Cool…What’s
Ur Name?
Hari senin adalah awal dari segala
aktifitas semua orang, meski tak banyak mereka yang hanya diam di hari senin,
tapi begitulah adanya. Banyak sekali yang memulai aktifitas mereka di hari
senin, entah itu bekerja, belajar, melamar pekerjaan sampai mereka memulai
pekerjaan baru setelah mereka memutuskan untuk keluar dipekerjaan lamanya di
hari sabtu.
Di
sebuah jalan yang tak begitu besar, seorang gadis berjilbab putih dengan tas
gendongnya berlari sekencang-kencangnya.
“Hhhhhaahhhh…aku
bisa terlambat…”, gadis berjilbab itu terus berlari tanpa menghiraukan lambaian
tangan dari seorang gadis berjilbab lainnya yang berada di persimpangan jalan,
“hei…kenapa
dengannya?”, gadis berjilbab lainnya menurunkan tangannya dan melanjutkan
langkahnya,
10
menit pun berlalu, kini gadis berjilbab putih itu tiba di sekolah.
“Reva…kenapa
kau tidak masuk?”, Tanya gadis berjilbab yang melambaikan tangannya di
persimpangan jalan yang baru saja tiba,
“aku
lupa…”, gadis yang sering dipanggil Reva itupun terdiam,
“apa?
Apa kau lupa membawa buku pelajaranmu?”, Tanya gadis berjilbab lainnya sambil
merebut tas Reva,
“Milly…aku
lupa, bahwa hari ini aku tidak melihatnya,” Reva pun membesarkan matanya,
“kau
melotot padaku?”, Milly memicingkan matanya,
“hei…apa
yang sedang kalian bicarakan di depan gerbang sana? Ayo cepat masuk, sebentar
lagi upacara akan segera di mulai,” teriak salah seorang guru pria sambil terus
menghampiri mereka berdua.
“baik
pak…”, mereka berdua pun berlari menuju lapang untuk melaksanakan upacara di
hari senin.
Di
kelas yang berada di pojok gedung, terdengar suara seorang guru pria yang
menerangkan tentang matematika. Jutaan angka seakan berhambur keluar dari
mulutnya melewati setiap pasang telinga 24 murid dan lewat begitu saja seperti
rombongan mobil jema’ah haji yang berlalu begitu saja di depan sebuah Bandara.
“Siapa
yang akan mencoba rumus ini?”, Tanya Guru pria itu sambil melihat semua
muridnya,
“kkkkkrrrriiiiinnnnggggg….”,
suara bel istirahat pun berbunyi,
“baiklah,
kita akan bertemu di hari rabu. Ku harap kalian bisa mengerti dengan pelajaran
kali ini, terima kasih atas perhatiannya, Wassalamu’alaikum,” guru pria itu pun
membereskan buku-bukunya dan segera bergegas,
“Whhhhooooaaaaaaa….”,
Milly bergeliat dan menguap,
“hei…tutup
mulutmu, apa kau mau syaitan menertawakanmu?”, kata Reva sambil menutup mulut
Milly dengan tangan kanannya,
“benarkah?”,
Milly segera menutup mulutnya, “Aiissshhh…Syaitan itu, hei mau kemana kau?”,
Tanya Milly yang bergegas untuk mengikuti Reva,
Di
kantin, Reva melihat sekeliling bangku kantin yang penuh dengan para siswa.
“Hhhaauuuhhh…ku
kira hari senin kantin ini akan sedikit kosong,” Reva terus berjalan dan
bergumam sendiri,
“kosong
kenapa? Bukankah ini waktunya istirahat?”, Tanya Milly yang terus mengikuti
Reva dari belakang,
“ini
hari senin, ku pikir mereka akan mengosongkan perut mereka untuk sementara
waktu,” kata Reva yang kini menemukan tempat duduk di ujung Kantin,
“lalu
kau sendiri kenapa tidak shaum?”, Tanya Milly yang kembalimemicingkan matanya,
“emh…itu…ah…tadi
malam aku belajar sampai malam, jadi aku bangun agak siang,” Reva pun
memalingkan wajahnya,
“tadi
malam kau belajar? Lalu kenapa facebook mu aktif semalaman? Kau tidak sedang
mengadakan forum belajar bersama di akun Facebook mu kan?”, Tanya Milly yang terus
menatap Reva dengan tatapan yang sangat tajam,
“ahahahaha…aku
hanya sedang merasa bosan, jadi sesekali aku membuka Facebook, hemh…” Reva pun
tertawa canggung,
“apa
kau benar merasa bosan? Apa bukan karena kau sedang mencari seseorang?”, Milly
semakin menjadi,
“sssshhhh…baiklah
aku mengaku, benar…semalaman aku mencari seseorang, orang itu selalu ada di
dalam pikiranku, tapi sejauh aku memikirkannya, aku belum mengetahui siapa
namanya,” Reva terlihat kesal,
“kenapa
begitu sulit? Apa yang sebenarnya kau sulitkan? Tidak ada hal yang sulit di
dunia ini…”, jelas Milly sambil menusukkan sedotan ke atas minuman gelas
“benarkah?”,
Kali ini Reva terlihat kebingungan,
“begini…apa
yang kau pikirkan tentang dia?”, Tanya Milly yang terus menghabiskan
minumannya,
“dia
itu rapih, rambutnya, matanya…wuah…Subhanallah…”, Reva membayangkan seseorang
yang selama ini di perhatikannya,
“ya…kau
bisa menyebutnya dengan salah satu keterangan yang sudah kau pikirkan tadi,
misalnya si Rapih…si Rambut…eh…tunggu, setiap orang memiliki rambut dan itu
terlalu umum,” Milly masih merasa belum yakin,
“jadi
bisa kusimpulkan bahwa dia itu sangat dingin, ahahahah…aku suka laki-laki yang
seperti itu,” Reva tersenyum sendiri,
“ck..ck..ck…dingin
apanya? Apa kau mau di setiap bertemu kalian hanya diam saja?”, Milly terlihat
kesal,
“tidak
juga…akan ku ajak dia bicara, dan aku akan melontarkan banyak pertanyaan
padanya, dan aku akan mengawalinya dengan bertanya, ‘Cool…Siapa
Namamu?...ahahahah” Reva tersenyum dan mencoba meyakinkan Milly,
“apa
kau seorang Wartawan?”, Milly menggeleng-gelengkan kepalanya,
“ya
tentu saja aku akan menjadi seorang wartawan yang merangkap menjadi seorang
host yang akan mewawancarai idolanya sendiri, bagaimana? Bukankah itu
menyenangkan?”, Reva tertawa sendiri,
“bagaimana
karena saking dinginnya, dia hanya menjawab iya dan tidak? Bagaimana
perasaanmu?”, Tanya Milly,
“ssshhh…apa
tidak ada kosa kata lain dalam hidupmu?”, tiba-tiba Reva berteriak, semua mata
pun tertuju pada Milly dan Reva,
“sssstttt…pelankan
suaramu…”, Milly terlihat malu,
“ma’af…aku
hanya terbawa suasana, aku yakin dia akan menjawab dengan baik setiap
pertanyaan yang akan ku ajukan padanya, hemh..”, Reva kembali tersenyum,
“baiklah…lalu,
apa kau memiliki keberanian untuk berbicara padanya?”, Milly semakin memancing
Reva,
“entahlah…aku
tidak yakin, tapi jika itu bisa terjadi, maka apa boleh buat? Bukankah baru
saja kau mengatakan bahwa tidak ada hal yang sulit di dunia ini?”, Reva pun tak
henti-henti tersenyum,
Bel
masuk pun berbunyi, semua murid kembali ke kelas nya masing-masing dan kembali
belajar hingga akhirnya bel istirahat shalat Dzuhur tiba.
Tepat
berada di wc masjid, Milly menunggu Reva yang belum juga keluar dari kelas.
Lalu ada seorang anak laki-laki dengan gaya yang sedikit urakan menghampiri
Milly,
“ada
apa?”, Tanya Milly dengan dingin,
“ada
apa katamu? Kau yang ada apa?”, tiba-tiba anak laki-laki itu berteriak pada
Milly,
“hei…apa
yang sedang kau lakukan?”, teriak Reva yang berlari ke arah Milly,
“owh…aku
tahu, pasti karena si kutu buku ini…”, anak laki-laki itu memandang Reva dengan
sinis,
“tidak
ada kaitannya dengannya, aku memutuskanmu karena alasan lain…”, jelas Milly
yang mulai gemetaran,
“Milly…”,
Reva menggenggam tangan Milly erat-erat,
“aku
pikir aku bisa merubah sikapmu menjadi lebih baik, tapi ternyata aku salah
sangka pada diriku sendiri, aku belum mampu mengubah diriku sendiri, bagaimana
mau bisa mengubahmu?”, Milly semakin berkaca-kaca,
“ma’afkan
aku…ini pasti karena kejadian kemarin, dengar…kemarin aku hanya sekedar mampir
ke rumah Teguh, tapi aku tidak tahu jika di sana sedang mengadakan pesta
seperti itu..”, jelas anak Laki-laki itu, Milly pun meneteskan air mata,
“Ando…Milly
sedang merasa terguncang, jadi lebih baik biarkan Milly untuk sementara ini,”
kata Reva yang hendak menyeret Milly,
“diam
kau kutu buku…ini semua pasti karena kau yang mempengaruhi Milly, benarkan?”,
Ando menahan tangan Milly, “sejak awal kau tidak menyetujui hubungan kami,
karena tak ada pacaran dalam kamusmu, benarkan? Dan…aku yakin kau tidak akan
memiliki pacar sampai kapanpun, nikmati masa mudamu…”, Ando pun menghempaskan
tangan Milly dan pergi,
“hauh…apa
dia gila? Apa dia pikir aku ini ibumu? Kenapa dia mengatakan kalau aku tidak
menyetujui hubungan kalian? Cckkk…hubungan apa?”, Gumam Reva,
“sudahlah…aku
pergi dulu…”, Milly pun melepaskan tangannya dari genggaman Reva dan pergi
meninggalkan Reva sendirian.
Satu
minggu sejak kejadian itu, Reva dan Milly jarang bersama. Kembali di hari
senin, Reva berjalan agak lambat karena hari masih pagi. Reva berharap bahwa ia
bisa bertemu dengan Milly, tapi ternyata tidak bahkan Milly tidak masuk
sekolah.
Sesekali
Reva menengok ke arah tempat duduk Milly, dan memikirkan tentang sahabatnnya
Milly. Jam istirahat pun tiba, Reva tidak pergi ke kantin karena kebetulan hari
ini Reva sedang mengosongkan perutnya. Selama istirahat Reva hanya diam di
kelas. Jam pulang tiba, Reva pulang sendiri.
“Sob…”, Reva mengirim pesan pada Milly,
“yah…”, Milly pun membalas pesan dari
Reva,
“apa kau sakit?”
“tidak…”
“lalu kenapa kau tidak
masuk hari ini?”
“aku hanya ingin
berpikir saja”
“berpikir tentang
apa?”,
“entahlah…aku berpikir
untuk mengubah diriku agar menjadi lebih baik”
“begitukah?”
“iya…”
“aku minta ma’af…aku
pikir, kata-kata Ando tak sepenuhnya salah, mungkin kau terpengaruh oleh
kata-kataku, jika kau ingin mengubahnya, kau harus terus berjuang,”
“tidak…kau tidak ada
kaitannya dengan hal ini, ini sudah keputusanku, kau seperti ini karena sikapku
akhir-akhir ini kan?
“jujur saja..iya…aku
merasa tidak enak hati…”
“jangan begitu, aku ini
sahabatmu, sahabat lebih penting daripada pacar,”
“benarkah? Terima
kasih…”, Reva pun tersenyum, tak lama kemudian Reva tersadar
bahwa kini ia sedang berada di halte bis. Reva pun duduk, lalu ada seseorang
yang duduk di sebelah Reva dan menjatuhkan payungnya,
“ma’af…”,
suara berat dan sejuk anak laki-laki itu pun terdengar sangat indah di telinga
Reva,
“dia…”, Reva pun membatin dan terdiam
memandangi siapa yang sedang berada di sampingnya,
Merasa
risih karena terus diperhatikan, anak laki-laki itu pun balik melihat Reva.
Detak jantung yang tiba-tiba berdetak dengan begitu cepat membuat Reva merasa
lemas dan hampir menjatuhkan ponselnya,
“kau
baik-baik saja?”, Tanya anak laki-laki itu sambil terus menatap Reva yang
sedang menatapnya,
“hemh…apa?...owh…ada
pesan,” Reva mengalihkan perhatiannya pada Ponselnya,
“benar, sama-sama…hei, kau sedang dimana?apa
kau sudah pulang?” milly membalas pesan dari Reva,
“halte, sudah, dia ada
di sampingku…”, jawaban pesan Reva pada Milly,
“benarkah?”,
“emh…sebenarnya…”,
Reva kembali melihat ke samping dan hendak memulai pembicaraan dengan anak
laki-laki tadi, tapi sayang anak laki-laki itu sudah naik bis terlebih dahulu,
“hei…kemana dia?”, Reva pun menunduk karena kesal.
Keesokan
harinya, seperti biasa Reva berjalan seperti biasa. Kali ini Milly sudah berada
di persimpangan jalan untuk menunggu Reva,
“Bat…”,
teriak Milly pada Reva,
“hei
Sob…”, Reva terlihat lemas,
“kenapa
denganmu?”, mereka pun kini berjalan bersama, “bagaimana? Bukankah kemarin dia
berada di sampingmu?’, Milly merasa penasaran,
“iya…tapi
dia menghilang ketika aku hendak membalas pesan darimu,” Reva semakin merasa
kesal,
“benarkah?
Kalau begitu ma’afkan aku…tapi…apa kau akan marah padaku karena masalah ini?”,
teriak Milly,
“hei…”,
Reva kaget, “mana mungkin? Oiya…apa kau sudah baikan hari ini?’, Tanya Reva
yang kembali bersemnagat,
“lalu
bagaimana menurutmu?”, Milly menaikkan dagunya,
“ahahahaha…aku
rasa kau sudah baikan…”, mereka pun tertawa bersama dan melangkah bersama.
Atmosfer
kelas memanas di pelajaran pertama, ini karena ada perubahan jadwal tiba-tiba
yang dilakukan oleh guru matematika.
“kenapa
kalian tidak mengerjakan tugas yang saya berikan? Bukankah kemarin saya sudah
bilang bahwa jadwal hari senin di ubah menjadi hari selasa?”, jelas pak guru
dengan begitu kesal,
“ma’af…”,
seorang anak laki-laki berkaca mata mengangkatkan tangannya, “ini salahku…aku
lupa memberitahu mereka,” jelas anak laki-laki itu,
“Ahmad…kau
itu ketua kelas, seharusnya kau mengingat semua hal yang sudah di amanatkan
kepadamu, bukankah ada ponsel? Facebook? Kenapa kau tidak mengabari mereka
dengan itu semua?” Pak guru semakin kesal,
“ma’afkan
aku pak…”, Ahmad pun tertunduk,
“baiklah…sebagai
gantinya kalian harus membayar infak untuk kelas, Rp. 500,- per soal dan
kumpulkan di bendahara, kalian mengerti?”, kata Guru itu sambil terus melihat
anak-anak didiknya,
“iya
pak…”, semua pun mengiyakan,
“berapa
so’al?”, Tanya Milly,
“20
soal di kali 500, berarti Rp. 10.000,-
uangku hanya ada Rp. 3.000,- bagaimana ini?”, Reva pun mulai berfikir,
“aku
hanya ada Rp. 4.500,- Ahmad…apa ada keringanan? Kami kekurangan uang, apa bisa
kami membayar sisanya besok?”, Tanya Milly,
“ma’afkan
aku…aku akan membayar sisanya untuk kalian,” jawab Ahmad,
“tidak…jangan…jangan
terlalu membebankan dirimu sendiri,” Kata Reva, “pak…Ma’af…apa bisa, jika kami
mengerjakan so’al-so’al ini sebelum jam pulang?”, Reva pun mencoba memberanikan
diri,
“ya…bisa
di atur, kumpulkan di meja saya sebelum jam pulang, Wassalamu’alaikum,” guru
Matematika pun pergi,
“hei,
Reva…sudah bayar saja, ini lebih mudah kan…atau kalau tidak kita minta ganti
rugi saja pada Ahmad si ketua kelas, bukankan dia yang sudah menyebabkan ini
semua? Lagi pula apa artinya uang Rp. 10.000,- ?”, teriak salah satu siswi,
“hemh…”,
Reva hanya tersenyum,
“sekali
lagi ma’afkan aku…”, Ahmad semakin merasa menyesal,
“tidak
apa-apa…kami akan mengerjakannya,” Milly pun mencoba menenangkan Ahmad,
Jam
istirahat pun tiba, semua orang pergi ke kantin, sedangkan Reva, Milly dan
Ahmad pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan so’al yang di berikan oleh pak
guru. Bel masuk pun berbunyi,
“sudah
masuk…”, kata Milly,
“ya…”,
Reva masih menghitung,
“tersisa
7 so’al lagi…bagaimana?apa kalian mau menyelesaikannya?”, Tanya Ahmad yang
sudah tak karuan,
“kita
bayar saja…otak kita harus istirahat sejenak, setelah ini kita harus menghafal
al-quran, benarkan…ayo kita masuk…”, Reva pun bergegas,
Mereka
bertiga kembali ke kelas,
“ini…kami
tidak mengerjakan 7 so’al, masing-masing bayar Rp. 3.500,- dan ini total ada
Rp. 10.500,-” Reva pun meberikan uang pada bandahara kelas,
Pelajaran
Alquran pun berlangsung, benar saja, setiap murid harus menghafal. Setidaknya
mereka bertiga sudah istirahat untuk sejenak. Bel istirahat pun tiba, mereka
bertiga baru saja keluar dari ruang guru,
“terima
kasih, sampai jumpa besok…”, Ahmad pun pulang terlebih dahulu,
“sssshhh…lapar
sekali,” Milly merengek,
“benar…bagaimana?
Aku hanya punya uang Rp 500,-” Reva mengeluarkan uang logam dari saku roknya,
“aku
punya Rp. 1.000,- ” Milly pun mengeluarkannya dari tasnya. “ayo ikut aku…”,
Milly menyeret Reva ke kantin,
“hahahaha…”,
Reva tertawa terbahak-bahak,
“bagaimana
menurutmu?”, Milly membuka bungkus roti harga Rp. 1.000,- dan membelahnya
menjadi dua,
“kita
sangat beruntung, Alhamdulillah…dan ini minumnya,” Reva menusukkan sedotan ke
atas minuman gelas harga Rp. 500,- . mereka pun duduk dan makan bersama.
Keesokan
harinya, Reva menyuruh Milly untuk berangkat terlebih dahulu. Reva pun berjalan
dan kini ia tiba di sekitar Halte. Dari jauh Reva melihat anak laki-laki yang
selama ini ia perhatikan, dan beberapa pegawai negeri Sipil
“hei…cool…sebenarnya
siapa namamu? Aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan namamu…”, Reva pun
kembali berjalan menuju Halte,
anak
laki-laki itu masih berdiri di sana. Tak lama kemudian, bis tiba dan anak
laki-laki itu pun bergegas naik,
“hei…”,
Reva pun hendak berlari mengejar anak laki-laki itu, “hemh…apa ini?”, Reva
melihat ada sebuah buku yang terbungkus dengan rapi tergeletak di Halte, “Rakis
Taura Fauzi…buku siapa ini?”, Reva pun membuka-buka buku tersebut, “tak ada
siswa lain di sini? Apa mungkin ini miliknya?”, Reva terus membuka bukunya, “buku
Matematika…wuah…ini buku PR Matematika, dan…bukankah sekarang tanggal 23
Oktober? Jika tidak mengumpulkan tugasnya mungkin dia…”, tanpa pikir panjang
Reva mengejar bis itu. “Heeiiii…Cccccoooooolllllll…”, teriak Reva sambil terus
berlari, “ah…aku ini bodoh atau apa…Paaaaakkkk Suuuupppiiiirrrrr…hhheeennntiiikkkaaannnn
Bbbiisssnnnya…”, teriak Reva
“hei…apa
gadis itu mengejar bis ini?”, Tanya seorang pegawai Sipil pada orang di
sampingnya,
“sepertinya
begitu…pak supir, tolong hentikan mobilnya…”, teriak penumpang lain,
“Hhhhhaaahhhh…terima
kasih…”, Reva naik lewat pintu depan,
“ada
apa?”, Tanya Supir bis,
“ada
buku yang tertinggal di halte…dan ini milik c Cool…”, jawab Reva sambil
melihat-lihat,
“cool
katamu?”, supir bis kebingungan, “apa ada yang bernama Cool di sini?’, teriak
supir bis, tak ada yang mengaku karena namanya begitu aneh,
“ahahaha…pak
supir ma’afkan aku…namanya Rakis Taura Fauzi…”, jelas Reva yang masih
kecapekan,
“baiklah…apa
di sini ada yang bernama Rakis Taura Fauzi?”, supir bi situ kembali berteriak,
“Aku…”,
anak laki-laki itu melepaskan earphonenya dan berdiri,
“bukumu
terjatuh di halte…dan ku pikir ini buku PR mu, jika kau kehilangan ini mungkin
kau akan di hokum oleh gurumu…hhhhaaahhhh…” Reva sangat kelelahan,
“itu
tidak masalah…tapi terima kasih banyak untuk hal ini..”, Anak laki-laki yang
bernama Rakis itu pun memasukkan bukunya ke dalam tas,
“jadi
itu namamu…”, Reva tersenyum pada Rakis,
“apa
maksudmu?”, Tanya Rakis,
“hhhaaahhh…aku
bisa terlambat…baiklah, aku pergi dulu…pak supir terima kasih banyak,” Reva pun
segera bergegas turun dari bis dan berlari.
“hei…sepertinya
dia menyukaimu…” kata salah seorang penumpang pada Rakis.
Reva
pun terlambat 10 menit, tapi tak ada guru pelajaran yang masuk di jam pertama
jadi Reva masih bisa beristirahat. Jam istirahat pun tiba, Reva tak
henti-hentinya tersenyum.
“ck..ck..ck..sebegitu
senangkah dirimu?”, Tanya Milly,
“benar…”,
Reva hanya mengangguk dan tersenyum,
“Milly…bisa
kita bicara sebentar?”, tiba-tiba Ando menghampiri Milly
“baiklah…”,
Milly pun beranjak dan pergi.
“cckkk…”,
Reva sedikit kesal karena di tinggal oleh Milly,
“hei…apa
kalian tahu? Sekolah Harapan sedang memanas dengan sekolah kita, jadi mulai
sekarang kita harus berhati-hati jika berjalan, siapa tahu kita yang menjadi
korban salah sasaran mereka,” kata salah seorang siswa yang berada di belakang
Reva,
“benarkah?
Hhhaahhh ini pasti karena Ando…dia itu si pembuat onar,” siswa lain pun
menambahkan,
Reva
semakin berpikir bahwa Ando sebaikya tidak mendekati Milly, setelah bertemu dengan
Ando Milly menjadi murung. Jam pulang pun tiba.
“Reva…kau
pulang duluan saja,” Milly menepuk pundak Reva,
“baiklah…”,
Reva merasa ada yang aneh, Reva pun mengikuti Milly dari belakang.
Ternyata
Milly menemui Ando di halaman belakang sekolah,
“apa
yang sudah kau putuskan?”, Tanya Ando dengan pelan,
“aku
akan tetap memutuskanmu…ma’afkan aku,” Milly pun tertunduk,
“ccchhh…terlihat
sekali bahwa Milly masih menyukai Ando,” kata Reva yang berada di balik semak,
“kenapa?
Apa karena si kutu buku itu?”, teriak Ando,
“ssshhh…kenapa
dia selalu mengaitkannya denganku?”, gerutu Reva,
“hentikan…hentikan
menyalahkan Reva, dia tidak ada hubungannya dengan ini, lebih baik kau dan aku
intospeksi dulu,” jelas Reva,
“hahahaha…kau
mencoba untuk mengajariku sekarang? Yang benar saja?”, Ando merasa tidak
terima,
“begitulah…ini
alasan mengapa aku sangat tidak tahan denganmu, sikapmu yang tidak mau menerima
kesalahan diri sendiri dan kekanak-kanakan,” jelas Milly,
“apa
kau bilang…”, Ando menganggkatkan tangan kanannya,
“hentikaaaaannnn…”,
teriak Reva yang keluar dari semak, “apa kau juga seorang pecundang yang hanya
berani pada seorang gadis?”, Reva semakin kesal pada Ando,
“Apa
katamu?”, Ando semakin marah
“ya…kau
hendak memukul Milly kan? Apa kau mau bertindak seperti jagoan? Ini bukan
tempatmu untuk menjadi jagoan, apa kau mengerti?”, Reva memelototi Ando,
“ssshhhh…kutu
buku ini benar-benar, apa kau benar-benar ingin…”, belum sempat menyelesaikan
kata-katanya, Milly dan Reva malah berlari, “Hei…tunggu…”, Ando pun ikut
berlari,
Terjadilah
aksi kejar-kejaran antara Milly, Reva dan Ando,
“kenapa
kita harus berlari?”, Tanya Milly,
“bukankah
dia hendak memukulmu?”, jawab Reva yang terus menyeret tangan Milly,
Mereka
sudah semakin jauh, Ando semakin mengejar. Kini mereka di hadapi 2 jalan,
“kau
mau ambil yang mana?”, Tanya Reva,
“entahlah…aku
pilih yang kiri saja,” jawab Milly,
“dalam
film, jika kau memilih jalur kiri kau akan tamat,” Reva mulai kesal,
“lalu
kau memilih jalan mana?”, Tanya Milly,
“kau
yang kanan saja, aku jalan yang kiri…”, jawab Reva,
“hei…apa
kau mau tamat?”, Milly berhenti berlari,
“ssshhh…ini
adalah pengorbanan, percaya padaku…”, Reva mencoba meyakinkan Milly, “ayo cepat
lari, Ando semakin dekat…jika kau terlebih dulu tiba di rumah, kabari ibuku,
dan bilang padanya bahwa aku butuh do’a seorang ibu, sampai jumpa…”, Reva
memilih jalur kiri, sedangkan Milly memilih jalur kanan.
Di
luar dugaan, Ando malah mengejar Reva.
“sshhh…sebegitu
bencikah dia padaku?”, Reva terus berlari, karena focus berlari, Reva tak
memperhatikan ada batu besar di depannya, Reva pun tersandung dan terjatuh, “Wwwwoooaaaaa…dia
semakin dekat…”, Reva pun beranjak dan kembali berlari,
“tunggu…kenapa
aku mengejarnya?”, Ando pun berhenti berlari,
“kenapa
dia diam?”, Reva menoleh ke belakang dan berpikir, “biar saja…ini kesempatanku
untuk pergi,” Reva pun kembali berlari, tak jauh Reva berlari karena terlalu
menoleh ke belakang, Reva menabrak seorang anak laki-laki dan kembali terjatuh,
“ma’afkan aku…”, Reva kembali terbangun dan hendak berlari, tapi tiba-tiba ada
yang menarik tasnya, “haduuuhhh…apa dia teman c Ando?”, Reva mencoba untuk
berlari,
“hei…kau
berhenti di sana…”, teriak Ando,
“jika
ini akhir dari hidupku, aku berharap ibuku bisa menjadi lebih mandiri, ayah
bisa mengirimku do’a, Milly bisa mendapat teman baru dan aku bisa berada di
sisi-Nya dengan tenang,” gumam Reva yang masih tertahan sambil menutup mata, “Asyhaadualla Illaaha Illallah,
Waasyhaaduanna Muhammadarrasuulullah,” Reva menutup matanya,
“hei…Rakis,
kemana saja…?”, sapa Ando pada anak laki-laki yang sedang menahan Reva,
“heuh…”,
Reva dilepaskan begitu saja, dan berbalik. Adegan yang sangat menakjubkan, Ando
sedang berpelukan dengan seorang anak laki-laki yang berseragam SMA dan
mengenakan jaket,
Kini
mereka bertiga berada di sebuah tempat Mie ayam, Reva memandangi mereka berdua
yang sedang asik mengobrol,
“tadi
malam si Anggi telah menyayat wajah seorang siswa dari sekolah Pembangunan
dengan pedangnya,” kata Ando sambil makan mie ayam,
“itu
belum seberapa, aku hampir tertangkap ketika aku hendak menghabisi siswa dari
sekolah Kebangsaan,” Rakis tak mau kalah dari Ando,
“wuah…kau
memang seorang petarung sejati…”, Ando pun tersenyum pada Rakis,
“Rakis
Taura Fauzi…Taura…Ta..U..Ra..n.., Tauran…ssshhh tidak aneh jika dia senang
tawuran,” gumam Reva,
“hei…apa
kau sedang ada masalah dengan gadis ini?”, Tanya Rakis sambil melihat kea rah Reva,
“tidak…aku
bahkan tidak mengenalnya…”, Reva mendahului Ando,
“dia
yang sudah mempengaruhi pacarku, dan sekarang kita sudah putus,” jelas Ando
yang menatap sinis pada Reva,
“bagaimana
kalau kita habisi dia”, Rakis pun tersenyum sinis pada Reva,
“hhhhwwwhhh…eemmmhhh,
aku haus, aku ambil minum dulu,” hendak bergegas,
“ini…minumlah…”
Rakis menyodorkan minum miliknya,
“ahahaha…aku
suka air putih…”, kembali beranjak,
“ini,..minumlah…”,
Ando menyodorkan air mineral miliknya,
“apa
kau sudah menyiapkan rencananya?”, Tanya Rakis,
“tentu
saja..kali ini kita pasti akan menang, ahahahah”, Ando tertawa puas,
“kenapa
tidak di makan?”, Tanya Rakis pada Reva,
“aku
tidak lapar, terima kasih…emh..bisakah aku pergi,” Reva kembali beranjak,
“hei…urusan
kita belum selesai,” jelas Ando
“bereskan
urusanmu dengan nya…aku pergi ke depan dulu”, Rakis pun beranjak,
“ada
apa lagi?”, Reva menelan ludahnya sendiri,
“buat
Milly kembali padaku, kalau tidak…”, Ando sedikit menakut-nakuti Reva,
“kalau
tidak, kau akan menghabisiku?”, Reva mulai berlinang air mata, “jika kau begitu
membenciku, lakukanlah…hhhmmmssss..tapi kau akan terkenang sebagai seorang
pecundang”, Reva pun menunduk dan menangis,
“ssshhh…bukan
itu maksudku…kenapa dia menangis?”, Ando jadi salah tingkah,
“kenapa?”,
Rakis bertanya pelan pada Ando,
“tidak
tahu?”. Ando menggelengkan kepalanya,
“hhhmmmsss…baiklah…kau
akan menghabisiku dengan cara apa?”, Reva menegakkan kembali kepalanya,
“dengan
cara kau membayar ini semua…”, tiba-tiba Rakis menjawab,
“Hahhh…apa
maksudmu?”, Reva kebingungan,
“aku
lupa membawa dompetku,” Rakis berkata dengan sangat berhati-hati,
“apa?”,
Teriak Ando tak percaya, “uang ku habis untuk membeli buku”, Ando terlihat
kebingungan,
“apa
yang telah kau perbuat hingga kau membiarkan Ando untuk menghabisimu?”, Tanya
Rakis yang membuka jaketnya,
“sekolah
Harapan..”, Reva membacaa lokasi di seragam Rakis, “bukankah sekolah Harapan
dan sekolah kita sedang memanas?” Tanya Reva pada Ando,
“memanas
apa?”, Ando kebingungan,
“owh…itu..itu
hanya salah paham, kami mengira mereka hendak menyerang sekolah kami, tapi
ternyata mereka hendak mengajak kami untuk belajar bersama,” jelas Rakis,
“belajar?”,
Reva semakin bingung,
“UAS
akan segera tiba, aku harus mempersiapkan ini semua, aku dengar siswa laki-laki
di sana sangat cerdas, maka dari itu aku berkenalan dengan Rakis,” jelas Ando
sambil tersenyum,
“Hhhhaaahhh…aku
bisa gila…” Reva pun merasa lemas sekaligus lega,
“tak
hanya itu kami juga membuat club cinta damai yang menghilangkan tradisi tawuran
antar siswa, ku harap ini semua bisa berhasil,” Rakis pun tersenyum pada Reva,
“hei…ayo
bayar makanan kami,” teriak Ando,
“lalu
kenapa kau hendak memukul Milly?”, Reva masih tidak yakin,
“siapa
yang ingin memukul Milly? Aku hanya merasa punggunggku itu sakit, lalu kau
sendiri kenapa berlari? Padahal ada yang ingin ku sampaikan padamu?”, jelas
Ando,
“emh…itu…itu
karena aku pikir kau akan menghajarku”, jelas Reva,
“melawan
wanita adalah pecundang, tapi melawannya dalam segi pelajaran kenapa tidak, aku
ingin mengajakmu dalam kelompok belajar yang sedang kita jalani, dan jangan
lupa ajak Milly,” Ando terlihat malu-malu,
“Haahhhh…baiklah…Hhhhmmmhhh,
aku sangat lega, ternyata ini semua tak seburuk yang ku pikirkan”, jelas Reva,
“kau
jangan terlalu sering menonton drama, lebih baik kau focus pada pelajaranmu. Untuk
tadi pagi, terima kasih…”, Rakis pun tersenyum,
“kalian…”,
Ando menunjuk mereka berdua,
“iya…dia
berlari mengejar bis yang sedang ku naiki untuk mengembalikkan buku
matematikaku yang terjatuh di Halte,” jelas Rakis
“benarkah?
Wuah bagaimana kau tahu itu miliknya? Apa kau memperhatikannya…atau
jangan-jangan, apa kau menyukainya?”, Ando penasaran,
“emh…”,
Reva hanya terdiam dan memerah,
“ah…aku
ingat…kenapa supir bis itu memanggilku Cool sebelumnya?”, Rakis semakin
bingung, namun Reva hanya tersenyum,
Akhirnya
Reva bisa mengetahui siapa nama anak laki-laki yang sering ia perhatikan itu. Karena
kesalahpahaman, Kini Reva, Milly, Ando dan Rakis berteman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar