The Last Piano
author : Syifa
Cast : Agatha, Raihan, dan Nunik
Berawal dari suatu malam yang sangat
dingin, angin berhembus sangat kencang, gemerincik air jatuh dari langit kini
terdengar lebih keras. Sebuah mobil sedan tua berwarna biru gelap dengan cat
yang sudah lusuh menyusuri jalanan yang berpagarkan pohon besar dengan lambat
namun pasti. Suara petir kini menemani hujan dan angin yang sudah seharusnya
ada dalam pertunjukan alam di malam ini.
Di dalam mobil ada seorang gadis berusia
16 tahun yang mulai terganggu dengan suara angin, hujan, dan petir secara
bersamaan, lalu ia menarik selimut yang sudah jatuh ketika ia mulai terlelap.
Sedangkan pria paruh baya yang sedang mengendalikan sebuah mesin yang bisa
mengantarkannya ke tempat tujuan dan hanya bisa terdiam menyaksikan sebuah polemik
antara angin, hujan, dan petir.
30 menit pun berlalu, kini hujan sudah
mulai mengurangi intensitas airnya, angin yang sudah menjadi angin yang
seharusnya dimalam hari, dan petir yang sudah memelankan suaranya hingga nyaris
tak terdengar sama sekali. Mobil tua itu tiba di sebuah pintu gerbang besi yang
sudah karatan. Pria paruh baya itu keluar dari mobilnya,
“Agatha…ayah mau buka dulu
gerbangnya…kamu tunggu dulu di sini.”, kata ayah yang keluar berjalan sebanyak
3 langkah agar bisa membuka gerbangnya,
namun Agatha hanya diam tak peduli, ia malah semakin menaikan selimutnya. Ayah
pun kembali dan mengemudikan mobilnya agar bisa masuk ke dalam halaman rumah.
“Agatha…bangun, kita sudah sampai.”, kata Ayah sambil mencoba untuk mengambil
barang bawaan di kursi belakang.
Agatha keluar dengan payung yang keluar
terlebih dahulu dari kepalanya, Agatha terus berjalan tanpa menghiraukan ayah
dan barang bawaannya. Kini mereka sudah tiba di depan pintu rumah, ayah menaruh
semua barang bawaannya dan mencoba membuka pintu dengan serangkaian kunci yang
sangat beragam di tangannya,
“yang mana ya?...ah mungkin yang ini, “,
kata ayah sambil terus mencoba membuka pintu, “hah…ternyata yang ini…pintu
sebesar ini, tapi kok kunci nya kecil yah…Agatha, bisa bantu ayah bawa sebagian
barang-barang ini?”, Tanya ayah, tapi Agatha kembali tak mengeluarkan sepatah
kata pun sambil membawa 2 koper dan menariknya.
Memasuki rumah yang sangat besar, Agatha
terus berjalan lurus menuju ruang tengah dan terlihat ada tangga utama yang
sangat besar, namun terlihat agak rapuh. Ayah pun ikut masuk dan menutup
pintunya,
“uhuk…uhuk..uhuk…hauh di sini sangat
berdebu…uhuk..uhuk..”, kata ayah sambil mengibas-ngibaskan tangan nya di depan
wajahnya.
Agatha terus berjalan dan berpikir untuk
menaiki tangga itu, tapi sebelum sampai tangga, Agatha melihat ada sebuah piano
yang tertutup kain putih tepat di samping kanan tangga. Agatha pun melepaskan
kainnya,
“uhuk..uhuk..uhuk…” Agatha pun merasa
sensitif karena debunya, ia melihat lihat piano itu, “Steinway &
Song…klasik…tapi sayang gue gak suka main piano…”, kata Agatha sambil menutup
kembali kainnya. Agatha pun menaiki tangga, namun di anak tangga ke 7, Agatha
sempat terhenti,
“Atha…kamar ayah ada di bawah pojok
kanan, dan kamar kamu ada di atas pojok kiri, kalo ada apa-apa, panggil ayah
aja…”, teriak ayah,
“iya…”, Agatha terus menaiki anak tangga
dan berjalan menuju kamarnya, tapi di dinding tepat di depan Atha berdiri
sekarang ada sebuah lukisan sebuah taman, “hemh…indah sih, tapi kenapa gue
ngerasa Horor yah…”, Atha mengusap lengannya dan mengangkat kedua bahunya.
Atha pun masuk ke kamar, di sana ada
sebuah kursi tua yang membuat Atha agak sedikit terkejut, “wwwuuhhh…bikin kaget
aja…gue kira apa…oke Atha…apa yang harus loe lakuin sekarang? Dan yang harus
gue lakuin sekarang adalah tidur yang nyenyak setelah menikmati perjalanan jauh
dari Jakarta – Yogya, jam 9 lebih 18 menit…hauh…gila..pinggang gue serasa mau
patah, tapi…hmmss..hmmss..badan gue gak enak banget, apa gue mandi
dulu?...ah…mandi nya besok aja, sekarang gue mau tidur…huwwwaaah…”, Atha
langsung menjatuhkan badannya di kasur.
Ayah dan anak itu sudah mulai terlelap
dan waktu pun menunjukkan pukul 24.01, kembali ke bawah tepat di sebelah kanan
tangga, secara perlahan kain putih itu mulai turun, dan Tut piano itu satu
persatu tertekan kebawah dan mengeluarkan serangkaian nada ceria.
Keesokan harinya, Atha pun bangun dengan
sedikit meringis kedinginan,
“hauh…dingin banget yah…jam berapa
sih?”, Atha pun melihat jam tangan yang semalaman tidak lepas dari pergelangan tangannya,
“jam 5 lebih 30 menit...”, Atha pun keluar dari gulungan selimut tebalnya dan
beranjak dari ranjangnya menuju pintu, lagi-lagi Atha merasa terganggu dengan
kursinya, “hhhhwwuuuhh…loe…kursi, hanya sebuah kursi dan akan menjadi sebuah
kursi untuk selama-lamanya, loe udah bikin gue kaget dua kali…dasar loe…hauh…bikin
kesel aja…” Atha pun keluar dari kamarnya dengan menggerutu sendiri, kursi itu
pun sedikit bergeser.
Atha mulai menuruni anak tangga, namun
yang pertama ia lihat adalah kain putih nya tergeletak di bawah lantai, Atha
pun turun lebih cepat dan kembali menutup piano itu dengan kain putih,
“aneh banget…perasaan tadi malem udah
gue tutup lagi…”, Atha pun pergi ke dapur, di sana sudah ada ayah yang sedang
memasak,
“selamat pagi…”, kata ayah sambil
menggerak-gerakan tangannya dan mengendalikan wajan,
“pagi…”, jawab Atha yang masih saja
acuh,
“gimana tidurnya? nyenyak?”, Tanya ayah
yang kini sudah menuangkan nasi goreng ke dalam piring,
“kenapa ayah beli rumah ini sih?tangga nya aja
udah tua, udah gitu, jauh sama orang lagi…sejak kapan ayah jadi tipe
individualis?”, Tanya Atha sambil minum segelas air putih,
“Atha…denger ya…bagaimanapun ayah masih
dalam suasana berkabung, jadi ayah nggak mau terlalu deket-deket sama banyak
orang”, jelas ayah,
“tapi gak harus di rumah ini juga
kan…ibu pasti marah kalo liat rumah ini…kotor, banyak debu, dan…Tua.”, papar
Atha sambil melihat ke arah sekitar,
“sudah-sudah…sekarang kamu mulai masuk
sekolah, nanti ayah anterin kamu, tapi sebelum itu, kamu harus cobain dulu
masakan ayah…Wualla…nasi goreng ala ayah…ayo silahkan…”, dengan ragu Atha
mencicipi nasi goreng ayah, dan keraguan itu terjawab dengan rasa kekecewaan,
“kenapa? Gak enak yah…?”, Tanya ayah sambil menunggu kepastian,
“ayah udah liat ekspresi wajah aku
kan…”, dengan datar Agatha beranjak pergi meninggalkan ayahnya,
“gak enak dong…mana…” ayah pun mencicipi
nasi goreng yang lebih kebanyakan garam, “Hauh…asin banget…”, kata ayah sambil
meringis.
Agatha pun pergi ke sekolah bersama
ayah,
“apa ayah nggak masuk?”,
“ma’af, barusan om Adi telpon ayah, dia bilang
dia mau ketemu sama ayah, ada yang mau ia omongin, kamu masuk sendiri gak
apa-apa kan?”,
“yaudah…aku masuk sendiri…dan…jangan coba
jemput aku..aku mau pulang sendiri,” Agatha keluar dari mobil tanpa pamit,
“atha…atha..kalo lagi marah, kamu mirip
sama ibu kamu…”ayah tersenyum sendiri dan mulai mengemudikan mobilnya.
Di lorong kelas yang ramai Atha masih
bingung mencari kelas 2-2, lalu ada seorang gadis berkacamata menghampiri Atha,
“Kamu anak baru ya…”,
“kok loe bisa tau…”,
“ya tahu toh…la wong saya baru liat wajah
kamu…”,
“emh…loe tau kelas 2-2 gak?”,
“wualah…kebetulan…aku juga kelasnya di
sana…oiya perkenalkan nama aku Nunik Pratiwi..”, kata gadis itu sambil
mengulurkan tangannya.
“Unik….?”, kata Atha agak bingung,
“Nunik mbak…Nuuu…Nik…he..he..”, kata
Nunik sambil tersenyum,
“maksud gue, nama loe
unik…Nunik…cchhh…nama gue Agatha…panggil aja Atha…”,
“owh mbak Atha…”,
“gak pake Mbak…emangnya loe pikir gue
mbak tukang jamu apa?”,
“hahaha…yoowes…Mbak…eh Atha…kalo gitu kita
pergi ke kelas yuk…” Atha dan Nunik pun pergi ke kelas bersama.
Waktu menunjukkan pukul 13.35, bel
pulang pun berbunyi,
“Atha…rumah kamu dimana?”, tanya Nunik
sambil membereskan buku-buku yang masih berserakan di meja,
“rumah gue gak jauh kok dari sini, gue
belum tau pasti alamatnya, yang pasti rumah gue itu terpencil, besar, tua,
dan…emh…di sana ada piano tua,”, jelas Atha sambil beranjak untuk keluar kelas
dan disusul oleh Nunik,
“kamu bilang rumah tua?ada piano tua nya
juga?...walah…jangan bilang kamu tinggal di desa sebelah…”, kata Nunik agak
menyeringai,
“kan udah gue bilang, rumah gue deket
dari sini, kenapa sih dengan muka loe?aneh banget deh…udah hampir sampai, gue
duluan yah…”, kata Atha sambil berbelok arah, Nunik masih penasaran, dia
melihat Atha dari kejauhan.
Setelah sampai di rumah Atha terkejut
dengan tukang kebun yang memakai baju compang-camping,
“wwwwhhuuuhhh….”, wajah Atha menjadi
pucat,
“ada apa toh mbak…”, Tanya tukang kebun
itu,
“gak apa-apa…”, kata Atha sambil
berlari, tukang kebun itu tak meepaskan pandangannya pada Atha.
Melihat anaknya berlari, ayah pun
bingung, “ada apa tha?”, Tanya ayah,
“apa ayah punya tukang kebun baru?”,
Tanya Atha,
“tukang kebun?enggak…emangnya kenapa?”,
“tadi aku lihat di depan rumah ada pria
tua, bajunya robek-robek, trus dia pegang gunting besar, aku kira dia tukang
kebun baru,”,
“owh…mungkin itu pemilik rumah
sebelumnya, dia memang seperti itu, namanya pak Sumardi rumahnya deket kok dari
sini…oiya kata Om Adi, dia mau kamu jagain anaknya,”
“apa ayah pikir di sini tempat penitipan
anak?gak mau…suruh aja baby sitter,”,
“hei…anaknya Om Adi itu seumuran kamu…masa iya
di titipin ke Babysitter?”,
“owh...kirain…”,
“nanti sore dia ke sini…”,
“hemh…”, kata Atha sambil pergi ke
kamarnya, lagi-lagi Atha memperhatikan pianonya dan membuat bulu kuduknya sedikit
berdiri.
Malam pun tiba, saatnya makan malam,
“lha…kata ayah sore, kenapa jam segini
belum datang juga?”, Tanya Atha,
“mungkin dia belum beres packing
barangnya…sekarang kamu makan dulu…ini ayah beli di deket tempat kerja ayah,”,
Atha pun langsung makan nasi yang di campur dengan rendang sapi dan gudegnya
“nah..ini baru enak…”, kata Atha yang makan
dengan lahap, ayah hanya bisa tersenyum.
Suara mobil terdengar semakin dekat,
“nah mungkin itu om Adi…ayah bukain dulu
pintunya yah…”, Ayah pun beranjak,
kini Atha tinggal sendiri, ia merasa ada
yang memperhatikan dari belakang, Atha pun berbalik ke belakang, tapi tidak ada
apa-apa selain piano tua yang tertutup dengan kain putih. Atha pun kembali
mengalihkan pikiran, namun lagi-lagi rasa itu menghinggapi Atha, ia pun kembali
berbalik, dan tetap saja tidak ada apa-apa, “aneh banget…”, dari kejauhan
terdengar suara tawa ayah dan om adi,
“atha…nil oh yang nama nya om adi
itu..”,
“heuh..malam om…”,
“dan ini Raihan anak nya om Adi…oiya
masa iya, Raihan mau dititipin ke Babysitter,”, kata Ayaha, om adi pun tertawa,
“atha pikir anaknya masih kecil…ternyata
seumuran…”,
“gue 5 bulan lebih tua dari loe…”, kata
Raihan
“ahahaha…ayo kita makan malam…”, kata
Ayah mencairkan suasana.
Waktu kembali menunjukkan pukul 24.01,
lagi-lagi kain putih itu secara perlahan jatuh ke lantai, tut piano mulai
tertekan dan menjadi sebuah nada yang tak beraturan, seperti sedang meluapkan
rasa kesal dan marah.
Raihan mulai terganggu dengan suara
piano itu,
“sssshhhh…berisik banget sih…”, Raihan menutup
kepalanya dengan bantal dan melanjutkan kembali tidurnya.
Keesokan harinya, tepat di meja makan
dengan menu nasi goreng ala ayah,
“ayo nak Raihan di cicipi nasi
gorengnya…”, kata ayah,
“iya om…loe…kalo gak bisa main piano, udah deh
nyerah aja…berisik tau…”, kata Raihan pada Atha yang baru tiba di ruang makan,
“apaan sih loe…yah…aku berangkat duluan
yah…”, kata Atha,
“kamu gak sarapan dulu?”,
“aku sarapan di sekolah aja…”. Atha pun
pergi.
Atha pun tiba di sekolah dengan wajah
kesal,
“kenapa toh tha?”, Tanya Nunik,
“gue kesel aja…ada penghuni baru di
rumah gue…”, kata Atha,
“penghuni baru…tapi firasatku lain…dia
penghuni lama, jauh sebelum kamu datang ke rumah itu..”, kata Nunik yang
membuat Atha bingung,
“maksud loe, cowok sok dewasa yang baru
pindah…euh..maksudnya baru numpang ke rumah gue tadi malam adalah penghuni
lama? Gitu?...”,
“tapi dia bukan laki-laki…dia
perempuan…”, kata Nunik yang semakin membuat Atha kebingungan,
“loe aneh banget sih hari ini?tadi di
rumah loe makan apa sih…?heran gue…”, kata Atha yang mulai meninggalkan Nunik,
namun Nunik tetap terdiam dan membatin,
“Aura
hitam…Merah yang sangat kuat…seorang gadis berambut pirang,…sebuah
piano…kemarahan…balas dendam….”.
Bel istirahat pun berbunyi seperti biasa
Atha dan Nunik pergi ke Kantin, kali ini Atha yang membuka pembicaraan,
“Nik…apa ini perasaan gue aja kali
ya?...setelah gue pindah rumah ke rumah itu, gue ngerasa ada yang aneh…pertama
ada sebuah lukisan yang baru banget gue lihat, dan lukisan itu seperti
menyimpan sebuah misteri, trus di kamar gue…gue kesel banget ma tu kursi…tiap
pikiran gue kosong, adaaaa aja yang gue pikirin tentang kursi itu, udah gitu
yah…di rumah itu ada sebuah piano tua…nama nya Steinway, pas gue searching di
google, itu keluaran tahun 1853..tua banget kan…berarti rumah itu udah ada
sejak zaman penjajahan dulu…yang bikin gue aneh nih yah…gue kan buka kain putih
yang nutupin pianonya, udah gitu gue tutup lagi deh tuh…pas pagi, kain itu udah
jatoh aja di lantai…aneh banget kan…”, jelas Atha,
“tha…apa kamu pernah denger dari orang
sekitar?”,
“hahaha..loe bercanda ya...gue kan gak
punya tetangga…”,
“gini loh…rumah itu…emh…ini menurut dari
cerita orang dulu…rumah itu dulunya rumah dari seorang Menir kaya raya, dia
punya anak perempuan yang punya kelainan mental, suaminya adalah seorang
jendral, dan tentang piano itu, anak perempuan itu sangat suka bermain piano,
bisa di bilang piano itu adalah tempat curhatnya dia, semua nada yang
dikeluarin dari piano itu adalah perasaan si pemain…”, jelas Nunik
“tunggu…tadi pagi si sok dewasa bilang
ke gue kalo loe gak bisa main piano nyerah aja deh…berisik…itu berarti nada nya
nggak enak di denger, dan apa itu berarti dia lagi kesel?tapi aneh…kok gue gak
denger yah?”, kata Atha bingung sendiri.
Semenjak perbincangannya dengan Nunik,
Atha terus memikirkan semua hal tentang rumah itu, tapi itu tidak membuat Atha
menjadi paranoid.
“aku pulang…loe…ayah gue mana?”, Tanya
Atha pada Raihan,
“Bokap loe pergi ke Jakarta sama Bokap
gue…”, jawab Raihan sambil baca komik di ruang tamu,
“owh..kapan mereka balik?”,
“minggu depan…”,
“apa…kenapa biarin dua manusia berbeda
tinggal dalam satu rumah….hauh…”, kata Atha sambil naik ke atas tangga,
“hei…lagi pula loe bukan tipe gue…”,
teriak Raihan, Atha pun masuk ke kamar dan tanpa sadar ia duduk di kursi tua
itu, tiba-tiba aja ada yang masuk ke dalam pikiran Atha.
Sebuah kenangan masa lalu, seorang anak
gadis yang terkurung di kamarnya selama berbulan-bulan lalu anak itu mencoba
untuk bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangannya, Namun suara
Handphone membuyarkan semuanya,
“ayah
memanggil..ya Hallo…”,
“Tha…ayah ada urusan mendadak…kamu gak
apa-apa kan bareng Raihan…minggu depan ayah pulang…udah yah..ayah tutup..”,
“tapi yah…belum juga ngomong…main tutup
aja…tapi…barusan itu apa yah?...hah…Nunik…”, Atha pun menelpon Nunik dan
bertemu di taman.
Dengan sabar Nunik menunggu Atha yang
datang agak terlambat,
“ma’af gue telat…”,
“nda apa-apa…ada apa toh tha?”, Tanya
Nunik
“Nik…makin ke sini makin aneh aja…pas
tadi gue duduk di kursi itu dan loe harus tau, ada yang masuk ke pikiran gue…”,
Atha pun menceritakan semua pada Nunik,
“tha…ada yang mau aku omongin sama
kamu…sekarang ini kamu lagi dikelilingi oleh aura hitam, ada yang mau nyelakain
kamu…dan kamu juga harus tahu…ini tentang piano itu, kamu harus pindah
secepatnya dari rumah itu..”,
“bagaimana bisa?ayah pergi ke Jakarta,
dan gue tinggal di rumah sama Raihan,”, tiba-tiba ada yang masuk ke pikiran
Nunik, Atha akan berteriak minta tolong, Raihan yang tertusuk pisau dan….
“Nik….kenapa…?”,Tanya Atha yang
membuyarkan Firasat Nunik,
“Tha…aku gak mau ini terjadi sama
kamu…sekarang juga..kamu harus pergi dari rumah…kalau bisa Raihan juga harus
ikut keluar”,
“ah serius loe Nik…”, Nunik hanya terdiam, dan
terlihat seperti bukan Nunik, itu membuat Atha ketakutan, Atha pun meninggalkan
Nunik.
Hari mulai gelap, hujan mulai turun,
Atha pun tiba di rumah, ia langsung berkemas, namun selama ia berkemas, ada
sekelebat cahaya yang melintas tepat di hadapan Atha, Atha semakin panic,
“hhhhhaahhh…gue harus keluar dari rumah
ini secepatnya…Raihan…ya..dia juga harus ikut,” Atha pun keluar sambil membawa
koper menuju kamar Raihan, “Han….Raihan…”, Atha terus mengetuk pintu kamar
Raihan, tapi pintu nya tak kunjung terbuka, Atha pun membuka sendiri pintunya,
dan alangkah kagetnya ketika Atha masuk ke kamar Raihan, Raihan sedang mencium
Lem Aibon, “Hei…loe gak sayang sama diri loe apa?”, kata Atha sambil melempar
lem nya,
“hei…apa-apaan nih…”, kata Raihan sambil
mengambil kaleng lem nya, “denger ya…gue lem sepatu gue…ngerti loe?..hei
ngapain loe bawa-bawa koper segala?”,
“Raihan…kita harus keluar dari rumah ini
secepatnya…”,
“kenapa?apa loe takut terjadi apa-apa
sama kita berdua?”, kata Raihan dengan nada meledek,
“sekarang, kita dalam bahaya…”,
“loe aja kali…gue enggak…” kata Raihan
sambil tiduran,
selama perdebatan itu tiba-tiba ada yang
kembali masuk ke pikiran Atha, sebuah buku diari, “Diari…”,
“apa?” kata Raihan yang mulai beranjak dari
kasurnya.
Atha dan Raihan pergi ke kamar Atha, di
sana mereka mencari sebuah buku diari,
“sebenarnya buku apa sih yang loe
cari?”, Tanya Raihan,
“buku…kita harus nemuin buku itu…”, Atha terus
mencari buku itu di rak buku, Raihan mulai mencari di laci, ia membuka laci dan
membalik laci nya,
“apa ini yang loe cari…”, tanpa sepatah
kata, Atha merebut Diari itu dan membukanya, “bahasa apaan nih?”, Raihan mengernyitkan
dahinya,
“mana gue liat…ini…bahasa belanda…lagian
buat apa sih?”,
Atha mengeluaran smartphone nya, ia
mulai mengetik tulisan itu di Google translate “Ik ben niet gek… ‘aku tidak gila’, ze zijn gemaakt als deze… ‘mereka yang membuatku seperti ini’…moet ik uiteindelijk mijn leven?...
‘haruskah aku mengakhiri hidupku’…hah..ini gila…”, Kata Atha sambil membuka
halaman lainnya, “vandaag was een zeer
plezierige… ‘hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan’, Ik stapte uit en speel de piano de hele dag…
‘aku keluar dari kamar itu dan bermain piano seharian’, piano is mijn enige… ‘piano adalah temanku satu-satunya’.” Lalu
Atha membuka halaman terakhir dan tertulis bahwa hari itu adalah hari terakhir
gadis itu menulis di buku diari nya, ia menceritakan betapa kejamnya mereka
(bangsa jepang) membantai seluruh keluarga gadis itu, dan gadis itu mengatakan
bahwa ini adalah akhir dari hidupku.
Lalu pikiran Atha kembali di rasuki,
Atha melihat bahwa gadis itu telah menyaksikan pembantaian seluruh keluarganya
di belakang rumah, “hhhhhaahhh….”, Atha mulai berkeringat dingin…
“loe kenapa?”, Tanya Raihan,
“lukisannya….” Atha pun keluar dan di
ikuti oleh Raihan, Atha melepas Lukisan itu, setelah itu Atha hendak turun,
namun apa yang terjadi, piano itu kembali mengeluarkan suara yang sangat
menegangkan dan tak beraturan,
“tha…loe liat gak?”, kata Raihan agak
ketakutan,
“ya…gue liat…balik badan loe…kita balik
ke kamar loe…” mereka pun mencoba menghindar, namun suara piano itu semakin
keras, dan kini sosok gadis berambut pirang dengan noda darah di dadanya berada
tepat di depan Raihan dan Atha, “pergi loe…”, kata Atha yang menjauh…namun
sosok itu semakin mendekat…Raihan dengan cepat turun ke bawah dan memainkan
pianonya, Raihan memainkan lagu Nina Bobo, sosok itu menjauh dari Atha, dan
kini berada tepat di samping Raihan mendengarkan permainan Raihan dan menangis,
Raihan agak gemetaran,
“Tha…cepet cari cara…gue takut nih…”,
Atha kembali ke kamarnya ia kembali membaca diarinya, di sana di jelaskan bahwa
gadis itu bukan mati di tangan orang jepang, tapi ia mati di tangan orang yang
sangat mencintainya, seseorang yang sangat terobsesi padanya, sementara Raihan
memainkan pianonya, tiba-tiba di belakang ada yang menikam Raihan dengan sebuah
Gunting besar, Atha langsung teringat pada kakek itu, lalu ia hendak turun ke
bawah, namun apa yang terjadi?, Raihan sudah tergeletak tak sadarkan diri
dengan darah yang mengalir di atas tut piano, dan terlihat seorang kakek yang
pernah Atha lihat sebelumnya,
“Raihan…Nunik…”, Atha menelpon Nunik…
“Nik tolong gue…gue beneran dalam
bahaya…”, Atha pun menangis dan mulai ketakutan…Atha pun mencoba untuk keluar
dari rumah, tapi lagi-lagi sosok gadis itu mengikuti Atha, bahkan Sosok itu
terus mendekati Atha.
Atha sudah hampir pasrah, tapi sosok itu
membisikan pada Atha bahwa ia harus menyelamatkan diri dan ungkapkan semua
kasus nya, tapi kakek itu sudah menyadari keberadaan Atha, kakek itu pun
mengejar kemana Atha pergi, Atha pun terus berlari, Atha menemukan jalan buntu,
kakek itu pun hendak menusukan guntingnya pada Atha, tapi Atha menendang kaki
kakek itu hingga ia terjatuh, lalu Atha kembali berlari ke bawah,
“Atha….”, kata Raihan yang sudah sangat
kesakitan,
“loe…tahan dulu sakitnya…”, Atha pun
memapah Raihan keluar dari rumah itu, tak lupa juga Atha membawa lukisan itu,
kini Atha dan Raihan tiba di halaman belakang, terlihat ada sebuah pohon besar
yang sama persis seperti yang ada di dalam lukisan, “ini tempatnya…tempat
dimana orang tua gadis itu dibantai, lalu bayangan masa lalu pun terlihat, Atha
membalikan badannya dan terlihat seorang gadis yang sedang memainkan piano
dengan nada yang tak beraturan, lalu Atha juga melihat ada seorang laki-laki
yang menusuk nya dari belakang hingga gadis itu tewas, dan laki-laki itu adalah
kakek yang pernah Atha lihat. Pikiran lain terlintas ketika laki-laki itu
menggali lubang tepat di bawah piano nya dan mengubur gadis Belanda itu di
dalamnya, setelah itu lubang itu di tutup oleh kayu dan Karpet.
Kakek itu kini sudah bangkit, dan
kembali mencari Atha, ketika Atha hendak berlari, Atha pun terjatuh, kakek itu
mengacungkan guntingnya dan hendak menusuk Atha, namun apa yang terjadi?kakek
itu malah tersungkur di hadapan Atha dan Raihan. Sebuah tombak besar menancap
tepat di punggung kakek itu dan menembus hingga ke jantung,
“dank u….”, sosok itu mengucapkan kata
terakhir dan menghilang, dan masih sempat-sempatnya Atha mentranslate kata-kata
itu di Google Translate.
Nunik pun tiba di rumah Atha,
“Athaaa….” Nunik dengan cepat memeluk Atha..
“loe telat…pertunjukannya udah
selesai…”,
“kamu ini…masih sempet-sempetnya
bercanda toh…hah…darah…”.
Mobil polisi pun tiba, banyak polisi
yang berada di TKP dan mencatat semua keterangan dari Atha.
“ini memang sedikit mustahil, tapi bapak
harus percaya…dan ada satu hal yang ingin aku kasih tau sama bapak…di bawah
piano itu ada jasad pak…”,
“benarkah?...petugas…ayo kita geser
piano itu dan ayo kita lihat ada apa di bawah piano itu. Mereka pun melakukan
pembuktian,
“di sini ada jasad…”, teriak salah
seorang petugas,
“jasadnya masih utuh…ini di awetkan…dan
kau nak…kau sudah memecahkan sebuah kasus, kasus ini adalah kasus mendiang
ayahku, ternyata gadis ini tidak hilang, dia tewas di rumahnya sendiri,
baiklah…kasus sudah terpecahkan..dan kau harus periksa dirimu di psikiater…”,
kata Polisi
“aku normal pak…kalau aku gila, mana
mungkin aku bisa sekolah dan memecahkan kasus mendiang ayahmu?”,
“ahahahaha…kau benar…ada kalanya kita
percaya dengan hal-hal yang memang tidak masuk akal”, para polisi pun pergi.
5 hari kemudian, Ayah dan Om Adi
kembali, Atha dan Raihan sedang bermain di halaman depan rumah,
“hei…anak muda…ada angina pa kalian
bermain bersama?”, kata ayah,
“sore ini anginnya bagus..jadi kami main
bersama”, kata Raihan sambil tersenyum pada Atha
“apa terjadi sesuatu?”, Tanya Om Adi
“tentu saja…kami mengalami suatu
kejadian di luar nalar…”, kata Atha,
“benarkah?”,
“lalu apa kau akan menuangkan kejadian
itu ke dalam sebuah cerita pendek?”, kata Ayah dengan nada menggoda, semuanya
tertawa dan masuk ke dalam rumah.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar