Minggu, 22 Desember 2013

Queen of Sudra's Kingdom



Queen of Sudra's Kindom

Sinopsis.
            Menceritakan tentang seorang penulis di negeri Sudra yang menulis tentang kehancuran Negeri Kegelapan. Hal itu membuat Raja Nefrous sang Raja kegelapan merasa marah, hingga akhirnya penulis itu di bunuh dan semua buku yang ada di Negeri Sudra di kutuk dan siapa saja yang menulis di buku tersebut maka orang itu akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan bahkan sampai merenggut jiwa seseorang.
            Di dunia nyata ada seorang gadis bernama Nara, ia adalah seorang penulios cerita anak-anak. Ia menemukan sebuah buku besar di sebuah toko di daerah Andriyivsky Uzwiz, Kiev, Ukraina. Nara membaca tulisan yang ada di dalam buku tersebut. Cerita itu belum sempat selesai, oleh karena itu Nara melanjutkan ceritanya. Ketika perjalanan pulang dari suatu tempat, Nara merasa ada kejanggalan dari buku yang sedang ia pegang. Tak lama kemudian Nara mengalami kecelakaan di Kreshyatykc Street, Kiev. Ketika itu pula buku itu menghilang.
            18 tahun kemudian, seorang siswi bernama Nahara sedang memiliki tugas menulis. Menulis adalah hal yang sangat ia benci, tapi bagaimanapun juga ia harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Untuk mencari sebuah Inspirasi, Nahara pergi ke taman Shevchenco yang berada di ujung jalan Kresychatykc. Ketika ia menuju sebuah pohon besar yang berada di ujung taman, Nahara melihat sesuatu yang bersinar. Sesuatu yang bersinar di bawah tanah, Nahara pun menggalinya, dan ia pun mendapatkan sebuah buku besar.
            Di negeri Sudra kini sedang mengalami kekacauan, itu karena perbuatan Raja Nefrous yang selalu ingin merebut Negeri Sudra dari Raja Harda. Raja Harda pun meninggal, ia memiliki dua orang anak kembar namanya Ugra dan Runako. Kedua anak kembarnya memilki sifat yang bertolak belakang. Ugra sangat dingin dan lebih mencintai dirinya sendiri seperti halnya Narcissus, sedangkan Runanko adalah pria yang hangat, ia memiliki banyak wanita seperti halnya Cassanova.
            Karena mengalami berbagai macam pemberontakan, Raja Harda pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan kini sebuah kerajaan besar berada di pundak kedua anak kembarnya. Ada sebagian orag yang melakukan konspirasi dengan Kerajaan kegelapan, Akhal seorang pemuda yang gagah mengetahui semuanya. Namun orang-orang berusaha untuk menyingkirkannya, ia pun dijerumuskan ke dalam jurang. Seorang peri bernama Fayina membantu Akhal, dan atas permintaan Akhal, Fayina mengubah Akhal menjadi manusia setengah singa dengan tanda rambut yang berbeda di bagian kepala kirinnya.
            Ketika itu Nahara membawa buku itu pulang, dan ia membaca tulisan yang ada di dalam buku itu, karena merasa tertarik Nahara pun melanjutkan kisahnya. Keesokan harinya ketika Nahara hendak pergi ke sekolah, ia mengalami kecelakaan dan koma, namun ruhnya berada di dalam alam bawah sadar yang bernama Negri Sudra. Nahara pun menjalani kehidupan di Negeri Sudra, Nahara harus berjuang untuk melawan Raja Nefrous dan mengembalikan Negeri Sudra menjadi Negeri yang aman dan damai.

***
Persahabatan
            Di sore hari yang sangat teduh, duduklah dua orang laki-laki di bawah sebuah pohon besar yang berada di tepi sungai di tepi sungai. Mereka menyandarkan punggung mereka ke pohon tersebut.
            “hah…ini melelahkan,” Nefrous tersenyum senang dengan penuh rasa lelah,
            “benar, tapi ini sangat menyenangkan…bagaimana jika diantara kita ada yang menjadi seorang penguasa, dan jika itu terjadi padamu, maka apa yang akan kau lakukan?”, Tanya Harda yang mulai stabil,
            “aku?...emh…aku akan memperluas daerah kekuasaanku, setelah itu membuat rakyat sejahtera, dan satu lagi yang akan kulakukan…aku akan terus mempercayaimu…”, Nefrous pun tersenyum,
            “hemh…jika aku menjadi penguasa, aku akan melakukan apapun yang bisa membuat semua orang merasa aman dan terlindungi, aku tidak ingin hanya karena aku, banyak orang yang harus merelakan nyawanya…seorang penguasa harus berada di depan ketika ia sedang berperang, bukan begitu?”, Harda menatap Nefrous,
            “kurasa tidak begitu, jika penguasa berada di depan ketika perang, jika ia mati, lalu siapa yang akan menjadi penguasanya?”, Tanya Nefrous,
            “aku memiliki keyakinan, ketika seorang penguasa berada di depan, berarti ia siap untuk menang,” Harda pun kembali tersenyum,
            “tapi, kurasa dari sisi keturunan, kaulah yang akan menjadi penerus tahta kerajaan,” Nefrous agak tertunduk,
            “siapa saja bisa menjadi penerus, termasuk dirimu. Aku ingin menghapuskan system monarki seperti ini. Menurutku, siapapun itu, asalkan ia memiliki kemampuan, loyalty dan rasa cinta terhadap Negeri dan rakyatnya, maka ia bisa menjadi penerus tahta,” jelas Harda,
            “benarkah?”, Nefrous tersenyum bahagia.
            “wuah, hari mulai gelap, ayo kita kembali…”, Harda pun beranjak,
            Kini mereka kembali, melewati sebuah jembatan yang dibawahnya mengalir sebuah sungai. Harda kembali ke istana yang memiliki kamar yang sangat nyaman, sedangkan Nefrous kembali ke sebuah rumah yang berada di dalam gang. Rumah yang sangat kecil dan gelap. Adakalanya Nefrous merasa iri kepada Harda, dalam kegelapan Nefrous sering bermimpi bagaimana jika seandainya ia menjadi seorang penerus tahta kerajaan.
            Keesokan harinya, kedua sahabat ini pergi ke sebuah padang rumput. Disana mereka menunggang kuda dan beradu kecepatan.
            “hhhaaaahhhh…lagi-lagi kau yang menang,” Harda turun dari kudanya sambil melemparkan senyuman pada Nefrous, Harda pun terbaring di rumput,
            “ada apa denganmu?”, Nefrous merasa hern karena tidak biasanya Harda bisa kalah darinya,
            “aku hanya sedikit lelah,” jelas Harda singkat.
            “terima kasih…”, Nefrous pun melakukan hala yang sama, berbaring di rumput tepat  di samping kanan Harda,
            “untuk apa?”, Harda menengok ke arah Nefrous,
            “sebagai anggota keluarga kerajaan, tidak sepantasnya kau berteman denganku, aku hanya rakyat jelata, tapi kau mau menerimaku sebagi temanmu,” jelas Nefrous,
            “ini hanya di dunia…entah bagaimana jadinya ketika kita berada di alam yang berbeda? Aku merasa semua sama, mereka hanya terhalang oleh sebuah nama yaitu status social…hah…aku benci membicarakan tentang stratifikasi seseorang dengan yang lainnya, itu sangat kekanak-kanakkan,” jelas Harda yang mulai memandang langit yang sangat biru kala itu.
            “itulah mengapa aku merasa tidak canggung berada di dekatmu…”, Nefrous pun memandang langit sambil tersenyum.
            Setelah itu mereka pun kembali, Harda mengajak Nefrous untuk main ke istana. Di istana sedang mengadakan suatu pertemuan para menetrei dengan raja yang akan membahas tentang penerus tahta kerajaan.
            “Ayah…”, Harda memasuki ruang pertemuan,
            “owh…nak…ada apa?”, Raja merasa penasaran,
            “apa yang sedang ayah bicarakan?”, Tanya Harda,
            “owh…ayah sedang membicarakan tentang penerus tahta kerajaan, dan ayah yaki kau bisa…”, jelas Raja
            “ayah…apa seorang penerus kerajaan harus sesuai dengan garis keturunannya?”,
            “tentu saja, dengan begitu keluarga kerajaan tak akan punah,”
            “bagaimana jika suatu saat keluarga kerajaan mengalami suatu krisis kepercayaan? Apa yang akan kita lakukan? Apa kita akan memaksakan kehendak kita tanpa memikirkan rakyat yang ada di Negeri ini?”, Harda agak menaikkan suaranya,
            “apa yang kau katakan”, Raja mulai marah,
            “aku menginginkan suatu keadilan, yang terpenting adalah kesejahteraan negeri Sudra, aku ingin melakukan hal lain untuk menetukan siapa sang penerus tahta,” jelas Harda,
            “kau…”, Raja mulai naik pitam,
            “aku setuju yang mulia…”, salah seorang menteri yang bernama Gusa mengacungkan tangannya,
            “aku juga…”, seorang menteri lainnya menyetujui cara itu, dan semakin lama semakin banyak yang mengacungkan tangannya.
            Raja pun akhirnya menerima semua pendapat dari Harda dan pengajuan para Menteri.
            “baiklah, demi kesejahteraan negeri ini, mulai sekarang kita akan melakukan hal yang berbeda,” Raja pun akhirnya mengalah.
            Para menetri pun kembali merundingkan siapa yang pantas untuk menjadi calon Raja di Negeri Sudra. Harda dan Nefrous pun berjalan-jalan di taman istana.awalnya mereka saling diam, namun Nefrous membuka pembicaraan,
            “kenapa kau melakukan hal itu?”, Nefrous agak canggung,
            “sudah kubilang, aku ingin menghapuskan system monarki, siapa yang terbaik, dia akan menjadi Raja, dan aku ingin mewujudkan hal itu,” jelas Harda dengan santai.
            “lalu bagaimana jika kau tidak terpilih menjadi Raja?”, Nefrous mengatakannya dengan sangat hati-hati.
            “hemh…berarti aku bukan yang terbaik, setelah itu aku akan pergi ke suatu tempat, negri yang sangat indah dan damai,” Harda pun tersenyum, namun Nefrous masih tak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Harda.
            Nefrous pun kini kembali ke rumahnya, kembali ke dalam kegelapan ia mulai bermimpi. Menjadi seorang Raja adalah mimpinya saat ini. Sejak pernyataan dari raja bahwa siapa saja berhak menjadi Raja, Nefrous sering rajin berlatih pertahanan, belajar strategi perang, dan belajar berbagai macam tentang hal yang menyangkut kerajaan.
            Sejak saat itu pula Nefrous jarang menemui Harda. Masih di tempat yang sama di bawah sebuah pohon, Harda duduk sendiri. Harda meilhat sungai yang begitu tenang. Harda pun memejamkan matanya sejenak, setelah itu ia kembali membuka matanya dan ia meilhat sesosok gadis di tepi sungai yang bersebrangan dengannya.
            Gadis itu sedang membawa kendi yang belum terisi air, dari jauh Harda memperhatikan gadis itu. Karena ia terlalu penuh mengisi kendinya, ia hampir kehilangan keseimbangan dan hampir masuk ke dalam sungai.
            “hati-hati…”, teriak Harda, gadis itu pun berhasil meyeimbangkan tubuhnya,
            “siapa di sana?”, teriak gadis itu, Harda melambaikan tangannya pada gadis itu
            “apa kau berbicara padaku?”, teriak gadis itu.
            Waktu pun berlalu, kini Harda dan gadis itu berjalan bersama. Harda membawakan kendinya.
            “emh, kau tidak perlu repot-repot,” Gadis itu berkata sambil tertunduk
            “hemh…oiya siapa namamu?”, Harda mulai tersenyum,
            “namaku Kira…”, gadis itu masih tertunduk,
            “Kira yang berarti sinar matahari…nama yang sangat bagus untukmu.”, jelas Harda
            “benarkah?”, gadis itupun tesnyum, “lalu siapa namamu?”, Tanya Kira,
            “aku…Harda…”,
            “namamu mirip dengan nama pangeran, apa kau seorang pangeran?” Tiba-tiba gadis itu menatap Harda,
            “emh..bukan, iya itu hanya mirip saja,” Harda pun tersenyum sambil membatin “apa dia benar-benar tidak mengetahuiku?”
            “lalu dimana rumahmu?”,
            “emh, rumahku berada di pinggiran pusat kota di sana ada sebuah gang dan di situlah tempatnya…”, jelas Harda, sambil kembali berbicara dalam hati “ma’af Nefrous, aku pinjam alamat rumahmu…”
            “owh…di sana,” Kira kembali menunduk,
            “lalu rumahmu dimana?”, Tanya Harda,
            “sudah sampai…”, Kira menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah besar, “ini rumahku…”, jelas Kira
            “bukankah ini rumah Menteri Pendidikan?” Harda bertanya di dalam hati, “oh..iya…”, Harda pun melihat-lihat rumah nya.
            Tak lama kemudian Manteri Pendidikan keluar dari rumahnya, Harda pun segera beranjak dari sana,
            “aku pergi dulu…sampai jumpa…”, Harda pun beralalu.
            “Ayah…” sapa Kira,
            “apa kau mengambil air di sungai lagi?” Tanya Ayahnya, tapi Kira hanya tersenyum.
            Kira pun masuk ke kamar, ia terus membayangkan pria yang baru ia kenal,
            “sepertinya dia orang yang mengalami kesulitan, bisa terbayang jika ia tinggal di sebuah rmah di dalam gang…”, Kira berbicara sendiri, tak lama kemudian Jemima menghampiri Kira,
            “apa yang sedang kau pikirkan?”, Tanya Jemima,
            “kau…kapan datang?”, Kira agak terkejut,
            “apa kau sedang memikirkan seseorang?” Jemima mulai menggoda Kira,
            “apa yang kau bicarakan? Oiya, bagaimana ceritamu? Apa sudah selesai? Jika sudah, sore ini kita akan membacakannya di depan anak-anak, bagaimana menurutmu?”,
            “ide yang bagus…”, Kira dan Jemima pun saling tersenyum.
            Ketika Harda hendak pulang ke istana, di jalan ia bertemu dengan Nefrous,
            “hei…”, teriak Harda,
            “kau…”, Nefrous agak terdiam,
            “kemana saja kau akhir-akhir ini? Apa kau sedang sibuk?”, Tanya Harda yang mulai menghampiri Nefrous,
            “iya…aku sibuk…”, jelas Nefrous dengan singkat
            “sibuk apa kau? Apa aku bisa membantumu?”,
            “emh, tidak…aku bisa melakukannya sendiri, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa nanti…”, Nefrous pun pergi dengan tergesa-gesa.
            “aneh sekali…”, Harda merasa heran sambil melihat punggung Nefrous.
            Harda pun tiba di istana, ia langsung berhadapan dengan ayahnya,
            “apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu nak?”, Tanya Raja
            “aku yakin…dan aku yakin aku mampu bersaing dengan orang-orang terbaik yang ada di seluruh negeri ini…”, jelas Harda,
            “baiklah kalau begitu ayah percayakan semuanya padamu, tapi apa ini salah satu caramu untuk melatih diri agar kau bisa membaca kemampuanmu?”, Tanya Raja lagi.
            “benar…aku tidak ingin mereka menilaiku hanya karena aku keturunan seorang Raja, tapi aku ingin mereka menilai kemampuanku sebagai calon Raja,” Harda pun tersenyum dan berlalu.
            Sepulang dari komunitas pembaca, Kira dan Jemima kembali ke rumah. Di tengah perjalanan, Kira melihat sebuah gang dan ia pun langsung teringat dengan pria itu.
            Satu minggu setelah penentuan calon Raja, kini par kandidat dipertemukan satu sama lain.
            “Nefrous…”, Harda merasa bahagia karena Nefrous mau mengikuti nya.
            “Harda…”, Nefrous malah merasa bersalah,
            “baiklah, hal pertama yang akan kalian lakukan adalah tata krama kerajaan, social, pertahanan, dan mencari seorang pendamping…”, jelas sang Raja,
            Semua kandidat yang berjumlah 10 oran termasuk menteri Pertahanan dan Ekonomi bersiap-siap.
            “bagaimana jika kau tidak terpilih?”, bisik menteri kesehatan terhadap Menteri Ekonomi,
            “aku akan mengundurkan diri,” jelas Menteri Ekonomi.
            Tahap awal pun dilaksanakan, dari semua pihak nila mereka dalam hal tata krama memang sangat bagus, berlanjut ke tahap ke dua, yaitu social. Tugas utama dalam bidang ini adalah mereka haru menyamar menjadi seseorang yang sangat kumel, ia harus berkeliling di sebuah desa dan harus mengetahui berapa keluarga yang benar-benar berada di garis kemiskinan.
            Di hari ketiga, semua calon raja di uji untuk berkeliling. Dengan penuh persiapan, Harda pergi ke suatu Desa yang bernama Desa Binari.
            “tuan…kemana saja kau selama ini?”, Tanya seorang anak kecil kepada Harda,
            “ma’af…aku memiliki banyak pekerjaan akhir-akhir ini,” jelas Harda.
            Anak laki-laki itu pun menarik tangan Harda dan kini mereka berada di sebuah rumah yang sangat kecil. Di sana terdapat seorang nenek yang sedang terbaring di tempat tidurnya.
            “Nyonya Sema sudah 3 minggu terbaring di tempat tidur,” mata anak laki-laki itu mulai berkaca-kaca.
            “apa dia sakit? Jika dia sakit, apa kalian sudah memeriksakannya kepada seorang tabib?” Tanya Harda dengan penuh perhatian,
            “tidak…”, anak laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
            “kenapa? Apa karena masalah biaya? Kalau begitu aku yang akan menanggung seluruh biayanya,” jelas Harda,
            “tapi tuan…kau dapat uang darimana? Bukankah kau hanya seorang pengemis?”, Tanya anak laki-laki itu dengan penuh rasa putus asa.
            Malam semakin larut, Jemima kembali ke rumah. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan seorang pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ketika ia sampai ia melihat ibunya sudah mulai bisa terduduk.
            “ibu…”, Jemima menghampiri ibunya yang sedang duduk di kursi.
            “hemh…kau sudah pulang nak…”, ibunya pun melemparkan senyuman pada Jemima.
            “apa ibu sudah mulai membaik? Bukankah tadi pagi ibu…?”, Jemima sedikit bingung,
            “sore tadi ibu pergi ke tabib, tabib bilang ada beberapa otot ibu yang memang terganggu dan darah ibu tersumbat, setelah itu ibu diobati dengan cara bekam dan akupuntur, dan akhirnya sekarang ibu bisa duduk kembali,” jelas ibu,
            “tapi biaya pengobatan nya kan sangat mahal?”, Jemima semakin heran,
            “ada seseorang yang sangat dermawan, dan perlu kau ketahui, orang yang membantu pengobatan ibu adalah seorang pengemis,” ibu agak tersenyum geli,
            “benarkah…bagaimana bisa? Apa ibu masih mengingat wajahnya?”, Tanya Jemima,
            “iya…ibu sangat mengingat wajahnya, karena dia sering datang kemari…kau pasti tidak tahu karena kau sering pergi mengunjungi temanmu,” ibu mulai memalingkan wajahnya,
            “untuk itu…ma’afkan aku…apa ibu tahu rumahnya?”,
            “ibu tidak tahu rumahnya…tapi dia bilang besok dia akan kembali ke sini, apa kau sudah makan?”,
            “sudah…”
            “apa makanan di rumah temanmu itu lebih enak dari masakan ibu?”,
            Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka, hingga malam pun semakin larut.
            Keesokan harinya, seperti biasa Kira pergi ke sungai. Ia berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi, tapi sepertinya itu tak terjadi. Kira pun kembali dengan sedikit rasa kecewa. Ketika perjalanan pulang ia teringat dengan rumah pria itu. Tak lama kemudian Jemima menghamprinya.
            “hei…apa kau bberua saja dari Sungai?”, Tanya Jemima yang langsung jalan bersama,
            “iya…”, jelas Kira singkat,
            “kenapa kau selalu mengambil air ke sungai? Bukankah di rumahmu tidak kekurangan air?”, Jemima penasaran,
            Kira pun mengajak Jemima ke suatu tempat, disana terdapat banyak tanaman, lalu Kira memperlihatkan sebuah pot tanaman yang lumayan agak besar,
            “wuah…tanaman apa ini? Kenapa terlihat seperti berlian?”, Jemima sangat merasa terpukau melihat sebuah tanaman yang baru pertama kali ia lihat, dan tanaman itu memiliki buah yang menyerupai berlian,
            “ini adalah tanaman kehidupan, setiap buah yang dihasilkan mampu menyembuhkan orang sakit, dan perlu kau ketahui juga…buah yang mirip seperti berlian ini bisa di jual, dan ini bisa menghasilkan uang…”, jelas Kira sambil tersenyum,
            “darimana kau mendapatkan tanaman seperti ini? Ini benar-benar menakjubkan,” Jemima masih ters memperhatikan tanaman itu,
            “aku mendapatkannya dar seorang wanita paruh baya ketika aku sedang pergi ke pusat kota, dia kehabisan bekal untuk pulang, lalu aku memberinya beberapa uang, memang tidak banyak tapi wanita itu memberiku sebungkus biji dan ia berpesan bahwa tanaman ini hanya akan tumbuh jika di siram oleh air yang murni, awalnya aku sangat bingung…seperti apa air murni itu, lalu aku langsung teringat dengan air sungai yang berada di perbatasan Negeri Sudra dan Negeri Zara, setelah ku coba dan akhirnya tumbuhan ini pun bisa tumbuh seperti ini…”, Kira terus tersenyum, “oiya…bagaimana ibumu? Apa dia masih sakit?aku benar-benar minta ma’af karena aku belum sempat menjenguknya,”, Kira merasa menyesal,
            “dia sudah membaik, itu karena ada yang membawa ibuku ke tabib…ibu ku bilang dia adalah seorang pengemis yang sering mengunjungi desa tempat aku tinggal, dia bilang hari ini dia akan kembali ke desa, jadi aku ingin menemuinya untuk berterima kasih karena telah membantu ibuku,” jelas Jemima,
            “kalau begitu aku ikut denganmu…oiya apa kau sudah tahu?”, Kira agak teringat sesuatu,
            “tentang apa?”,
            “istana sedang mengadkan lomba menulis, bagaimana kalau kita ikut?”, Kira dengan bersemangatnya mengajak Jemima,
            “emh…tapi aku masih belum berpengalaman,” Jemima agak putus asa,
            “hei…bukankah ini akan menjadi pengalamanmu?”,
            “benar juga…ah baiklah aku akan mengikutinya,” Jemima pun tersenyum pada Kira.
***
Ketika Nefrous sedang berkeliling desa, ia bertemu dengan Tuan Darko. Tuan Darko adalah penasehat Raja. merekapun kini duduk bersama di sebuah ruangan.
“ada apa kau mengajakku ke sini?” Tanya Nefrous dingin,
“hahahaha…kenapa dengan nada bicaramu?”, Tuan Darko agak menyindir, “apa kau sudah mengerjakan tugasmu?”, Tanya Tuan Darko sambil meminum seteguk air putih,
“seperti yang sedang kau lihat sekarang, aku sedang melakukan tugas”, jelas Nefrous,
“apa kau benar-benar menginginkan posisi itu?”, Tanya Tuan Darko, Nefrous semakin tak mengerti, “kau tidak perlu melakukan hal bodoh seperti ini…”, Tuan Darko semakin aneh,
“kenapa kau bicara seperti itu?”, Nefrous menatap Tuan Darko semakin tajam.
“bagaimana pun yang akan menjadi Raja adalah Pangeran Harda, jadi jangan merepotkan dirimu sendiri,” Tuan Darko pun menatap tajam Nefrous, “jika kau menginginkannya, aku akan memberikanmu tahta itu…”, wajah Tuan Darko mulai mendekati wajah Nefrous, “aku akan membuat sebuah kerajaan, kau yang menjadi Raja, sedangkan aku yang mengendalikan semuanya…setelah itu kita rebut Kerajaan Sudra, bagaimana?”, Tuan Darko pun kembali ke posisi awal.
“tidak…aku akan mendapatkan tahta itu, tanpa perlu bantuanmu aku bisa mengalahkan semuanya, termasuk Pangeran Harda,” jawab Nefrous,
“hahahahaha…persaingan diantara dua orang bersahabat, baiklah aku akan terus menunggumu…”, Tuan Darko pun beranjak dan meninggalkan Nefrous yang sedang duduk dengan penuh rasa bimbang,
            Nefrous pun kembali ke rumahnya, di dalam kegelapan ia memikirkan sesuatu yang memang harus ia pilih dan jalani.
***
            Jemima dan Kira pun sedang dalam perjalanan menuju desa Binari, ketika tiba di sana Kira dan Jemima merasa heran karena banyak orang yang merasa bahagia, suara tawaan bahagia terdengar dimana-mana.
            “hei..apa yang terjadi?”, Jemima menarik lengan seorang anak laki-laki,
            “dia memberi kami pakaian dan makanan…”, jelas Anak laki-laki itu dan ia pun berlalu,
            “memang nya pihak istana sedang mengadakan pembagian?”, Kira masih bingung,
            “apa jangan-jangan semua ini dari pengemis itu?”, Jemima teringat pengemis itu, “tapi bagaiamana mungkin dia memberikan barang dan makanan sebanyak ini?” Jemima pun berlari.
            “hei…tunggu aku…”, Kira pun ikut berlari,
            Kini tiba di depan rumah Jemima, terlihat ibunya yang sudah mulai bisa berdiri sedang berada di depan rumah sambil menengok ke arah kanan sambil tersenyum,
            “ibu…apa yang terjadi?”, Jemima semaki penasaran,
            “Pria itu memberikan semua ini pada kami…”, jelas Ibunya,
            “apa dia pengemis itu?”, Tanya Jemima, dan Jemima pun bergegas ketika ibunya menganggukan pertanyaan Jemima,
            “Nyonya…”, Kira menyapa Ibu Jemima,
            “tunggu…apa kau ini Kira?”, Ibu Jemima sedikit menerawang,
            “benar nyonya…”, Kira pun tersenyum,
            “wuah…benarkah…sekarang kau sudah besar ya,..ayo kita masuk…”, Ibu Jemima pun mengajak Kira masuk,
            Sementara itu Jemima terus berlari namun ia tak menemukan pengemis itu, di tengah hutan Jemima pun terdiam untuk sejenak dan mulai putus asa,
            “baiklah…Tuaaaannn…siapapun dirimu…kau telah membantu ibuku, dan desa kami…aku mengucapkan banyak terima kasih…terima kasiiihhh Tuaaaannn…” Teriak Jemima dengan nada yang terdengar sangat lelah, Jemima pun kembali ke desa. Di balik sebuah pohon Harda mendengar semuanya, dan ia pun tersenyum.
            Hari pun semakin gelap, setelah menjenguk Ibu Jemima akhirnya Kira pun berpamitan, kini Kira kembali ke rumahnya. Ketika ia melewati pusat kota, lagi-lagi ia melihat sebuah gang dan lagi-lagi ia teringat dengan pria itu. Dengan sedikit keberanian Kira memasuki gang itu, dan di sana ada sebuah rumah kecil dan gelap. Kira pun mencoba untuk mengetuk pintu rumah itu.
            “permisi…”, Kira terus mencoba untuk mengetuk pintunya, tak lama kemudia pintu pun di buka,
            “siapa?”, Nefrous membukakan pintu dan ia melihat seorang gadis cantik yang berada di depan pintu rumahnya,
            “emh…ma’af…apa benar ini rumah dari…”, pertanyaan Kira terhenti ketika ia mengingat bahwa ia tidak tahu nama pria itu,
            “siapa yang kau maksud?”, Nefrous penasaran
            “emh…ma’af, sepertinya aku salah…ma’afkan aku sudah mengganggumu, permisi…”, Kira pun berpamitan dan membalikan badannya,
            Nefrous terus memperhatikan gadis itu, ingin sekali berbincang dan menatapnya lebih lama, mungkin inilah yang di sebut dengan cinta pandangan pertama menurut Nefrous.
            Keesokan harinya seluruh kandidat berkumpul di istana, dan hasil dari misi akan di umumkan,
            “baiklah, menurut hasil dari apa yang telah kalian kerjakan kemarin, kalian akan melanjutkan ke tahap selanjutnya. Untuk yang pertama Tuan Giju, karena kepekaan social anda, anda akan berlanjut ke misi selanjutnya, selanjutnya…pangeran Harda anda bisa melanjutkan misi anda dan yang terakhir…Tuan Nefrous,” jelas Tuan Darko sambil menatap Nefrous,
            Setelah pengumuman selesai, Nefrous pun hendak kembali ke rumahnya. Tiba-tiba Harda menarik lengan Nefrous,
            “apa kau benar-benar tak memiliki waktu untukku?”, Tanya Harda yang terlihat sangat kecewa,
            “Ma’afkan aku…seharian kemarin aku melakukan banyak hal, bagaimana kalau nanti kita pergi ke sungai?”, ajak Nefrous,
            “benar…baiklah, besok lusa bagaimana?”,
            “emh…baiklah…”, Nefrous dan Harda pun saling tersenyum.
            Di ruangan khusus milik Kira, Kira sedang duduk sambil memperhatikan tanamannya. Tak lama kemudian, mutiara nya terjatuh Kira pun mengambilnya dan memperhatikannya sambil tersenyum,
            “kenapa aku tidak tahu namamu? Itu sangat memalukan ketika kita mengetuk pintu rumah orang dan ketika ditanya siapa yang sedang dituju, aku malah tidak tahu namanya…aku benar-benar bodoh,” Kira merasa malu pada dirinya sendiri.
            Seperti yang sudah dijanjikan, Harda dan Nefrous pun bertemu di sebuah sungai dengan sinar matahari pagi yang sangat cerah dan menghangatkan. Terlihat Harda yang sedang terduduk di tepi sungai sambil melemparkan batu-batu kecil ke dalamnya.
            “apa kau sudah lama berada di sini?”, Harda pun tiba dari arah kiri,
            “ya…kenapa kau begitu lama?”, Tanya Harda yang terlihat sangat bosan,
            “ma’afkan aku…aku membetulkan dulu atap rumahku jadi aku terlambat…”, Nefrous merasa menyesal,
            “nanti, jika kau menjadi seorang raja, kau harus hidup dengan nyaman”, Harda agak merasa kasihan pada Nefrous,
            “hei…apa hanya karena aku harus menjadi seorang Raja, aku baru bisa hidup nyaman?ccchhh…kau ini, sekarang juga aku sudah nyaman hidup seperti ini, dasar…”, Nefrous pun tertawa,
            “kau harus terus bersemangat dalam kompetisi kali ini…”,
            “kenapa seolah-olah kau tidak mau tahta itu?”, Nefrous merasa bingung,
            “hei…siapa yang tak mau dengan tahta itu? Aku sedang mencoba untuk menyemanatimu…”, Jelas Harda,
            “hemh…bukankah ini lucu? Dua orang sahabat mengikuti kompetisi yang tidak biasa, suatu saat, salah satu di antara kita akan ada di atas dan di bawah..”
            “meskipun begitu, kita tetap sahabat, benarkan?” Tanya Harda,
            “benar…bagaimana jika aku yang menjadi Raja? apa kau akan mematuhiku? Apa kau akan bersikap sama seperti ini padaku?”, Tanya Nefrous dengan nada bercanda,
            “emh…ya..seperti ini, dan tak akan berubah sedikit pun, bahkan aku akan terus menempel padamu, agar aku di berikan jabatan tinggi di istana…hahahahahaha…”, Harda pun tertawa geli,
            “hahaha, lalu bagaimana jika kau yang menjadi Raja?”, Nefrous kembali bertanya,
            “aku…emh…aku akan tetap bersikap seperti ini padamu, dan perlu kita ingat mulai sekarang adalah, siapapun yang menjadi Raja, kita haru menerima semuanya dan mengikuti semua perintah dari sang Raja kelak,” jelas Harda, dan Nefrous pun mengangguk,
            “oiya…kemarin ada seorang gadis datang ke rumahku, dan dia hanya mengetuk pintu, setelah ku Tanya siapa yang sedang ia cari, ia malah meminta ma’af dan dia malah pergi…”, jelas Nefrous,
            “emh…ma’af sebenarnya aku meminjam alamat rumahmu, di hari sebelumnya, aku melihat gadis itu di tempat ini, lalu kami pulang bersama, dan kami saling memberitahu alamat rumah masing-masing,” jelas Harda
            “bukankah rumahmu di istana?”, Tanya Nefrous,
            “lucu sekali…dia tidak mengetahui kalau aku sebenarnya seorang pangeran, dan akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan alamatmu,”
            Misi selanjutnya di adakan di lapangan istana, ketiga kandidat telah bersiap-siap. Yang pertama bertarung adalah Tuan Giju melawan Harda, pertarungan sengit pun terjadi. Di detik pertama Harda sering kalah dan hampir terkena tebasan pedang dari tuan Giju, namun di detik terakhir Harda mampu mengalahkan Tuan Giju. Babak selanjutnya, pertarungan dua sahabat Harda dan Nefrous,
            “semangat…”, Harda memberikan semangat pada Nefrous, Nefrous pun tersenyum.
            Mereka pun bersiap, tatapan mereka saling beradu. Sekilas tatapan mereka seperti tatapan antara musuh dengan musuh. Harda mengeluarkan pedangnya, begitupula dengan Neferous. Kedua pedang mereka kini saling berbenturan, suara keduan pedang itu sangat kuat ketika mereka beradu fisik satu sama lain. Kekuatan mereka imbang di awal.
            Tuan Darko memperhatikan gerak-gerik Nefrous, ketika Nefrous hendak melihat ke sekitar, ia mendapati Tuan Darko yang sedang memperhatikannya dengan begitu sangat jeli dan melemparkan senyuman pada Nefrous, Sedikit lengah, Harda hampir menebas leher Nefrous, Nefrous pun terseret ke belakang,
            “ada apa denganmu?”, Harda mulai meningkatkan keterampilannya,
            “baiklah…”, Nefrous mulai menyerang Harda.
            Pertarungan semakin sengit, atmosfer di sekitar lapang sedikit memanas. Kini kedua sahabat ini sedikit melupakan persahabatan mereka, Harda semakin menggila. Ia menyerang Harda terus menerus hingga akhirnya Harda pun tersudut dan ujung pedang milik Nefrous berada tepat di depan wajah Harda, Harda sempat terdiam, karena ia meraskan hal yang tidak seperti biasanya. Tak mau kalah, Hard pun mengelak. Dan waktu pun sudah habis, mereka berdua berakhir dengan nilai Seri.
            Setelah selesai, mereka istirahat di dalam istana. Harda duduk di samping Nefrous. Nefrous sedang meminum seteguk air putih di dalam sebuah botol,
            “kemampuan berpedangmu semakin meningkat…”, Harda membuka pembicaraa, meski terasa agak sedikit canggung,
            “benarkah…”, Nerous meletkkan botolnya di meja, dan melihat kea rah Harda,
            “tatapan matamu juga…jika aku benar-benar musuhmu, ku kira mentalku sudah kalah oleh tatapan matamu,” jelas Harda,
            Nefrous pun mulai merasa dirinya lebih baik dari Harda. Keesokan harinya tiba pengumuman siapa yang akan menjadi seseorang yang akan menjadi penerus tahta kerajaan.
            “jika kau tidak menjadi seorang Raja, maka disinilah akhir dari imperium besar yang sudah di bangun oleh para leluhur kita,” jelas Raja yang duduk di atas podium, dengan penuh rasa khawatir, Harda hanya tersenyum ringan.
            Sebuah persembahan tarian dari para gadis sudra pun terlihat indah ketika membuka sebuah acara, berbagai atraksi diperlihatkan oleh pemuda Negeri Sudra.
            “baiklah…atas nama segenap keluarga kerajaan, kami akan mengumumkan siapa yang akan menjadi sang penerus,” jelas Tuan Galta, semua pun bersorak.
            Harda dan Nefrous berada di tempat yang sama, mereka duduk berdampingan.
            “baiklah, di sini hanya ada dua calon Raja, dan salah satu di antara mereka akan menjadi seorang penerus tahta Kerajaan Negeri Sudra, setelah menjalani beberapa misi, akhirnya kita bisa memutuskan siapa orangnya, dan orang itu adalah…”, Tuan Galta membuka gulungan Kertas, Nefrous terlihat sangat percaya diri, “dan…hemh…yang akan menjadi sang penerus adalah…wuah…ternyata imperium besar akan diteruskan oleh seseorang yang berlatar belakang yang sama,” jelas Tuan Galta,
            Mendengar hal itu, Nefrous mulai sedikit kecewa, ia merasa dipermainkan. Ia berpikir kenapa harus ada pemilihan Raja secara umum, jika akhirnya keturunan kerajaan lah yang akan menjadi penerus Tahta kerajaan, Wajah Nefrous pun memerah ketika Tuna Galta menyebut nama Harda,
            “dan…yang sudah kita ketahui, yang akan menjadi penerus adalah… Pangeran Harda…”, teriak Tuan Galta, semua masyarakat yang hadir di sana bersorak bahagia, Harda pun terlihat sangat bahagia,
            “hahahaha…anakku…kau memang sangat bisa diandalkan…”, Raja pun tertawa bahagia,
            Ketika hendak memeluk Nefrous, Hard di seret oleh Tuan Galta agar Harda bisa memberikan kata-kata sambutan dan terima kasih. Nefrous semakin kesal dan marah. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan turun dari podium. Di bawah podium, Tuan Daro sudah menunggu Nefrous.
            “sudah kubilang…kau tidak harus mengikuti pemilihan yang akhirnya sia-sia seperti ini…”, Tuan Darko memanas-manasi Nefrous, namun Nefrous tak menghiraukan Tun Darko, Nerous pun berlalu,
            Di saat itu pula, Kira dan Jemima sedang menonton sang Raja baru baru mengetahui bahwa pria yang baru ia kenal adalah sang pangeran. Kira pun agak tercengang,
            “hei…ada apa denganmu?”, Jemima mencoba untuk menyadarkan Kira yang sejak daritadi terus melamun,
            “dia…dia orang yang aku cari selama ini…”, jelas Kira sambil terus memandang Harda, Jemima merasa kebingungan, dan Jemima pun tak mengiraukan Kira.
            Satu minggu setelah penobatan, Harda tidak pernah bertemu dengan Nefrous, Harda merasa sedih, karena sahabatnya sendiri tidak memberikan selamat padanya. Sementara itu, Nefrous terus menerus didatangi oleh Tuan Darko, Tuan Darko terus menerus menambah Nefrous semakin berambisi, dengan berbagai cara akhirnya Nerous menyetujui ide Tuan Darko untuk merebut Negeri Sudra.
            Acara lomba menulis pun tiba, Kira dan Jemima pergi ke Istana. Dari jauh Kira melihat Harda dengan Jubah kebesarannya sedang bersama para menterinya berjalan menuju ruang pertemuan.
            “dia sangat berbeda…”, Gumam Kira,
            “hei…apa kau tahu siapa saja yang menjadi kandidat sebelumnya?”, Tanya Jemima,
            “emh…tidak, tapi kurasa aku pernah melihat orang yang berada di samping yang mulia Raja,” jelas Kira,
            “dia adalah sahabat yang mulia Raja, wuah…mereka adalah para pria tampan…”, Jemima pun senyum sendiri.
            Setelah selesai melakukan pendaftaran dan pengarahan, Kira dan Jemima pun kembali. Namun, di tengaah perjalanan pulang tepat di sebuah taman di istana, Kira dan Raja berpapasan. Dan mereka pun terdiam sejenak.
            “kau…”, Kira dan Raja saling menunjuk satu sama lain, dan akhirnya mereka saling melemparkan senyuman.
            “bagaimana kau bisa ada di sini?”, Tanya Harda,
            “aku sedang mencoba untuk mengikuti lomba penulisan…” jelas Kira sambil tertunduk,
            “ah iya…itu acara yang sering ada tiap tahunnya, oiya apa dia temanmu?”, Tanya Harda sambil menunjuk Jemima yang terus tersenyum,
            “iya…dia adalah sahabatku, namanya Jemima, oiya…saat itu aku bilang bahwa namamu mirip dengan pangeran, dan sebenarnya…kau adalah seorang pangeran,” Kira semakin tertunduk,
            “hemh…kau sangat aneh, sebagai penduduk yang taat, seharusnya kau mengetahui siapa Rajamu, dan anggota keluarganya…”, Harda agak menaikkan nada bicaranya,
            “apa aku akan terkena hukuman karena ini?”, Kira pun mengangkat kepalanya dan menatap Harda,
            “ahahahaha…itu tidak mungkin…hemh, maksudku iya…kau ku hukum…”, Harda mengatakannya dnengan tegas, Kira dan Jemima merasa sedikit ketakutan
            “apa itu…?”, Kira kembali tertunduk,
            “temui aku besok sore di tempat pertama kali kita bertemu…”, Harda pun berlalu. Kira masih saja terdiam dan merasa seidikit Khawatir.
            Keesokan harinya, Harda bersipa-siap untuk pergi ke sungai, namun di tengah perjalanan ia bertemu dengan Nefrous.
            “hei…kemana saja kau? Apa kau tidak mengucapkan selamat kepadaku?”, Harda bertanya dengan nada bercanda namun Nefrous malah pergi begitu saja, “tunggu…kenapa kau berbuat seperti itu padaku?”, Harda menarik lengan Nefrous,
            “kau telah mempermainkanku…jika akhirnya kau yang terpilih, kenapa kau berlagak seolah kau ingin menghapus system monarki dari negeri ini?”, teriak Nefrous dengan mata yang memerah,
            “kenapa…kenapa kau berpikiran seperti itu?”, Harda agak sedikit sedih atas penyataan Nefrous, “bukankah aku sudah menjalani misi seperti yang sudah kau lakukan?”, jelas Harda,
            “benar…kau memang benar, tapi itu hanya sebuah misi yang di adakan oleh keluargamu…aku ingin pertarungan yang sebenarnya,” Nefrous menatap Harda dengan sangat tajam.
            “baik…jika itu yang memang kau inginkan, aku akan mengikuti semua keinginanmu, dimana?”, Tanya Harda dengan penuh harap agar Nefrous bisa kembali seperti dulu.
            “di atas tebing yang berada di dekat sungai, aku akan menunggumu besok sore,” Nefrous pun berlalu,
            Harda pun melanjutkan langkahnya, dan kini ia sudah sampai di tempat tujuan, terihat Kira yang sedang duduk di bawah pohon sambil memainkan ilalang yang ia petik.
            “yang mulia…”, Kira pun beranjak
            “duduklah…”, Harda pun duduk di samping Kira, selam 10 menit Harda mendiamkan Kira, ia terus melihat sebuah tebing yang tak jauh dari tempat ia berada sekarang,
            “emh…ma’af yang mulia, apa yang akan anda jatuhkan hukuman padaku?” Kira memulai perbincangan,
            “aku sedang tidak ingin menghukum orang lain, sekarang aku sedang ingin menghukum diriku sendiri,” jelas Harda dengan tatapan yang kosong,
            “apa maksudmu?”, Kira tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Harda,
            “baiklah…hanya itu saja yang ingin ku katakana padamu, membuatmu lama menunggu adalah hukuman bagimu…”, Harda pun beranjak dan meninggalkan Kira,
            Sore hari yang sangat indah dengan lembayung senja yang menghiasi karya ala mini, tapi sayang keindahan sore ini tak disadari oleh dua orang sahabat yang akan bertemu untuk bertarung, baru saja sampai, Harda sudah di serang oleh Nefrous,
            “kau bukan kau…”, Harda agak memelankan suaranya,
            “benar…aku yang dulu sudah tidak ada, sekarang aku adalah lawanmu,” Nefrous terus menyudutkan Harda, tak mau kalah Harda menyerang balik Nefrous hingga akhirnya Nefrous mampu di sudutkan oleh Harda. Ujung pedang Harda berada tepat di depan mata Nefrous, namun Harda dengan sekuat tenaga menahannya, karena lengah, Nefrous menyerang Harda, kali ini posisi itu terbalik, ujung pedang milik Nefrous berada tepat di depan leher Harda,
            “kta pernah berada dalam posisi seperti ini, dulu kita sedang berkompetisi, dan kita masih menjaga persahabatan kita. Tapi berbeda dengan kali ini, jika kau membunuhku, kau akan menjadi seorang pemberontak…”, jelas Harda sambil menaikkan kepalanya.
            “biarkan saja aku menjadi seorang pemberontak, yang terpenting aku mendapatkan posisi itu,” jelas Nefrous,
            “kau belum mampu mengendalikan emosimu…berpikiran jernh serta dingin adalah hal utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin,” jelas Harda,
            Nefrous tak mendengarkan Harda, ia pun menebaskan pedangnya ke leher Harda. Suasana pun menjadi sangat menegangkan, Harda sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
            “jika kematian lebih baik dari apapun, aku rela…”, Harda menutup matanya, ketika Harda memjamkan matanya, ia teringat ayahnya yang sedang sakit dan terbaring di atas ranjangnya, tak hanya itu banyak hal yang terlintas dalam pikiran Harda, masalah kemiskinan Rakyat, kemakmuran, kesejahteraan, dan ketentraman negri berada di pundak Harda, ia merasa bahwa dirinya harus menangani itu semua. Akan memalukan jika ia harus mati di tangan seorang pemberontak, Harda pun membuka matanya, dan menyerang Nefrous. Karena begitu kuatnya kekuatan yang muncul dalam diri Harda, Harda berhasil menjauhkan Nefrous dari dirinya, tapi sayang Nefrous terperosok ke bawah, Harda pun merasa cemas, “bertahanlah…”, Harda mencoba untuk menjangkau  tangan Nefrous dan menariknya ke atas,
            “kau…”, Nefrous terus menatap Harda denga tajam,
            Tapi dengan sobongnya Nefrous menolak uluran tangan itu, karena tak kuat lagi, akhirnya Nefrous pun terjatuh ke dasar jurang. Dari atas tebing Harda merasa menyesal, Harda pun menjatuhkan dirinya ke tanah dan mulai meneteskan air matanya.
            “Nefrous…”, Harda pun segera bergegas untuk turun dari atas tebing, sesampainya di bawah tebing, Harda tidak menemukan Nefrous.
            5 tahun kemudian, Harda masih belum melupakan tentang hilangnya Nefrous. Kini Kira menjadi seorang permaisuri, mereka menikah 3 tahun yang lalu, dan kini mereka di karuniai dua anak kembar yang bernama Ugra dan Runako. Jemima menjadi seorang penulis hebat bersama dengan Permaisuri, ia bisa menulis apapun yang ia ingingkan.
            Langit yang tadinya sangat cerah kini berubah menjadi gelap, seiring dengan suara petir yang tiba-tiba terdengar di siang hari datanglah seseorang yang menghampiri Raja Harda yang berada di pelataran istana bersama anak dan istrinya saat itu, suara gemuruh angin pun terdengar dan mengacaukan suasana, para pengawal mencoba untuk melindungi Raja dan Permaisuri beserta kedua anak kembar mereka.
            “siapa kau…”, teriak Harda,
            “ini aku…”, Nefrous menghampiri Harda yang kini terpisah dari istri dan anaknya,
            “kau…Nefrous…”, Harda agak terdiam karena melihat ada bekas luka di wajah Nefrous. Suasana menjadi sangat mencekam ketika tiba-tiba Nefrous menyerang para epengawal dengan kekuatan magis nya. Para pengawal yang menjaga Raja pun kini telah berguguran. “sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu…?”, Harda masih mengkhawatirkan Nefrous,
            “hahahaha…hanya itu yang bisa kau katakana padaku?’, Nefrous merasa tidak puas,
            “untuk kejadian itu, aku…benar-benar minta ma’af…”, Harda sangat merasa menyesal hingga ia mulai berkaca-kaca,
            “lupakan masalah itu…kini aku sudah kembali bangkit, oleh karena itu kau harus bersiap untuk menerima seranganku,” kata Nefrous hingga akhirnya ia berlalu.
            Suasana menjadi sangat hening, Harda terdiam. Ia sangat merindukan sosok Nerous yang dulu ia kenal, Harda pun menjatuhkan dirinya ke tanah dan ia pun mulai menangis.
            Selama bertahun-tahun serangan demi serangan ditujukan ke Negeri Sudra oleh Nefrous. Kini Nefrous terkenal dengan Raja dari Kerajaan kegelapan. Rasa persahabatan antara Harda dan Nefrous kini berubah menjadi rasa kebencian dan permusuhan yang tiada akhir. Meski begitu, acara lomba penulisan masih terus berlangsung. Kini Jemima yang menjadi jurinya, ia menentukan penulisan dengan sebuah Tema “Kehancuran Kerajaan Kegelapan”.
            Lomba itu diikuti oleh 300 anak gadis berusia 13-17 tahun, semua orang berantusia untuk menulis tentang kehancuran Kerajaan Kegelapan. Tak hanya sekedar menulis, itu juga merupakan harapan bagi seluruh masyarakat  negeri Sudra. Setelah membaca semuanya, Jemima merangkum semua hal yang dapat menghancurkan kerajaan kegelapan dalam sebuah Buku. Mendengar hal itu Raja Nefrous sangat marah hingga akhirnya dia menyuruh Gusa untuk mengutuk seluruh buku yang ada di negeri Sudra, bagi siapa saja yang menulis di dalam buku, dia akan mengalami hal-hal yang tidak di inginkan. tak hanya itu, Raja Nefrous juga membunuh para penulis dari Negri Sudra termasuk Jemima. Namun Jemima berhasil melarikan diri dan mengucilkan diri dari khalayak ramai.
            Dari situlah awal buku berkekuatan Magis itu berawal. Jemima menyimpan buku besar berwarna coklat di dalam tanah yang berada di dalam hutan. Setelah Jemima mengubur buku itu, tiba-tiba Tanah dan pohon yang berada di dekatnya mengeluarkan Cahaya.
            “kenapa menjadi seperti ini?”, Jemima merasa kaget sekaligus takjub,
            Tiba-tiba seorang peri datang menghampiri Jemima, “tanah-tanah itu sedang mencoba untuk meredam kekuatan magis dari Raja Nefrous,”, jelas Peri itu,
            “apa dengan begitu efek kutukan buku tersebut akan menghilang?”, Tanya Jemima,
            “kau…kau menguburnya di bawah pohon yang mampu menembus ke dunia lain,” Peri itu agak kaget,
            “apa katamu…”, dengan segera Jemima menggali tanahnya lagi, tapi sayang buku itu kini sudah tidak ada, Jemima mulai merasa cemas, “bagaimana jika buku ini ditemukan oleh orang lain?”, Jemima merasa sangat Khawatir,
            “jika buku itu ditemukan oleh orang lain, dan jika orang itu menulis sesuatu di dalam buku itu, maka dia akan mengalami hal yang tidak diinginkan. Hal itu bisa jadi merenggut nyawanya, atau tidak dia akan masuk ke dalam negeri Sudra, dan siapapun yang masuk ke dalam negeri ini melalui perantara buku itu, dia akan menjadi seorang Ratu dan dia akan menyelesaikan permasalahan yang ada di negeri ini,” jelas Peri itu.
            “begitukah?”, Jemima mulai agak tenang, “tapi, apa kau tahu siapa kira-kira orang itu? Apa dia seorang wanita atau laki-laki?”, Jemima semakin penasaran.
            “dia adalah seorang anak gadis, berambut panjang dengan warna rambut coklat bercahaya, di lengan kirinya akan ada 3 garis goresan yang disebabkan oleh serangan hewan buas,” Peri itu menjelaskan sambil memejamkan matanya.
            Tak lama kemudian peri itu berlalu, Jemima masih terdiam memandangi pohon yang bisa menembus dengan dunia lain.
            “jika benar akan ada seorang gadis yang telah disebutkan, aku berjanji…aku akan melindunginya,” Jemima pun beranjak dari tempat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar