The great Emperor of Wathaniyyah
Berawal
dari negeri Wathaniyah, Negara timur yang berbatasan dengan Masthuriyah, Musailamah,
dan Qahiroh. Acara Maulid Nabi Muhammad Saw tahun 1043 H, yang berlangsung
dengan khidmat. Bacaan Barzanji dan Shalawat melengkapi kekhidmatan acara itu,
alunan suara Hadlroh ikut meramaikan suasana. Tak lupa pula Nasehat dan
beberapa penyampaian keagamaan dari para alim ulama demi menumbuhkan rasa cinta
terhadap Nabi Muhammad Saw.
Setelah
acara selesai, para bangsawan dan rakyat biasa berbaur menjadi satu, berbagi
cerita, dan berbagi hidangan. Acara ini berlangsung di Masjid Agung Whataniyah
dengan melibatkan langsung para calon sarjana di seluruh penjuru negeri
Wathaniyah yang damai dan makmur.
Achmad
syah adalah Sultan Wathaniyah yang ke 7, ia memiliki seorang putra yang bernama
Haikal Syah. Dia adalah seorang pemuda tampan yang pemberani dan sangat
berambisi untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
***
(Patah Hati)
Di
sebuah dapur istana, para calon sarjana wanita berkumpul untuk membuat
hidangan. Terlihat Sarah, calon sarjana di lembaga pendidikan bersama
teman-temannya berkumpul. “(Sarah menggeliat)…kapan ini berakhir?”, “sebentar lagi…apa kau sangat lelah?(sapa Mae
dengan meletakan kedua tangannya di pundak Sarah),” “iya…semalaman aku menulis
tentang budaya barat. Dan apa kau tahu?...betapa merosotnya budaya barat…mereka
mengenyampingkkan keagamaan, bagaimana kehidupan setelah di dunia mereka tidak
tahu.” “ya benar…orang-orang timur sudah memikirkan sejak dini masalah itu,
bahkan mereka menjadikan itu sebagai landasan untuk hidup dan bisa kembali
kepada Allah dengan mendapatkan Ridlo dan Rahmatnya. Oiya apa kau tahu?”,
“apa?”, “di madrasah….kau tahu Ali? Ali dan Maryam sedang dekat, mereka sudah
dekat hampir 2 tahun.” (mae agak memicingkan matanya yang bulat itu),
“benarkah? Wuah tidak bisa dipercaya…lalu bagaimana hubungan mu dengan
Abdul?”,(Sarah balik bertanya), “emh…kita sudah tidak lagi berhubungan…(Mae
agak menghela nafas panjang)..begini, aku bilang bahwa, dia punya impian, aku
juga, kamu punya jalan, aku juga, dan untuk menempuh jalan tersebut, lebih baik
kita berhenti sampai di sini…begitu.” “lalu bagaimana reaksinya?”, “awalnya dia
tidak terima, tapi mau bagaimana lagi?jalan hidupku masih panjang…oiya dan apa kau
tahu? Zafar, dia mengirim surat padaku..(dengan melebarkan mata untuk memberi
tahu)” “ Zafar?bukankah dia teman dekat Abdul?”, “iya…”, “dulu Bayan, lalu
Abdul, dan terakhir Zafar…tiga bersahabat yang menyukaimu…tapi..apa kau mengira
bahwa mereka?.....(berbicara dengan hati-hati)”, “iya..aku sudah menduganya,
tapi…Zafar bilang tidak, tapi aku masih agak sedikit khawatir akan merusak
hubungan persahabatan mereka”. “Sarah, Mae….ayo kita makan” (suara wanita yang
agak lebih tua di balik tirai mengakhiri perbincangan Sarah dan Mae)
6
bulan dari acara itu, sudah lima lelaki yang Mae ceritakan kepada Sarah. Sarah
sangat senang sekali mendengar cerita Mae yang membuatnya memiliki pengetahuan
tanpa harus mengalaminya. Minggu ke 3 di bulan ke 7, Mae menceritakan bahwa dia
sedang dekat dengan Farhaa, sang Rois yang menurut Sarah adalah pria tampan,
sholeh, dan agak dingin. Itu membuat Sarah agak salah tingkah mendengarkan
ceritannya. Sejak kedekatan itu, Sarah agak membatasi kedekatannya dengan Mae.
Di
sebuah Rumah dengan halaman depan yang luas, dan halaman belakang yang bisa
berpacu kuda, siang hari yang sangat terik, sarah berlari di belakang rumahnya,
lalu ada sang ayah yang menyusul seraya mengatakan “ha..ha..ha jika pemudi
larinya lambat sepertimu, kakek-kakek setampan ayah bisa mengalahkanmu,” ayah
terus berlari hingga pavilion. Di pavilion Sarah hanya diam, lalu ayah membuka
pembicaraan “ada apa denganmu?, tapi sarah hanya menggeleng, “ ah pasti kau
gagal dalam ujian?”, tapi sarah tetap menggeleng. “atau karena seorang pria?”
sarah agak terkejut “emh sebenarya aku sedang patah hati…orang yang kusukai
ternyata disukai oleh orang yang ku sayangi.” , “Anak muda…hemh…(menghela nafas
panjang)…ah..ayah punya ide,(Ayah agak mendekat pada Sarah)..untuk mengobati
patah hatimu, bagaimana kalau ayah carikan seorang pria untuk mu?bagaimana?” ,
“apa bisa?”, “tentu saja…besok malam ba’da isya kau berdandan secantik mungkin,
kita pergi makan malam bersama.”, “kita?” , “iya ini adalah acara pertemuan
keluarga.”, “baiklah…” sarah pun menyetujui nya.
Keesokan
harinya pun Sarah dan ayahnya pergi ke suatu tempat yang mirip dengan istana.
“ayah…bukankah ini istana?”, Tanya sarah kebingungan. Ayah hanya tersenyum
mengangguk. Sarah dan ayah nya pun memasuki ruang makan, di sana ada Sultan dan
pangeran. Sarah dan Ayahnya pun di sambut. Sang sultan pun memeluk tuan Ziyad,
menteri perdagangan yang jujur ala Rasulullah. Sarah hanya diam, dia sesekali
melihat wajah sang pangeran, tapi ekspresinya biasa saja. Tak lama kemudian
pengeran pergi. Sultan dan tuan ziyad pun membicarakan hari pertunangan yang
akan dilaksanakan 2 minggu setelah pertemuan itu.
Berita
pertunangan sudah sampai ke madrasah, banyak wanita yang pingsan mendengar
berita itu. Ny.Nur teman dekat Sarah langsung menyergap sarah yang kala itu
baru datang. “sarah kenapa tidak bilang-bilang?”, “itu sangat mendadak…jadi aku
belum sempat memberitahu kalian.” , “lalu bagaimana perasaanmu?bagaimana makan
malam bersama pangeran?” Ny.Nur mendekat seolah ingin kepastian… “euh…pertama aku
tidak tahu bahwa akan makan malam bersama keluarga kerajaan, aku baru tahu saat
aku sampai di istanan, setelah itu, aku masuk ke ruang makan utama, di sana ada
Raja dan pangeran…” , “lalu bagaimana?apa dia tampan?” potong Ny.Nur. “biasa
saja…lalu ku lihat sekitar, ada lampu dari Persia yang penuh dengan berlian itu
sangat indah dan membuatku terpukau, terlebih ku lihat ada permadani dari Mesir
yang menyita perhatianku, dan lagi-lagi aku melihat kea rah pangeran, dan
itu…masih biasa saja.” , “hah kenapa semua pria di matamu terlihat biasa?”
sambung Latifah. “entahlah?” sarah masih bingung dengan mengangkatkan bahunya.
“oiya kapan acara pertunangannya?” Tanya mae. “emh sekitar 2 minggu dari
sekarang…tenang Kalian akan berada di baris depan…”, Sarah memeluk Mae dan
Latifah yang posisinya berada di dekat Sarah.
Waktu
pun semakin dekat, satu minggu sebelum pertunangan, Haikal melancarkan
ekspansinya ke daerah Malta. Dan ekspansinya itu berhasil dengan gemilang.
Kegemilangan ini membuat Abul Abbas penguasa Al-Manshuriyah merasa iri. Sejak
dari situlah, abul Abbas gencar mengumpulkan pasukan.
***
(pertunangan)
Tiga
hari sebelum pertunangan, Sarah dan Haikal makan siang bersama di pavilion
milik tuan Ziyad di belakang Rumahnya. Sarah membuka pembicaraan “ku dengar,
ekspansimu berhasil…”, “nanti kau tidak hanya sekedar mendengar, tapi kau harus
mengetahuinya”, papar haikal dengan datar. “oh…baiklah…” jawab sarah dengan
agak canggung. Suasana benar-benar sangat canggung, tapi haikal kembali membuka
pembicaraan. “kuda-kuda itu milik siapa?”, “kuda-kuda itu milik aku dan
ayahku”, “sebanyak itu?....kuda bukan hewan yang murah, hati-hati…mulai
sekarang akan ada peninjauan lebih lanjut mengenai harta para menteri.” ,
“owh…aku tahu maksudmu…ayah ku tidak mungkin berbuat seperti itu…jadi begini,
dulu ayah hanya memiliki satu kuda, yaitu pemberian sultan, lalu pada saat ke
Persia, ada seorang peternak kuda yang menukarkan nya dengan barang dagangan
ayah, setelah itu kuda-kuda itu di kawinkan dan memiliki banyak anak hingga sekarang,
bahkan ayah sempat berencanan untuk ikut mendonasikan kuda bagi para prajurit
Wathaniyah.” , “owh begitu…apa kau bisa memanah?”, “dulu iya…tapi sekarang
tidak. Itu terjadi karena panah itu melukai pipiku, dan sampai sekarang bekas
lukanya masih ada. Bagaimana kalau kita berpacu kuda? Ajak Sarah, dan mereka
pun berpacu kuda bersama.
Hari
pertunangan pun tiba, Sarah sudah mulai memiliki rasa pada pangeran setelah
kejadian kemarin. Sarah pun berdandan layaknya seorang putri, ia menggunakan
gaun berwarna merah maroon yang penuh dengan kilauan-kilauan intan, dengan
jilbab yang sangat indah. Teman-teman dekat Sarah berada di bangku paling
depan. Acara tukar cincin pun dilaksanakan sebagai suatu simbolis. Untuk
sejenak Sarah merasa sangat bahagia, tapi kebahagiaan nya hilang setelah haikal
tidak menghiraukannya dan malah pergi karena ada urusan perang.
Setelah
bertunangan haikal langsung berperang dengan Sardinia, dan itu berlangsung
selama 17 hari. Selama itu pula Sarah tinggal di istana. Di istana sarah
belajar banyak hal, di mulai dari budaya, hingga administrasi Negara. pangeran
pun pulang dengan menarik mundur para pasukannya. Ini memang sangat
mengecewakan, tapi ini pangeran haikal yang mementingkan keselamatan
prajuritnya agar tetap hidup.
(Di
kamar) Sarah sudah tidak betah lagi ia mundar-mandir tak karuan, lalu ada
Ny.Ikrima yang memberitahukan bahwa pangeran sudah tiba, Sarah pun langsung
menuju Ruang utama. Sarah serasa menemukan kembali sesosok orang yang sangat
berarti baginya di Istana ini, tapi apa yang terjadi, Pangeran malah tidak
menghiraukan Sarah sama sekali, dan Sarah pun agak sedikit membatin dan memilih
untuk pergi. “Nyonya, jangan pertemukan aku dengan pangeran kalau bukan
pangeran yang memintannya.” Jelas Sarah dengan datar, namun menyesakkan.
Selama
2 bulan Sarah berada dalam Istana, yang ia lakukan hanya belajar, teman
setianya hanya kalam, tinta, buku, dan secarik kertas. Suatu pagi, pangeran
menyuruh Ikrima untuk mengajak Sarah makan pagi bersama. Sarah baru menemui
pangeran, tapi perasaan kesal masih ada. Pangeran membuka pembicaraan terlebih
dahulu “bagaimana kehidupan istana?”, “biasa saja,” agak menyibukan diri dengan
makanan tak lama kemudian pangeran berkata “jika memang tidak cocok, kau boleh
membatalkan pertunangan ini, aku akan membantumu bicara pada Sultan” , “sudah 2 bulan terakhir aku belajar bagaimana
menjadi seorang istri pangeran sampai larut malam, inikah balasannya?”
batin Sarah. Sarah hanya membatin dan memperlihatkan wajah kekesalannya pada
pangeran. “beginikah sikap bijaksana seorang pangeran? Baiklah…aku permisi
dulu,” Sarah pun pergi.
Suatu
hari Sarah hendak ingin pergi dari istana, tapi Sultan Ahmad menghembuskan
nafas terakhir, 1 minggu setelah wafat nya Sultan, banyak terjadi
pemberontakan, mereka memperebutkan kedudukan perdana menteri, tak hanya itu,
serangan dari luar pun menimpa negeri Wathaniyah, terutama para penguasa di
Manshuriyah.
***
(Penculikan Sarah)
Niat
Sarah untuk meninggalkan istana pun dibatalkan. Karena ia harus tetap berada di
istana, dan wasiat Sultan, bahwa Pangeran harus menikah dengan Sarah binti
Ziyadatullah. Sebisa mungkin Sarah berusaha untuk menenagkan hati pangeran,
tapi usahanya sia-sia, pangeran lagi-lagi tak menghiraukannya. Lalu Sarah
meminta izin untuk pulang, Sarah pun dipulangkan, namun karena banyak pengawal
yang ikut menahan tekanan dari luar, Sarah pulang tanpa adanya pengwalan yang
ketat. Sudah dua hari dua malam, Sarah tidak tidur karena menunggu pangeran
kembali di medan pertempuran, dan tak memperhatikan kondisinya. Sarah pulang
dengan keadaan sakit, di tengah jalan, ada sekelompok orang yang menyerang
kereta yang ditumpangi oleh Sarah. Dua pengawal pun tewas, sarah pun di culik.
Di
dalam kereta ada Saraqah saudara Abul Abbas, pria yang sebenarnya tidak bisa
berkelahi, tapi dia menggunakan ular untuk menyerang lawannya. Di dalam kereta
Sarah hanya terlihat lelah, karena saking lelah nya, suara Sarah hampir habis,
setiap kali ingin meminta tolong, Sarah mengurungkan niatnya dan hanya diam.
“ha..ha..ha..calon Ratu negeri Wathaniyah sudah berada di genggaman kita…kau
memang cantik, tapi ku dengar pangeran tidak pernah menghiraukan mu, jadi
jangan heran kalau tidak ada yang dapat membebaskanmu dari ku….” Kata saraqah
di tambah dengan desisan ular yang berada di tangan Saraqah. “jika pangeran tidak menemukanku, aku yakin
Allah bersamaku.” Batin Sarah.
Di
tengah perjalanan di hutan, ada sekelompok orang penyamun yang menyatroni
kereta Saraqah. Pertarungan pun berlangsung, saat itulah Sarah melarikan diri.
Kelompok saraqah mampu dikalahkan oleh para penyamun yang di pimpin oleh Zafir,
ia adalah pemuda pemberani, ia adalah putra kepala suku Nuran di Mashturiyah.
Namun sangat senang berjudi, ia menyamun untuk membayar hutang nya pada saat
kalah berjudi. Saraqah pun pingsan, dan ularnya mati. Zafir bersama
teman-temannya membawa semua dari isi kereta itu. “ha..ha..ha..akhirnya hutang
ku bisa terbayar” jelas Zafir kesenangan, “tapi apa ayahmu tidak akan tahu”
Tanya Zidan si tambun yang gagah. “tentu tidak, jika salah seorang di antara
kalian tidak ada yang memberitahukan ini pada ayahku”. “hei…lihat itu…” tunjuk
Farhad ke semak belukar. Merekapun mendekat, tapi zidan agak ketakutan…
“seorang wanita….” Jelas Zafir. “bagaimana ini? Aku paling tidak tega melihat
wanita tergeletak tak sadarkan diri seperti ini…” kata Qasim. “kita bawa saja
dia…tapi sebelumnya kita gantikan dulu pakaiannya dengan pakaian pria” jelas
Zafir. “aku saja yang menggatikannya” kata Qasim dengan semangat.
“hei…hargailah wanita…apalagi dia..dia bukan muhrim mu” sela Farhad.
Mereka
pun membawa Sarah ke tempat pemandian milik nenek Fatimah. Nenek Fatimah
memandikan Sarah dan menggantikan pakaiannya. Setelah itu Sarah yang masih
belum sadarka diri itu di bawa ke salah seorang teman mereka yang bernama
Tsaqafi. Ia berprofesi sebagai tabib. Sarah pun beristirahan di rumah tsaqafi,
saat Sarah sadarkan diri, sudah ada 5 Pria yang berkerumun, tentu saja itu
membuat sarah kaget… “siapa kalian?” Tanya sarah ketakutan, “ kami orang yang
menyelamatkanmu..” jelas Zidan sambil makan kudapan beras, “baju…siapa yang
mengganti pakaianku?”, “tenang saja, yang mengganti pakaianmu adalah seorang
wanita pemilik pemadian di Masthuriah”, jelas Zafir, “Masthuriyah” Sarah
kebingungan.
Keesokan
harinya Sarah bersama empat orang bersahabat pergi ke pusat kota, mereka
membicarakan bahwa Sarah harus memilih kembali atau pura-pura menjadi seorang
pria. Tapi Sarah memilih untuk menjadi seorang pria. Rombongan pun tiba di
kediaman kepala suku yang tak lain ayah dari zafir. “Ayah…perkenalkan dia….” ,
“Namaku Ziyad”, jelas Sarah. “kau siapa?” Tanya Kepala Suku, “euh…dia adalah
seorang pengembara…kami bertemu dengan nya di perbaatasan dan kami berbincang,
lalu ziyad tertarik untuk tinggal di sini.” Jelas Zafir. “berapa tempat yang
sudah kau kunjungi?” Tanya Kepala Suku lagi. “Ayah…sepertinya ziyad sangat
kelelahan, aku akan berbagi kamar dengannya…ayo kita ke atas…” ajak Zafir guna
menghindar dari pertanyaan ayahnya.
Keadaan
Wathaniyah semakin tak terkendali, di tambah ada berita hilangnya Sarah.
Pangeran pun naik tahta menjadi seorang Sultan, dan berusaha menekan serangan
dari luar dan membereskan masalah intern. Di sisi lain Raja mencari tahu
tentang keberadaan Sarah. Setelah satu tahun berlangsung, Saraqah datang menemui
Sultan. “apa kau tau? Sarah binti Ziyadatullah ada bersama ku. Kini dia menjadi
istriku, dan apa kau tau? Dia yang membocorkan strategi perang milikmu. Itulah
sebabnya pasukan kami bisa dengan mudah menekan negeri Wathaniyah..ha..ha..ha”,
“penghianat…bawa dia pergi…”, kata Sultan Haikal kepada para pengawalnya.
Dua
tahun berlalu, tekanan demi tekanan datang kepada Wathaniyah, di sisi lain
keempat sahabat, di tambah Sarah mengikuti armada perang. Karena kepiawaian
Sarah menunggang kuda, Sarah di tempatkan di barisan pasukan berkuda
bersama Farhad, sedangkan Zafir, zindan,
dan Qasim ditempatkan di barisan utama. Saat pelatihan, Sarah memang agak
lamban jelas saja, dia adalah seorang wanita. Tapi keempat sahabat barunya
selalu mendukungnya, apalagi jika tiba waktu shalat, secara diam-diam sarah
memakai mukena dan shalat di tempat tertutup yang dijaga oleh keempat
sahabatnya.
Pasukan
Masthuriyah sudah mengikuti 4 ekspedisi, salah satunya ekspedisi Manshuriyah.
Masturiyah melakukan ekspansi ke Manshuriyah untuk mengambil kembali hak mereka
yang berupa tanah kekuasaan yang telah di klaim oleh para penguasa Manshuriyah.
Hal ini terdengar langsung oleh Sultah Haikal Syah.
***
(Bergabungnya Wathaniyah dan Masthuriyah)
Persamaan
tujuan antara wathaniyah dan Masthuriyah untuk menekan Manshuriyah membuat
mereka bergabung. Ini adalah ide dari Sultan.
Seperti
biasa di barak prajurit kelima sahabat berkumpul dan bercanda. “aku hampir
tertusuk pedang, sebelumnya aku kekenyangan jadi gerakanku agak lambat”,kata
Zidan. “kau kekenyangan, sedangkan aku lambat karena kelaparan”, kata Farhad.
“setiap kali ziyad shalat saat di camp pertahanan, kenapa aku yang harus di
korbankan? Sampai saat ini aku terkenal si tukang buang angin”. Kata Qasim
(setiap kali sarah shalat di kamp prajurit, Zafir, Farhad, dan Zidan berada di
luar dan melarang masuk ke kamp, karena kamp x sedang berbau tak sedap dan itu adalah
perbuatan Qasim, sedangkan di dalam Qasim menjaga Sarah takut ada yang
mengintip).. “ha..ha..ha..ma’afkan aku…tapi jujur saja.. yang membuatku tenang
adalah, bukan karena masalah menang dalam perang, tapi merasa aman beribadah
dan dijaga oleh kalian..terima kasih semuanya.” Ujar Sarah “tapi sampai kapan
kau akan seperti ini?” Tanya Zidan “sampai aku merasa siap untuk kembali” jelas
Sarah “jangan kembali…tetaplah disisiku…”
batin Zafir yang kini mulai menyukai Sarah sebagai lelaki kepada wanita. “oiya
kudengar Sultan dari Wathaniyah ingin pasukan kita bergabung dengan pasukan
Wathaniyah.” Kata Farhad “ya..jika Sultan mengijinkan, maka apa salahnya? Di
sini kita hanya bertarung dan memenangkan pertarungan”. Jelas Zafir. “tapi…”
potong Sarah “ada apa?” Tanya Farhad, “ah tidak..hanya saja…apa kalian tahu?
Pangeran euh maksud ku sultan Wathaniyah adalah calon suamiku, tapi itu dulu.”
Jelas Sarah dengan nada datar. Suasana tiba-tiba hening, lalu
“Ha..ha,,ha..ha.aahahaaa” semua tertawa terbahak-bahak. “ha..ha..ha bercandamu
sangat berlebihan…aduh perut ku sampai sakit” ujar Zidan sambil memegang
perutnya. “ha..ha..jika raja itu calon suamimu, maka ratu Farah adalah calon
istriku” kata Farhad sambil tertawa dengan wajah memerah. “hah..sudah-sudah…aku
serius…hentikan, ini hanya membuka luka lama.” Sarah pun pergi. Zafir hanya
terdiam, ia tersadar bahwa ia hampir tak pernah bertanya darimana Sarah
berasal. Zafir mengikuti Sarah dari belakang, dan memandangnya dari kejauhan.
“astaghfirullahaladzim…ya Allah…perasaan apa ini?” Zafir dengan segera
memalingkan pandangannya dan pergi.
Keesokan
harinya, semua prajurit Masthuriyah berkumpul di depan istana Mashturiyah.
Sultan berkata di depan para panglima dan prajurit “saudara-saudara ku, hari
ini kita kedatangan seorang tamu kehormatan dari negeri Wathaniyah dengan
tujuan ingin meminta bantuan kita untuk bersama-sama melawan kedzaliman yang
telah diperbuat oleh Musailamah, demi terbentuknya sebuah hubungan persaudaraan
antara Wathaniyah dan Masthuriyah, alangkah baiknya kita ikut bergabung dalam
ekspedisi kali ini…lawan kemungkaran..Allahu Akbar…” jelas Sultan dengan
semangat. Semua pun menggemakan takbir.
Setelah
selesai, para prajurit kembali ke barak, Sarah yang kala itu bersama-sama
dengan keempat sahabatnya hendak kembali ke barak, tiba-tiba berpapasan dengan
sang Sultan dari Wathaniyah, dan itu membuat Sarah salah tingkah dan bukannya
memberi kan penghormatan, sarah malah memalingkan muka, iyu membuat Sultan
Haikan merasa heran.
Di
Istana Mashturiyah, Sultan Haikal dan Sultan Masthur baru saja selesai
melaksanakan shalat Isya berjama’ah. Sultan Mashtur membuka pembicaraan
“ma’af…di sini tidak senyaman di negerimu” , “hemh…jangan begitu, disini sangat
tenang, sekali lagi aku sangat berterima kasih atas keridloannya membantu kami
melawan Musailamah” jelas Haikal “tapi, sebenarnya negeri kami sedang mengalami
kekeringan, dan itu berimbas pada bahan pangan negeri ini…” kata Sultah Masthur
dengan agak sedih, “jangan khawatir besok pagi akan ada kiriman bahan pangan
dari kami”. “terima kasih…” kata Sultan Masthur sambil menggenggam tangan
Sultan Haikal.
Di
subuh hari, semua masih berada di Masjid melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah,
kali ini Sultan Haikal bertindak sebagai seorang imam, setelah selesai membaca
wirid, Sultan memberikan nasehat dan mengatakan bahwa orang kafir akan sangat
takut jika melihat masjid penuh dengan orang yang berjama’ah shalat shubuh sebanyak
shalat jum’ah. Semua pun menggemakan takbir dengan semangat.
Hari
sudah mulai siang, zidan yang kala itu dekat dengan perbatasan, berlari menuju
barak dan berteriak “bahan pangan sudah tiba….” Terus berlari dan
memberitahukan kepada yang lainnya. “hah..urusan makanan saja, dia sangat
gesit..” cela Qasim. Prajurit di bagi dua kelompok, yang satu membagikan pangan
ke seluruh negeri, dan yang satu lagi membuat system irigasi. Sarah dan Zidan
memilih untuk membagikan bahan pangan, sedangkan Qasim, farhad dan Zafir
memilih untuk membuat system irigasi. Pembagian pangan dipimpin langsung oleh
Sultan Masthur, dan irigasi dipimpin oleh Sultan Haikal. “wuah sudah lama
rasanya tidak memakan makanan seperti ini, aku sangat butuh buah-buahan,
akhir-akhir ini aku sembelit…he” ujar Sarah sambil memakan Jeruk, “hah…jika
suatu hari nanti aku berhenti menjadi seorang panglima, aku akan berkebun…aku
akan menanam kacang-kacangan, buah-buahan, sayur-sayuran wuaahhh itu sangat
menyenangkan…bagaimana dengan mu?” Tanya Zidan, “aku akan kembali menjadi
seorang wanita yang patuh dan berbakti kepada suaminya”, “ah iya…bagaimanapun
kau seorang wanita,”. Lalu Sultan Masthur memerintahkan prajurit yang sudah
selesai membagikan pangan, untuk membantu proses pembuatan irigasi.
***
(tatapan itu)
Sarah, Zindan bersama prajurit
lainnya pergi ke tempat pembuatan irigasi. Lagi-lagi Sarah berpapasan dengan
Sultan Haikal. Sultan Haikal hanya berlalu… “dia masih dingin seperti dulu”,
gumam Sarah “siapa yang kau maksud?” Tanya Zidan “Ah bukan siapa-siapa” sarah
mengalihkan pembicaraan.
Di malam hari ba’da isya, semua
panglima beserta kedua Sultan mengadakan rapat untuk mengatur strategi. “kita
harus tetap berada di atas bukit, bagaimana pun caranya” jelas Sultan Haikal
“jangan tertipu oleh strategi lawan, panglima Zafir, kau memimpin pasukan
pedang, panglima Zidan dan Ziyad (agak teringat)…kalian memimpin pasukan
berkuda, dan Panglima Ghaisan memimpin pasukan panah. Mungkin hanya itu yang
saya sampaikan” jelas Sultan lalu pergi. Sarah yang kala itu sedang bergegas
pulang ke barak, tiba-tiba berpapasan, dan berbeturan antara bahunya dengan
lengan Sultan Haikal, Sarah yang jelas lebih lemah pun terjatuh “Ma’afkan aku…”
kata sarah sambil agak menunduk “apa kau baik-baik saja?” Tanya Sultan Haikal.
Sarah pun menaikan tatapannya, dua pasang mata itu pun bertabrakan dan terdiam
untuk beberapa saat, sultan Haikal langsung menghentikan tatapannya itu dan
segera pergi. “ck..ck..ck..dia memang tidak berubah,dan tidak akan pernah
berubah,” Sarah kesal sendiri.
Dalam perjalan pulang menuju
pavilion, Haikal mengingat kejadian tadi dan ia teringat dengan tatapan datar,
mata yang focus melihat ke dalam matanya, garis halis yang sedikit turun dan
dikerutkan, untuk beberapa saat, haikal berbalik ke masa itu, masa dimana ia
akan segera melangsungkan pernikahan, dan tatapan agak kesal namun cenderung
datar menatap nya dengan dingin dan tak peduli, haikal pun langsung tersadar
“Sarah?” Haikal menjadi bingung sendiri, “ah mungkin ia kesakitan maka dari itu
ia menatapku seperti itu, itu tatapan yang wajar” ujar Haikal berbicara
sendiri.
Ketika
Sultan Haikal selesai membaca Mushaf Alquran, Sultan pun pergi keluar untuk
mencari udara segar ke lapang badar. Disana ia melihat seseorang yang sedang
berlatih memanah, tapi lagi-lagi meleset, sang Sultan pun merasa kesal
melihatnya, lalu Sultan menghampiri orang itu. “kau harus meluruskan tangan mu
seperti ini..(memperagakannya), lalu bagian ibu jarimu harus sejajar dengan
pipimu” papar Haikal. “lalu bagaimana jika tidak sejajar?”, Tanya Sarah “pipimu
akan terkena ekor anak panah” jelas Haikal sambil memegang panah dan mencoba
menembak ke sasaran dan…..ssssbbbb..anak panah tepat sasaran. “wuah…” sarah
terkesima… “apa kau prajurit yang membantu panglima zidan?” Tanya Haikal.
“benar…”, “bagaimana bisa kau dipercaya oleh panglima, sedangkan kau terlihat
sangat lemah”, “meskipun begitu, aku sudah mengikuti beberapa ekspedisi, dan
sampai sekarang aku masih diizinkan tetap hidup, itu artinya, aku bisa
menghadapi semuanya, bukan berarti aku agak lemah, aku bisa kalah begitu saja,
aku menggunakan otak dan sedikit keberanian ketika ditengah-tengah medan
pertempuran”, “ha..ha..ha..baik-baik…tapi apa kau berperilaku seperti ini
terhadap sultan-sultan yang lain?” Tanya Haikal agak mendesak,
“itu….euh..ma’afkan aku, aku memang agak emosional…aku pergi dulu” kata Sarah
sambil berjalan dengan cepat.. “hah…kenapa harus
begini?...sshhhh…memalukan…lebih baik aku bersembunyi sampai akhir…”, gerutu
sarah. “gaya bicara….bukankah dia itu seorang lelaki?” Haikal semakin bingung
dan berkutat di dalam pusaran pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya.
Keesokan
harinya 1000 prajurit beserta panglima, dan Sultan melaksanakan shalat shubuh
berjama’ah dan membaca do’a qunut di raka’at kedua,ba’da shalat shubuh Pasukan
yang berjumlah 1000 orang pergi menuju tanah dan bukit kosong tak berpenghuni
untuk melangsungkan perang melawan Musailamah, sesuai dengan rencana awal,
pasukan gabungan menempati atas bukit. Tak lama kemudian, pasukan Musailamah
yang jumlahnya 3 kali lipat dari pasukan gabungan tersebut tiba, dan
melangsungkan serangan nya. Pasukan panah yang dipimpin Panglima Ghaisan pun
melancarkan serangan balik dari pasukan Musailamah. Tahap kedua, pasukan
berkuda dilancarkan oleh Zidan dan Sarah. Seperti biasa, sarah hanya menunggang
kuda dengan cepat, dan cukup menggoyang-goyangkan pedangnya ke kanan, ke kiri,
ke atas, dan ke bawah, sarah masih belum berani jika ia harus menggerakan
pedang ke depan para lawan. “meskipun lawan kita banyak, tapi jika mereka
berada di bawah kita, kita bisa dengan mudah mengalahkan mereka” tegas Sultan
Haikal “Sultan…kau memang yang terbaik “ puji Sultan Masthur. Pasukan berkuda
kembali ke atas bukit, tiba-tiba Sultan Musailamah melakukan strategi, ia
memerintahkan para pasukannya untuk meninggalkan medan perang dan meninggalkan
pedang mereka di bawah bukit. “mereka sudah mundur….” Teriak salah satu
prajurit. “kejadian di perang uhud jangan sampai terulang kembali…ini adalah
siasat mereka, apapun yang terjadi, kita harus tetap berada di atas bukit,”
kata Haikal dengan gagah berani. Semua pun menuruti kata-kata Haikal.
Hari
sudah mulai petang, pasukan Musailamah tak kunjung tiba, tapi sebelum tengah
malam, pasukan gabungan itu belum juga turun dari bukit. Pasukan gabungan ini
mendirikan kemah di atas bukit dan atas perintah Sultan Haikal dan Sultan
Masthur, para prajurit silih berganti untu berjaga dan istirahat.
Di
dalam kemah, Sarah tidak berani untuk terlelap meski hanya sekejap, karena
melihat banyak sekali pria, dan jika ia tertidur, takut jika ada seseorang yang
mendekati dan mengetahui bahwa dirinya adalah seorang wanita. Sarah pun memilih
untuk berjalan-jalan ke sekeliling, dan dilihatnya di bawah bukit ada
serombongan pasukan yang hendak menyerang. Sarah pun langsung berlari dan
memberitahukan bahwa ada serangan. Karena ini terjadi begitu cepat, banyak
pasukan yang terlelap dan mati tak berdaya. Suasana tengah malam yang sangat
menggetirkan, suara takbir dimana-mana, darah berceceran, jenazah di mana-mana.
Kedua sultan pun turun tangan menghadang lawan, dan tiba lah pertempuran antara
kedua sultan. Sultan Haikal dan Sultan Musailamah. “ha.ha..ha..bocah tengik,
kau hanya memikirkan dirimu sendiri, kau lebih mementingkan tahtamu dan
menyebabkan hilangnya pasukanmu dan pasukan Masthuriyah, lebih baik kau
menyerah saja,” tekan Sultan Musailamah. Kata-kata itu benar-benar mebuat
Sultan Haikal menjadi lemah, ini adalah hal yang diinginkan oleh Sultan
Manshur. Dari kondisi inilah, Sultan Musailamah hendak membelah Sultan Haikal
mejadi dua, tapi, pedang dari Sarah maju ke depan mengenai punggung Sultan Musailamah
dan menembus jantung, Sultan Musailamah pun menghembuskan nafas terakhir. Sarah
terdiam, dan menjatuhkan pedangnya… “apa yang telah aku lakukan?”, Sultan
Haikal ikut terdiam, ia baru sadar bahwa Allah masih mengijinkan nya untuk
tetap hidup.
***
(Sesosok Wanita di Tengah Perang dan pencarian yang
hilang)
Di belakang Sarah ada seorang pasukan Musailamah
yang hendak menusuk Sarah dari belakang, namun Sultan Haikal menahannya dan
pasukan itu tak sengaja melepas sorban tutup kepala Sarah, rambut panjang berwana
coklat tua pun terurai. Sesosok wanita ditengah perang pun langsung dirasakan
oleh Sultan Haikal, untuk beberapa saat Sultan hanya terdiam, Sarah dengan
cepat menutup kepalanya dengan sorban dan melindungi rambutnya agar tidak
terlihat oleh seseorang yang bukan muhrim baginya. Sultan langsung memalingkan
wajahnya. Saat itu pula Sarah pergi dengan terburu-buru.
“Sarah…..” ucap Haikal tanpa sadar…
pasukan Manshuriyah pun mundur dan menerima; kekalahan, 300 dari 1000 pasukan
gabungan masih bisa selamat atas izin Allah dan menerima kemenangan. “Semoga
mereka diterima disisi Allah”jelas Sultan Masthur. Sepulang dari perang, semua
masyarakat melaksanakan shalat jenazah, dan mengebumikan para syuhada yang
gagah pemberani melawan kemungkaran.
Di barak, Sarah memikirkan tentang
peristiwa itu, ia merentangkan badannya di atas kursi dan hendak memejamkan
matanya, tapi bayangan bahwa ia sudah membunuh seseorang selalu datang, dan itu
membuatnya agak tertekan, meski yang dibunuhnya adalah orang kafir, tapi tetap
saja Sarah masih merasa bersalah. Karena sarah mengalami resah yang tiada
henti, Sarah melaksanakan shalat tahajud, tanpa penjagaan dari keempat
sahabatnya, sarah dengan yakin memakai murkah dan shalat, saat itu Sultan
Haikal sedang berjalan-jalan, ia melihat sesosok makhluk yang mengenakan kain
putih yang sedang terduduk memajatkan do’a kepada sang penguasa. “seorang
wanita…? Sarah…..”ujar Haikal dengan pasti, dengan tergesa-gesa Sarah
melepaskan Murkahnya, dan hanya mengenakan sorban yang hanya menutup kepalanya,
seperti seseorang yang sedang mengenakan jilbab. “apa kau benar-benar Sarah
yang selama ini aku cari?” Tanya Haikal lebih meyakinkan. Sarah hanya terdiam.
“jadi selama ini kau berada di sini?” Tanya Haikal lagi, tapi tetap saja Sarah
hanya terdiam dan pergi.
Pagi pun tiba. Karena ekspedisi telah
berhasil, Sultan Haikal beserta sisa pasukannya hendak kembali ke negeri
Wathaniyah, tapi sebelum itu Sultan mengumumkan berita. “selama ini aku mencari
seseorang yang telah lama hilang, aku hanya minta do’anya agar dia mau ikut
kembali bersama ku” jelas Haikal, dibarisan belakang Sarah terdiam dan menahan
tangis. “perlu kalian ketahui…diantara kita ada sesosok wanita yang ikut dalam
perang.” Semua kebingungan, namun Zafir, Zidan, Farhad dan Qasim sudah mengetahui
nya. “dia adalah Sarah binti Ziyadatullah yang selama ini kita kenal sebagi
Ziyad seorang pendamping panglima berkuda”. Semua menyingkir dan semua mata
tertuju pada Sarah. Semua sangat merasa heran, bingung, dan aneh bagaimana
bisa?. “tolong bawa dia” perintah Sultan Masthur kepada para dayang istana.
Ternyata Sultan Masthur sudah lebih dulu diberi tahu oleh Sultan Haikal.
Di istana Sultan Masthur, Sarah dilayani
layaknya seorang putri. “lenganmu penuh memar…”jelas seorang dayang dengan nada
miris “hemh…ini sudah biasa..”kata Sarah. “tapi bagaimana kau bisa….” Tanya
Dayang, “emh ini berawal dari kekesalan, yang berubah menjadi suatu keberanian
dan kekuatan” jelas Sarah lagi. Sarah pun mengenakan pakaian wanita dan memakai
jilbab.
Sultan Haikal pun menemui Sarah yang
kala itu sedang berada di Barak. “wuah kau sangat canti…”jelas qasim terpukau
“hemh…hanya dengan pakaian seperti ini kau bilang aku cantik?”sela Sarah. “hei
dia sangat terlihat cantik ketika dia sedang berkuda” jelas Zidan, lagi-lagi
Zafir membatin, “dari awal kau terlihat
cantik, seperti apapun dirimu, kau tetap cantik’’. “apa yang sedang kalian
bicarakan?tidak baik jika seorang wanita berada di tempat para pria”, kata
Haikal yang datang tiba-tiba. “sultan…bagaimanapun, dari awal kami sudah
mengetahui bahwa dia adalah seorang wanita”. Jelas Farhad. “apa?...baiklah
kalau begitu, apa aku boleh meminjam teman wanita kalian untuk beberapa
saat?”tanya Haikal, “tidak boleh….”jawab Zafir yang secara tiba-tiba.
“Zafir…..” desak Qasim takut. “aku hanya bercanda…silahkan..yang
mulia…teman-teman ayo kita pergi dari sini”. Mereka berempat pun pergi.
“maafkan aku…” ujar Haikal yang membuka pembicaraan, “waktu begitu lama dan
sudah berlalu, dan seperti yang kau katakan, mengenai perang, aku tak hanya sekedar
mendengar, tapi aku harus mengetahuinya,” jelas Sarah. “jadi…apa kau mau
kembali ke negeri asalmu?” Tanya Haikal, “lalu?” Sarah balik bertanya, “aku
akan memperbaiki sikapku padamu” jawab Haikal dengan tegas “jika aku menolak
dan akan tetap tinggal disini, apa jawabanmu?” Tanya Sarah, “aku akan
menunggu…”, “cchh…aneh sekali…tiba-tiba bersikap terbalik seperti ini, kenapa?
Apa kau mulai menyukaiku? Sejak kapan?”, “sejak pertama kali kita menunggang
kuda bersama, kau terlihat seperti wanita yang tangguh, dan bijaksana, tapi
karena keadaan aku harus terus meninggalkanmu, ku kira kau akan sabar
menungguku hingga akhir, tapi kau malah pulang dan…”, “aku diculik oleh
Saraqah, tapi untung saja ditengah perjalanan ada sekelompok penyamun dan
menyelamatkanku dari Saraqah dan akhirnya aku berada disini”, “aku benar-benar
minta maaf, dan…apakah kau ingin menemui ayahmu?”, “ayah?” sarah mulai
menangis. “ayahmu sakit-sakitan ketika mendengar kau menghilang, tapi dia yakin
bahwa kau masih hidup, dan pesan dari sultan terdahulu, bahwa aku harus
menikahi mu. Dan mulai sekarang, kita akan memulainya kembali dari awal.”,
“sebenarnya aku masih kesal, tapi ini sudah sangat lama, dan kau sudah berubah
meski itu hanya sedikit”, “sedikit? Maksudmu?”, “kau sering berkata seadanya dan
pergi tiba-tiba, sshhh….jujur saja aku merasa terbuang saat itu, aku terus
menunggumu, tapi sekarang kau yang berbalik menungguku.” Sarah tersenyum senang
tak percaya, dan keduanya pun saling tersenyum bahagia.
Keesokan harinya, Sultan beserta
rombongan kembali ke Wathaniyah, selang seminggu kemudian, Sultan Haikal
menjemput Sarah dan kembali bersam-sama ke negeri Wathaniyah. Sarah pun bertemu
dengan Ayahnya dan melangsungkan pernikahan dengan Sultan Haikal, dan
dinobatkan sebagi Ratu di Negeri Wathaniyah.
Ratu Sarah mendedikasikan dirinya di
dunia pendidikan, ia pun mengajar strategi berperang, dan ikut andil dalam
strategi ekspedisi perluasan wilayah. Bidang pendidikan, arsitektur, terutama
bidang militer yang sangat pesat, sehingga negeri Wathaniyah memiliki julukan
The Great Emperor yang memiliki daerah kekuasaan yang luas dan berpengaruh di
dunia militer.
5 tahun kemudian, Sarah memiliki 3 orang
anak, 2 orang perempuan dan satu orang laki-laki, zafir yang baru saja memulai
hidup barunya dengan seorang gadis yang dijodohkan oleh ayahnya, qasim yang
serius menekuni bidang ekonomi Negara, Farhad yang mendalami ilmu kemiliteran,
dan Zidan yang lebih memilih tinggal dipedesaan dan mengurus beberapa kebun
miliknya.
Setelah peristiwa itu berakhir, semua
menjadi tentram, damai dan bahagia di bawah bendera agama Allah islam Rahmatan
Lil ‘Alamin. Bahkan kini banyak pemeluk islam termasuk para pasukan Musailamah
yang selamat dari perang itu yang kini lebih memilih berada di jalan Allah.
Tamat
05 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar