Rabu, 25 Desember 2013

Horor



The Last Piano

author    : Syifa
Cast       : Agatha, Raihan, dan Nunik
Berawal dari suatu malam yang sangat dingin, angin berhembus sangat kencang, gemerincik air jatuh dari langit kini terdengar lebih keras. Sebuah mobil sedan tua berwarna biru gelap dengan cat yang sudah lusuh menyusuri jalanan yang berpagarkan pohon besar dengan lambat namun pasti. Suara petir kini menemani hujan dan angin yang sudah seharusnya ada dalam pertunjukan alam di malam ini.
Di dalam mobil ada seorang gadis berusia 16 tahun yang mulai terganggu dengan suara angin, hujan, dan petir secara bersamaan, lalu ia menarik selimut yang sudah jatuh ketika ia mulai terlelap. Sedangkan pria paruh baya yang sedang mengendalikan sebuah mesin yang bisa mengantarkannya ke tempat tujuan dan hanya bisa terdiam menyaksikan sebuah polemik antara angin, hujan, dan petir.
30 menit pun berlalu, kini hujan sudah mulai mengurangi intensitas airnya, angin yang sudah menjadi angin yang seharusnya dimalam hari, dan petir yang sudah memelankan suaranya hingga nyaris tak terdengar sama sekali. Mobil tua itu tiba di sebuah pintu gerbang besi yang sudah karatan. Pria paruh baya itu keluar dari mobilnya,
“Agatha…ayah mau buka dulu gerbangnya…kamu tunggu dulu di sini.”, kata ayah yang keluar berjalan sebanyak 3 langkah agar  bisa membuka gerbangnya, namun Agatha hanya diam tak peduli, ia malah semakin menaikan selimutnya. Ayah pun kembali dan mengemudikan mobilnya agar bisa masuk ke dalam halaman rumah. “Agatha…bangun, kita sudah sampai.”, kata Ayah sambil mencoba untuk mengambil barang bawaan di kursi belakang.
Agatha keluar dengan payung yang keluar terlebih dahulu dari kepalanya, Agatha terus berjalan tanpa menghiraukan ayah dan barang bawaannya. Kini mereka sudah tiba di depan pintu rumah, ayah menaruh semua barang bawaannya dan mencoba membuka pintu dengan serangkaian kunci yang sangat beragam di tangannya,
“yang mana ya?...ah mungkin yang ini, “, kata ayah sambil terus mencoba membuka pintu, “hah…ternyata yang ini…pintu sebesar ini, tapi kok kunci nya kecil yah…Agatha, bisa bantu ayah bawa sebagian barang-barang ini?”, Tanya ayah, tapi Agatha kembali tak mengeluarkan sepatah kata pun sambil membawa 2 koper dan menariknya.
Memasuki rumah yang sangat besar, Agatha terus berjalan lurus menuju ruang tengah dan terlihat ada tangga utama yang sangat besar, namun terlihat agak rapuh. Ayah pun ikut masuk dan menutup pintunya,
 “uhuk…uhuk..uhuk…hauh di sini sangat berdebu…uhuk..uhuk..”, kata ayah sambil mengibas-ngibaskan tangan nya di depan wajahnya.
Agatha terus berjalan dan berpikir untuk menaiki tangga itu, tapi sebelum sampai tangga, Agatha melihat ada sebuah piano yang tertutup kain putih tepat di samping kanan tangga. Agatha pun melepaskan kainnya,
“uhuk..uhuk..uhuk…” Agatha pun merasa sensitif karena debunya, ia melihat lihat piano itu, “Steinway & Song…klasik…tapi sayang gue gak suka main piano…”, kata Agatha sambil menutup kembali kainnya. Agatha pun menaiki tangga, namun di anak tangga ke 7, Agatha sempat terhenti,
“Atha…kamar ayah ada di bawah pojok kanan, dan kamar kamu ada di atas pojok kiri, kalo ada apa-apa, panggil ayah aja…”, teriak ayah,
“iya…”, Agatha terus menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya, tapi di dinding tepat di depan Atha berdiri sekarang ada sebuah lukisan sebuah taman, “hemh…indah sih, tapi kenapa gue ngerasa Horor yah…”, Atha mengusap lengannya dan mengangkat kedua bahunya.
Atha pun masuk ke kamar, di sana ada sebuah kursi tua yang membuat Atha agak sedikit terkejut, “wwwuuhhh…bikin kaget aja…gue kira apa…oke Atha…apa yang harus loe lakuin sekarang? Dan yang harus gue lakuin sekarang adalah tidur yang nyenyak setelah menikmati perjalanan jauh dari Jakarta – Yogya, jam 9 lebih 18 menit…hauh…gila..pinggang gue serasa mau patah, tapi…hmmss..hmmss..badan gue gak enak banget, apa gue mandi dulu?...ah…mandi nya besok aja, sekarang gue mau tidur…huwwwaaah…”, Atha langsung menjatuhkan badannya di kasur.
Ayah dan anak itu sudah mulai terlelap dan waktu pun menunjukkan pukul 24.01, kembali ke bawah tepat di sebelah kanan tangga, secara perlahan kain putih itu mulai turun, dan Tut piano itu satu persatu tertekan kebawah dan mengeluarkan serangkaian nada ceria.
Keesokan harinya, Atha pun bangun dengan sedikit meringis kedinginan,
“hauh…dingin banget yah…jam berapa sih?”, Atha pun melihat jam tangan yang semalaman tidak lepas dari pergelangan tangannya, “jam 5 lebih 30 menit...”, Atha pun keluar dari gulungan selimut tebalnya dan beranjak dari ranjangnya menuju pintu, lagi-lagi Atha merasa terganggu dengan kursinya, “hhhhwwuuuhh…loe…kursi, hanya sebuah kursi dan akan menjadi sebuah kursi untuk selama-lamanya, loe udah bikin gue kaget dua kali…dasar loe…hauh…bikin kesel aja…” Atha pun keluar dari kamarnya dengan menggerutu sendiri, kursi itu pun sedikit bergeser.
Atha mulai menuruni anak tangga, namun yang pertama ia lihat adalah kain putih nya tergeletak di bawah lantai, Atha pun turun lebih cepat dan kembali menutup piano itu dengan kain putih,
“aneh banget…perasaan tadi malem udah gue tutup lagi…”, Atha pun pergi ke dapur, di sana sudah ada ayah yang sedang memasak,
“selamat pagi…”, kata ayah sambil menggerak-gerakan tangannya dan mengendalikan wajan,
“pagi…”, jawab Atha yang masih saja acuh,
“gimana tidurnya? nyenyak?”, Tanya ayah yang kini sudah menuangkan nasi goreng ke dalam piring,
 “kenapa ayah beli rumah ini sih?tangga nya aja udah tua, udah gitu, jauh sama orang lagi…sejak kapan ayah jadi tipe individualis?”, Tanya Atha sambil minum segelas air putih,
“Atha…denger ya…bagaimanapun ayah masih dalam suasana berkabung, jadi ayah nggak mau terlalu deket-deket sama banyak orang”, jelas ayah,
“tapi gak harus di rumah ini juga kan…ibu pasti marah kalo liat rumah ini…kotor, banyak debu, dan…Tua.”, papar Atha sambil melihat ke arah sekitar,
“sudah-sudah…sekarang kamu mulai masuk sekolah, nanti ayah anterin kamu, tapi sebelum itu, kamu harus cobain dulu masakan ayah…Wualla…nasi goreng ala ayah…ayo silahkan…”, dengan ragu Atha mencicipi nasi goreng ayah, dan keraguan itu terjawab dengan rasa kekecewaan, “kenapa? Gak enak yah…?”, Tanya ayah sambil menunggu kepastian,
“ayah udah liat ekspresi wajah aku kan…”, dengan datar Agatha beranjak pergi meninggalkan ayahnya,
“gak enak dong…mana…” ayah pun mencicipi nasi goreng yang lebih kebanyakan garam, “Hauh…asin banget…”, kata ayah sambil meringis.
Agatha pun pergi ke sekolah bersama ayah,
 “apa ayah nggak masuk?”,
“ma’af, barusan om Adi telpon ayah, dia bilang dia mau ketemu sama ayah, ada yang mau ia omongin, kamu masuk sendiri gak apa-apa kan?”,
 “yaudah…aku masuk sendiri…dan…jangan coba jemput aku..aku mau pulang sendiri,” Agatha keluar dari mobil tanpa pamit,
“atha…atha..kalo lagi marah, kamu mirip sama ibu kamu…”ayah tersenyum sendiri dan mulai mengemudikan mobilnya.
Di lorong kelas yang ramai Atha masih bingung mencari kelas 2-2, lalu ada seorang gadis berkacamata menghampiri Atha,
 “Kamu anak baru ya…”,
“kok loe bisa tau…”,
 “ya tahu toh…la wong saya baru liat wajah kamu…”,
“emh…loe tau kelas 2-2 gak?”,
“wualah…kebetulan…aku juga kelasnya di sana…oiya perkenalkan nama aku Nunik Pratiwi..”, kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
 “Unik….?”, kata Atha agak bingung,
“Nunik mbak…Nuuu…Nik…he..he..”, kata Nunik sambil tersenyum,
“maksud gue, nama loe unik…Nunik…cchhh…nama gue Agatha…panggil aja Atha…”,
 “owh mbak Atha…”,
“gak pake Mbak…emangnya loe pikir gue mbak tukang jamu apa?”,
 “hahaha…yoowes…Mbak…eh Atha…kalo gitu kita pergi ke kelas yuk…” Atha dan Nunik pun pergi ke kelas bersama.
Waktu menunjukkan pukul 13.35, bel pulang pun berbunyi,
“Atha…rumah kamu dimana?”, tanya Nunik sambil membereskan buku-buku yang masih berserakan di meja,
“rumah gue gak jauh kok dari sini, gue belum tau pasti alamatnya, yang pasti rumah gue itu terpencil, besar, tua, dan…emh…di sana ada piano tua,”, jelas Atha sambil beranjak untuk keluar kelas dan disusul oleh Nunik,
“kamu bilang rumah tua?ada piano tua nya juga?...walah…jangan bilang kamu tinggal di desa sebelah…”, kata Nunik agak menyeringai,
“kan udah gue bilang, rumah gue deket dari sini, kenapa sih dengan muka loe?aneh banget deh…udah hampir sampai, gue duluan yah…”, kata Atha sambil berbelok arah, Nunik masih penasaran, dia melihat Atha dari kejauhan.
Setelah sampai di rumah Atha terkejut dengan tukang kebun yang memakai baju compang-camping,
“wwwwhhuuuhhh….”, wajah Atha menjadi pucat,
“ada apa toh mbak…”, Tanya tukang kebun itu,
“gak apa-apa…”, kata Atha sambil berlari, tukang kebun itu tak meepaskan pandangannya pada Atha.
Melihat anaknya berlari, ayah pun bingung, “ada apa tha?”, Tanya ayah,
“apa ayah punya tukang kebun baru?”, Tanya Atha,
“tukang kebun?enggak…emangnya kenapa?”,
“tadi aku lihat di depan rumah ada pria tua, bajunya robek-robek, trus dia pegang gunting besar, aku kira dia tukang kebun baru,”,
“owh…mungkin itu pemilik rumah sebelumnya, dia memang seperti itu, namanya pak Sumardi rumahnya deket kok dari sini…oiya kata Om Adi, dia mau kamu jagain anaknya,”
“apa ayah pikir di sini tempat penitipan anak?gak mau…suruh aja baby sitter,”,
 “hei…anaknya Om Adi itu seumuran kamu…masa iya di titipin ke Babysitter?”,
“owh...kirain…”,
“nanti sore dia ke sini…”,
“hemh…”, kata Atha sambil pergi ke kamarnya, lagi-lagi Atha memperhatikan pianonya dan membuat bulu kuduknya sedikit berdiri.
Malam pun tiba, saatnya makan malam,
“lha…kata ayah sore, kenapa jam segini belum datang juga?”, Tanya Atha,
 “mungkin dia belum beres packing barangnya…sekarang kamu makan dulu…ini ayah beli di deket tempat kerja ayah,”, Atha pun langsung makan nasi yang di campur dengan rendang sapi dan gudegnya
 “nah..ini baru enak…”, kata Atha yang makan dengan lahap, ayah hanya bisa tersenyum.
Suara mobil terdengar semakin dekat,
 “nah mungkin itu om Adi…ayah bukain dulu pintunya yah…”, Ayah pun beranjak,
kini Atha tinggal sendiri, ia merasa ada yang memperhatikan dari belakang, Atha pun berbalik ke belakang, tapi tidak ada apa-apa selain piano tua yang tertutup dengan kain putih. Atha pun kembali mengalihkan pikiran, namun lagi-lagi rasa itu menghinggapi Atha, ia pun kembali berbalik, dan tetap saja tidak ada apa-apa, “aneh banget…”, dari kejauhan terdengar suara tawa ayah dan om adi,
“atha…nil oh yang nama nya om adi itu..”,
“heuh..malam om…”,
“dan ini Raihan anak nya om Adi…oiya masa iya, Raihan mau dititipin ke Babysitter,”, kata Ayaha, om adi pun tertawa,
“atha pikir anaknya masih kecil…ternyata seumuran…”,
“gue 5 bulan lebih tua dari loe…”, kata Raihan
“ahahaha…ayo kita makan malam…”, kata Ayah mencairkan suasana.
Waktu kembali menunjukkan pukul 24.01, lagi-lagi kain putih itu secara perlahan jatuh ke lantai, tut piano mulai tertekan dan menjadi sebuah nada yang tak beraturan, seperti sedang meluapkan rasa kesal dan marah.
Raihan mulai terganggu dengan suara piano itu,
 “sssshhhh…berisik banget sih…”, Raihan menutup kepalanya dengan bantal dan melanjutkan kembali tidurnya.
Keesokan harinya, tepat di meja makan dengan menu nasi goreng ala ayah,
“ayo nak Raihan di cicipi nasi gorengnya…”, kata ayah,
 “iya om…loe…kalo gak bisa main piano, udah deh nyerah aja…berisik tau…”, kata Raihan pada Atha yang baru tiba di ruang makan,
“apaan sih loe…yah…aku berangkat duluan yah…”, kata Atha,
“kamu gak sarapan dulu?”,
“aku sarapan di sekolah aja…”. Atha pun pergi.
Atha pun tiba di sekolah dengan wajah kesal,
“kenapa toh tha?”, Tanya Nunik,
“gue kesel aja…ada penghuni baru di rumah gue…”, kata Atha,
“penghuni baru…tapi firasatku lain…dia penghuni lama, jauh sebelum kamu datang ke rumah itu..”, kata Nunik yang membuat Atha bingung,
“maksud loe, cowok sok dewasa yang baru pindah…euh..maksudnya baru numpang ke rumah gue tadi malam adalah penghuni lama? Gitu?...”,
“tapi dia bukan laki-laki…dia perempuan…”, kata Nunik yang semakin membuat Atha kebingungan,
“loe aneh banget sih hari ini?tadi di rumah loe makan apa sih…?heran gue…”, kata Atha yang mulai meninggalkan Nunik, namun Nunik tetap terdiam dan membatin,
Aura hitam…Merah yang sangat kuat…seorang gadis berambut pirang,…sebuah piano…kemarahan…balas dendam….”.
Bel istirahat pun berbunyi seperti biasa Atha dan Nunik pergi ke Kantin, kali ini Atha yang membuka pembicaraan,
“Nik…apa ini perasaan gue aja kali ya?...setelah gue pindah rumah ke rumah itu, gue ngerasa ada yang aneh…pertama ada sebuah lukisan yang baru banget gue lihat, dan lukisan itu seperti menyimpan sebuah misteri, trus di kamar gue…gue kesel banget ma tu kursi…tiap pikiran gue kosong, adaaaa aja yang gue pikirin tentang kursi itu, udah gitu yah…di rumah itu ada sebuah piano tua…nama nya Steinway, pas gue searching di google, itu keluaran tahun 1853..tua banget kan…berarti rumah itu udah ada sejak zaman penjajahan dulu…yang bikin gue aneh nih yah…gue kan buka kain putih yang nutupin pianonya, udah gitu gue tutup lagi deh tuh…pas pagi, kain itu udah jatoh aja di lantai…aneh banget kan…”, jelas Atha,
“tha…apa kamu pernah denger dari orang sekitar?”,
“hahaha..loe bercanda ya...gue kan gak punya tetangga…”,
“gini loh…rumah itu…emh…ini menurut dari cerita orang dulu…rumah itu dulunya rumah dari seorang Menir kaya raya, dia punya anak perempuan yang punya kelainan mental, suaminya adalah seorang jendral, dan tentang piano itu, anak perempuan itu sangat suka bermain piano, bisa di bilang piano itu adalah tempat curhatnya dia, semua nada yang dikeluarin dari piano itu adalah perasaan si pemain…”, jelas Nunik
“tunggu…tadi pagi si sok dewasa bilang ke gue kalo loe gak bisa main piano nyerah aja deh…berisik…itu berarti nada nya nggak enak di denger, dan apa itu berarti dia lagi kesel?tapi aneh…kok gue gak denger yah?”, kata Atha bingung sendiri.
Semenjak perbincangannya dengan Nunik, Atha terus memikirkan semua hal tentang rumah itu, tapi itu tidak membuat Atha menjadi paranoid.
“aku pulang…loe…ayah gue mana?”, Tanya Atha pada Raihan,
“Bokap loe pergi ke Jakarta sama Bokap gue…”, jawab Raihan sambil baca komik di ruang tamu,
 “owh..kapan mereka balik?”,
“minggu depan…”,
“apa…kenapa biarin dua manusia berbeda tinggal dalam satu rumah….hauh…”, kata Atha sambil naik ke atas tangga,
“hei…lagi pula loe bukan tipe gue…”, teriak Raihan, Atha pun masuk ke kamar dan tanpa sadar ia duduk di kursi tua itu, tiba-tiba aja ada yang masuk ke dalam pikiran Atha.
Sebuah kenangan masa lalu, seorang anak gadis yang terkurung di kamarnya selama berbulan-bulan lalu anak itu mencoba untuk bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangannya, Namun suara Handphone membuyarkan semuanya,
ayah memanggil..ya Hallo…”,
“Tha…ayah ada urusan mendadak…kamu gak apa-apa kan bareng Raihan…minggu depan ayah pulang…udah yah..ayah tutup..”,
 “tapi yah…belum juga ngomong…main tutup aja…tapi…barusan itu apa yah?...hah…Nunik…”, Atha pun menelpon Nunik dan bertemu di taman.
Dengan sabar Nunik menunggu Atha yang datang agak terlambat,
“ma’af gue telat…”,
“nda apa-apa…ada apa toh tha?”, Tanya Nunik
“Nik…makin ke sini makin aneh aja…pas tadi gue duduk di kursi itu dan loe harus tau, ada yang masuk ke pikiran gue…”, Atha pun menceritakan semua pada Nunik,
“tha…ada yang mau aku omongin sama kamu…sekarang ini kamu lagi dikelilingi oleh aura hitam, ada yang mau nyelakain kamu…dan kamu juga harus tahu…ini tentang piano itu, kamu harus pindah secepatnya dari rumah itu..”,
“bagaimana bisa?ayah pergi ke Jakarta, dan gue tinggal di rumah sama Raihan,”, tiba-tiba ada yang masuk ke pikiran Nunik, Atha akan berteriak minta tolong, Raihan yang tertusuk pisau dan….
“Nik….kenapa…?”,Tanya Atha yang membuyarkan Firasat Nunik,
“Tha…aku gak mau ini terjadi sama kamu…sekarang juga..kamu harus pergi dari rumah…kalau bisa Raihan juga harus ikut keluar”,
 “ah serius loe Nik…”, Nunik hanya terdiam, dan terlihat seperti bukan Nunik, itu membuat Atha ketakutan, Atha pun meninggalkan Nunik.
Hari mulai gelap, hujan mulai turun, Atha pun tiba di rumah, ia langsung berkemas, namun selama ia berkemas, ada sekelebat cahaya yang melintas tepat di hadapan Atha, Atha semakin panic,
“hhhhhaahhh…gue harus keluar dari rumah ini secepatnya…Raihan…ya..dia juga harus ikut,” Atha pun keluar sambil membawa koper menuju kamar Raihan, “Han….Raihan…”, Atha terus mengetuk pintu kamar Raihan, tapi pintu nya tak kunjung terbuka, Atha pun membuka sendiri pintunya, dan alangkah kagetnya ketika Atha masuk ke kamar Raihan, Raihan sedang mencium Lem Aibon, “Hei…loe gak sayang sama diri loe apa?”, kata Atha sambil melempar lem nya,
“hei…apa-apaan nih…”, kata Raihan sambil mengambil kaleng lem nya, “denger ya…gue lem sepatu gue…ngerti loe?..hei ngapain loe bawa-bawa koper segala?”,
“Raihan…kita harus keluar dari rumah ini secepatnya…”,
“kenapa?apa loe takut terjadi apa-apa sama kita berdua?”, kata Raihan dengan nada meledek,
“sekarang, kita dalam bahaya…”,
“loe aja kali…gue enggak…” kata Raihan sambil tiduran,
selama perdebatan itu tiba-tiba ada yang kembali masuk ke pikiran Atha, sebuah buku diari, “Diari…”,
 “apa?” kata Raihan yang mulai beranjak dari kasurnya.
Atha dan Raihan pergi ke kamar Atha, di sana mereka mencari sebuah buku diari,
“sebenarnya buku apa sih yang loe cari?”, Tanya Raihan,
 “buku…kita harus nemuin buku itu…”, Atha terus mencari buku itu di rak buku, Raihan mulai mencari di laci, ia membuka laci dan membalik laci nya,
“apa ini yang loe cari…”, tanpa sepatah kata, Atha merebut Diari itu dan membukanya,  “bahasa apaan nih?”, Raihan mengernyitkan dahinya,
“mana gue liat…ini…bahasa belanda…lagian buat apa sih?”,
Atha mengeluaran smartphone nya, ia mulai mengetik tulisan itu di Google translate “Ik ben niet gek… ‘aku tidak gila’, ze zijn gemaakt als deze… ‘mereka yang membuatku seperti ini’…moet ik uiteindelijk mijn leven?... ‘haruskah aku mengakhiri hidupku’…hah..ini gila…”, Kata Atha sambil membuka halaman lainnya, “vandaag was een zeer plezierige… ‘hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan’, Ik stapte uit en speel de piano de hele dag… ‘aku keluar dari kamar itu dan bermain piano seharian’, piano is mijn enige… ‘piano adalah temanku satu-satunya’.” Lalu Atha membuka halaman terakhir dan tertulis bahwa hari itu adalah hari terakhir gadis itu menulis di buku diari nya, ia menceritakan betapa kejamnya mereka (bangsa jepang) membantai seluruh keluarga gadis itu, dan gadis itu mengatakan bahwa ini adalah akhir dari hidupku.
Lalu pikiran Atha kembali di rasuki, Atha melihat bahwa gadis itu telah menyaksikan pembantaian seluruh keluarganya di belakang rumah, “hhhhhaahhh….”, Atha mulai berkeringat dingin…
“loe kenapa?”, Tanya Raihan,
“lukisannya….” Atha pun keluar dan di ikuti oleh Raihan, Atha melepas Lukisan itu, setelah itu Atha hendak turun, namun apa yang terjadi, piano itu kembali mengeluarkan suara yang sangat menegangkan dan tak beraturan,
“tha…loe liat gak?”, kata Raihan agak ketakutan,
“ya…gue liat…balik badan loe…kita balik ke kamar loe…” mereka pun mencoba menghindar, namun suara piano itu semakin keras, dan kini sosok gadis berambut pirang dengan noda darah di dadanya berada tepat di depan Raihan dan Atha, “pergi loe…”, kata Atha yang menjauh…namun sosok itu semakin mendekat…Raihan dengan cepat turun ke bawah dan memainkan pianonya, Raihan memainkan lagu Nina Bobo, sosok itu menjauh dari Atha, dan kini berada tepat di samping Raihan mendengarkan permainan Raihan dan menangis, Raihan agak gemetaran,
“Tha…cepet cari cara…gue takut nih…”, Atha kembali ke kamarnya ia kembali membaca diarinya, di sana di jelaskan bahwa gadis itu bukan mati di tangan orang jepang, tapi ia mati di tangan orang yang sangat mencintainya, seseorang yang sangat terobsesi padanya, sementara Raihan memainkan pianonya, tiba-tiba di belakang ada yang menikam Raihan dengan sebuah Gunting besar, Atha langsung teringat pada kakek itu, lalu ia hendak turun ke bawah, namun apa yang terjadi?, Raihan sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di atas tut piano, dan terlihat seorang kakek yang pernah Atha lihat sebelumnya,
 “Raihan…Nunik…”, Atha menelpon Nunik…
“Nik tolong gue…gue beneran dalam bahaya…”, Atha pun menangis dan mulai ketakutan…Atha pun mencoba untuk keluar dari rumah, tapi lagi-lagi sosok gadis itu mengikuti Atha, bahkan Sosok itu terus mendekati Atha.
Atha sudah hampir pasrah, tapi sosok itu membisikan pada Atha bahwa ia harus menyelamatkan diri dan ungkapkan semua kasus nya, tapi kakek itu sudah menyadari keberadaan Atha, kakek itu pun mengejar kemana Atha pergi, Atha pun terus berlari, Atha menemukan jalan buntu, kakek itu pun hendak menusukan guntingnya pada Atha, tapi Atha menendang kaki kakek itu hingga ia terjatuh, lalu Atha kembali berlari ke bawah,
 “Atha….”, kata Raihan yang sudah sangat kesakitan,
“loe…tahan dulu sakitnya…”, Atha pun memapah Raihan keluar dari rumah itu, tak lupa juga Atha membawa lukisan itu, kini Atha dan Raihan tiba di halaman belakang, terlihat ada sebuah pohon besar yang sama persis seperti yang ada di dalam lukisan, “ini tempatnya…tempat dimana orang tua gadis itu dibantai, lalu bayangan masa lalu pun terlihat, Atha membalikan badannya dan terlihat seorang gadis yang sedang memainkan piano dengan nada yang tak beraturan, lalu Atha juga melihat ada seorang laki-laki yang menusuk nya dari belakang hingga gadis itu tewas, dan laki-laki itu adalah kakek yang pernah Atha lihat. Pikiran lain terlintas ketika laki-laki itu menggali lubang tepat di bawah piano nya dan mengubur gadis Belanda itu di dalamnya, setelah itu lubang itu di tutup oleh kayu dan Karpet.
Kakek itu kini sudah bangkit, dan kembali mencari Atha, ketika Atha hendak berlari, Atha pun terjatuh, kakek itu mengacungkan guntingnya dan hendak menusuk Atha, namun apa yang terjadi?kakek itu malah tersungkur di hadapan Atha dan Raihan. Sebuah tombak besar menancap tepat di punggung kakek itu dan menembus hingga ke jantung,
“dank u….”, sosok itu mengucapkan kata terakhir dan menghilang, dan masih sempat-sempatnya Atha mentranslate kata-kata itu di Google Translate.
Nunik pun tiba di rumah Atha,
 “Athaaa….” Nunik dengan cepat memeluk Atha..
“loe telat…pertunjukannya udah selesai…”,
“kamu ini…masih sempet-sempetnya bercanda toh…hah…darah…”.
Mobil polisi pun tiba, banyak polisi yang berada di TKP dan mencatat semua keterangan dari Atha.
“ini memang sedikit mustahil, tapi bapak harus percaya…dan ada satu hal yang ingin aku kasih tau sama bapak…di bawah piano itu ada jasad pak…”,
“benarkah?...petugas…ayo kita geser piano itu dan ayo kita lihat ada apa di bawah piano itu. Mereka pun melakukan pembuktian,
“di sini ada jasad…”, teriak salah seorang petugas,
“jasadnya masih utuh…ini di awetkan…dan kau nak…kau sudah memecahkan sebuah kasus, kasus ini adalah kasus mendiang ayahku, ternyata gadis ini tidak hilang, dia tewas di rumahnya sendiri, baiklah…kasus sudah terpecahkan..dan kau harus periksa dirimu di psikiater…”, kata Polisi
“aku normal pak…kalau aku gila, mana mungkin aku bisa sekolah dan memecahkan kasus mendiang ayahmu?”,
“ahahahaha…kau benar…ada kalanya kita percaya dengan hal-hal yang memang tidak masuk akal”, para polisi pun pergi.
5 hari kemudian, Ayah dan Om Adi kembali, Atha dan Raihan sedang bermain di halaman depan rumah,
“hei…anak muda…ada angina pa kalian bermain bersama?”, kata ayah,
“sore ini anginnya bagus..jadi kami main bersama”, kata Raihan sambil tersenyum pada Atha
“apa terjadi sesuatu?”, Tanya Om Adi
“tentu saja…kami mengalami suatu kejadian di luar nalar…”, kata Atha,
“benarkah?”,
“lalu apa kau akan menuangkan kejadian itu ke dalam sebuah cerita pendek?”, kata Ayah dengan nada menggoda, semuanya tertawa dan masuk ke dalam rumah.
The End

Senin, 23 Desember 2013

My Inspiration Room

Cerita tentang penghuni Hamparan Harapan...

para tinta yg terdeportasi pun harus kmbali ke daerahnya yang sangat gelap dan berdesakan, si Mr Cartridge yang masih terdiam tak berguna harus masuk kedalam ruang yang sama gelapnya tapi dia memiliki ruang yang cukup untuk dirinya sendiri, si Mrs Earphone akan pergi menemani si pemilik ruangan, tumpukan kertas harus menerima banhwa diri mereka sudah tak layak berada di sebuah tempat datar yang dinamakan "hamparan harapan", tumpukan buku yang merasa terpojokan di hamparan pun akan kembali mrasakan kebersamaan mreka dengan sebangsa mereka di sebuah tempat yang bernama "rak pengetahuan", persahabatan antara tipe x dan balpoin pun akan terus berlanjut, harapan mereka adalah mereka bisa menjadi senjata yang terbaik dan bermanfaat bagi si pemilik ruangan maupun pelajar lain yang ada di dunia ini. tak lupa juga penggaris yang masih belia harus mencoba menjadi yang terbaik dalam segala hal yang harus ia luruskan. seperti halnya gulungan kabel yg tak tearah harus berusaha keluar dari belitan masalah, masalah membuat mereka memiliki rasa kebersamaan. setelah masalah selesai, mereka akan berpisah dan kembali bertemu dalam masalah selanjutnya.
Hamparan harapan pun kini terlihat lebih luas dari sebelumnya, bagaimana tidak? hampir semua imigran telah dikembalikan ke tempat asal mereka. kini Hamparan Harapan hanya memiliki beberapa warga tetap yang memang seharusnya berada di sana. sebuah dunia nyata dan maya bersatu di sekitarnya, Mr. Printer yang belum juga menyadarkan diri membuat semua merasa kehilangan dan semua berharap Mr. Printer bisa kembali terbangun dan mengoceh meski itu terdengar agak mengganggu ketenangan tapi semua sangat merindukan ocehan itu. sang pengeras suara yang pandai bernyanyi pun ikut menemani mereka di Hamparan Harapan. tak hanya itu, sebuah kotak yang terkumpul semua rasa terima kasih pun rela mengisi ruang di Hamparan harapan meski ia harus selalu terpojok bersama sebuah kabel yang bisa menghubungkan kita ke dunia maya.
tak semua yang pergi membawa kehilangan, tapi tak sedikit yang tertinggal merasa bahwa mereka yang pergi meninggalkan sebuah kenangan. — di my inspiration room.

Cerita Bersambung



Cool…What’s Ur Name?
            Hari senin adalah awal dari segala aktifitas semua orang, meski tak banyak mereka yang hanya diam di hari senin, tapi begitulah adanya. Banyak sekali yang memulai aktifitas mereka di hari senin, entah itu bekerja, belajar, melamar pekerjaan sampai mereka memulai pekerjaan baru setelah mereka memutuskan untuk keluar dipekerjaan lamanya di hari sabtu.
Di sebuah jalan yang tak begitu besar, seorang gadis berjilbab putih dengan tas gendongnya berlari sekencang-kencangnya.
“Hhhhhaahhhh…aku bisa terlambat…”, gadis berjilbab itu terus berlari tanpa menghiraukan lambaian tangan dari seorang gadis berjilbab lainnya yang berada di persimpangan jalan,
“hei…kenapa dengannya?”, gadis berjilbab lainnya menurunkan tangannya dan melanjutkan langkahnya,
10 menit pun berlalu, kini gadis berjilbab putih itu tiba di sekolah.
“Reva…kenapa kau tidak masuk?”, Tanya gadis berjilbab yang melambaikan tangannya di persimpangan jalan yang baru saja tiba,
“aku lupa…”, gadis yang sering dipanggil Reva itupun terdiam,
“apa? Apa kau lupa membawa buku pelajaranmu?”, Tanya gadis berjilbab lainnya sambil merebut tas Reva,
“Milly…aku lupa, bahwa hari ini aku tidak melihatnya,” Reva pun membesarkan matanya,
“kau melotot padaku?”, Milly memicingkan matanya,
“hei…apa yang sedang kalian bicarakan di depan gerbang sana? Ayo cepat masuk, sebentar lagi upacara akan segera di mulai,” teriak salah seorang guru pria sambil terus menghampiri mereka berdua.
“baik pak…”, mereka berdua pun berlari menuju lapang untuk melaksanakan upacara di hari senin.
Di kelas yang berada di pojok gedung, terdengar suara seorang guru pria yang menerangkan tentang matematika. Jutaan angka seakan berhambur keluar dari mulutnya melewati setiap pasang telinga 24 murid dan lewat begitu saja seperti rombongan mobil jema’ah haji yang berlalu begitu saja di depan sebuah Bandara.
“Siapa yang akan mencoba rumus ini?”, Tanya Guru pria itu sambil melihat semua muridnya,
“kkkkkrrrriiiiinnnnggggg….”, suara bel istirahat pun berbunyi,
“baiklah, kita akan bertemu di hari rabu. Ku harap kalian bisa mengerti dengan pelajaran kali ini, terima kasih atas perhatiannya, Wassalamu’alaikum,” guru pria itu pun membereskan buku-bukunya dan segera bergegas,
“Whhhhooooaaaaaaa….”, Milly bergeliat dan menguap,
“hei…tutup mulutmu, apa kau mau syaitan menertawakanmu?”, kata Reva sambil menutup mulut Milly dengan tangan kanannya,
“benarkah?”, Milly segera menutup mulutnya, “Aiissshhh…Syaitan itu, hei mau kemana kau?”, Tanya Milly yang bergegas untuk mengikuti Reva,
Di kantin, Reva melihat sekeliling bangku kantin yang penuh dengan para siswa.
“Hhhaauuuhhh…ku kira hari senin kantin ini akan sedikit kosong,” Reva terus berjalan dan bergumam sendiri,
“kosong kenapa? Bukankah ini waktunya istirahat?”, Tanya Milly yang terus mengikuti Reva dari belakang,
“ini hari senin, ku pikir mereka akan mengosongkan perut mereka untuk sementara waktu,” kata Reva yang kini menemukan tempat duduk di ujung Kantin,
“lalu kau sendiri kenapa tidak shaum?”, Tanya Milly yang kembalimemicingkan matanya,
“emh…itu…ah…tadi malam aku belajar sampai malam, jadi aku bangun agak siang,” Reva pun memalingkan wajahnya,
“tadi malam kau belajar? Lalu kenapa facebook mu aktif semalaman? Kau tidak sedang mengadakan forum belajar bersama di akun Facebook mu kan?”, Tanya Milly yang terus menatap Reva dengan tatapan yang sangat tajam,
“ahahahaha…aku hanya sedang merasa bosan, jadi sesekali aku membuka Facebook, hemh…” Reva pun tertawa canggung,
“apa kau benar merasa bosan? Apa bukan karena kau sedang mencari seseorang?”, Milly semakin menjadi,
“sssshhhh…baiklah aku mengaku, benar…semalaman aku mencari seseorang, orang itu selalu ada di dalam pikiranku, tapi sejauh aku memikirkannya, aku belum mengetahui siapa namanya,” Reva terlihat kesal,
“kenapa begitu sulit? Apa yang sebenarnya kau sulitkan? Tidak ada hal yang sulit di dunia ini…”, jelas Milly sambil menusukkan sedotan ke atas minuman gelas
“benarkah?”, Kali ini Reva terlihat kebingungan,
“begini…apa yang kau pikirkan tentang dia?”, Tanya Milly yang terus menghabiskan minumannya,
“dia itu rapih, rambutnya, matanya…wuah…Subhanallah…”, Reva membayangkan seseorang yang selama ini di perhatikannya,
“ya…kau bisa menyebutnya dengan salah satu keterangan yang sudah kau pikirkan tadi, misalnya si Rapih…si Rambut…eh…tunggu, setiap orang memiliki rambut dan itu terlalu umum,” Milly masih merasa belum yakin,
“jadi bisa kusimpulkan bahwa dia itu sangat dingin, ahahahah…aku suka laki-laki yang seperti itu,” Reva tersenyum sendiri,
“ck..ck..ck…dingin apanya? Apa kau mau di setiap bertemu kalian hanya diam saja?”, Milly terlihat kesal,
“tidak juga…akan ku ajak dia bicara, dan aku akan melontarkan banyak pertanyaan padanya, dan aku akan mengawalinya dengan bertanya, ‘Cool…Siapa Namamu?...ahahahah” Reva tersenyum dan mencoba meyakinkan Milly,
“apa kau seorang Wartawan?”, Milly menggeleng-gelengkan kepalanya,
“ya tentu saja aku akan menjadi seorang wartawan yang merangkap menjadi seorang host yang akan mewawancarai idolanya sendiri, bagaimana? Bukankah itu menyenangkan?”, Reva tertawa sendiri,
“bagaimana karena saking dinginnya, dia hanya menjawab iya dan tidak? Bagaimana perasaanmu?”, Tanya Milly,
“ssshhh…apa tidak ada kosa kata lain dalam hidupmu?”, tiba-tiba Reva berteriak, semua mata pun tertuju pada Milly dan Reva,
“sssstttt…pelankan suaramu…”, Milly terlihat malu,
“ma’af…aku hanya terbawa suasana, aku yakin dia akan menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang akan ku ajukan padanya, hemh..”, Reva kembali tersenyum,
“baiklah…lalu, apa kau memiliki keberanian untuk berbicara padanya?”, Milly semakin memancing Reva,
“entahlah…aku tidak yakin, tapi jika itu bisa terjadi, maka apa boleh buat? Bukankah baru saja kau mengatakan bahwa tidak ada hal yang sulit di dunia ini?”, Reva pun tak henti-henti tersenyum,
Bel masuk pun berbunyi, semua murid kembali ke kelas nya masing-masing dan kembali belajar hingga akhirnya bel istirahat shalat Dzuhur tiba.
Tepat berada di wc masjid, Milly menunggu Reva yang belum juga keluar dari kelas. Lalu ada seorang anak laki-laki dengan gaya yang sedikit urakan menghampiri Milly,
“ada apa?”, Tanya Milly dengan dingin,
“ada apa katamu? Kau yang ada apa?”, tiba-tiba anak laki-laki itu berteriak pada Milly,
“hei…apa yang sedang kau lakukan?”, teriak Reva yang berlari ke arah Milly,
“owh…aku tahu, pasti karena si kutu buku ini…”, anak laki-laki itu memandang Reva dengan sinis,
“tidak ada kaitannya dengannya, aku memutuskanmu karena alasan lain…”, jelas Milly yang mulai gemetaran,
“Milly…”, Reva menggenggam tangan Milly erat-erat,
“aku pikir aku bisa merubah sikapmu menjadi lebih baik, tapi ternyata aku salah sangka pada diriku sendiri, aku belum mampu mengubah diriku sendiri, bagaimana mau bisa mengubahmu?”, Milly semakin berkaca-kaca,
“ma’afkan aku…ini pasti karena kejadian kemarin, dengar…kemarin aku hanya sekedar mampir ke rumah Teguh, tapi aku tidak tahu jika di sana sedang mengadakan pesta seperti itu..”, jelas anak Laki-laki itu, Milly pun meneteskan air mata,
“Ando…Milly sedang merasa terguncang, jadi lebih baik biarkan Milly untuk sementara ini,” kata Reva yang hendak menyeret Milly,
“diam kau kutu buku…ini semua pasti karena kau yang mempengaruhi Milly, benarkan?”, Ando menahan tangan Milly, “sejak awal kau tidak menyetujui hubungan kami, karena tak ada pacaran dalam kamusmu, benarkan? Dan…aku yakin kau tidak akan memiliki pacar sampai kapanpun, nikmati masa mudamu…”, Ando pun menghempaskan tangan Milly dan pergi,
“hauh…apa dia gila? Apa dia pikir aku ini ibumu? Kenapa dia mengatakan kalau aku tidak menyetujui hubungan kalian? Cckkk…hubungan apa?”, Gumam Reva,
“sudahlah…aku pergi dulu…”, Milly pun melepaskan tangannya dari genggaman Reva dan pergi meninggalkan Reva sendirian.
Satu minggu sejak kejadian itu, Reva dan Milly jarang bersama. Kembali di hari senin, Reva berjalan agak lambat karena hari masih pagi. Reva berharap bahwa ia bisa bertemu dengan Milly, tapi ternyata tidak bahkan Milly tidak masuk sekolah.
Sesekali Reva menengok ke arah tempat duduk Milly, dan memikirkan tentang sahabatnnya Milly. Jam istirahat pun tiba, Reva tidak pergi ke kantin karena kebetulan hari ini Reva sedang mengosongkan perutnya. Selama istirahat Reva hanya diam di kelas. Jam pulang tiba, Reva pulang sendiri.
Sob…”, Reva mengirim pesan pada Milly,
yah…”, Milly pun membalas pesan dari Reva,
“apa kau sakit?”
“tidak…”
“lalu kenapa kau tidak masuk hari ini?”
“aku hanya ingin berpikir saja”
“berpikir tentang apa?”,
“entahlah…aku berpikir untuk mengubah diriku agar menjadi lebih baik”
“begitukah?”
“iya…”
“aku minta ma’af…aku pikir, kata-kata Ando tak sepenuhnya salah, mungkin kau terpengaruh oleh kata-kataku, jika kau ingin mengubahnya, kau harus terus berjuang,”
“tidak…kau tidak ada kaitannya dengan hal ini, ini sudah keputusanku, kau seperti ini karena sikapku akhir-akhir ini kan?
“jujur saja..iya…aku merasa tidak enak hati…”
“jangan begitu, aku ini sahabatmu, sahabat lebih penting daripada pacar,”
“benarkah? Terima kasih…”, Reva pun tersenyum, tak lama kemudian Reva tersadar bahwa kini ia sedang berada di halte bis. Reva pun duduk, lalu ada seseorang yang duduk di sebelah Reva dan menjatuhkan payungnya,
“ma’af…”, suara berat dan sejuk anak laki-laki itu pun terdengar sangat indah di telinga Reva,
dia…”, Reva pun membatin dan terdiam memandangi siapa yang sedang berada di sampingnya,
Merasa risih karena terus diperhatikan, anak laki-laki itu pun balik melihat Reva. Detak jantung yang tiba-tiba berdetak dengan begitu cepat membuat Reva merasa lemas dan hampir menjatuhkan ponselnya,
“kau baik-baik saja?”, Tanya anak laki-laki itu sambil terus menatap Reva yang sedang menatapnya,
“hemh…apa?...owh…ada pesan,” Reva mengalihkan perhatiannya pada Ponselnya,
benar, sama-sama…hei, kau sedang dimana?apa kau sudah pulang?” milly membalas pesan dari Reva,
“halte, sudah, dia ada di sampingku…”, jawaban pesan Reva pada Milly,
“benarkah?”,
“emh…sebenarnya…”, Reva kembali melihat ke samping dan hendak memulai pembicaraan dengan anak laki-laki tadi, tapi sayang anak laki-laki itu sudah naik bis terlebih dahulu, “hei…kemana dia?”, Reva pun menunduk karena kesal.
Keesokan harinya, seperti biasa Reva berjalan seperti biasa. Kali ini Milly sudah berada di persimpangan jalan untuk menunggu Reva,
“Bat…”, teriak Milly pada Reva,
“hei Sob…”, Reva terlihat lemas,
“kenapa denganmu?”, mereka pun kini berjalan bersama, “bagaimana? Bukankah kemarin dia berada di sampingmu?’, Milly merasa penasaran,
“iya…tapi dia menghilang ketika aku hendak membalas pesan darimu,” Reva semakin merasa kesal,
“benarkah? Kalau begitu ma’afkan aku…tapi…apa kau akan marah padaku karena masalah ini?”, teriak Milly,
“hei…”, Reva kaget, “mana mungkin? Oiya…apa kau sudah baikan hari ini?’, Tanya Reva yang kembali bersemnagat,
“lalu bagaimana menurutmu?”, Milly menaikkan dagunya,
“ahahahaha…aku rasa kau sudah baikan…”, mereka pun tertawa bersama dan melangkah bersama.
Atmosfer kelas memanas di pelajaran pertama, ini karena ada perubahan jadwal tiba-tiba yang dilakukan oleh guru matematika.
“kenapa kalian tidak mengerjakan tugas yang saya berikan? Bukankah kemarin saya sudah bilang bahwa jadwal hari senin di ubah menjadi hari selasa?”, jelas pak guru dengan begitu kesal,
“ma’af…”, seorang anak laki-laki berkaca mata mengangkatkan tangannya, “ini salahku…aku lupa memberitahu mereka,” jelas anak laki-laki itu,
“Ahmad…kau itu ketua kelas, seharusnya kau mengingat semua hal yang sudah di amanatkan kepadamu, bukankah ada ponsel? Facebook? Kenapa kau tidak mengabari mereka dengan itu semua?” Pak guru semakin kesal,
“ma’afkan aku pak…”, Ahmad pun tertunduk,
“baiklah…sebagai gantinya kalian harus membayar infak untuk kelas, Rp. 500,- per soal dan kumpulkan di bendahara, kalian mengerti?”, kata Guru itu sambil terus melihat anak-anak didiknya,
“iya pak…”, semua pun mengiyakan,
“berapa so’al?”, Tanya Milly,
“20 soal di kali 500, berarti Rp. 10.000,-  uangku hanya ada Rp. 3.000,- bagaimana ini?”, Reva pun mulai berfikir,
“aku hanya ada Rp. 4.500,- Ahmad…apa ada keringanan? Kami kekurangan uang, apa bisa kami membayar sisanya besok?”, Tanya Milly,
“ma’afkan aku…aku akan membayar sisanya untuk kalian,” jawab Ahmad,
“tidak…jangan…jangan terlalu membebankan dirimu sendiri,” Kata Reva, “pak…Ma’af…apa bisa, jika kami mengerjakan so’al-so’al ini sebelum jam pulang?”, Reva pun mencoba memberanikan diri,
“ya…bisa di atur, kumpulkan di meja saya sebelum jam pulang, Wassalamu’alaikum,” guru Matematika pun pergi,
“hei, Reva…sudah bayar saja, ini lebih mudah kan…atau kalau tidak kita minta ganti rugi saja pada Ahmad si ketua kelas, bukankan dia yang sudah menyebabkan ini semua? Lagi pula apa artinya uang Rp. 10.000,- ?”, teriak salah satu siswi,
“hemh…”, Reva hanya tersenyum,
“sekali lagi ma’afkan aku…”, Ahmad semakin merasa menyesal,
“tidak apa-apa…kami akan mengerjakannya,” Milly pun mencoba menenangkan Ahmad,
Jam istirahat pun tiba, semua orang pergi ke kantin, sedangkan Reva, Milly dan Ahmad pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan so’al yang di berikan oleh pak guru. Bel masuk pun berbunyi,
“sudah masuk…”, kata Milly,
“ya…”, Reva masih menghitung,
“tersisa 7 so’al lagi…bagaimana?apa kalian mau menyelesaikannya?”, Tanya Ahmad yang sudah tak karuan,
“kita bayar saja…otak kita harus istirahat sejenak, setelah ini kita harus menghafal al-quran, benarkan…ayo kita masuk…”, Reva pun bergegas,
Mereka bertiga kembali ke kelas,
“ini…kami tidak mengerjakan 7 so’al, masing-masing bayar Rp. 3.500,- dan ini total ada Rp. 10.500,-” Reva pun meberikan uang pada bandahara kelas,
Pelajaran Alquran pun berlangsung, benar saja, setiap murid harus menghafal. Setidaknya mereka bertiga sudah istirahat untuk sejenak. Bel istirahat pun tiba, mereka bertiga baru saja keluar dari ruang guru,
“terima kasih, sampai jumpa besok…”, Ahmad pun pulang terlebih dahulu,
“sssshhh…lapar sekali,” Milly merengek,
“benar…bagaimana? Aku hanya punya uang Rp 500,-” Reva mengeluarkan uang logam dari saku roknya,
“aku punya Rp. 1.000,- ” Milly pun mengeluarkannya dari tasnya. “ayo ikut aku…”, Milly menyeret Reva ke kantin,
“hahahaha…”, Reva tertawa terbahak-bahak,
“bagaimana menurutmu?”, Milly membuka bungkus roti harga Rp. 1.000,- dan membelahnya menjadi dua,
“kita sangat beruntung, Alhamdulillah…dan ini minumnya,” Reva menusukkan sedotan ke atas minuman gelas harga Rp. 500,- . mereka pun duduk dan makan bersama.
Keesokan harinya, Reva menyuruh Milly untuk berangkat terlebih dahulu. Reva pun berjalan dan kini ia tiba di sekitar Halte. Dari jauh Reva melihat anak laki-laki yang selama ini ia perhatikan, dan beberapa pegawai negeri Sipil
“hei…cool…sebenarnya siapa namamu? Aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan namamu…”, Reva pun kembali berjalan menuju Halte,
anak laki-laki itu masih berdiri di sana. Tak lama kemudian, bis tiba dan anak laki-laki itu pun bergegas naik,
“hei…”, Reva pun hendak berlari mengejar anak laki-laki itu, “hemh…apa ini?”, Reva melihat ada sebuah buku yang terbungkus dengan rapi tergeletak di Halte, “Rakis Taura Fauzi…buku siapa ini?”, Reva pun membuka-buka buku tersebut, “tak ada siswa lain di sini? Apa mungkin ini miliknya?”, Reva terus membuka bukunya, “buku Matematika…wuah…ini buku PR Matematika, dan…bukankah sekarang tanggal 23 Oktober? Jika tidak mengumpulkan tugasnya mungkin dia…”, tanpa pikir panjang Reva mengejar bis itu. “Heeiiii…Cccccoooooolllllll…”, teriak Reva sambil terus berlari, “ah…aku ini bodoh atau apa…Paaaaakkkk Suuuupppiiiirrrrr…hhheeennntiiikkkaaannnn Bbbiisssnnnya…”, teriak Reva
“hei…apa gadis itu mengejar bis ini?”, Tanya seorang pegawai Sipil pada orang di sampingnya,
“sepertinya begitu…pak supir, tolong hentikan mobilnya…”, teriak penumpang lain,
“Hhhhhaaahhhh…terima kasih…”, Reva naik lewat pintu depan,
“ada apa?”, Tanya Supir bis,
“ada buku yang tertinggal di halte…dan ini milik c Cool…”, jawab Reva sambil melihat-lihat,
“cool katamu?”, supir bis kebingungan, “apa ada yang bernama Cool di sini?’, teriak supir bis, tak ada yang mengaku karena namanya begitu aneh,
“ahahaha…pak supir ma’afkan aku…namanya Rakis Taura Fauzi…”, jelas Reva yang masih kecapekan,
“baiklah…apa di sini ada yang bernama Rakis Taura Fauzi?”, supir bi situ kembali berteriak,
“Aku…”, anak laki-laki itu melepaskan earphonenya dan berdiri,
“bukumu terjatuh di halte…dan ku pikir ini buku PR mu, jika kau kehilangan ini mungkin kau akan di hokum oleh gurumu…hhhhaaahhhh…” Reva sangat kelelahan,
“itu tidak masalah…tapi terima kasih banyak untuk hal ini..”, Anak laki-laki yang bernama Rakis itu pun memasukkan bukunya ke dalam tas,
“jadi itu namamu…”, Reva tersenyum pada Rakis,
“apa maksudmu?”, Tanya Rakis,
“hhhaaahhh…aku bisa terlambat…baiklah, aku pergi dulu…pak supir terima kasih banyak,” Reva pun segera bergegas turun dari bis dan berlari.
“hei…sepertinya dia menyukaimu…” kata salah seorang penumpang pada Rakis.
Reva pun terlambat 10 menit, tapi tak ada guru pelajaran yang masuk di jam pertama jadi Reva masih bisa beristirahat. Jam istirahat pun tiba, Reva tak henti-hentinya tersenyum.
“ck..ck..ck..sebegitu senangkah dirimu?”, Tanya Milly,
“benar…”, Reva hanya mengangguk dan tersenyum,
“Milly…bisa kita bicara sebentar?”, tiba-tiba Ando menghampiri Milly
“baiklah…”, Milly pun beranjak dan pergi.
“cckkk…”, Reva sedikit kesal karena di tinggal oleh Milly,
“hei…apa kalian tahu? Sekolah Harapan sedang memanas dengan sekolah kita, jadi mulai sekarang kita harus berhati-hati jika berjalan, siapa tahu kita yang menjadi korban salah sasaran mereka,” kata salah seorang siswa yang berada di belakang Reva,
“benarkah? Hhhaahhh ini pasti karena Ando…dia itu si pembuat onar,” siswa lain pun menambahkan,
Reva semakin berpikir bahwa Ando sebaikya tidak mendekati Milly, setelah bertemu dengan Ando Milly menjadi murung. Jam pulang pun tiba.
“Reva…kau pulang duluan saja,” Milly menepuk pundak Reva,
“baiklah…”, Reva merasa ada yang aneh, Reva pun mengikuti Milly dari belakang.
Ternyata Milly menemui Ando di halaman belakang sekolah,
“apa yang sudah kau putuskan?”, Tanya Ando dengan pelan,
“aku akan tetap memutuskanmu…ma’afkan aku,” Milly pun tertunduk,
“ccchhh…terlihat sekali bahwa Milly masih menyukai Ando,” kata Reva yang berada di balik semak,
“kenapa? Apa karena si kutu buku itu?”, teriak Ando,
“ssshhh…kenapa dia selalu mengaitkannya denganku?”, gerutu Reva,
“hentikan…hentikan menyalahkan Reva, dia tidak ada hubungannya dengan ini, lebih baik kau dan aku intospeksi dulu,” jelas Reva,
“hahahaha…kau mencoba untuk mengajariku sekarang? Yang benar saja?”, Ando merasa tidak terima,
“begitulah…ini alasan mengapa aku sangat tidak tahan denganmu, sikapmu yang tidak mau menerima kesalahan diri sendiri dan kekanak-kanakan,” jelas Milly,
“apa kau bilang…”, Ando menganggkatkan tangan kanannya,
“hentikaaaaannnn…”, teriak Reva yang keluar dari semak, “apa kau juga seorang pecundang yang hanya berani pada seorang gadis?”, Reva semakin kesal pada Ando,
“Apa katamu?”, Ando semakin marah
“ya…kau hendak memukul Milly kan? Apa kau mau bertindak seperti jagoan? Ini bukan tempatmu untuk menjadi jagoan, apa kau mengerti?”, Reva memelototi Ando,
“ssshhhh…kutu buku ini benar-benar, apa kau benar-benar ingin…”, belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Milly dan Reva malah berlari, “Hei…tunggu…”, Ando pun ikut berlari,
Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Milly, Reva dan Ando,
“kenapa kita harus berlari?”, Tanya Milly,
“bukankah dia hendak memukulmu?”, jawab Reva yang terus menyeret tangan Milly,
Mereka sudah semakin jauh, Ando semakin mengejar. Kini mereka di hadapi 2 jalan,
“kau mau ambil yang mana?”, Tanya Reva,
“entahlah…aku pilih yang kiri saja,” jawab Milly,
“dalam film, jika kau memilih jalur kiri kau akan tamat,” Reva mulai kesal,
“lalu kau memilih jalan mana?”, Tanya Milly,
“kau yang kanan saja, aku jalan yang kiri…”, jawab Reva,
“hei…apa kau mau tamat?”, Milly berhenti berlari,
“ssshhh…ini adalah pengorbanan, percaya padaku…”, Reva mencoba meyakinkan Milly, “ayo cepat lari, Ando semakin dekat…jika kau terlebih dulu tiba di rumah, kabari ibuku, dan bilang padanya bahwa aku butuh do’a seorang ibu, sampai jumpa…”, Reva memilih jalur kiri, sedangkan Milly memilih jalur kanan.
Di luar dugaan, Ando malah mengejar Reva.
“sshhh…sebegitu bencikah dia padaku?”, Reva terus berlari, karena focus berlari, Reva tak memperhatikan ada batu besar di depannya, Reva pun tersandung dan terjatuh, “Wwwwoooaaaaa…dia semakin dekat…”, Reva pun beranjak dan kembali berlari,
“tunggu…kenapa aku mengejarnya?”, Ando pun berhenti berlari,
“kenapa dia diam?”, Reva menoleh ke belakang dan berpikir, “biar saja…ini kesempatanku untuk pergi,” Reva pun kembali berlari, tak jauh Reva berlari karena terlalu menoleh ke belakang, Reva menabrak seorang anak laki-laki dan kembali terjatuh, “ma’afkan aku…”, Reva kembali terbangun dan hendak berlari, tapi tiba-tiba ada yang menarik tasnya, “haduuuhhh…apa dia teman c Ando?”, Reva mencoba untuk berlari,
“hei…kau berhenti di sana…”, teriak Ando,
“jika ini akhir dari hidupku, aku berharap ibuku bisa menjadi lebih mandiri, ayah bisa mengirimku do’a, Milly bisa mendapat teman baru dan aku bisa berada di sisi-Nya dengan tenang,” gumam Reva yang masih tertahan sambil menutup mata, “Asyhaadualla Illaaha Illallah, Waasyhaaduanna Muhammadarrasuulullah,” Reva menutup matanya,
“hei…Rakis, kemana saja…?”, sapa Ando pada anak laki-laki yang sedang menahan Reva,
“heuh…”, Reva dilepaskan begitu saja, dan berbalik. Adegan yang sangat menakjubkan, Ando sedang berpelukan dengan seorang anak laki-laki yang berseragam SMA dan mengenakan jaket,
Kini mereka bertiga berada di sebuah tempat Mie ayam, Reva memandangi mereka berdua yang sedang asik mengobrol,
“tadi malam si Anggi telah menyayat wajah seorang siswa dari sekolah Pembangunan dengan pedangnya,” kata Ando sambil makan mie ayam,
“itu belum seberapa, aku hampir tertangkap ketika aku hendak menghabisi siswa dari sekolah Kebangsaan,” Rakis tak mau kalah dari Ando,
“wuah…kau memang seorang petarung sejati…”, Ando pun tersenyum pada Rakis,
“Rakis Taura Fauzi…Taura…Ta..U..Ra..n.., Tauran…ssshhh tidak aneh jika dia senang tawuran,” gumam Reva,
“hei…apa kau sedang ada masalah dengan gadis ini?”, Tanya Rakis sambil melihat kea rah Reva,
“tidak…aku bahkan tidak mengenalnya…”, Reva mendahului Ando,
“dia yang sudah mempengaruhi pacarku, dan sekarang kita sudah putus,” jelas Ando yang menatap sinis pada Reva,
“bagaimana kalau kita habisi dia”, Rakis pun tersenyum sinis pada Reva,
“hhhhwwwhhh…eemmmhhh, aku haus, aku ambil minum dulu,” hendak bergegas,
“ini…minumlah…” Rakis menyodorkan minum miliknya,
“ahahaha…aku suka air putih…”, kembali beranjak,
“ini,..minumlah…”, Ando menyodorkan air mineral miliknya,
“apa kau sudah menyiapkan rencananya?”, Tanya Rakis,
“tentu saja..kali ini kita pasti akan menang, ahahahah”, Ando tertawa puas,
“kenapa tidak di makan?”, Tanya Rakis pada Reva,
“aku tidak lapar, terima kasih…emh..bisakah aku pergi,” Reva kembali beranjak,
“hei…urusan kita belum selesai,” jelas Ando
“bereskan urusanmu dengan nya…aku pergi ke depan dulu”, Rakis pun beranjak,
“ada apa lagi?”, Reva menelan ludahnya sendiri,
“buat Milly kembali padaku, kalau tidak…”, Ando sedikit menakut-nakuti Reva,
“kalau tidak, kau akan menghabisiku?”, Reva mulai berlinang air mata, “jika kau begitu membenciku, lakukanlah…hhhmmmssss..tapi kau akan terkenang sebagai seorang pecundang”, Reva pun menunduk dan menangis,
“ssshhh…bukan itu maksudku…kenapa dia menangis?”, Ando jadi salah tingkah,
“kenapa?”, Rakis bertanya pelan pada Ando,
“tidak tahu?”. Ando menggelengkan kepalanya,
“hhhmmmsss…baiklah…kau akan menghabisiku dengan cara apa?”, Reva menegakkan kembali kepalanya,
“dengan cara kau membayar ini semua…”, tiba-tiba Rakis menjawab,
“Hahhh…apa maksudmu?”, Reva kebingungan,
“aku lupa membawa dompetku,” Rakis berkata dengan sangat berhati-hati,
“apa?”, Teriak Ando tak percaya, “uang ku habis untuk membeli buku”, Ando terlihat kebingungan,
“apa yang telah kau perbuat hingga kau membiarkan Ando untuk menghabisimu?”, Tanya Rakis yang membuka jaketnya,
“sekolah Harapan..”, Reva membacaa lokasi di seragam Rakis, “bukankah sekolah Harapan dan sekolah kita sedang memanas?” Tanya Reva pada Ando,
“memanas apa?”, Ando kebingungan,
“owh…itu..itu hanya salah paham, kami mengira mereka hendak menyerang sekolah kami, tapi ternyata mereka hendak mengajak kami untuk belajar bersama,” jelas Rakis,
“belajar?”, Reva semakin bingung,
“UAS akan segera tiba, aku harus mempersiapkan ini semua, aku dengar siswa laki-laki di sana sangat cerdas, maka dari itu aku berkenalan dengan Rakis,” jelas Ando sambil tersenyum,
“Hhhhaaahhh…aku bisa gila…” Reva pun merasa lemas sekaligus lega,
“tak hanya itu kami juga membuat club cinta damai yang menghilangkan tradisi tawuran antar siswa, ku harap ini semua bisa berhasil,” Rakis pun tersenyum pada Reva,
“hei…ayo bayar makanan kami,” teriak Ando,
“lalu kenapa kau hendak memukul Milly?”, Reva masih tidak yakin,
“siapa yang ingin memukul Milly? Aku hanya merasa punggunggku itu sakit, lalu kau sendiri kenapa berlari? Padahal ada yang ingin ku sampaikan padamu?”, jelas Ando,
“emh…itu…itu karena aku pikir kau akan menghajarku”, jelas Reva,
“melawan wanita adalah pecundang, tapi melawannya dalam segi pelajaran kenapa tidak, aku ingin mengajakmu dalam kelompok belajar yang sedang kita jalani, dan jangan lupa ajak Milly,” Ando terlihat malu-malu,
“Haahhhh…baiklah…Hhhhmmmhhh, aku sangat lega, ternyata ini semua tak seburuk yang ku pikirkan”, jelas Reva,
“kau jangan terlalu sering menonton drama, lebih baik kau focus pada pelajaranmu. Untuk tadi pagi, terima kasih…”, Rakis pun tersenyum,
“kalian…”, Ando menunjuk mereka berdua,
“iya…dia berlari mengejar bis yang sedang ku naiki untuk mengembalikkan buku matematikaku yang terjatuh di Halte,” jelas Rakis
“benarkah? Wuah bagaimana kau tahu itu miliknya? Apa kau memperhatikannya…atau jangan-jangan, apa kau menyukainya?”, Ando penasaran,
“emh…”, Reva hanya terdiam dan memerah,
“ah…aku ingat…kenapa supir bis itu memanggilku Cool sebelumnya?”, Rakis semakin bingung, namun Reva hanya tersenyum,
Akhirnya Reva bisa mengetahui siapa nama anak laki-laki yang sering ia perhatikan itu. Karena kesalahpahaman, Kini Reva, Milly, Ando dan Rakis berteman.

(23.12.2013) 3.06 WIB