu
belum seberapa, aku hampir tertangkap ketika aku hendak menghabisi siswa dari
sekolah Kebangsaan,” Rakis tak mau kalah dari Ando,
“wuah…kau
memang seorang petarung sejati…”, Ando pun tersenyum pada Rakis,
“Rakis
Taura Fauzi…Taura…Ta..U..Ra..n.., Tauran…ssshhh tidak aneh jika dia senang
tawuran,” gumam Reva,
“hei…apa
kau sedang ada masalah dengan gadis ini?”, Tanya Rakis sambil melihat kea rah Reva,
“tidak…aku
bahkan tidak mengenalnya…”, Reva mendahului Ando,
“dia
yang sudah mempengaruhi pacarku, dan sekarang kita sudah putus,” jelas Ando
yang menatap sinis pada Reva,
“bagaimana
kalau kita habisi dia”, Rakis pun tersenyum sinis pada Reva,
“hhhhwwwhhh…eemmmhhh,
aku haus, aku ambil minum dulu,” hendak bergegas,
“ini…minumlah…”
Rakis menyodorkan minum miliknya,
“ahahaha…aku
suka air putih…”, kembali beranjak,
“ini,..minumlah…”,
Ando menyodorkan air mineral miliknya,
“apa
kau sudah menyiapkan rencananya?”, Tanya Rakis,
“tentu
saja..kali ini kita pasti akan menang, ahahahah”, Ando tertawa puas,
“kenapa
tidak di makan?”, Tanya Rakis pada Reva,
“aku
tidak lapar, terima kasih…emh..bisakah aku pergi,” Reva kembali beranjak,
“hei…urusan
kita belum selesai,” jelas Ando
“bereskan
urusanmu dengan nya…aku pergi ke depan dulu”, Rakis pun beranjak,
“ada
apa lagi?”, Reva menelan ludahnya sendiri,
“buat
Milly kembali padaku, kalau tidak…”, Ando sedikit menakut-nakuti Reva,
“kalau
tidak, kau akan menghabisiku?”, Reva mulai berlinang air mata, “jika kau begitu
membenciku, lakukanlah…hhhmmmssss..tapi kau akan terkenang sebagai seorang
pecundang”, Reva pun menunduk dan menangis,
“ssshhh…bukan
itu maksudku…kenapa dia menangis?”, Ando jadi salah tingkah,
“kenapa?”,
Rakis bertanya pelan pada Ando,
“tidak
tahu?”. Ando menggelengkan kepalanya,
“hhhmmmsss…baiklah…kau
akan menghabisiku dengan cara apa?”, Reva menegakkan kembali kepalanya,
“dengan
cara kau membayar ini semua…”, tiba-tiba Rakis menjawab,
“Hahhh…apa
maksudmu?”, Reva kebingungan,
“aku
lupa membawa dompetku,” Rakis berkata dengan sangat berhati-hati,
“apa?”,
Teriak Ando tak percaya, “uang ku habis untuk membeli buku”, Ando terlihat
kebingungan,
“apa
yang telah kau perbuat hingga kau membiarkan Ando untuk menghabisimu?”, Tanya
Rakis yang membuka jaketnya,
“sekolah
Harapan..”, Reva membacaa lokasi di seragam Rakis, “bukankah sekolah Harapan
dan sekolah kita sedang memanas?” Tanya Reva pada Ando,
“memanas
apa?”, Ando kebingungan,
“owh…itu..itu
hanya salah paham, kami mengira mereka hendak menyerang sekolah kami, tapi
ternyata mereka hendak mengajak kami untuk belajar bersama,” jelas Rakis,
“belajar?”,
Reva semakin bingung,
“UAS
akan segera tiba, aku harus mempersiapkan ini semua, aku dengar siswa laki-laki
di sana sangat cerdas, maka dari itu aku berkenalan dengan Rakis,” jelas Ando
sambil tersenyum,
“Hhhhaaahhh…aku
bisa gila…” Reva pun merasa lemas sekaligus lega,
“tak
hanya itu kami juga membuat club cinta damai yang menghilangkan tradisi tawuran
antar siswa, ku harap ini semua bisa berhasil,” Rakis pun tersenyum pada Reva,
“hei…ayo
bayar makanan kami,” teriak Ando,
“lalu
kenapa kau hendak memukul Milly?”, Reva masih tidak yakin,
“siapa
yang ingin memukul Milly? Aku hanya merasa punggunggku itu sakit, lalu kau
sendiri kenapa berlari? Padahal ada yang ingin ku sampaikan padamu?”, jelas
Ando,
“emh…itu…itu
karena aku pikir kau akan menghajarku”, jelas Reva,
“melawan
wanita adalah pecundang, tapi melawannya dalam segi pelajaran kenapa tidak, aku
ingin mengajakmu dalam kelompok belajar yang sedang kita jalani, dan jangan
lupa ajak Milly,” Ando terlihat malu-malu,
“Haahhhh…baiklah…Hhhhmmmhhh,
aku sangat lega, ternyata ini semua tak seburuk yang ku pikirkan”, jelas Reva,
“kau
jangan terlalu sering menonton drama, lebih baik kau focus pada pelajaranmu. Untuk
tadi pagi, terima kasih…”, Rakis pun tersenyum,
“kalian…”,
Ando menunjuk mereka berdua,
“iya…dia
berlari mengejar bis yang sedang ku naiki untuk mengembalikkan buku
matematikaku yang terjatuh di Halte,” jelas Rakis
“benarkah?
Wuah bagaimana kau tahu itu miliknya? Apa kau memperhatikannya…atau
jangan-jangan, apa kau menyukainya?”, Ando penasaran,
“emh…”,
Reva hanya terdiam dan memerah,
“ah…aku
ingat…kenapa supir bis itu memanggilku Cool sebelumnya?”, Rakis semakin
bingung, namun Reva hanya tersenyum,
Akhirnya
Reva bisa mengetahui siapa nama anak laki-laki yang sering ia perhatikan itu. Karena
kesalahpahaman, Kini Reva, Milly, Ando dan Rakis berteman.
Langganan:
Postingan (Atom)




