Queen of Sudra's Kindom
Sinopsis.
Menceritakan
tentang seorang penulis di negeri Sudra yang menulis tentang kehancuran Negeri
Kegelapan. Hal itu membuat Raja Nefrous sang Raja kegelapan merasa marah,
hingga akhirnya penulis itu di bunuh dan semua buku yang ada di Negeri Sudra di
kutuk dan siapa saja yang menulis di buku tersebut maka orang itu akan
mengalami sesuatu yang tidak diinginkan bahkan sampai merenggut jiwa seseorang.
Di
dunia nyata ada seorang gadis bernama Nara, ia adalah seorang penulios cerita
anak-anak. Ia menemukan sebuah buku besar di sebuah toko di daerah Andriyivsky
Uzwiz, Kiev, Ukraina. Nara membaca tulisan yang ada di dalam buku tersebut.
Cerita itu belum sempat selesai, oleh karena itu Nara melanjutkan ceritanya.
Ketika perjalanan pulang dari suatu tempat, Nara merasa ada kejanggalan dari
buku yang sedang ia pegang. Tak lama kemudian Nara mengalami kecelakaan di
Kreshyatykc Street, Kiev. Ketika itu pula buku itu menghilang.
18
tahun kemudian, seorang siswi bernama Nahara sedang memiliki tugas menulis.
Menulis adalah hal yang sangat ia benci, tapi bagaimanapun juga ia harus mengerjakan
tugas yang diberikan oleh gurunya. Untuk mencari sebuah Inspirasi, Nahara pergi
ke taman Shevchenco yang berada di ujung jalan Kresychatykc. Ketika ia menuju
sebuah pohon besar yang berada di ujung taman, Nahara melihat sesuatu yang
bersinar. Sesuatu yang bersinar di bawah tanah, Nahara pun menggalinya, dan ia
pun mendapatkan sebuah buku besar.
Di
negeri Sudra kini sedang mengalami kekacauan, itu karena perbuatan Raja Nefrous
yang selalu ingin merebut Negeri Sudra dari Raja Harda. Raja Harda pun meninggal,
ia memiliki dua orang anak kembar namanya Ugra dan Runako. Kedua anak kembarnya
memilki sifat yang bertolak belakang. Ugra sangat dingin dan lebih mencintai
dirinya sendiri seperti halnya Narcissus, sedangkan Runanko adalah pria yang
hangat, ia memiliki banyak wanita seperti halnya Cassanova.
Karena
mengalami berbagai macam pemberontakan, Raja Harda pun menghembuskan nafas
terakhirnya, dan kini sebuah kerajaan besar berada di pundak kedua anak
kembarnya. Ada sebagian orag yang melakukan konspirasi dengan Kerajaan
kegelapan, Akhal seorang pemuda yang gagah mengetahui semuanya. Namun
orang-orang berusaha untuk menyingkirkannya, ia pun dijerumuskan ke dalam
jurang. Seorang peri bernama Fayina membantu Akhal, dan atas permintaan Akhal,
Fayina mengubah Akhal menjadi manusia setengah singa dengan tanda rambut yang
berbeda di bagian kepala kirinnya.
Ketika
itu Nahara membawa buku itu pulang, dan ia membaca tulisan yang ada di dalam
buku itu, karena merasa tertarik Nahara pun melanjutkan kisahnya. Keesokan harinya
ketika Nahara hendak pergi ke sekolah, ia mengalami kecelakaan dan koma, namun
ruhnya berada di dalam alam bawah sadar yang bernama Negri Sudra. Nahara pun
menjalani kehidupan di Negeri Sudra, Nahara harus berjuang untuk melawan Raja
Nefrous dan mengembalikan Negeri Sudra menjadi Negeri yang aman dan damai.
***
Persahabatan
Di
sore hari yang sangat teduh, duduklah dua orang laki-laki di bawah sebuah pohon
besar yang berada di tepi sungai di tepi sungai. Mereka menyandarkan punggung
mereka ke pohon tersebut.
“hah…ini
melelahkan,” Nefrous tersenyum senang dengan penuh rasa lelah,
“benar,
tapi ini sangat menyenangkan…bagaimana jika diantara kita ada yang menjadi
seorang penguasa, dan jika itu terjadi padamu, maka apa yang akan kau
lakukan?”, Tanya Harda yang mulai stabil,
“aku?...emh…aku
akan memperluas daerah kekuasaanku, setelah itu membuat rakyat sejahtera, dan
satu lagi yang akan kulakukan…aku akan terus mempercayaimu…”, Nefrous pun
tersenyum,
“hemh…jika
aku menjadi penguasa, aku akan melakukan apapun yang bisa membuat semua orang
merasa aman dan terlindungi, aku tidak ingin hanya karena aku, banyak orang
yang harus merelakan nyawanya…seorang penguasa harus berada di depan ketika ia
sedang berperang, bukan begitu?”, Harda menatap Nefrous,
“kurasa
tidak begitu, jika penguasa berada di depan ketika perang, jika ia mati, lalu
siapa yang akan menjadi penguasanya?”, Tanya Nefrous,
“aku
memiliki keyakinan, ketika seorang penguasa berada di depan, berarti ia siap
untuk menang,” Harda pun kembali tersenyum,
“tapi,
kurasa dari sisi keturunan, kaulah yang akan menjadi penerus tahta kerajaan,”
Nefrous agak tertunduk,
“siapa
saja bisa menjadi penerus, termasuk dirimu. Aku ingin menghapuskan system
monarki seperti ini. Menurutku, siapapun itu, asalkan ia memiliki kemampuan,
loyalty dan rasa cinta terhadap Negeri dan rakyatnya, maka ia bisa menjadi
penerus tahta,” jelas Harda,
“benarkah?”,
Nefrous tersenyum bahagia.
“wuah,
hari mulai gelap, ayo kita kembali…”, Harda pun beranjak,
Kini
mereka kembali, melewati sebuah jembatan yang dibawahnya mengalir sebuah
sungai. Harda kembali ke istana yang memiliki kamar yang sangat nyaman,
sedangkan Nefrous kembali ke sebuah rumah yang berada di dalam gang. Rumah yang
sangat kecil dan gelap. Adakalanya Nefrous merasa iri kepada Harda, dalam
kegelapan Nefrous sering bermimpi bagaimana jika seandainya ia menjadi seorang
penerus tahta kerajaan.
Keesokan
harinya, kedua sahabat ini pergi ke sebuah padang rumput. Disana mereka
menunggang kuda dan beradu kecepatan.
“hhhaaaahhhh…lagi-lagi
kau yang menang,” Harda turun dari kudanya sambil melemparkan senyuman pada
Nefrous, Harda pun terbaring di rumput,
“ada
apa denganmu?”, Nefrous merasa hern karena tidak biasanya Harda bisa kalah
darinya,
“aku
hanya sedikit lelah,” jelas Harda singkat.
“terima
kasih…”, Nefrous pun melakukan hala yang sama, berbaring di rumput tepat di samping kanan Harda,
“untuk
apa?”, Harda menengok ke arah Nefrous,
“sebagai
anggota keluarga kerajaan, tidak sepantasnya kau berteman denganku, aku hanya
rakyat jelata, tapi kau mau menerimaku sebagi temanmu,” jelas Nefrous,
“ini
hanya di dunia…entah bagaimana jadinya ketika kita berada di alam yang berbeda?
Aku merasa semua sama, mereka hanya terhalang oleh sebuah nama yaitu status
social…hah…aku benci membicarakan tentang stratifikasi seseorang dengan yang
lainnya, itu sangat kekanak-kanakkan,” jelas Harda yang mulai memandang langit
yang sangat biru kala itu.
“itulah
mengapa aku merasa tidak canggung berada di dekatmu…”, Nefrous pun memandang
langit sambil tersenyum.
Setelah
itu mereka pun kembali, Harda mengajak Nefrous untuk main ke istana. Di istana
sedang mengadakan suatu pertemuan para menetrei dengan raja yang akan membahas
tentang penerus tahta kerajaan.
“Ayah…”,
Harda memasuki ruang pertemuan,
“owh…nak…ada
apa?”, Raja merasa penasaran,
“apa
yang sedang ayah bicarakan?”, Tanya Harda,
“owh…ayah
sedang membicarakan tentang penerus tahta kerajaan, dan ayah yaki kau bisa…”,
jelas Raja
“ayah…apa
seorang penerus kerajaan harus sesuai dengan garis keturunannya?”,
“tentu
saja, dengan begitu keluarga kerajaan tak akan punah,”
“bagaimana
jika suatu saat keluarga kerajaan mengalami suatu krisis kepercayaan? Apa yang
akan kita lakukan? Apa kita akan memaksakan kehendak kita tanpa memikirkan
rakyat yang ada di Negeri ini?”, Harda agak menaikkan suaranya,
“apa
yang kau katakan”, Raja mulai marah,
“aku
menginginkan suatu keadilan, yang terpenting adalah kesejahteraan negeri Sudra,
aku ingin melakukan hal lain untuk menetukan siapa sang penerus tahta,” jelas
Harda,
“kau…”,
Raja mulai naik pitam,
“aku
setuju yang mulia…”, salah seorang menteri yang bernama Gusa mengacungkan
tangannya,
“aku
juga…”, seorang menteri lainnya menyetujui cara itu, dan semakin lama semakin
banyak yang mengacungkan tangannya.
Raja
pun akhirnya menerima semua pendapat dari Harda dan pengajuan para Menteri.
“baiklah,
demi kesejahteraan negeri ini, mulai sekarang kita akan melakukan hal yang
berbeda,” Raja pun akhirnya mengalah.
Para
menetri pun kembali merundingkan siapa yang pantas untuk menjadi calon Raja di
Negeri Sudra. Harda dan Nefrous pun berjalan-jalan di taman istana.awalnya
mereka saling diam, namun Nefrous membuka pembicaraan,
“kenapa
kau melakukan hal itu?”, Nefrous agak canggung,
“sudah
kubilang, aku ingin menghapuskan system monarki, siapa yang terbaik, dia akan
menjadi Raja, dan aku ingin mewujudkan hal itu,” jelas Harda dengan santai.
“lalu
bagaimana jika kau tidak terpilih menjadi Raja?”, Nefrous mengatakannya dengan
sangat hati-hati.
“hemh…berarti
aku bukan yang terbaik, setelah itu aku akan pergi ke suatu tempat, negri yang
sangat indah dan damai,” Harda pun tersenyum, namun Nefrous masih tak mengerti
dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Harda.
Nefrous
pun kini kembali ke rumahnya, kembali ke dalam kegelapan ia mulai bermimpi.
Menjadi seorang Raja adalah mimpinya saat ini. Sejak pernyataan dari raja bahwa
siapa saja berhak menjadi Raja, Nefrous sering rajin berlatih pertahanan,
belajar strategi perang, dan belajar berbagai macam tentang hal yang menyangkut
kerajaan.
Sejak
saat itu pula Nefrous jarang menemui Harda. Masih di tempat yang sama di bawah
sebuah pohon, Harda duduk sendiri. Harda meilhat sungai yang begitu tenang.
Harda pun memejamkan matanya sejenak, setelah itu ia kembali membuka matanya
dan ia meilhat sesosok gadis di tepi sungai yang bersebrangan dengannya.
Gadis
itu sedang membawa kendi yang belum terisi air, dari jauh Harda memperhatikan
gadis itu. Karena ia terlalu penuh mengisi kendinya, ia hampir kehilangan
keseimbangan dan hampir masuk ke dalam sungai.
“hati-hati…”,
teriak Harda, gadis itu pun berhasil meyeimbangkan tubuhnya,
“siapa
di sana?”, teriak gadis itu, Harda melambaikan tangannya pada gadis itu
“apa
kau berbicara padaku?”, teriak gadis itu.
Waktu
pun berlalu, kini Harda dan gadis itu berjalan bersama. Harda membawakan
kendinya.
“emh,
kau tidak perlu repot-repot,” Gadis itu berkata sambil tertunduk
“hemh…oiya
siapa namamu?”, Harda mulai tersenyum,
“namaku
Kira…”, gadis itu masih tertunduk,
“Kira
yang berarti sinar matahari…nama yang sangat bagus untukmu.”, jelas Harda
“benarkah?”,
gadis itupun tesnyum, “lalu siapa namamu?”, Tanya Kira,
“aku…Harda…”,
“namamu
mirip dengan nama pangeran, apa kau seorang pangeran?” Tiba-tiba gadis itu
menatap Harda,
“emh..bukan,
iya itu hanya mirip saja,” Harda pun tersenyum sambil membatin “apa dia benar-benar tidak mengetahuiku?”
“lalu
dimana rumahmu?”,
“emh,
rumahku berada di pinggiran pusat kota di sana ada sebuah gang dan di situlah
tempatnya…”, jelas Harda, sambil kembali berbicara dalam hati “ma’af Nefrous, aku pinjam alamat rumahmu…”
“owh…di
sana,” Kira kembali menunduk,
“lalu
rumahmu dimana?”, Tanya Harda,
“sudah
sampai…”, Kira menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah besar, “ini
rumahku…”, jelas Kira
“bukankah ini rumah Menteri Pendidikan?”
Harda bertanya di dalam hati, “oh..iya…”, Harda pun melihat-lihat rumah nya.
Tak
lama kemudian Manteri Pendidikan keluar dari rumahnya, Harda pun segera
beranjak dari sana,
“aku
pergi dulu…sampai jumpa…”, Harda pun beralalu.
“Ayah…”
sapa Kira,
“apa
kau mengambil air di sungai lagi?” Tanya Ayahnya, tapi Kira hanya tersenyum.
Kira
pun masuk ke kamar, ia terus membayangkan pria yang baru ia kenal,
“sepertinya
dia orang yang mengalami kesulitan, bisa terbayang jika ia tinggal di sebuah
rmah di dalam gang…”, Kira berbicara sendiri, tak lama kemudian Jemima
menghampiri Kira,
“apa
yang sedang kau pikirkan?”, Tanya Jemima,
“kau…kapan
datang?”, Kira agak terkejut,
“apa
kau sedang memikirkan seseorang?” Jemima mulai menggoda Kira,
“apa
yang kau bicarakan? Oiya, bagaimana ceritamu? Apa sudah selesai? Jika sudah,
sore ini kita akan membacakannya di depan anak-anak, bagaimana menurutmu?”,
“ide
yang bagus…”, Kira dan Jemima pun saling tersenyum.
Ketika
Harda hendak pulang ke istana, di jalan ia bertemu dengan Nefrous,
“hei…”,
teriak Harda,
“kau…”,
Nefrous agak terdiam,
“kemana
saja kau akhir-akhir ini? Apa kau sedang sibuk?”, Tanya Harda yang mulai
menghampiri Nefrous,
“iya…aku
sibuk…”, jelas Nefrous dengan singkat
“sibuk
apa kau? Apa aku bisa membantumu?”,
“emh,
tidak…aku bisa melakukannya sendiri, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu,
sampai jumpa nanti…”, Nefrous pun pergi dengan tergesa-gesa.
“aneh
sekali…”, Harda merasa heran sambil melihat punggung Nefrous.
Harda
pun tiba di istana, ia langsung berhadapan dengan ayahnya,
“apa
kau sudah yakin dengan keputusanmu itu nak?”, Tanya Raja
“aku
yakin…dan aku yakin aku mampu bersaing dengan orang-orang terbaik yang ada di
seluruh negeri ini…”, jelas Harda,
“baiklah
kalau begitu ayah percayakan semuanya padamu, tapi apa ini salah satu caramu
untuk melatih diri agar kau bisa membaca kemampuanmu?”, Tanya Raja lagi.
“benar…aku
tidak ingin mereka menilaiku hanya karena aku keturunan seorang Raja, tapi aku
ingin mereka menilai kemampuanku sebagai calon Raja,” Harda pun tersenyum dan
berlalu.
Sepulang
dari komunitas pembaca, Kira dan Jemima kembali ke rumah. Di tengah perjalanan,
Kira melihat sebuah gang dan ia pun langsung teringat dengan pria itu.
Satu
minggu setelah penentuan calon Raja, kini par kandidat dipertemukan satu sama
lain.
“Nefrous…”,
Harda merasa bahagia karena Nefrous mau mengikuti nya.
“Harda…”,
Nefrous malah merasa bersalah,
“baiklah,
hal pertama yang akan kalian lakukan adalah tata krama kerajaan, social,
pertahanan, dan mencari seorang pendamping…”, jelas sang Raja,
Semua
kandidat yang berjumlah 10 oran termasuk menteri Pertahanan dan Ekonomi
bersiap-siap.
“bagaimana
jika kau tidak terpilih?”, bisik menteri kesehatan terhadap Menteri Ekonomi,
“aku
akan mengundurkan diri,” jelas Menteri Ekonomi.
Tahap
awal pun dilaksanakan, dari semua pihak nila mereka dalam hal tata krama memang
sangat bagus, berlanjut ke tahap ke dua, yaitu social. Tugas utama dalam bidang
ini adalah mereka haru menyamar menjadi seseorang yang sangat kumel, ia harus
berkeliling di sebuah desa dan harus mengetahui berapa keluarga yang
benar-benar berada di garis kemiskinan.
Di
hari ketiga, semua calon raja di uji untuk berkeliling. Dengan penuh persiapan,
Harda pergi ke suatu Desa yang bernama Desa Binari.
“tuan…kemana
saja kau selama ini?”, Tanya seorang anak kecil kepada Harda,
“ma’af…aku
memiliki banyak pekerjaan akhir-akhir ini,” jelas Harda.
Anak
laki-laki itu pun menarik tangan Harda dan kini mereka berada di sebuah rumah
yang sangat kecil. Di sana terdapat seorang nenek yang sedang terbaring di
tempat tidurnya.
“Nyonya
Sema sudah 3 minggu terbaring di tempat tidur,” mata anak laki-laki itu mulai
berkaca-kaca.
“apa
dia sakit? Jika dia sakit, apa kalian sudah memeriksakannya kepada seorang
tabib?” Tanya Harda dengan penuh perhatian,
“tidak…”,
anak laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“kenapa?
Apa karena masalah biaya? Kalau begitu aku yang akan menanggung seluruh
biayanya,” jelas Harda,
“tapi
tuan…kau dapat uang darimana? Bukankah kau hanya seorang pengemis?”, Tanya anak
laki-laki itu dengan penuh rasa putus asa.
Malam
semakin larut, Jemima kembali ke rumah. Di tengah perjalanan ia berpapasan
dengan seorang pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ketika ia sampai ia
melihat ibunya sudah mulai bisa terduduk.
“ibu…”,
Jemima menghampiri ibunya yang sedang duduk di kursi.
“hemh…kau
sudah pulang nak…”, ibunya pun melemparkan senyuman pada Jemima.
“apa
ibu sudah mulai membaik? Bukankah tadi pagi ibu…?”, Jemima sedikit bingung,
“sore
tadi ibu pergi ke tabib, tabib bilang ada beberapa otot ibu yang memang
terganggu dan darah ibu tersumbat, setelah itu ibu diobati dengan cara bekam
dan akupuntur, dan akhirnya sekarang ibu bisa duduk kembali,” jelas ibu,
“tapi
biaya pengobatan nya kan sangat mahal?”, Jemima semakin heran,
“ada
seseorang yang sangat dermawan, dan perlu kau ketahui, orang yang membantu
pengobatan ibu adalah seorang pengemis,” ibu agak tersenyum geli,
“benarkah…bagaimana
bisa? Apa ibu masih mengingat wajahnya?”, Tanya Jemima,
“iya…ibu
sangat mengingat wajahnya, karena dia sering datang kemari…kau pasti tidak tahu
karena kau sering pergi mengunjungi temanmu,” ibu mulai memalingkan wajahnya,
“untuk
itu…ma’afkan aku…apa ibu tahu rumahnya?”,
“ibu
tidak tahu rumahnya…tapi dia bilang besok dia akan kembali ke sini, apa kau
sudah makan?”,
“sudah…”
“apa
makanan di rumah temanmu itu lebih enak dari masakan ibu?”,
Mereka
pun melanjutkan perbincangan mereka, hingga malam pun semakin larut.
Keesokan
harinya, seperti biasa Kira pergi ke sungai. Ia berharap bisa bertemu dengan
pria itu lagi, tapi sepertinya itu tak terjadi. Kira pun kembali dengan sedikit
rasa kecewa. Ketika perjalanan pulang ia teringat dengan rumah pria itu. Tak
lama kemudian Jemima menghamprinya.
“hei…apa
kau bberua saja dari Sungai?”, Tanya Jemima yang langsung jalan bersama,
“iya…”,
jelas Kira singkat,
“kenapa
kau selalu mengambil air ke sungai? Bukankah di rumahmu tidak kekurangan air?”,
Jemima penasaran,
Kira
pun mengajak Jemima ke suatu tempat, disana terdapat banyak tanaman, lalu Kira
memperlihatkan sebuah pot tanaman yang lumayan agak besar,
“wuah…tanaman
apa ini? Kenapa terlihat seperti berlian?”, Jemima sangat merasa terpukau
melihat sebuah tanaman yang baru pertama kali ia lihat, dan tanaman itu
memiliki buah yang menyerupai berlian,
“ini
adalah tanaman kehidupan, setiap buah yang dihasilkan mampu menyembuhkan orang
sakit, dan perlu kau ketahui juga…buah yang mirip seperti berlian ini bisa di
jual, dan ini bisa menghasilkan uang…”, jelas Kira sambil tersenyum,
“darimana
kau mendapatkan tanaman seperti ini? Ini benar-benar menakjubkan,” Jemima masih
ters memperhatikan tanaman itu,
“aku
mendapatkannya dar seorang wanita paruh baya ketika aku sedang pergi ke pusat
kota, dia kehabisan bekal untuk pulang, lalu aku memberinya beberapa uang,
memang tidak banyak tapi wanita itu memberiku sebungkus biji dan ia berpesan
bahwa tanaman ini hanya akan tumbuh jika di siram oleh air yang murni, awalnya
aku sangat bingung…seperti apa air murni itu, lalu aku langsung teringat dengan
air sungai yang berada di perbatasan Negeri Sudra dan Negeri Zara, setelah ku
coba dan akhirnya tumbuhan ini pun bisa tumbuh seperti ini…”, Kira terus tersenyum,
“oiya…bagaimana ibumu? Apa dia masih sakit?aku benar-benar minta ma’af karena
aku belum sempat menjenguknya,”, Kira merasa menyesal,
“dia
sudah membaik, itu karena ada yang membawa ibuku ke tabib…ibu ku bilang dia
adalah seorang pengemis yang sering mengunjungi desa tempat aku tinggal, dia
bilang hari ini dia akan kembali ke desa, jadi aku ingin menemuinya untuk
berterima kasih karena telah membantu ibuku,” jelas Jemima,
“kalau
begitu aku ikut denganmu…oiya apa kau sudah tahu?”, Kira agak teringat sesuatu,
“tentang
apa?”,
“istana
sedang mengadkan lomba menulis, bagaimana kalau kita ikut?”, Kira dengan
bersemangatnya mengajak Jemima,
“emh…tapi
aku masih belum berpengalaman,” Jemima agak putus asa,
“hei…bukankah
ini akan menjadi pengalamanmu?”,
“benar
juga…ah baiklah aku akan mengikutinya,” Jemima pun tersenyum pada Kira.
***
Ketika Nefrous sedang berkeliling desa,
ia bertemu dengan Tuan Darko. Tuan Darko adalah penasehat Raja. merekapun kini
duduk bersama di sebuah ruangan.
“ada apa kau mengajakku ke sini?” Tanya
Nefrous dingin,
“hahahaha…kenapa dengan nada bicaramu?”,
Tuan Darko agak menyindir, “apa kau sudah mengerjakan tugasmu?”, Tanya Tuan
Darko sambil meminum seteguk air putih,
“seperti yang sedang kau lihat sekarang,
aku sedang melakukan tugas”, jelas Nefrous,
“apa kau benar-benar menginginkan posisi
itu?”, Tanya Tuan Darko, Nefrous semakin tak mengerti, “kau tidak perlu
melakukan hal bodoh seperti ini…”, Tuan Darko semakin aneh,
“kenapa kau bicara seperti itu?”,
Nefrous menatap Tuan Darko semakin tajam.
“bagaimana pun yang akan menjadi Raja
adalah Pangeran Harda, jadi jangan merepotkan dirimu sendiri,” Tuan Darko pun
menatap tajam Nefrous, “jika kau menginginkannya, aku akan memberikanmu tahta
itu…”, wajah Tuan Darko mulai mendekati wajah Nefrous, “aku akan membuat sebuah
kerajaan, kau yang menjadi Raja, sedangkan aku yang mengendalikan
semuanya…setelah itu kita rebut Kerajaan Sudra, bagaimana?”, Tuan Darko pun
kembali ke posisi awal.
“tidak…aku akan mendapatkan tahta itu,
tanpa perlu bantuanmu aku bisa mengalahkan semuanya, termasuk Pangeran Harda,”
jawab Nefrous,
“hahahahaha…persaingan diantara dua
orang bersahabat, baiklah aku akan terus menunggumu…”, Tuan Darko pun beranjak
dan meninggalkan Nefrous yang sedang duduk dengan penuh rasa bimbang,
Nefrous
pun kembali ke rumahnya, di dalam kegelapan ia memikirkan sesuatu yang memang
harus ia pilih dan jalani.
***
Jemima
dan Kira pun sedang dalam perjalanan menuju desa Binari, ketika tiba di sana
Kira dan Jemima merasa heran karena banyak orang yang merasa bahagia, suara
tawaan bahagia terdengar dimana-mana.
“hei..apa
yang terjadi?”, Jemima menarik lengan seorang anak laki-laki,
“dia
memberi kami pakaian dan makanan…”, jelas Anak laki-laki itu dan ia pun
berlalu,
“memang
nya pihak istana sedang mengadakan pembagian?”, Kira masih bingung,
“apa
jangan-jangan semua ini dari pengemis itu?”, Jemima teringat pengemis itu,
“tapi bagaiamana mungkin dia memberikan barang dan makanan sebanyak ini?”
Jemima pun berlari.
“hei…tunggu
aku…”, Kira pun ikut berlari,
Kini
tiba di depan rumah Jemima, terlihat ibunya yang sudah mulai bisa berdiri
sedang berada di depan rumah sambil menengok ke arah kanan sambil tersenyum,
“ibu…apa
yang terjadi?”, Jemima semaki penasaran,
“Pria
itu memberikan semua ini pada kami…”, jelas Ibunya,
“apa
dia pengemis itu?”, Tanya Jemima, dan Jemima pun bergegas ketika ibunya
menganggukan pertanyaan Jemima,
“Nyonya…”,
Kira menyapa Ibu Jemima,
“tunggu…apa
kau ini Kira?”, Ibu Jemima sedikit menerawang,
“benar
nyonya…”, Kira pun tersenyum,
“wuah…benarkah…sekarang
kau sudah besar ya,..ayo kita masuk…”, Ibu Jemima pun mengajak Kira masuk,
Sementara
itu Jemima terus berlari namun ia tak menemukan pengemis itu, di tengah hutan
Jemima pun terdiam untuk sejenak dan mulai putus asa,
“baiklah…Tuaaaannn…siapapun
dirimu…kau telah membantu ibuku, dan desa kami…aku mengucapkan banyak terima
kasih…terima kasiiihhh Tuaaaannn…” Teriak Jemima dengan nada yang terdengar
sangat lelah, Jemima pun kembali ke desa. Di balik sebuah pohon Harda mendengar
semuanya, dan ia pun tersenyum.
Hari
pun semakin gelap, setelah menjenguk Ibu Jemima akhirnya Kira pun berpamitan,
kini Kira kembali ke rumahnya. Ketika ia melewati pusat kota, lagi-lagi ia
melihat sebuah gang dan lagi-lagi ia teringat dengan pria itu. Dengan sedikit
keberanian Kira memasuki gang itu, dan di sana ada sebuah rumah kecil dan
gelap. Kira pun mencoba untuk mengetuk pintu rumah itu.
“permisi…”,
Kira terus mencoba untuk mengetuk pintunya, tak lama kemudia pintu pun di buka,
“siapa?”,
Nefrous membukakan pintu dan ia melihat seorang gadis cantik yang berada di
depan pintu rumahnya,
“emh…ma’af…apa
benar ini rumah dari…”, pertanyaan Kira terhenti ketika ia mengingat bahwa ia
tidak tahu nama pria itu,
“siapa
yang kau maksud?”, Nefrous penasaran
“emh…ma’af,
sepertinya aku salah…ma’afkan aku sudah mengganggumu, permisi…”, Kira pun
berpamitan dan membalikan badannya,
Nefrous
terus memperhatikan gadis itu, ingin sekali berbincang dan menatapnya lebih
lama, mungkin inilah yang di sebut dengan cinta pandangan pertama menurut
Nefrous.
Keesokan
harinya seluruh kandidat berkumpul di istana, dan hasil dari misi akan di
umumkan,
“baiklah,
menurut hasil dari apa yang telah kalian kerjakan kemarin, kalian akan
melanjutkan ke tahap selanjutnya. Untuk yang pertama Tuan Giju, karena kepekaan
social anda, anda akan berlanjut ke misi selanjutnya, selanjutnya…pangeran
Harda anda bisa melanjutkan misi anda dan yang terakhir…Tuan Nefrous,” jelas
Tuan Darko sambil menatap Nefrous,
Setelah
pengumuman selesai, Nefrous pun hendak kembali ke rumahnya. Tiba-tiba Harda
menarik lengan Nefrous,
“apa
kau benar-benar tak memiliki waktu untukku?”, Tanya Harda yang terlihat sangat
kecewa,
“Ma’afkan
aku…seharian kemarin aku melakukan banyak hal, bagaimana kalau nanti kita pergi
ke sungai?”, ajak Nefrous,
“benar…baiklah,
besok lusa bagaimana?”,
“emh…baiklah…”,
Nefrous dan Harda pun saling tersenyum.
Di
ruangan khusus milik Kira, Kira sedang duduk sambil memperhatikan tanamannya.
Tak lama kemudian, mutiara nya terjatuh Kira pun mengambilnya dan
memperhatikannya sambil tersenyum,
“kenapa
aku tidak tahu namamu? Itu sangat memalukan ketika kita mengetuk pintu rumah
orang dan ketika ditanya siapa yang sedang dituju, aku malah tidak tahu
namanya…aku benar-benar bodoh,” Kira merasa malu pada dirinya sendiri.
Seperti
yang sudah dijanjikan, Harda dan Nefrous pun bertemu di sebuah sungai dengan
sinar matahari pagi yang sangat cerah dan menghangatkan. Terlihat Harda yang
sedang terduduk di tepi sungai sambil melemparkan batu-batu kecil ke dalamnya.
“apa
kau sudah lama berada di sini?”, Harda pun tiba dari arah kiri,
“ya…kenapa
kau begitu lama?”, Tanya Harda yang terlihat sangat bosan,
“ma’afkan
aku…aku membetulkan dulu atap rumahku jadi aku terlambat…”, Nefrous merasa
menyesal,
“nanti,
jika kau menjadi seorang raja, kau harus hidup dengan nyaman”, Harda agak
merasa kasihan pada Nefrous,
“hei…apa
hanya karena aku harus menjadi seorang Raja, aku baru bisa hidup
nyaman?ccchhh…kau ini, sekarang juga aku sudah nyaman hidup seperti ini,
dasar…”, Nefrous pun tertawa,
“kau
harus terus bersemangat dalam kompetisi kali ini…”,
“kenapa
seolah-olah kau tidak mau tahta itu?”, Nefrous merasa bingung,
“hei…siapa
yang tak mau dengan tahta itu? Aku sedang mencoba untuk menyemanatimu…”, Jelas
Harda,
“hemh…bukankah
ini lucu? Dua orang sahabat mengikuti kompetisi yang tidak biasa, suatu saat,
salah satu di antara kita akan ada di atas dan di bawah..”
“meskipun
begitu, kita tetap sahabat, benarkan?” Tanya Harda,
“benar…bagaimana
jika aku yang menjadi Raja? apa kau akan mematuhiku? Apa kau akan bersikap sama
seperti ini padaku?”, Tanya Nefrous dengan nada bercanda,
“emh…ya..seperti
ini, dan tak akan berubah sedikit pun, bahkan aku akan terus menempel padamu,
agar aku di berikan jabatan tinggi di istana…hahahahahaha…”, Harda pun tertawa
geli,
“hahaha,
lalu bagaimana jika kau yang menjadi Raja?”, Nefrous kembali bertanya,
“aku…emh…aku
akan tetap bersikap seperti ini padamu, dan perlu kita ingat mulai sekarang
adalah, siapapun yang menjadi Raja, kita haru menerima semuanya dan mengikuti
semua perintah dari sang Raja kelak,” jelas Harda, dan Nefrous pun mengangguk,
“oiya…kemarin
ada seorang gadis datang ke rumahku, dan dia hanya mengetuk pintu, setelah ku
Tanya siapa yang sedang ia cari, ia malah meminta ma’af dan dia malah pergi…”,
jelas Nefrous,
“emh…ma’af
sebenarnya aku meminjam alamat rumahmu, di hari sebelumnya, aku melihat gadis
itu di tempat ini, lalu kami pulang bersama, dan kami saling memberitahu alamat
rumah masing-masing,” jelas Harda
“bukankah
rumahmu di istana?”, Tanya Nefrous,
“lucu
sekali…dia tidak mengetahui kalau aku sebenarnya seorang pangeran, dan akhirnya
aku memutuskan untuk menggunakan alamatmu,”
Misi
selanjutnya di adakan di lapangan istana, ketiga kandidat telah bersiap-siap.
Yang pertama bertarung adalah Tuan Giju melawan Harda, pertarungan sengit pun
terjadi. Di detik pertama Harda sering kalah dan hampir terkena tebasan pedang
dari tuan Giju, namun di detik terakhir Harda mampu mengalahkan Tuan Giju.
Babak selanjutnya, pertarungan dua sahabat Harda dan Nefrous,
“semangat…”,
Harda memberikan semangat pada Nefrous, Nefrous pun tersenyum.
Mereka
pun bersiap, tatapan mereka saling beradu. Sekilas tatapan mereka seperti
tatapan antara musuh dengan musuh. Harda mengeluarkan pedangnya, begitupula
dengan Neferous. Kedua pedang mereka kini saling berbenturan, suara keduan
pedang itu sangat kuat ketika mereka beradu fisik satu sama lain. Kekuatan
mereka imbang di awal.
Tuan
Darko memperhatikan gerak-gerik Nefrous, ketika Nefrous hendak melihat ke
sekitar, ia mendapati Tuan Darko yang sedang memperhatikannya dengan begitu
sangat jeli dan melemparkan senyuman pada Nefrous, Sedikit lengah, Harda hampir
menebas leher Nefrous, Nefrous pun terseret ke belakang,
“ada
apa denganmu?”, Harda mulai meningkatkan keterampilannya,
“baiklah…”,
Nefrous mulai menyerang Harda.
Pertarungan
semakin sengit, atmosfer di sekitar lapang sedikit memanas. Kini kedua sahabat
ini sedikit melupakan persahabatan mereka, Harda semakin menggila. Ia menyerang
Harda terus menerus hingga akhirnya Harda pun tersudut dan ujung pedang milik
Nefrous berada tepat di depan wajah Harda, Harda sempat terdiam, karena ia
meraskan hal yang tidak seperti biasanya. Tak mau kalah, Hard pun mengelak. Dan
waktu pun sudah habis, mereka berdua berakhir dengan nilai Seri.
Setelah
selesai, mereka istirahat di dalam istana. Harda duduk di samping Nefrous.
Nefrous sedang meminum seteguk air putih di dalam sebuah botol,
“kemampuan
berpedangmu semakin meningkat…”, Harda membuka pembicaraa, meski terasa agak
sedikit canggung,
“benarkah…”,
Nerous meletkkan botolnya di meja, dan melihat kea rah Harda,
“tatapan
matamu juga…jika aku benar-benar musuhmu, ku kira mentalku sudah kalah oleh
tatapan matamu,” jelas Harda,
Nefrous
pun mulai merasa dirinya lebih baik dari Harda. Keesokan harinya tiba
pengumuman siapa yang akan menjadi seseorang yang akan menjadi penerus tahta
kerajaan.
“jika
kau tidak menjadi seorang Raja, maka disinilah akhir dari imperium besar yang
sudah di bangun oleh para leluhur kita,” jelas Raja yang duduk di atas podium,
dengan penuh rasa khawatir, Harda hanya tersenyum ringan.
Sebuah
persembahan tarian dari para gadis sudra pun terlihat indah ketika membuka
sebuah acara, berbagai atraksi diperlihatkan oleh pemuda Negeri Sudra.
“baiklah…atas
nama segenap keluarga kerajaan, kami akan mengumumkan siapa yang akan menjadi
sang penerus,” jelas Tuan Galta, semua pun bersorak.
Harda
dan Nefrous berada di tempat yang sama, mereka duduk berdampingan.
“baiklah,
di sini hanya ada dua calon Raja, dan salah satu di antara mereka akan menjadi
seorang penerus tahta Kerajaan Negeri Sudra, setelah menjalani beberapa misi,
akhirnya kita bisa memutuskan siapa orangnya, dan orang itu adalah…”, Tuan
Galta membuka gulungan Kertas, Nefrous terlihat sangat percaya diri,
“dan…hemh…yang akan menjadi sang penerus adalah…wuah…ternyata imperium besar
akan diteruskan oleh seseorang yang berlatar belakang yang sama,” jelas Tuan
Galta,
Mendengar
hal itu, Nefrous mulai sedikit kecewa, ia merasa dipermainkan. Ia berpikir
kenapa harus ada pemilihan Raja secara umum, jika akhirnya keturunan kerajaan
lah yang akan menjadi penerus Tahta kerajaan, Wajah Nefrous pun memerah ketika
Tuna Galta menyebut nama Harda,
“dan…yang
sudah kita ketahui, yang akan menjadi penerus adalah… Pangeran Harda…”, teriak
Tuan Galta, semua masyarakat yang hadir di sana bersorak bahagia, Harda pun
terlihat sangat bahagia,
“hahahaha…anakku…kau
memang sangat bisa diandalkan…”, Raja pun tertawa bahagia,
Ketika
hendak memeluk Nefrous, Hard di seret oleh Tuan Galta agar Harda bisa
memberikan kata-kata sambutan dan terima kasih. Nefrous semakin kesal dan
marah. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan turun dari podium. Di bawah
podium, Tuan Daro sudah menunggu Nefrous.
“sudah
kubilang…kau tidak harus mengikuti pemilihan yang akhirnya sia-sia seperti
ini…”, Tuan Darko memanas-manasi Nefrous, namun Nefrous tak menghiraukan Tun
Darko, Nerous pun berlalu,
Di
saat itu pula, Kira dan Jemima sedang menonton sang Raja baru baru mengetahui
bahwa pria yang baru ia kenal adalah sang pangeran. Kira pun agak tercengang,
“hei…ada
apa denganmu?”, Jemima mencoba untuk menyadarkan Kira yang sejak daritadi terus
melamun,
“dia…dia
orang yang aku cari selama ini…”, jelas Kira sambil terus memandang Harda,
Jemima merasa kebingungan, dan Jemima pun tak mengiraukan Kira.
Satu
minggu setelah penobatan, Harda tidak pernah bertemu dengan Nefrous, Harda
merasa sedih, karena sahabatnya sendiri tidak memberikan selamat padanya.
Sementara itu, Nefrous terus menerus didatangi oleh Tuan Darko, Tuan Darko
terus menerus menambah Nefrous semakin berambisi, dengan berbagai cara akhirnya
Nerous menyetujui ide Tuan Darko untuk merebut Negeri Sudra.
Acara
lomba menulis pun tiba, Kira dan Jemima pergi ke Istana. Dari jauh Kira melihat
Harda dengan Jubah kebesarannya sedang bersama para menterinya berjalan menuju
ruang pertemuan.
“dia
sangat berbeda…”, Gumam Kira,
“hei…apa
kau tahu siapa saja yang menjadi kandidat sebelumnya?”, Tanya Jemima,
“emh…tidak,
tapi kurasa aku pernah melihat orang yang berada di samping yang mulia Raja,”
jelas Kira,
“dia
adalah sahabat yang mulia Raja, wuah…mereka adalah para pria tampan…”, Jemima
pun senyum sendiri.
Setelah
selesai melakukan pendaftaran dan pengarahan, Kira dan Jemima pun kembali.
Namun, di tengaah perjalanan pulang tepat di sebuah taman di istana, Kira dan
Raja berpapasan. Dan mereka pun terdiam sejenak.
“kau…”,
Kira dan Raja saling menunjuk satu sama lain, dan akhirnya mereka saling
melemparkan senyuman.
“bagaimana
kau bisa ada di sini?”, Tanya Harda,
“aku
sedang mencoba untuk mengikuti lomba penulisan…” jelas Kira sambil tertunduk,
“ah
iya…itu acara yang sering ada tiap tahunnya, oiya apa dia temanmu?”, Tanya
Harda sambil menunjuk Jemima yang terus tersenyum,
“iya…dia
adalah sahabatku, namanya Jemima, oiya…saat itu aku bilang bahwa namamu mirip
dengan pangeran, dan sebenarnya…kau adalah seorang pangeran,” Kira semakin
tertunduk,
“hemh…kau
sangat aneh, sebagai penduduk yang taat, seharusnya kau mengetahui siapa Rajamu,
dan anggota keluarganya…”, Harda agak menaikkan nada bicaranya,
“apa
aku akan terkena hukuman karena ini?”, Kira pun mengangkat kepalanya dan
menatap Harda,
“ahahahaha…itu
tidak mungkin…hemh, maksudku iya…kau ku hukum…”, Harda mengatakannya dnengan tegas,
Kira dan Jemima merasa sedikit ketakutan
“apa
itu…?”, Kira kembali tertunduk,
“temui
aku besok sore di tempat pertama kali kita bertemu…”, Harda pun berlalu. Kira
masih saja terdiam dan merasa seidikit Khawatir.
Keesokan
harinya, Harda bersipa-siap untuk pergi ke sungai, namun di tengah perjalanan
ia bertemu dengan Nefrous.
“hei…kemana
saja kau? Apa kau tidak mengucapkan selamat kepadaku?”, Harda bertanya dengan
nada bercanda namun Nefrous malah pergi begitu saja, “tunggu…kenapa kau berbuat
seperti itu padaku?”, Harda menarik lengan Nefrous,
“kau
telah mempermainkanku…jika akhirnya kau yang terpilih, kenapa kau berlagak
seolah kau ingin menghapus system monarki dari negeri ini?”, teriak Nefrous
dengan mata yang memerah,
“kenapa…kenapa
kau berpikiran seperti itu?”, Harda agak sedikit sedih atas penyataan Nefrous,
“bukankah aku sudah menjalani misi seperti yang sudah kau lakukan?”, jelas Harda,
“benar…kau
memang benar, tapi itu hanya sebuah misi yang di adakan oleh keluargamu…aku
ingin pertarungan yang sebenarnya,” Nefrous menatap Harda dengan sangat tajam.
“baik…jika
itu yang memang kau inginkan, aku akan mengikuti semua keinginanmu, dimana?”,
Tanya Harda dengan penuh harap agar Nefrous bisa kembali seperti dulu.
“di
atas tebing yang berada di dekat sungai, aku akan menunggumu besok sore,”
Nefrous pun berlalu,
Harda
pun melanjutkan langkahnya, dan kini ia sudah sampai di tempat tujuan, terihat
Kira yang sedang duduk di bawah pohon sambil memainkan ilalang yang ia petik.
“yang
mulia…”, Kira pun beranjak
“duduklah…”,
Harda pun duduk di samping Kira, selam 10 menit Harda mendiamkan Kira, ia terus
melihat sebuah tebing yang tak jauh dari tempat ia berada sekarang,
“emh…ma’af
yang mulia, apa yang akan anda jatuhkan hukuman padaku?” Kira memulai perbincangan,
“aku
sedang tidak ingin menghukum orang lain, sekarang aku sedang ingin menghukum
diriku sendiri,” jelas Harda dengan tatapan yang kosong,
“apa
maksudmu?”, Kira tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Harda,
“baiklah…hanya
itu saja yang ingin ku katakana padamu, membuatmu lama menunggu adalah hukuman
bagimu…”, Harda pun beranjak dan meninggalkan Kira,
Sore
hari yang sangat indah dengan lembayung senja yang menghiasi karya ala mini,
tapi sayang keindahan sore ini tak disadari oleh dua orang sahabat yang akan
bertemu untuk bertarung, baru saja sampai, Harda sudah di serang oleh Nefrous,
“kau
bukan kau…”, Harda agak memelankan suaranya,
“benar…aku
yang dulu sudah tidak ada, sekarang aku adalah lawanmu,” Nefrous terus
menyudutkan Harda, tak mau kalah Harda menyerang balik Nefrous hingga akhirnya
Nefrous mampu di sudutkan oleh Harda. Ujung pedang Harda berada tepat di depan
mata Nefrous, namun Harda dengan sekuat tenaga menahannya, karena lengah,
Nefrous menyerang Harda, kali ini posisi itu terbalik, ujung pedang milik
Nefrous berada tepat di depan leher Harda,
“kta
pernah berada dalam posisi seperti ini, dulu kita sedang berkompetisi, dan kita
masih menjaga persahabatan kita. Tapi berbeda dengan kali ini, jika kau
membunuhku, kau akan menjadi seorang pemberontak…”, jelas Harda sambil
menaikkan kepalanya.
“biarkan
saja aku menjadi seorang pemberontak, yang terpenting aku mendapatkan posisi
itu,” jelas Nefrous,
“kau
belum mampu mengendalikan emosimu…berpikiran jernh serta dingin adalah hal
utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin,” jelas Harda,
Nefrous
tak mendengarkan Harda, ia pun menebaskan pedangnya ke leher Harda. Suasana pun
menjadi sangat menegangkan, Harda sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi
pada dirinya.
“jika
kematian lebih baik dari apapun, aku rela…”, Harda menutup matanya, ketika
Harda memjamkan matanya, ia teringat ayahnya yang sedang sakit dan terbaring di
atas ranjangnya, tak hanya itu banyak hal yang terlintas dalam pikiran Harda,
masalah kemiskinan Rakyat, kemakmuran, kesejahteraan, dan ketentraman negri
berada di pundak Harda, ia merasa bahwa dirinya harus menangani itu semua. Akan
memalukan jika ia harus mati di tangan seorang pemberontak, Harda pun membuka
matanya, dan menyerang Nefrous. Karena begitu kuatnya kekuatan yang muncul
dalam diri Harda, Harda berhasil menjauhkan Nefrous dari dirinya, tapi sayang
Nefrous terperosok ke bawah, Harda pun merasa cemas, “bertahanlah…”, Harda
mencoba untuk menjangkau tangan Nefrous
dan menariknya ke atas,
“kau…”,
Nefrous terus menatap Harda denga tajam,
Tapi
dengan sobongnya Nefrous menolak uluran tangan itu, karena tak kuat lagi,
akhirnya Nefrous pun terjatuh ke dasar jurang. Dari atas tebing Harda merasa
menyesal, Harda pun menjatuhkan dirinya ke tanah dan mulai meneteskan air
matanya.
“Nefrous…”,
Harda pun segera bergegas untuk turun dari atas tebing, sesampainya di bawah
tebing, Harda tidak menemukan Nefrous.
5
tahun kemudian, Harda masih belum melupakan tentang hilangnya Nefrous. Kini
Kira menjadi seorang permaisuri, mereka menikah 3 tahun yang lalu, dan kini
mereka di karuniai dua anak kembar yang bernama Ugra dan Runako. Jemima menjadi
seorang penulis hebat bersama dengan Permaisuri, ia bisa menulis apapun yang ia
ingingkan.
Langit
yang tadinya sangat cerah kini berubah menjadi gelap, seiring dengan suara
petir yang tiba-tiba terdengar di siang hari datanglah seseorang yang
menghampiri Raja Harda yang berada di pelataran istana bersama anak dan
istrinya saat itu, suara gemuruh angin pun terdengar dan mengacaukan suasana,
para pengawal mencoba untuk melindungi Raja dan Permaisuri beserta kedua anak
kembar mereka.
“siapa
kau…”, teriak Harda,
“ini
aku…”, Nefrous menghampiri Harda yang kini terpisah dari istri dan anaknya,
“kau…Nefrous…”,
Harda agak terdiam karena melihat ada bekas luka di wajah Nefrous. Suasana
menjadi sangat mencekam ketika tiba-tiba Nefrous menyerang para epengawal
dengan kekuatan magis nya. Para pengawal yang menjaga Raja pun kini telah
berguguran. “sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu…?”, Harda masih
mengkhawatirkan Nefrous,
“hahahaha…hanya
itu yang bisa kau katakana padaku?’, Nefrous merasa tidak puas,
“untuk
kejadian itu, aku…benar-benar minta ma’af…”, Harda sangat merasa menyesal
hingga ia mulai berkaca-kaca,
“lupakan
masalah itu…kini aku sudah kembali bangkit, oleh karena itu kau harus bersiap
untuk menerima seranganku,” kata Nefrous hingga akhirnya ia berlalu.
Suasana
menjadi sangat hening, Harda terdiam. Ia sangat merindukan sosok Nerous yang
dulu ia kenal, Harda pun menjatuhkan dirinya ke tanah dan ia pun mulai
menangis.
Selama
bertahun-tahun serangan demi serangan ditujukan ke Negeri Sudra oleh Nefrous.
Kini Nefrous terkenal dengan Raja dari Kerajaan kegelapan. Rasa persahabatan
antara Harda dan Nefrous kini berubah menjadi rasa kebencian dan permusuhan
yang tiada akhir. Meski begitu, acara lomba penulisan masih terus berlangsung.
Kini Jemima yang menjadi jurinya, ia menentukan penulisan dengan sebuah Tema
“Kehancuran Kerajaan Kegelapan”.
Lomba
itu diikuti oleh 300 anak gadis berusia 13-17 tahun, semua orang berantusia
untuk menulis tentang kehancuran Kerajaan Kegelapan. Tak hanya sekedar menulis,
itu juga merupakan harapan bagi seluruh masyarakat negeri Sudra. Setelah membaca semuanya,
Jemima merangkum semua hal yang dapat menghancurkan kerajaan kegelapan dalam
sebuah Buku. Mendengar hal itu Raja Nefrous sangat marah hingga akhirnya dia
menyuruh Gusa untuk mengutuk seluruh buku yang ada di negeri Sudra, bagi siapa
saja yang menulis di dalam buku, dia akan mengalami hal-hal yang tidak di
inginkan. tak hanya itu, Raja Nefrous juga membunuh para penulis dari Negri
Sudra termasuk Jemima. Namun Jemima berhasil melarikan diri dan mengucilkan
diri dari khalayak ramai.
Dari
situlah awal buku berkekuatan Magis itu berawal. Jemima menyimpan buku besar
berwarna coklat di dalam tanah yang berada di dalam hutan. Setelah Jemima
mengubur buku itu, tiba-tiba Tanah dan pohon yang berada di dekatnya
mengeluarkan Cahaya.
“kenapa
menjadi seperti ini?”, Jemima merasa kaget sekaligus takjub,
Tiba-tiba
seorang peri datang menghampiri Jemima, “tanah-tanah itu sedang mencoba untuk
meredam kekuatan magis dari Raja Nefrous,”, jelas Peri itu,
“apa
dengan begitu efek kutukan buku tersebut akan menghilang?”, Tanya Jemima,
“kau…kau
menguburnya di bawah pohon yang mampu menembus ke dunia lain,” Peri itu agak
kaget,
“apa
katamu…”, dengan segera Jemima menggali tanahnya lagi, tapi sayang buku itu
kini sudah tidak ada, Jemima mulai merasa cemas, “bagaimana jika buku ini
ditemukan oleh orang lain?”, Jemima merasa sangat Khawatir,
“jika
buku itu ditemukan oleh orang lain, dan jika orang itu menulis sesuatu di dalam
buku itu, maka dia akan mengalami hal yang tidak diinginkan. Hal itu bisa jadi
merenggut nyawanya, atau tidak dia akan masuk ke dalam negeri Sudra, dan
siapapun yang masuk ke dalam negeri ini melalui perantara buku itu, dia akan
menjadi seorang Ratu dan dia akan menyelesaikan permasalahan yang ada di negeri
ini,” jelas Peri itu.
“begitukah?”,
Jemima mulai agak tenang, “tapi, apa kau tahu siapa kira-kira orang itu? Apa
dia seorang wanita atau laki-laki?”, Jemima semakin penasaran.
“dia
adalah seorang anak gadis, berambut panjang dengan warna rambut coklat
bercahaya, di lengan kirinya akan ada 3 garis goresan yang disebabkan oleh
serangan hewan buas,” Peri itu menjelaskan sambil memejamkan matanya.
Tak
lama kemudian peri itu berlalu, Jemima masih terdiam memandangi pohon yang bisa
menembus dengan dunia lain.
“jika
benar akan ada seorang gadis yang telah disebutkan, aku berjanji…aku akan
melindunginya,” Jemima pun beranjak dari tempat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar