Senin, 23 Desember 2013

Cerita Bersambung



Cool…What’s Ur Name?
            Hari senin adalah awal dari segala aktifitas semua orang, meski tak banyak mereka yang hanya diam di hari senin, tapi begitulah adanya. Banyak sekali yang memulai aktifitas mereka di hari senin, entah itu bekerja, belajar, melamar pekerjaan sampai mereka memulai pekerjaan baru setelah mereka memutuskan untuk keluar dipekerjaan lamanya di hari sabtu.
Di sebuah jalan yang tak begitu besar, seorang gadis berjilbab putih dengan tas gendongnya berlari sekencang-kencangnya.
“Hhhhhaahhhh…aku bisa terlambat…”, gadis berjilbab itu terus berlari tanpa menghiraukan lambaian tangan dari seorang gadis berjilbab lainnya yang berada di persimpangan jalan,
“hei…kenapa dengannya?”, gadis berjilbab lainnya menurunkan tangannya dan melanjutkan langkahnya,
10 menit pun berlalu, kini gadis berjilbab putih itu tiba di sekolah.
“Reva…kenapa kau tidak masuk?”, Tanya gadis berjilbab yang melambaikan tangannya di persimpangan jalan yang baru saja tiba,
“aku lupa…”, gadis yang sering dipanggil Reva itupun terdiam,
“apa? Apa kau lupa membawa buku pelajaranmu?”, Tanya gadis berjilbab lainnya sambil merebut tas Reva,
“Milly…aku lupa, bahwa hari ini aku tidak melihatnya,” Reva pun membesarkan matanya,
“kau melotot padaku?”, Milly memicingkan matanya,
“hei…apa yang sedang kalian bicarakan di depan gerbang sana? Ayo cepat masuk, sebentar lagi upacara akan segera di mulai,” teriak salah seorang guru pria sambil terus menghampiri mereka berdua.
“baik pak…”, mereka berdua pun berlari menuju lapang untuk melaksanakan upacara di hari senin.
Di kelas yang berada di pojok gedung, terdengar suara seorang guru pria yang menerangkan tentang matematika. Jutaan angka seakan berhambur keluar dari mulutnya melewati setiap pasang telinga 24 murid dan lewat begitu saja seperti rombongan mobil jema’ah haji yang berlalu begitu saja di depan sebuah Bandara.
“Siapa yang akan mencoba rumus ini?”, Tanya Guru pria itu sambil melihat semua muridnya,
“kkkkkrrrriiiiinnnnggggg….”, suara bel istirahat pun berbunyi,
“baiklah, kita akan bertemu di hari rabu. Ku harap kalian bisa mengerti dengan pelajaran kali ini, terima kasih atas perhatiannya, Wassalamu’alaikum,” guru pria itu pun membereskan buku-bukunya dan segera bergegas,
“Whhhhooooaaaaaaa….”, Milly bergeliat dan menguap,
“hei…tutup mulutmu, apa kau mau syaitan menertawakanmu?”, kata Reva sambil menutup mulut Milly dengan tangan kanannya,
“benarkah?”, Milly segera menutup mulutnya, “Aiissshhh…Syaitan itu, hei mau kemana kau?”, Tanya Milly yang bergegas untuk mengikuti Reva,
Di kantin, Reva melihat sekeliling bangku kantin yang penuh dengan para siswa.
“Hhhaauuuhhh…ku kira hari senin kantin ini akan sedikit kosong,” Reva terus berjalan dan bergumam sendiri,
“kosong kenapa? Bukankah ini waktunya istirahat?”, Tanya Milly yang terus mengikuti Reva dari belakang,
“ini hari senin, ku pikir mereka akan mengosongkan perut mereka untuk sementara waktu,” kata Reva yang kini menemukan tempat duduk di ujung Kantin,
“lalu kau sendiri kenapa tidak shaum?”, Tanya Milly yang kembalimemicingkan matanya,
“emh…itu…ah…tadi malam aku belajar sampai malam, jadi aku bangun agak siang,” Reva pun memalingkan wajahnya,
“tadi malam kau belajar? Lalu kenapa facebook mu aktif semalaman? Kau tidak sedang mengadakan forum belajar bersama di akun Facebook mu kan?”, Tanya Milly yang terus menatap Reva dengan tatapan yang sangat tajam,
“ahahahaha…aku hanya sedang merasa bosan, jadi sesekali aku membuka Facebook, hemh…” Reva pun tertawa canggung,
“apa kau benar merasa bosan? Apa bukan karena kau sedang mencari seseorang?”, Milly semakin menjadi,
“sssshhhh…baiklah aku mengaku, benar…semalaman aku mencari seseorang, orang itu selalu ada di dalam pikiranku, tapi sejauh aku memikirkannya, aku belum mengetahui siapa namanya,” Reva terlihat kesal,
“kenapa begitu sulit? Apa yang sebenarnya kau sulitkan? Tidak ada hal yang sulit di dunia ini…”, jelas Milly sambil menusukkan sedotan ke atas minuman gelas
“benarkah?”, Kali ini Reva terlihat kebingungan,
“begini…apa yang kau pikirkan tentang dia?”, Tanya Milly yang terus menghabiskan minumannya,
“dia itu rapih, rambutnya, matanya…wuah…Subhanallah…”, Reva membayangkan seseorang yang selama ini di perhatikannya,
“ya…kau bisa menyebutnya dengan salah satu keterangan yang sudah kau pikirkan tadi, misalnya si Rapih…si Rambut…eh…tunggu, setiap orang memiliki rambut dan itu terlalu umum,” Milly masih merasa belum yakin,
“jadi bisa kusimpulkan bahwa dia itu sangat dingin, ahahahah…aku suka laki-laki yang seperti itu,” Reva tersenyum sendiri,
“ck..ck..ck…dingin apanya? Apa kau mau di setiap bertemu kalian hanya diam saja?”, Milly terlihat kesal,
“tidak juga…akan ku ajak dia bicara, dan aku akan melontarkan banyak pertanyaan padanya, dan aku akan mengawalinya dengan bertanya, ‘Cool…Siapa Namamu?...ahahahah” Reva tersenyum dan mencoba meyakinkan Milly,
“apa kau seorang Wartawan?”, Milly menggeleng-gelengkan kepalanya,
“ya tentu saja aku akan menjadi seorang wartawan yang merangkap menjadi seorang host yang akan mewawancarai idolanya sendiri, bagaimana? Bukankah itu menyenangkan?”, Reva tertawa sendiri,
“bagaimana karena saking dinginnya, dia hanya menjawab iya dan tidak? Bagaimana perasaanmu?”, Tanya Milly,
“ssshhh…apa tidak ada kosa kata lain dalam hidupmu?”, tiba-tiba Reva berteriak, semua mata pun tertuju pada Milly dan Reva,
“sssstttt…pelankan suaramu…”, Milly terlihat malu,
“ma’af…aku hanya terbawa suasana, aku yakin dia akan menjawab dengan baik setiap pertanyaan yang akan ku ajukan padanya, hemh..”, Reva kembali tersenyum,
“baiklah…lalu, apa kau memiliki keberanian untuk berbicara padanya?”, Milly semakin memancing Reva,
“entahlah…aku tidak yakin, tapi jika itu bisa terjadi, maka apa boleh buat? Bukankah baru saja kau mengatakan bahwa tidak ada hal yang sulit di dunia ini?”, Reva pun tak henti-henti tersenyum,
Bel masuk pun berbunyi, semua murid kembali ke kelas nya masing-masing dan kembali belajar hingga akhirnya bel istirahat shalat Dzuhur tiba.
Tepat berada di wc masjid, Milly menunggu Reva yang belum juga keluar dari kelas. Lalu ada seorang anak laki-laki dengan gaya yang sedikit urakan menghampiri Milly,
“ada apa?”, Tanya Milly dengan dingin,
“ada apa katamu? Kau yang ada apa?”, tiba-tiba anak laki-laki itu berteriak pada Milly,
“hei…apa yang sedang kau lakukan?”, teriak Reva yang berlari ke arah Milly,
“owh…aku tahu, pasti karena si kutu buku ini…”, anak laki-laki itu memandang Reva dengan sinis,
“tidak ada kaitannya dengannya, aku memutuskanmu karena alasan lain…”, jelas Milly yang mulai gemetaran,
“Milly…”, Reva menggenggam tangan Milly erat-erat,
“aku pikir aku bisa merubah sikapmu menjadi lebih baik, tapi ternyata aku salah sangka pada diriku sendiri, aku belum mampu mengubah diriku sendiri, bagaimana mau bisa mengubahmu?”, Milly semakin berkaca-kaca,
“ma’afkan aku…ini pasti karena kejadian kemarin, dengar…kemarin aku hanya sekedar mampir ke rumah Teguh, tapi aku tidak tahu jika di sana sedang mengadakan pesta seperti itu..”, jelas anak Laki-laki itu, Milly pun meneteskan air mata,
“Ando…Milly sedang merasa terguncang, jadi lebih baik biarkan Milly untuk sementara ini,” kata Reva yang hendak menyeret Milly,
“diam kau kutu buku…ini semua pasti karena kau yang mempengaruhi Milly, benarkan?”, Ando menahan tangan Milly, “sejak awal kau tidak menyetujui hubungan kami, karena tak ada pacaran dalam kamusmu, benarkan? Dan…aku yakin kau tidak akan memiliki pacar sampai kapanpun, nikmati masa mudamu…”, Ando pun menghempaskan tangan Milly dan pergi,
“hauh…apa dia gila? Apa dia pikir aku ini ibumu? Kenapa dia mengatakan kalau aku tidak menyetujui hubungan kalian? Cckkk…hubungan apa?”, Gumam Reva,
“sudahlah…aku pergi dulu…”, Milly pun melepaskan tangannya dari genggaman Reva dan pergi meninggalkan Reva sendirian.
Satu minggu sejak kejadian itu, Reva dan Milly jarang bersama. Kembali di hari senin, Reva berjalan agak lambat karena hari masih pagi. Reva berharap bahwa ia bisa bertemu dengan Milly, tapi ternyata tidak bahkan Milly tidak masuk sekolah.
Sesekali Reva menengok ke arah tempat duduk Milly, dan memikirkan tentang sahabatnnya Milly. Jam istirahat pun tiba, Reva tidak pergi ke kantin karena kebetulan hari ini Reva sedang mengosongkan perutnya. Selama istirahat Reva hanya diam di kelas. Jam pulang tiba, Reva pulang sendiri.
Sob…”, Reva mengirim pesan pada Milly,
yah…”, Milly pun membalas pesan dari Reva,
“apa kau sakit?”
“tidak…”
“lalu kenapa kau tidak masuk hari ini?”
“aku hanya ingin berpikir saja”
“berpikir tentang apa?”,
“entahlah…aku berpikir untuk mengubah diriku agar menjadi lebih baik”
“begitukah?”
“iya…”
“aku minta ma’af…aku pikir, kata-kata Ando tak sepenuhnya salah, mungkin kau terpengaruh oleh kata-kataku, jika kau ingin mengubahnya, kau harus terus berjuang,”
“tidak…kau tidak ada kaitannya dengan hal ini, ini sudah keputusanku, kau seperti ini karena sikapku akhir-akhir ini kan?
“jujur saja..iya…aku merasa tidak enak hati…”
“jangan begitu, aku ini sahabatmu, sahabat lebih penting daripada pacar,”
“benarkah? Terima kasih…”, Reva pun tersenyum, tak lama kemudian Reva tersadar bahwa kini ia sedang berada di halte bis. Reva pun duduk, lalu ada seseorang yang duduk di sebelah Reva dan menjatuhkan payungnya,
“ma’af…”, suara berat dan sejuk anak laki-laki itu pun terdengar sangat indah di telinga Reva,
dia…”, Reva pun membatin dan terdiam memandangi siapa yang sedang berada di sampingnya,
Merasa risih karena terus diperhatikan, anak laki-laki itu pun balik melihat Reva. Detak jantung yang tiba-tiba berdetak dengan begitu cepat membuat Reva merasa lemas dan hampir menjatuhkan ponselnya,
“kau baik-baik saja?”, Tanya anak laki-laki itu sambil terus menatap Reva yang sedang menatapnya,
“hemh…apa?...owh…ada pesan,” Reva mengalihkan perhatiannya pada Ponselnya,
benar, sama-sama…hei, kau sedang dimana?apa kau sudah pulang?” milly membalas pesan dari Reva,
“halte, sudah, dia ada di sampingku…”, jawaban pesan Reva pada Milly,
“benarkah?”,
“emh…sebenarnya…”, Reva kembali melihat ke samping dan hendak memulai pembicaraan dengan anak laki-laki tadi, tapi sayang anak laki-laki itu sudah naik bis terlebih dahulu, “hei…kemana dia?”, Reva pun menunduk karena kesal.
Keesokan harinya, seperti biasa Reva berjalan seperti biasa. Kali ini Milly sudah berada di persimpangan jalan untuk menunggu Reva,
“Bat…”, teriak Milly pada Reva,
“hei Sob…”, Reva terlihat lemas,
“kenapa denganmu?”, mereka pun kini berjalan bersama, “bagaimana? Bukankah kemarin dia berada di sampingmu?’, Milly merasa penasaran,
“iya…tapi dia menghilang ketika aku hendak membalas pesan darimu,” Reva semakin merasa kesal,
“benarkah? Kalau begitu ma’afkan aku…tapi…apa kau akan marah padaku karena masalah ini?”, teriak Milly,
“hei…”, Reva kaget, “mana mungkin? Oiya…apa kau sudah baikan hari ini?’, Tanya Reva yang kembali bersemnagat,
“lalu bagaimana menurutmu?”, Milly menaikkan dagunya,
“ahahahaha…aku rasa kau sudah baikan…”, mereka pun tertawa bersama dan melangkah bersama.
Atmosfer kelas memanas di pelajaran pertama, ini karena ada perubahan jadwal tiba-tiba yang dilakukan oleh guru matematika.
“kenapa kalian tidak mengerjakan tugas yang saya berikan? Bukankah kemarin saya sudah bilang bahwa jadwal hari senin di ubah menjadi hari selasa?”, jelas pak guru dengan begitu kesal,
“ma’af…”, seorang anak laki-laki berkaca mata mengangkatkan tangannya, “ini salahku…aku lupa memberitahu mereka,” jelas anak laki-laki itu,
“Ahmad…kau itu ketua kelas, seharusnya kau mengingat semua hal yang sudah di amanatkan kepadamu, bukankah ada ponsel? Facebook? Kenapa kau tidak mengabari mereka dengan itu semua?” Pak guru semakin kesal,
“ma’afkan aku pak…”, Ahmad pun tertunduk,
“baiklah…sebagai gantinya kalian harus membayar infak untuk kelas, Rp. 500,- per soal dan kumpulkan di bendahara, kalian mengerti?”, kata Guru itu sambil terus melihat anak-anak didiknya,
“iya pak…”, semua pun mengiyakan,
“berapa so’al?”, Tanya Milly,
“20 soal di kali 500, berarti Rp. 10.000,-  uangku hanya ada Rp. 3.000,- bagaimana ini?”, Reva pun mulai berfikir,
“aku hanya ada Rp. 4.500,- Ahmad…apa ada keringanan? Kami kekurangan uang, apa bisa kami membayar sisanya besok?”, Tanya Milly,
“ma’afkan aku…aku akan membayar sisanya untuk kalian,” jawab Ahmad,
“tidak…jangan…jangan terlalu membebankan dirimu sendiri,” Kata Reva, “pak…Ma’af…apa bisa, jika kami mengerjakan so’al-so’al ini sebelum jam pulang?”, Reva pun mencoba memberanikan diri,
“ya…bisa di atur, kumpulkan di meja saya sebelum jam pulang, Wassalamu’alaikum,” guru Matematika pun pergi,
“hei, Reva…sudah bayar saja, ini lebih mudah kan…atau kalau tidak kita minta ganti rugi saja pada Ahmad si ketua kelas, bukankan dia yang sudah menyebabkan ini semua? Lagi pula apa artinya uang Rp. 10.000,- ?”, teriak salah satu siswi,
“hemh…”, Reva hanya tersenyum,
“sekali lagi ma’afkan aku…”, Ahmad semakin merasa menyesal,
“tidak apa-apa…kami akan mengerjakannya,” Milly pun mencoba menenangkan Ahmad,
Jam istirahat pun tiba, semua orang pergi ke kantin, sedangkan Reva, Milly dan Ahmad pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan so’al yang di berikan oleh pak guru. Bel masuk pun berbunyi,
“sudah masuk…”, kata Milly,
“ya…”, Reva masih menghitung,
“tersisa 7 so’al lagi…bagaimana?apa kalian mau menyelesaikannya?”, Tanya Ahmad yang sudah tak karuan,
“kita bayar saja…otak kita harus istirahat sejenak, setelah ini kita harus menghafal al-quran, benarkan…ayo kita masuk…”, Reva pun bergegas,
Mereka bertiga kembali ke kelas,
“ini…kami tidak mengerjakan 7 so’al, masing-masing bayar Rp. 3.500,- dan ini total ada Rp. 10.500,-” Reva pun meberikan uang pada bandahara kelas,
Pelajaran Alquran pun berlangsung, benar saja, setiap murid harus menghafal. Setidaknya mereka bertiga sudah istirahat untuk sejenak. Bel istirahat pun tiba, mereka bertiga baru saja keluar dari ruang guru,
“terima kasih, sampai jumpa besok…”, Ahmad pun pulang terlebih dahulu,
“sssshhh…lapar sekali,” Milly merengek,
“benar…bagaimana? Aku hanya punya uang Rp 500,-” Reva mengeluarkan uang logam dari saku roknya,
“aku punya Rp. 1.000,- ” Milly pun mengeluarkannya dari tasnya. “ayo ikut aku…”, Milly menyeret Reva ke kantin,
“hahahaha…”, Reva tertawa terbahak-bahak,
“bagaimana menurutmu?”, Milly membuka bungkus roti harga Rp. 1.000,- dan membelahnya menjadi dua,
“kita sangat beruntung, Alhamdulillah…dan ini minumnya,” Reva menusukkan sedotan ke atas minuman gelas harga Rp. 500,- . mereka pun duduk dan makan bersama.
Keesokan harinya, Reva menyuruh Milly untuk berangkat terlebih dahulu. Reva pun berjalan dan kini ia tiba di sekitar Halte. Dari jauh Reva melihat anak laki-laki yang selama ini ia perhatikan, dan beberapa pegawai negeri Sipil
“hei…cool…sebenarnya siapa namamu? Aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan namamu…”, Reva pun kembali berjalan menuju Halte,
anak laki-laki itu masih berdiri di sana. Tak lama kemudian, bis tiba dan anak laki-laki itu pun bergegas naik,
“hei…”, Reva pun hendak berlari mengejar anak laki-laki itu, “hemh…apa ini?”, Reva melihat ada sebuah buku yang terbungkus dengan rapi tergeletak di Halte, “Rakis Taura Fauzi…buku siapa ini?”, Reva pun membuka-buka buku tersebut, “tak ada siswa lain di sini? Apa mungkin ini miliknya?”, Reva terus membuka bukunya, “buku Matematika…wuah…ini buku PR Matematika, dan…bukankah sekarang tanggal 23 Oktober? Jika tidak mengumpulkan tugasnya mungkin dia…”, tanpa pikir panjang Reva mengejar bis itu. “Heeiiii…Cccccoooooolllllll…”, teriak Reva sambil terus berlari, “ah…aku ini bodoh atau apa…Paaaaakkkk Suuuupppiiiirrrrr…hhheeennntiiikkkaaannnn Bbbiisssnnnya…”, teriak Reva
“hei…apa gadis itu mengejar bis ini?”, Tanya seorang pegawai Sipil pada orang di sampingnya,
“sepertinya begitu…pak supir, tolong hentikan mobilnya…”, teriak penumpang lain,
“Hhhhhaaahhhh…terima kasih…”, Reva naik lewat pintu depan,
“ada apa?”, Tanya Supir bis,
“ada buku yang tertinggal di halte…dan ini milik c Cool…”, jawab Reva sambil melihat-lihat,
“cool katamu?”, supir bis kebingungan, “apa ada yang bernama Cool di sini?’, teriak supir bis, tak ada yang mengaku karena namanya begitu aneh,
“ahahaha…pak supir ma’afkan aku…namanya Rakis Taura Fauzi…”, jelas Reva yang masih kecapekan,
“baiklah…apa di sini ada yang bernama Rakis Taura Fauzi?”, supir bi situ kembali berteriak,
“Aku…”, anak laki-laki itu melepaskan earphonenya dan berdiri,
“bukumu terjatuh di halte…dan ku pikir ini buku PR mu, jika kau kehilangan ini mungkin kau akan di hokum oleh gurumu…hhhhaaahhhh…” Reva sangat kelelahan,
“itu tidak masalah…tapi terima kasih banyak untuk hal ini..”, Anak laki-laki yang bernama Rakis itu pun memasukkan bukunya ke dalam tas,
“jadi itu namamu…”, Reva tersenyum pada Rakis,
“apa maksudmu?”, Tanya Rakis,
“hhhaaahhh…aku bisa terlambat…baiklah, aku pergi dulu…pak supir terima kasih banyak,” Reva pun segera bergegas turun dari bis dan berlari.
“hei…sepertinya dia menyukaimu…” kata salah seorang penumpang pada Rakis.
Reva pun terlambat 10 menit, tapi tak ada guru pelajaran yang masuk di jam pertama jadi Reva masih bisa beristirahat. Jam istirahat pun tiba, Reva tak henti-hentinya tersenyum.
“ck..ck..ck..sebegitu senangkah dirimu?”, Tanya Milly,
“benar…”, Reva hanya mengangguk dan tersenyum,
“Milly…bisa kita bicara sebentar?”, tiba-tiba Ando menghampiri Milly
“baiklah…”, Milly pun beranjak dan pergi.
“cckkk…”, Reva sedikit kesal karena di tinggal oleh Milly,
“hei…apa kalian tahu? Sekolah Harapan sedang memanas dengan sekolah kita, jadi mulai sekarang kita harus berhati-hati jika berjalan, siapa tahu kita yang menjadi korban salah sasaran mereka,” kata salah seorang siswa yang berada di belakang Reva,
“benarkah? Hhhaahhh ini pasti karena Ando…dia itu si pembuat onar,” siswa lain pun menambahkan,
Reva semakin berpikir bahwa Ando sebaikya tidak mendekati Milly, setelah bertemu dengan Ando Milly menjadi murung. Jam pulang pun tiba.
“Reva…kau pulang duluan saja,” Milly menepuk pundak Reva,
“baiklah…”, Reva merasa ada yang aneh, Reva pun mengikuti Milly dari belakang.
Ternyata Milly menemui Ando di halaman belakang sekolah,
“apa yang sudah kau putuskan?”, Tanya Ando dengan pelan,
“aku akan tetap memutuskanmu…ma’afkan aku,” Milly pun tertunduk,
“ccchhh…terlihat sekali bahwa Milly masih menyukai Ando,” kata Reva yang berada di balik semak,
“kenapa? Apa karena si kutu buku itu?”, teriak Ando,
“ssshhh…kenapa dia selalu mengaitkannya denganku?”, gerutu Reva,
“hentikan…hentikan menyalahkan Reva, dia tidak ada hubungannya dengan ini, lebih baik kau dan aku intospeksi dulu,” jelas Reva,
“hahahaha…kau mencoba untuk mengajariku sekarang? Yang benar saja?”, Ando merasa tidak terima,
“begitulah…ini alasan mengapa aku sangat tidak tahan denganmu, sikapmu yang tidak mau menerima kesalahan diri sendiri dan kekanak-kanakan,” jelas Milly,
“apa kau bilang…”, Ando menganggkatkan tangan kanannya,
“hentikaaaaannnn…”, teriak Reva yang keluar dari semak, “apa kau juga seorang pecundang yang hanya berani pada seorang gadis?”, Reva semakin kesal pada Ando,
“Apa katamu?”, Ando semakin marah
“ya…kau hendak memukul Milly kan? Apa kau mau bertindak seperti jagoan? Ini bukan tempatmu untuk menjadi jagoan, apa kau mengerti?”, Reva memelototi Ando,
“ssshhhh…kutu buku ini benar-benar, apa kau benar-benar ingin…”, belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Milly dan Reva malah berlari, “Hei…tunggu…”, Ando pun ikut berlari,
Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Milly, Reva dan Ando,
“kenapa kita harus berlari?”, Tanya Milly,
“bukankah dia hendak memukulmu?”, jawab Reva yang terus menyeret tangan Milly,
Mereka sudah semakin jauh, Ando semakin mengejar. Kini mereka di hadapi 2 jalan,
“kau mau ambil yang mana?”, Tanya Reva,
“entahlah…aku pilih yang kiri saja,” jawab Milly,
“dalam film, jika kau memilih jalur kiri kau akan tamat,” Reva mulai kesal,
“lalu kau memilih jalan mana?”, Tanya Milly,
“kau yang kanan saja, aku jalan yang kiri…”, jawab Reva,
“hei…apa kau mau tamat?”, Milly berhenti berlari,
“ssshhh…ini adalah pengorbanan, percaya padaku…”, Reva mencoba meyakinkan Milly, “ayo cepat lari, Ando semakin dekat…jika kau terlebih dulu tiba di rumah, kabari ibuku, dan bilang padanya bahwa aku butuh do’a seorang ibu, sampai jumpa…”, Reva memilih jalur kiri, sedangkan Milly memilih jalur kanan.
Di luar dugaan, Ando malah mengejar Reva.
“sshhh…sebegitu bencikah dia padaku?”, Reva terus berlari, karena focus berlari, Reva tak memperhatikan ada batu besar di depannya, Reva pun tersandung dan terjatuh, “Wwwwoooaaaaa…dia semakin dekat…”, Reva pun beranjak dan kembali berlari,
“tunggu…kenapa aku mengejarnya?”, Ando pun berhenti berlari,
“kenapa dia diam?”, Reva menoleh ke belakang dan berpikir, “biar saja…ini kesempatanku untuk pergi,” Reva pun kembali berlari, tak jauh Reva berlari karena terlalu menoleh ke belakang, Reva menabrak seorang anak laki-laki dan kembali terjatuh, “ma’afkan aku…”, Reva kembali terbangun dan hendak berlari, tapi tiba-tiba ada yang menarik tasnya, “haduuuhhh…apa dia teman c Ando?”, Reva mencoba untuk berlari,
“hei…kau berhenti di sana…”, teriak Ando,
“jika ini akhir dari hidupku, aku berharap ibuku bisa menjadi lebih mandiri, ayah bisa mengirimku do’a, Milly bisa mendapat teman baru dan aku bisa berada di sisi-Nya dengan tenang,” gumam Reva yang masih tertahan sambil menutup mata, “Asyhaadualla Illaaha Illallah, Waasyhaaduanna Muhammadarrasuulullah,” Reva menutup matanya,
“hei…Rakis, kemana saja…?”, sapa Ando pada anak laki-laki yang sedang menahan Reva,
“heuh…”, Reva dilepaskan begitu saja, dan berbalik. Adegan yang sangat menakjubkan, Ando sedang berpelukan dengan seorang anak laki-laki yang berseragam SMA dan mengenakan jaket,
Kini mereka bertiga berada di sebuah tempat Mie ayam, Reva memandangi mereka berdua yang sedang asik mengobrol,
“tadi malam si Anggi telah menyayat wajah seorang siswa dari sekolah Pembangunan dengan pedangnya,” kata Ando sambil makan mie ayam,
“itu belum seberapa, aku hampir tertangkap ketika aku hendak menghabisi siswa dari sekolah Kebangsaan,” Rakis tak mau kalah dari Ando,
“wuah…kau memang seorang petarung sejati…”, Ando pun tersenyum pada Rakis,
“Rakis Taura Fauzi…Taura…Ta..U..Ra..n.., Tauran…ssshhh tidak aneh jika dia senang tawuran,” gumam Reva,
“hei…apa kau sedang ada masalah dengan gadis ini?”, Tanya Rakis sambil melihat kea rah Reva,
“tidak…aku bahkan tidak mengenalnya…”, Reva mendahului Ando,
“dia yang sudah mempengaruhi pacarku, dan sekarang kita sudah putus,” jelas Ando yang menatap sinis pada Reva,
“bagaimana kalau kita habisi dia”, Rakis pun tersenyum sinis pada Reva,
“hhhhwwwhhh…eemmmhhh, aku haus, aku ambil minum dulu,” hendak bergegas,
“ini…minumlah…” Rakis menyodorkan minum miliknya,
“ahahaha…aku suka air putih…”, kembali beranjak,
“ini,..minumlah…”, Ando menyodorkan air mineral miliknya,
“apa kau sudah menyiapkan rencananya?”, Tanya Rakis,
“tentu saja..kali ini kita pasti akan menang, ahahahah”, Ando tertawa puas,
“kenapa tidak di makan?”, Tanya Rakis pada Reva,
“aku tidak lapar, terima kasih…emh..bisakah aku pergi,” Reva kembali beranjak,
“hei…urusan kita belum selesai,” jelas Ando
“bereskan urusanmu dengan nya…aku pergi ke depan dulu”, Rakis pun beranjak,
“ada apa lagi?”, Reva menelan ludahnya sendiri,
“buat Milly kembali padaku, kalau tidak…”, Ando sedikit menakut-nakuti Reva,
“kalau tidak, kau akan menghabisiku?”, Reva mulai berlinang air mata, “jika kau begitu membenciku, lakukanlah…hhhmmmssss..tapi kau akan terkenang sebagai seorang pecundang”, Reva pun menunduk dan menangis,
“ssshhh…bukan itu maksudku…kenapa dia menangis?”, Ando jadi salah tingkah,
“kenapa?”, Rakis bertanya pelan pada Ando,
“tidak tahu?”. Ando menggelengkan kepalanya,
“hhhmmmsss…baiklah…kau akan menghabisiku dengan cara apa?”, Reva menegakkan kembali kepalanya,
“dengan cara kau membayar ini semua…”, tiba-tiba Rakis menjawab,
“Hahhh…apa maksudmu?”, Reva kebingungan,
“aku lupa membawa dompetku,” Rakis berkata dengan sangat berhati-hati,
“apa?”, Teriak Ando tak percaya, “uang ku habis untuk membeli buku”, Ando terlihat kebingungan,
“apa yang telah kau perbuat hingga kau membiarkan Ando untuk menghabisimu?”, Tanya Rakis yang membuka jaketnya,
“sekolah Harapan..”, Reva membacaa lokasi di seragam Rakis, “bukankah sekolah Harapan dan sekolah kita sedang memanas?” Tanya Reva pada Ando,
“memanas apa?”, Ando kebingungan,
“owh…itu..itu hanya salah paham, kami mengira mereka hendak menyerang sekolah kami, tapi ternyata mereka hendak mengajak kami untuk belajar bersama,” jelas Rakis,
“belajar?”, Reva semakin bingung,
“UAS akan segera tiba, aku harus mempersiapkan ini semua, aku dengar siswa laki-laki di sana sangat cerdas, maka dari itu aku berkenalan dengan Rakis,” jelas Ando sambil tersenyum,
“Hhhhaaahhh…aku bisa gila…” Reva pun merasa lemas sekaligus lega,
“tak hanya itu kami juga membuat club cinta damai yang menghilangkan tradisi tawuran antar siswa, ku harap ini semua bisa berhasil,” Rakis pun tersenyum pada Reva,
“hei…ayo bayar makanan kami,” teriak Ando,
“lalu kenapa kau hendak memukul Milly?”, Reva masih tidak yakin,
“siapa yang ingin memukul Milly? Aku hanya merasa punggunggku itu sakit, lalu kau sendiri kenapa berlari? Padahal ada yang ingin ku sampaikan padamu?”, jelas Ando,
“emh…itu…itu karena aku pikir kau akan menghajarku”, jelas Reva,
“melawan wanita adalah pecundang, tapi melawannya dalam segi pelajaran kenapa tidak, aku ingin mengajakmu dalam kelompok belajar yang sedang kita jalani, dan jangan lupa ajak Milly,” Ando terlihat malu-malu,
“Haahhhh…baiklah…Hhhhmmmhhh, aku sangat lega, ternyata ini semua tak seburuk yang ku pikirkan”, jelas Reva,
“kau jangan terlalu sering menonton drama, lebih baik kau focus pada pelajaranmu. Untuk tadi pagi, terima kasih…”, Rakis pun tersenyum,
“kalian…”, Ando menunjuk mereka berdua,
“iya…dia berlari mengejar bis yang sedang ku naiki untuk mengembalikkan buku matematikaku yang terjatuh di Halte,” jelas Rakis
“benarkah? Wuah bagaimana kau tahu itu miliknya? Apa kau memperhatikannya…atau jangan-jangan, apa kau menyukainya?”, Ando penasaran,
“emh…”, Reva hanya terdiam dan memerah,
“ah…aku ingat…kenapa supir bis itu memanggilku Cool sebelumnya?”, Rakis semakin bingung, namun Reva hanya tersenyum,
Akhirnya Reva bisa mengetahui siapa nama anak laki-laki yang sering ia perhatikan itu. Karena kesalahpahaman, Kini Reva, Milly, Ando dan Rakis berteman.

(23.12.2013) 3.06 WIB







Tidak ada komentar:

Posting Komentar