Rabu, 25 Desember 2013

Horor



The Last Piano

author    : Syifa
Cast       : Agatha, Raihan, dan Nunik
Berawal dari suatu malam yang sangat dingin, angin berhembus sangat kencang, gemerincik air jatuh dari langit kini terdengar lebih keras. Sebuah mobil sedan tua berwarna biru gelap dengan cat yang sudah lusuh menyusuri jalanan yang berpagarkan pohon besar dengan lambat namun pasti. Suara petir kini menemani hujan dan angin yang sudah seharusnya ada dalam pertunjukan alam di malam ini.
Di dalam mobil ada seorang gadis berusia 16 tahun yang mulai terganggu dengan suara angin, hujan, dan petir secara bersamaan, lalu ia menarik selimut yang sudah jatuh ketika ia mulai terlelap. Sedangkan pria paruh baya yang sedang mengendalikan sebuah mesin yang bisa mengantarkannya ke tempat tujuan dan hanya bisa terdiam menyaksikan sebuah polemik antara angin, hujan, dan petir.
30 menit pun berlalu, kini hujan sudah mulai mengurangi intensitas airnya, angin yang sudah menjadi angin yang seharusnya dimalam hari, dan petir yang sudah memelankan suaranya hingga nyaris tak terdengar sama sekali. Mobil tua itu tiba di sebuah pintu gerbang besi yang sudah karatan. Pria paruh baya itu keluar dari mobilnya,
“Agatha…ayah mau buka dulu gerbangnya…kamu tunggu dulu di sini.”, kata ayah yang keluar berjalan sebanyak 3 langkah agar  bisa membuka gerbangnya, namun Agatha hanya diam tak peduli, ia malah semakin menaikan selimutnya. Ayah pun kembali dan mengemudikan mobilnya agar bisa masuk ke dalam halaman rumah. “Agatha…bangun, kita sudah sampai.”, kata Ayah sambil mencoba untuk mengambil barang bawaan di kursi belakang.
Agatha keluar dengan payung yang keluar terlebih dahulu dari kepalanya, Agatha terus berjalan tanpa menghiraukan ayah dan barang bawaannya. Kini mereka sudah tiba di depan pintu rumah, ayah menaruh semua barang bawaannya dan mencoba membuka pintu dengan serangkaian kunci yang sangat beragam di tangannya,
“yang mana ya?...ah mungkin yang ini, “, kata ayah sambil terus mencoba membuka pintu, “hah…ternyata yang ini…pintu sebesar ini, tapi kok kunci nya kecil yah…Agatha, bisa bantu ayah bawa sebagian barang-barang ini?”, Tanya ayah, tapi Agatha kembali tak mengeluarkan sepatah kata pun sambil membawa 2 koper dan menariknya.
Memasuki rumah yang sangat besar, Agatha terus berjalan lurus menuju ruang tengah dan terlihat ada tangga utama yang sangat besar, namun terlihat agak rapuh. Ayah pun ikut masuk dan menutup pintunya,
 “uhuk…uhuk..uhuk…hauh di sini sangat berdebu…uhuk..uhuk..”, kata ayah sambil mengibas-ngibaskan tangan nya di depan wajahnya.
Agatha terus berjalan dan berpikir untuk menaiki tangga itu, tapi sebelum sampai tangga, Agatha melihat ada sebuah piano yang tertutup kain putih tepat di samping kanan tangga. Agatha pun melepaskan kainnya,
“uhuk..uhuk..uhuk…” Agatha pun merasa sensitif karena debunya, ia melihat lihat piano itu, “Steinway & Song…klasik…tapi sayang gue gak suka main piano…”, kata Agatha sambil menutup kembali kainnya. Agatha pun menaiki tangga, namun di anak tangga ke 7, Agatha sempat terhenti,
“Atha…kamar ayah ada di bawah pojok kanan, dan kamar kamu ada di atas pojok kiri, kalo ada apa-apa, panggil ayah aja…”, teriak ayah,
“iya…”, Agatha terus menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya, tapi di dinding tepat di depan Atha berdiri sekarang ada sebuah lukisan sebuah taman, “hemh…indah sih, tapi kenapa gue ngerasa Horor yah…”, Atha mengusap lengannya dan mengangkat kedua bahunya.
Atha pun masuk ke kamar, di sana ada sebuah kursi tua yang membuat Atha agak sedikit terkejut, “wwwuuhhh…bikin kaget aja…gue kira apa…oke Atha…apa yang harus loe lakuin sekarang? Dan yang harus gue lakuin sekarang adalah tidur yang nyenyak setelah menikmati perjalanan jauh dari Jakarta – Yogya, jam 9 lebih 18 menit…hauh…gila..pinggang gue serasa mau patah, tapi…hmmss..hmmss..badan gue gak enak banget, apa gue mandi dulu?...ah…mandi nya besok aja, sekarang gue mau tidur…huwwwaaah…”, Atha langsung menjatuhkan badannya di kasur.
Ayah dan anak itu sudah mulai terlelap dan waktu pun menunjukkan pukul 24.01, kembali ke bawah tepat di sebelah kanan tangga, secara perlahan kain putih itu mulai turun, dan Tut piano itu satu persatu tertekan kebawah dan mengeluarkan serangkaian nada ceria.
Keesokan harinya, Atha pun bangun dengan sedikit meringis kedinginan,
“hauh…dingin banget yah…jam berapa sih?”, Atha pun melihat jam tangan yang semalaman tidak lepas dari pergelangan tangannya, “jam 5 lebih 30 menit...”, Atha pun keluar dari gulungan selimut tebalnya dan beranjak dari ranjangnya menuju pintu, lagi-lagi Atha merasa terganggu dengan kursinya, “hhhhwwuuuhh…loe…kursi, hanya sebuah kursi dan akan menjadi sebuah kursi untuk selama-lamanya, loe udah bikin gue kaget dua kali…dasar loe…hauh…bikin kesel aja…” Atha pun keluar dari kamarnya dengan menggerutu sendiri, kursi itu pun sedikit bergeser.
Atha mulai menuruni anak tangga, namun yang pertama ia lihat adalah kain putih nya tergeletak di bawah lantai, Atha pun turun lebih cepat dan kembali menutup piano itu dengan kain putih,
“aneh banget…perasaan tadi malem udah gue tutup lagi…”, Atha pun pergi ke dapur, di sana sudah ada ayah yang sedang memasak,
“selamat pagi…”, kata ayah sambil menggerak-gerakan tangannya dan mengendalikan wajan,
“pagi…”, jawab Atha yang masih saja acuh,
“gimana tidurnya? nyenyak?”, Tanya ayah yang kini sudah menuangkan nasi goreng ke dalam piring,
 “kenapa ayah beli rumah ini sih?tangga nya aja udah tua, udah gitu, jauh sama orang lagi…sejak kapan ayah jadi tipe individualis?”, Tanya Atha sambil minum segelas air putih,
“Atha…denger ya…bagaimanapun ayah masih dalam suasana berkabung, jadi ayah nggak mau terlalu deket-deket sama banyak orang”, jelas ayah,
“tapi gak harus di rumah ini juga kan…ibu pasti marah kalo liat rumah ini…kotor, banyak debu, dan…Tua.”, papar Atha sambil melihat ke arah sekitar,
“sudah-sudah…sekarang kamu mulai masuk sekolah, nanti ayah anterin kamu, tapi sebelum itu, kamu harus cobain dulu masakan ayah…Wualla…nasi goreng ala ayah…ayo silahkan…”, dengan ragu Atha mencicipi nasi goreng ayah, dan keraguan itu terjawab dengan rasa kekecewaan, “kenapa? Gak enak yah…?”, Tanya ayah sambil menunggu kepastian,
“ayah udah liat ekspresi wajah aku kan…”, dengan datar Agatha beranjak pergi meninggalkan ayahnya,
“gak enak dong…mana…” ayah pun mencicipi nasi goreng yang lebih kebanyakan garam, “Hauh…asin banget…”, kata ayah sambil meringis.
Agatha pun pergi ke sekolah bersama ayah,
 “apa ayah nggak masuk?”,
“ma’af, barusan om Adi telpon ayah, dia bilang dia mau ketemu sama ayah, ada yang mau ia omongin, kamu masuk sendiri gak apa-apa kan?”,
 “yaudah…aku masuk sendiri…dan…jangan coba jemput aku..aku mau pulang sendiri,” Agatha keluar dari mobil tanpa pamit,
“atha…atha..kalo lagi marah, kamu mirip sama ibu kamu…”ayah tersenyum sendiri dan mulai mengemudikan mobilnya.
Di lorong kelas yang ramai Atha masih bingung mencari kelas 2-2, lalu ada seorang gadis berkacamata menghampiri Atha,
 “Kamu anak baru ya…”,
“kok loe bisa tau…”,
 “ya tahu toh…la wong saya baru liat wajah kamu…”,
“emh…loe tau kelas 2-2 gak?”,
“wualah…kebetulan…aku juga kelasnya di sana…oiya perkenalkan nama aku Nunik Pratiwi..”, kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
 “Unik….?”, kata Atha agak bingung,
“Nunik mbak…Nuuu…Nik…he..he..”, kata Nunik sambil tersenyum,
“maksud gue, nama loe unik…Nunik…cchhh…nama gue Agatha…panggil aja Atha…”,
 “owh mbak Atha…”,
“gak pake Mbak…emangnya loe pikir gue mbak tukang jamu apa?”,
 “hahaha…yoowes…Mbak…eh Atha…kalo gitu kita pergi ke kelas yuk…” Atha dan Nunik pun pergi ke kelas bersama.
Waktu menunjukkan pukul 13.35, bel pulang pun berbunyi,
“Atha…rumah kamu dimana?”, tanya Nunik sambil membereskan buku-buku yang masih berserakan di meja,
“rumah gue gak jauh kok dari sini, gue belum tau pasti alamatnya, yang pasti rumah gue itu terpencil, besar, tua, dan…emh…di sana ada piano tua,”, jelas Atha sambil beranjak untuk keluar kelas dan disusul oleh Nunik,
“kamu bilang rumah tua?ada piano tua nya juga?...walah…jangan bilang kamu tinggal di desa sebelah…”, kata Nunik agak menyeringai,
“kan udah gue bilang, rumah gue deket dari sini, kenapa sih dengan muka loe?aneh banget deh…udah hampir sampai, gue duluan yah…”, kata Atha sambil berbelok arah, Nunik masih penasaran, dia melihat Atha dari kejauhan.
Setelah sampai di rumah Atha terkejut dengan tukang kebun yang memakai baju compang-camping,
“wwwwhhuuuhhh….”, wajah Atha menjadi pucat,
“ada apa toh mbak…”, Tanya tukang kebun itu,
“gak apa-apa…”, kata Atha sambil berlari, tukang kebun itu tak meepaskan pandangannya pada Atha.
Melihat anaknya berlari, ayah pun bingung, “ada apa tha?”, Tanya ayah,
“apa ayah punya tukang kebun baru?”, Tanya Atha,
“tukang kebun?enggak…emangnya kenapa?”,
“tadi aku lihat di depan rumah ada pria tua, bajunya robek-robek, trus dia pegang gunting besar, aku kira dia tukang kebun baru,”,
“owh…mungkin itu pemilik rumah sebelumnya, dia memang seperti itu, namanya pak Sumardi rumahnya deket kok dari sini…oiya kata Om Adi, dia mau kamu jagain anaknya,”
“apa ayah pikir di sini tempat penitipan anak?gak mau…suruh aja baby sitter,”,
 “hei…anaknya Om Adi itu seumuran kamu…masa iya di titipin ke Babysitter?”,
“owh...kirain…”,
“nanti sore dia ke sini…”,
“hemh…”, kata Atha sambil pergi ke kamarnya, lagi-lagi Atha memperhatikan pianonya dan membuat bulu kuduknya sedikit berdiri.
Malam pun tiba, saatnya makan malam,
“lha…kata ayah sore, kenapa jam segini belum datang juga?”, Tanya Atha,
 “mungkin dia belum beres packing barangnya…sekarang kamu makan dulu…ini ayah beli di deket tempat kerja ayah,”, Atha pun langsung makan nasi yang di campur dengan rendang sapi dan gudegnya
 “nah..ini baru enak…”, kata Atha yang makan dengan lahap, ayah hanya bisa tersenyum.
Suara mobil terdengar semakin dekat,
 “nah mungkin itu om Adi…ayah bukain dulu pintunya yah…”, Ayah pun beranjak,
kini Atha tinggal sendiri, ia merasa ada yang memperhatikan dari belakang, Atha pun berbalik ke belakang, tapi tidak ada apa-apa selain piano tua yang tertutup dengan kain putih. Atha pun kembali mengalihkan pikiran, namun lagi-lagi rasa itu menghinggapi Atha, ia pun kembali berbalik, dan tetap saja tidak ada apa-apa, “aneh banget…”, dari kejauhan terdengar suara tawa ayah dan om adi,
“atha…nil oh yang nama nya om adi itu..”,
“heuh..malam om…”,
“dan ini Raihan anak nya om Adi…oiya masa iya, Raihan mau dititipin ke Babysitter,”, kata Ayaha, om adi pun tertawa,
“atha pikir anaknya masih kecil…ternyata seumuran…”,
“gue 5 bulan lebih tua dari loe…”, kata Raihan
“ahahaha…ayo kita makan malam…”, kata Ayah mencairkan suasana.
Waktu kembali menunjukkan pukul 24.01, lagi-lagi kain putih itu secara perlahan jatuh ke lantai, tut piano mulai tertekan dan menjadi sebuah nada yang tak beraturan, seperti sedang meluapkan rasa kesal dan marah.
Raihan mulai terganggu dengan suara piano itu,
 “sssshhhh…berisik banget sih…”, Raihan menutup kepalanya dengan bantal dan melanjutkan kembali tidurnya.
Keesokan harinya, tepat di meja makan dengan menu nasi goreng ala ayah,
“ayo nak Raihan di cicipi nasi gorengnya…”, kata ayah,
 “iya om…loe…kalo gak bisa main piano, udah deh nyerah aja…berisik tau…”, kata Raihan pada Atha yang baru tiba di ruang makan,
“apaan sih loe…yah…aku berangkat duluan yah…”, kata Atha,
“kamu gak sarapan dulu?”,
“aku sarapan di sekolah aja…”. Atha pun pergi.
Atha pun tiba di sekolah dengan wajah kesal,
“kenapa toh tha?”, Tanya Nunik,
“gue kesel aja…ada penghuni baru di rumah gue…”, kata Atha,
“penghuni baru…tapi firasatku lain…dia penghuni lama, jauh sebelum kamu datang ke rumah itu..”, kata Nunik yang membuat Atha bingung,
“maksud loe, cowok sok dewasa yang baru pindah…euh..maksudnya baru numpang ke rumah gue tadi malam adalah penghuni lama? Gitu?...”,
“tapi dia bukan laki-laki…dia perempuan…”, kata Nunik yang semakin membuat Atha kebingungan,
“loe aneh banget sih hari ini?tadi di rumah loe makan apa sih…?heran gue…”, kata Atha yang mulai meninggalkan Nunik, namun Nunik tetap terdiam dan membatin,
Aura hitam…Merah yang sangat kuat…seorang gadis berambut pirang,…sebuah piano…kemarahan…balas dendam….”.
Bel istirahat pun berbunyi seperti biasa Atha dan Nunik pergi ke Kantin, kali ini Atha yang membuka pembicaraan,
“Nik…apa ini perasaan gue aja kali ya?...setelah gue pindah rumah ke rumah itu, gue ngerasa ada yang aneh…pertama ada sebuah lukisan yang baru banget gue lihat, dan lukisan itu seperti menyimpan sebuah misteri, trus di kamar gue…gue kesel banget ma tu kursi…tiap pikiran gue kosong, adaaaa aja yang gue pikirin tentang kursi itu, udah gitu yah…di rumah itu ada sebuah piano tua…nama nya Steinway, pas gue searching di google, itu keluaran tahun 1853..tua banget kan…berarti rumah itu udah ada sejak zaman penjajahan dulu…yang bikin gue aneh nih yah…gue kan buka kain putih yang nutupin pianonya, udah gitu gue tutup lagi deh tuh…pas pagi, kain itu udah jatoh aja di lantai…aneh banget kan…”, jelas Atha,
“tha…apa kamu pernah denger dari orang sekitar?”,
“hahaha..loe bercanda ya...gue kan gak punya tetangga…”,
“gini loh…rumah itu…emh…ini menurut dari cerita orang dulu…rumah itu dulunya rumah dari seorang Menir kaya raya, dia punya anak perempuan yang punya kelainan mental, suaminya adalah seorang jendral, dan tentang piano itu, anak perempuan itu sangat suka bermain piano, bisa di bilang piano itu adalah tempat curhatnya dia, semua nada yang dikeluarin dari piano itu adalah perasaan si pemain…”, jelas Nunik
“tunggu…tadi pagi si sok dewasa bilang ke gue kalo loe gak bisa main piano nyerah aja deh…berisik…itu berarti nada nya nggak enak di denger, dan apa itu berarti dia lagi kesel?tapi aneh…kok gue gak denger yah?”, kata Atha bingung sendiri.
Semenjak perbincangannya dengan Nunik, Atha terus memikirkan semua hal tentang rumah itu, tapi itu tidak membuat Atha menjadi paranoid.
“aku pulang…loe…ayah gue mana?”, Tanya Atha pada Raihan,
“Bokap loe pergi ke Jakarta sama Bokap gue…”, jawab Raihan sambil baca komik di ruang tamu,
 “owh..kapan mereka balik?”,
“minggu depan…”,
“apa…kenapa biarin dua manusia berbeda tinggal dalam satu rumah….hauh…”, kata Atha sambil naik ke atas tangga,
“hei…lagi pula loe bukan tipe gue…”, teriak Raihan, Atha pun masuk ke kamar dan tanpa sadar ia duduk di kursi tua itu, tiba-tiba aja ada yang masuk ke dalam pikiran Atha.
Sebuah kenangan masa lalu, seorang anak gadis yang terkurung di kamarnya selama berbulan-bulan lalu anak itu mencoba untuk bunuh diri dengan cara menyayat pergelangan tangannya, Namun suara Handphone membuyarkan semuanya,
ayah memanggil..ya Hallo…”,
“Tha…ayah ada urusan mendadak…kamu gak apa-apa kan bareng Raihan…minggu depan ayah pulang…udah yah..ayah tutup..”,
 “tapi yah…belum juga ngomong…main tutup aja…tapi…barusan itu apa yah?...hah…Nunik…”, Atha pun menelpon Nunik dan bertemu di taman.
Dengan sabar Nunik menunggu Atha yang datang agak terlambat,
“ma’af gue telat…”,
“nda apa-apa…ada apa toh tha?”, Tanya Nunik
“Nik…makin ke sini makin aneh aja…pas tadi gue duduk di kursi itu dan loe harus tau, ada yang masuk ke pikiran gue…”, Atha pun menceritakan semua pada Nunik,
“tha…ada yang mau aku omongin sama kamu…sekarang ini kamu lagi dikelilingi oleh aura hitam, ada yang mau nyelakain kamu…dan kamu juga harus tahu…ini tentang piano itu, kamu harus pindah secepatnya dari rumah itu..”,
“bagaimana bisa?ayah pergi ke Jakarta, dan gue tinggal di rumah sama Raihan,”, tiba-tiba ada yang masuk ke pikiran Nunik, Atha akan berteriak minta tolong, Raihan yang tertusuk pisau dan….
“Nik….kenapa…?”,Tanya Atha yang membuyarkan Firasat Nunik,
“Tha…aku gak mau ini terjadi sama kamu…sekarang juga..kamu harus pergi dari rumah…kalau bisa Raihan juga harus ikut keluar”,
 “ah serius loe Nik…”, Nunik hanya terdiam, dan terlihat seperti bukan Nunik, itu membuat Atha ketakutan, Atha pun meninggalkan Nunik.
Hari mulai gelap, hujan mulai turun, Atha pun tiba di rumah, ia langsung berkemas, namun selama ia berkemas, ada sekelebat cahaya yang melintas tepat di hadapan Atha, Atha semakin panic,
“hhhhhaahhh…gue harus keluar dari rumah ini secepatnya…Raihan…ya..dia juga harus ikut,” Atha pun keluar sambil membawa koper menuju kamar Raihan, “Han….Raihan…”, Atha terus mengetuk pintu kamar Raihan, tapi pintu nya tak kunjung terbuka, Atha pun membuka sendiri pintunya, dan alangkah kagetnya ketika Atha masuk ke kamar Raihan, Raihan sedang mencium Lem Aibon, “Hei…loe gak sayang sama diri loe apa?”, kata Atha sambil melempar lem nya,
“hei…apa-apaan nih…”, kata Raihan sambil mengambil kaleng lem nya, “denger ya…gue lem sepatu gue…ngerti loe?..hei ngapain loe bawa-bawa koper segala?”,
“Raihan…kita harus keluar dari rumah ini secepatnya…”,
“kenapa?apa loe takut terjadi apa-apa sama kita berdua?”, kata Raihan dengan nada meledek,
“sekarang, kita dalam bahaya…”,
“loe aja kali…gue enggak…” kata Raihan sambil tiduran,
selama perdebatan itu tiba-tiba ada yang kembali masuk ke pikiran Atha, sebuah buku diari, “Diari…”,
 “apa?” kata Raihan yang mulai beranjak dari kasurnya.
Atha dan Raihan pergi ke kamar Atha, di sana mereka mencari sebuah buku diari,
“sebenarnya buku apa sih yang loe cari?”, Tanya Raihan,
 “buku…kita harus nemuin buku itu…”, Atha terus mencari buku itu di rak buku, Raihan mulai mencari di laci, ia membuka laci dan membalik laci nya,
“apa ini yang loe cari…”, tanpa sepatah kata, Atha merebut Diari itu dan membukanya,  “bahasa apaan nih?”, Raihan mengernyitkan dahinya,
“mana gue liat…ini…bahasa belanda…lagian buat apa sih?”,
Atha mengeluaran smartphone nya, ia mulai mengetik tulisan itu di Google translate “Ik ben niet gek… ‘aku tidak gila’, ze zijn gemaakt als deze… ‘mereka yang membuatku seperti ini’…moet ik uiteindelijk mijn leven?... ‘haruskah aku mengakhiri hidupku’…hah..ini gila…”, Kata Atha sambil membuka halaman lainnya, “vandaag was een zeer plezierige… ‘hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan’, Ik stapte uit en speel de piano de hele dag… ‘aku keluar dari kamar itu dan bermain piano seharian’, piano is mijn enige… ‘piano adalah temanku satu-satunya’.” Lalu Atha membuka halaman terakhir dan tertulis bahwa hari itu adalah hari terakhir gadis itu menulis di buku diari nya, ia menceritakan betapa kejamnya mereka (bangsa jepang) membantai seluruh keluarga gadis itu, dan gadis itu mengatakan bahwa ini adalah akhir dari hidupku.
Lalu pikiran Atha kembali di rasuki, Atha melihat bahwa gadis itu telah menyaksikan pembantaian seluruh keluarganya di belakang rumah, “hhhhhaahhh….”, Atha mulai berkeringat dingin…
“loe kenapa?”, Tanya Raihan,
“lukisannya….” Atha pun keluar dan di ikuti oleh Raihan, Atha melepas Lukisan itu, setelah itu Atha hendak turun, namun apa yang terjadi, piano itu kembali mengeluarkan suara yang sangat menegangkan dan tak beraturan,
“tha…loe liat gak?”, kata Raihan agak ketakutan,
“ya…gue liat…balik badan loe…kita balik ke kamar loe…” mereka pun mencoba menghindar, namun suara piano itu semakin keras, dan kini sosok gadis berambut pirang dengan noda darah di dadanya berada tepat di depan Raihan dan Atha, “pergi loe…”, kata Atha yang menjauh…namun sosok itu semakin mendekat…Raihan dengan cepat turun ke bawah dan memainkan pianonya, Raihan memainkan lagu Nina Bobo, sosok itu menjauh dari Atha, dan kini berada tepat di samping Raihan mendengarkan permainan Raihan dan menangis, Raihan agak gemetaran,
“Tha…cepet cari cara…gue takut nih…”, Atha kembali ke kamarnya ia kembali membaca diarinya, di sana di jelaskan bahwa gadis itu bukan mati di tangan orang jepang, tapi ia mati di tangan orang yang sangat mencintainya, seseorang yang sangat terobsesi padanya, sementara Raihan memainkan pianonya, tiba-tiba di belakang ada yang menikam Raihan dengan sebuah Gunting besar, Atha langsung teringat pada kakek itu, lalu ia hendak turun ke bawah, namun apa yang terjadi?, Raihan sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di atas tut piano, dan terlihat seorang kakek yang pernah Atha lihat sebelumnya,
 “Raihan…Nunik…”, Atha menelpon Nunik…
“Nik tolong gue…gue beneran dalam bahaya…”, Atha pun menangis dan mulai ketakutan…Atha pun mencoba untuk keluar dari rumah, tapi lagi-lagi sosok gadis itu mengikuti Atha, bahkan Sosok itu terus mendekati Atha.
Atha sudah hampir pasrah, tapi sosok itu membisikan pada Atha bahwa ia harus menyelamatkan diri dan ungkapkan semua kasus nya, tapi kakek itu sudah menyadari keberadaan Atha, kakek itu pun mengejar kemana Atha pergi, Atha pun terus berlari, Atha menemukan jalan buntu, kakek itu pun hendak menusukan guntingnya pada Atha, tapi Atha menendang kaki kakek itu hingga ia terjatuh, lalu Atha kembali berlari ke bawah,
 “Atha….”, kata Raihan yang sudah sangat kesakitan,
“loe…tahan dulu sakitnya…”, Atha pun memapah Raihan keluar dari rumah itu, tak lupa juga Atha membawa lukisan itu, kini Atha dan Raihan tiba di halaman belakang, terlihat ada sebuah pohon besar yang sama persis seperti yang ada di dalam lukisan, “ini tempatnya…tempat dimana orang tua gadis itu dibantai, lalu bayangan masa lalu pun terlihat, Atha membalikan badannya dan terlihat seorang gadis yang sedang memainkan piano dengan nada yang tak beraturan, lalu Atha juga melihat ada seorang laki-laki yang menusuk nya dari belakang hingga gadis itu tewas, dan laki-laki itu adalah kakek yang pernah Atha lihat. Pikiran lain terlintas ketika laki-laki itu menggali lubang tepat di bawah piano nya dan mengubur gadis Belanda itu di dalamnya, setelah itu lubang itu di tutup oleh kayu dan Karpet.
Kakek itu kini sudah bangkit, dan kembali mencari Atha, ketika Atha hendak berlari, Atha pun terjatuh, kakek itu mengacungkan guntingnya dan hendak menusuk Atha, namun apa yang terjadi?kakek itu malah tersungkur di hadapan Atha dan Raihan. Sebuah tombak besar menancap tepat di punggung kakek itu dan menembus hingga ke jantung,
“dank u….”, sosok itu mengucapkan kata terakhir dan menghilang, dan masih sempat-sempatnya Atha mentranslate kata-kata itu di Google Translate.
Nunik pun tiba di rumah Atha,
 “Athaaa….” Nunik dengan cepat memeluk Atha..
“loe telat…pertunjukannya udah selesai…”,
“kamu ini…masih sempet-sempetnya bercanda toh…hah…darah…”.
Mobil polisi pun tiba, banyak polisi yang berada di TKP dan mencatat semua keterangan dari Atha.
“ini memang sedikit mustahil, tapi bapak harus percaya…dan ada satu hal yang ingin aku kasih tau sama bapak…di bawah piano itu ada jasad pak…”,
“benarkah?...petugas…ayo kita geser piano itu dan ayo kita lihat ada apa di bawah piano itu. Mereka pun melakukan pembuktian,
“di sini ada jasad…”, teriak salah seorang petugas,
“jasadnya masih utuh…ini di awetkan…dan kau nak…kau sudah memecahkan sebuah kasus, kasus ini adalah kasus mendiang ayahku, ternyata gadis ini tidak hilang, dia tewas di rumahnya sendiri, baiklah…kasus sudah terpecahkan..dan kau harus periksa dirimu di psikiater…”, kata Polisi
“aku normal pak…kalau aku gila, mana mungkin aku bisa sekolah dan memecahkan kasus mendiang ayahmu?”,
“ahahahaha…kau benar…ada kalanya kita percaya dengan hal-hal yang memang tidak masuk akal”, para polisi pun pergi.
5 hari kemudian, Ayah dan Om Adi kembali, Atha dan Raihan sedang bermain di halaman depan rumah,
“hei…anak muda…ada angina pa kalian bermain bersama?”, kata ayah,
“sore ini anginnya bagus..jadi kami main bersama”, kata Raihan sambil tersenyum pada Atha
“apa terjadi sesuatu?”, Tanya Om Adi
“tentu saja…kami mengalami suatu kejadian di luar nalar…”, kata Atha,
“benarkah?”,
“lalu apa kau akan menuangkan kejadian itu ke dalam sebuah cerita pendek?”, kata Ayah dengan nada menggoda, semuanya tertawa dan masuk ke dalam rumah.
The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar