Minggu, 22 Desember 2013

The Great Emperor of Wathaniyah


The great Emperor of Wathaniyyah

            Berawal dari negeri Wathaniyah, Negara timur yang berbatasan dengan Masthuriyah, Musailamah, dan Qahiroh. Acara Maulid Nabi Muhammad Saw tahun 1043 H, yang berlangsung dengan khidmat. Bacaan Barzanji dan Shalawat melengkapi kekhidmatan acara itu, alunan suara Hadlroh ikut meramaikan suasana. Tak lupa pula Nasehat dan beberapa penyampaian keagamaan dari para alim ulama demi menumbuhkan rasa cinta terhadap Nabi Muhammad Saw.
            Setelah acara selesai, para bangsawan dan rakyat biasa berbaur menjadi satu, berbagi cerita, dan berbagi hidangan. Acara ini berlangsung di Masjid Agung Whataniyah dengan melibatkan langsung para calon sarjana di seluruh penjuru negeri Wathaniyah yang damai dan makmur.
            Achmad syah adalah Sultan Wathaniyah yang ke 7, ia memiliki seorang putra yang bernama Haikal Syah. Dia adalah seorang pemuda tampan yang pemberani dan sangat berambisi untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
***
(Patah Hati)
            Di sebuah dapur istana, para calon sarjana wanita berkumpul untuk membuat hidangan. Terlihat Sarah, calon sarjana di lembaga pendidikan bersama teman-temannya berkumpul. “(Sarah menggeliat)…kapan ini berakhir?”,  “sebentar lagi…apa kau sangat lelah?(sapa Mae dengan meletakan kedua tangannya di pundak Sarah),” “iya…semalaman aku menulis tentang budaya barat. Dan apa kau tahu?...betapa merosotnya budaya barat…mereka mengenyampingkkan keagamaan, bagaimana kehidupan setelah di dunia mereka tidak tahu.” “ya benar…orang-orang timur sudah memikirkan sejak dini masalah itu, bahkan mereka menjadikan itu sebagai landasan untuk hidup dan bisa kembali kepada Allah dengan mendapatkan Ridlo dan Rahmatnya. Oiya apa kau tahu?”, “apa?”, “di madrasah….kau tahu Ali? Ali dan Maryam sedang dekat, mereka sudah dekat hampir 2 tahun.” (mae agak memicingkan matanya yang bulat itu), “benarkah? Wuah tidak bisa dipercaya…lalu bagaimana hubungan mu dengan Abdul?”,(Sarah balik bertanya), “emh…kita sudah tidak lagi berhubungan…(Mae agak menghela nafas panjang)..begini, aku bilang bahwa, dia punya impian, aku juga, kamu punya jalan, aku juga, dan untuk menempuh jalan tersebut, lebih baik kita berhenti sampai di sini…begitu.” “lalu bagaimana reaksinya?”, “awalnya dia tidak terima, tapi mau bagaimana lagi?jalan hidupku masih panjang…oiya dan apa kau tahu? Zafar, dia mengirim surat padaku..(dengan melebarkan mata untuk memberi tahu)” “ Zafar?bukankah dia teman dekat Abdul?”, “iya…”, “dulu Bayan, lalu Abdul, dan terakhir Zafar…tiga bersahabat yang menyukaimu…tapi..apa kau mengira bahwa mereka?.....(berbicara dengan hati-hati)”, “iya..aku sudah menduganya, tapi…Zafar bilang tidak, tapi aku masih agak sedikit khawatir akan merusak hubungan persahabatan mereka”. “Sarah, Mae….ayo kita makan” (suara wanita yang agak lebih tua di balik tirai mengakhiri perbincangan Sarah dan Mae)
            6 bulan dari acara itu, sudah lima lelaki yang Mae ceritakan kepada Sarah. Sarah sangat senang sekali mendengar cerita Mae yang membuatnya memiliki pengetahuan tanpa harus mengalaminya. Minggu ke 3 di bulan ke 7, Mae menceritakan bahwa dia sedang dekat dengan Farhaa, sang Rois yang menurut Sarah adalah pria tampan, sholeh, dan agak dingin. Itu membuat Sarah agak salah tingkah mendengarkan ceritannya. Sejak kedekatan itu, Sarah agak membatasi kedekatannya dengan Mae.
            Di sebuah Rumah dengan halaman depan yang luas, dan halaman belakang yang bisa berpacu kuda, siang hari yang sangat terik, sarah berlari di belakang rumahnya, lalu ada sang ayah yang menyusul seraya mengatakan “ha..ha..ha jika pemudi larinya lambat sepertimu, kakek-kakek setampan ayah bisa mengalahkanmu,” ayah terus berlari hingga pavilion. Di pavilion Sarah hanya diam, lalu ayah membuka pembicaraan “ada apa denganmu?, tapi sarah hanya menggeleng, “ ah pasti kau gagal dalam ujian?”, tapi sarah tetap menggeleng. “atau karena seorang pria?” sarah agak terkejut “emh sebenarya aku sedang patah hati…orang yang kusukai ternyata disukai oleh orang yang ku sayangi.” , “Anak muda…hemh…(menghela nafas panjang)…ah..ayah punya ide,(Ayah agak mendekat pada Sarah)..untuk mengobati patah hatimu, bagaimana kalau ayah carikan seorang pria untuk mu?bagaimana?” , “apa bisa?”, “tentu saja…besok malam ba’da isya kau berdandan secantik mungkin, kita pergi makan malam bersama.”, “kita?” , “iya ini adalah acara pertemuan keluarga.”, “baiklah…” sarah pun menyetujui nya.
            Keesokan harinya pun Sarah dan ayahnya pergi ke suatu tempat yang mirip dengan istana. “ayah…bukankah ini istana?”, Tanya sarah kebingungan. Ayah hanya tersenyum mengangguk. Sarah dan ayah nya pun memasuki ruang makan, di sana ada Sultan dan pangeran. Sarah dan Ayahnya pun di sambut. Sang sultan pun memeluk tuan Ziyad, menteri perdagangan yang jujur ala Rasulullah. Sarah hanya diam, dia sesekali melihat wajah sang pangeran, tapi ekspresinya biasa saja. Tak lama kemudian pengeran pergi. Sultan dan tuan ziyad pun membicarakan hari pertunangan yang akan dilaksanakan 2 minggu setelah pertemuan itu.
            Berita pertunangan sudah sampai ke madrasah, banyak wanita yang pingsan mendengar berita itu. Ny.Nur teman dekat Sarah langsung menyergap sarah yang kala itu baru datang. “sarah kenapa tidak bilang-bilang?”, “itu sangat mendadak…jadi aku belum sempat memberitahu kalian.” , “lalu bagaimana perasaanmu?bagaimana makan malam bersama pangeran?” Ny.Nur mendekat seolah ingin kepastian… “euh…pertama aku tidak tahu bahwa akan makan malam bersama keluarga kerajaan, aku baru tahu saat aku sampai di istanan, setelah itu, aku masuk ke ruang makan utama, di sana ada Raja dan pangeran…” , “lalu bagaimana?apa dia tampan?” potong Ny.Nur. “biasa saja…lalu ku lihat sekitar, ada lampu dari Persia yang penuh dengan berlian itu sangat indah dan membuatku terpukau, terlebih ku lihat ada permadani dari Mesir yang menyita perhatianku, dan lagi-lagi aku melihat kea rah pangeran, dan itu…masih biasa saja.” , “hah kenapa semua pria di matamu terlihat biasa?” sambung Latifah. “entahlah?” sarah masih bingung dengan mengangkatkan bahunya. “oiya kapan acara pertunangannya?” Tanya mae. “emh sekitar 2 minggu dari sekarang…tenang Kalian akan berada di baris depan…”, Sarah memeluk Mae dan Latifah yang posisinya berada di dekat Sarah.
            Waktu pun semakin dekat, satu minggu sebelum pertunangan, Haikal melancarkan ekspansinya ke daerah Malta. Dan ekspansinya itu berhasil dengan gemilang. Kegemilangan ini membuat Abul Abbas penguasa Al-Manshuriyah merasa iri. Sejak dari situlah, abul Abbas gencar mengumpulkan pasukan.




***
(pertunangan)
            Tiga hari sebelum pertunangan, Sarah dan Haikal makan siang bersama di pavilion milik tuan Ziyad di belakang Rumahnya. Sarah membuka pembicaraan “ku dengar, ekspansimu berhasil…”, “nanti kau tidak hanya sekedar mendengar, tapi kau harus mengetahuinya”, papar haikal dengan datar. “oh…baiklah…” jawab sarah dengan agak canggung. Suasana benar-benar sangat canggung, tapi haikal kembali membuka pembicaraan. “kuda-kuda itu milik siapa?”, “kuda-kuda itu milik aku dan ayahku”, “sebanyak itu?....kuda bukan hewan yang murah, hati-hati…mulai sekarang akan ada peninjauan lebih lanjut mengenai harta para menteri.” , “owh…aku tahu maksudmu…ayah ku tidak mungkin berbuat seperti itu…jadi begini, dulu ayah hanya memiliki satu kuda, yaitu pemberian sultan, lalu pada saat ke Persia, ada seorang peternak kuda yang menukarkan nya dengan barang dagangan ayah, setelah itu kuda-kuda itu di kawinkan dan memiliki banyak anak hingga sekarang, bahkan ayah sempat berencanan untuk ikut mendonasikan kuda bagi para prajurit Wathaniyah.” , “owh begitu…apa kau bisa memanah?”, “dulu iya…tapi sekarang tidak. Itu terjadi karena panah itu melukai pipiku, dan sampai sekarang bekas lukanya masih ada. Bagaimana kalau kita berpacu kuda? Ajak Sarah, dan mereka pun berpacu kuda bersama.
            Hari pertunangan pun tiba, Sarah sudah mulai memiliki rasa pada pangeran setelah kejadian kemarin. Sarah pun berdandan layaknya seorang putri, ia menggunakan gaun berwarna merah maroon yang penuh dengan kilauan-kilauan intan, dengan jilbab yang sangat indah. Teman-teman dekat Sarah berada di bangku paling depan. Acara tukar cincin pun dilaksanakan sebagai suatu simbolis. Untuk sejenak Sarah merasa sangat bahagia, tapi kebahagiaan nya hilang setelah haikal tidak menghiraukannya dan malah pergi karena ada urusan perang.
            Setelah bertunangan haikal langsung berperang dengan Sardinia, dan itu berlangsung selama 17 hari. Selama itu pula Sarah tinggal di istana. Di istana sarah belajar banyak hal, di mulai dari budaya, hingga administrasi Negara. pangeran pun pulang dengan menarik mundur para pasukannya. Ini memang sangat mengecewakan, tapi ini pangeran haikal yang mementingkan keselamatan prajuritnya agar tetap hidup.
            (Di kamar) Sarah sudah tidak betah lagi ia mundar-mandir tak karuan, lalu ada Ny.Ikrima yang memberitahukan bahwa pangeran sudah tiba, Sarah pun langsung menuju Ruang utama. Sarah serasa menemukan kembali sesosok orang yang sangat berarti baginya di Istana ini, tapi apa yang terjadi, Pangeran malah tidak menghiraukan Sarah sama sekali, dan Sarah pun agak sedikit membatin dan memilih untuk pergi. “Nyonya, jangan pertemukan aku dengan pangeran kalau bukan pangeran yang memintannya.” Jelas Sarah dengan datar, namun menyesakkan.
            Selama 2 bulan Sarah berada dalam Istana, yang ia lakukan hanya belajar, teman setianya hanya kalam, tinta, buku, dan secarik kertas. Suatu pagi, pangeran menyuruh Ikrima untuk mengajak Sarah makan pagi bersama. Sarah baru menemui pangeran, tapi perasaan kesal masih ada. Pangeran membuka pembicaraan terlebih dahulu “bagaimana kehidupan istana?”, “biasa saja,” agak menyibukan diri dengan makanan tak lama kemudian pangeran berkata “jika memang tidak cocok, kau boleh membatalkan pertunangan ini, aku akan membantumu bicara pada Sultan” , “sudah 2 bulan terakhir aku belajar bagaimana menjadi seorang istri pangeran sampai larut malam, inikah balasannya?” batin Sarah. Sarah hanya membatin dan memperlihatkan wajah kekesalannya pada pangeran. “beginikah sikap bijaksana seorang pangeran? Baiklah…aku permisi dulu,” Sarah pun pergi.
            Suatu hari Sarah hendak ingin pergi dari istana, tapi Sultan Ahmad menghembuskan nafas terakhir, 1 minggu setelah wafat nya Sultan, banyak terjadi pemberontakan, mereka memperebutkan kedudukan perdana menteri, tak hanya itu, serangan dari luar pun menimpa negeri Wathaniyah, terutama para penguasa di Manshuriyah.


*** 
(Penculikan Sarah)
            Niat Sarah untuk meninggalkan istana pun dibatalkan. Karena ia harus tetap berada di istana, dan wasiat Sultan, bahwa Pangeran harus menikah dengan Sarah binti Ziyadatullah. Sebisa mungkin Sarah berusaha untuk menenagkan hati pangeran, tapi usahanya sia-sia, pangeran lagi-lagi tak menghiraukannya. Lalu Sarah meminta izin untuk pulang, Sarah pun dipulangkan, namun karena banyak pengawal yang ikut menahan tekanan dari luar, Sarah pulang tanpa adanya pengwalan yang ketat. Sudah dua hari dua malam, Sarah tidak tidur karena menunggu pangeran kembali di medan pertempuran, dan tak memperhatikan kondisinya. Sarah pulang dengan keadaan sakit, di tengah jalan, ada sekelompok orang yang menyerang kereta yang ditumpangi oleh Sarah. Dua pengawal pun tewas, sarah pun di culik.
            Di dalam kereta ada Saraqah saudara Abul Abbas, pria yang sebenarnya tidak bisa berkelahi, tapi dia menggunakan ular untuk menyerang lawannya. Di dalam kereta Sarah hanya terlihat lelah, karena saking lelah nya, suara Sarah hampir habis, setiap kali ingin meminta tolong, Sarah mengurungkan niatnya dan hanya diam. “ha..ha..ha..calon Ratu negeri Wathaniyah sudah berada di genggaman kita…kau memang cantik, tapi ku dengar pangeran tidak pernah menghiraukan mu, jadi jangan heran kalau tidak ada yang dapat membebaskanmu dari ku….” Kata saraqah di tambah dengan desisan ular yang berada di tangan Saraqah. “jika pangeran tidak menemukanku, aku yakin Allah bersamaku.” Batin Sarah.
            Di tengah perjalanan di hutan, ada sekelompok orang penyamun yang menyatroni kereta Saraqah. Pertarungan pun berlangsung, saat itulah Sarah melarikan diri. Kelompok saraqah mampu dikalahkan oleh para penyamun yang di pimpin oleh Zafir, ia adalah pemuda pemberani, ia adalah putra kepala suku Nuran di Mashturiyah. Namun sangat senang berjudi, ia menyamun untuk membayar hutang nya pada saat kalah berjudi. Saraqah pun pingsan, dan ularnya mati. Zafir bersama teman-temannya membawa semua dari isi kereta itu. “ha..ha..ha..akhirnya hutang ku bisa terbayar” jelas Zafir kesenangan, “tapi apa ayahmu tidak akan tahu” Tanya Zidan si tambun yang gagah. “tentu tidak, jika salah seorang di antara kalian tidak ada yang memberitahukan ini pada ayahku”. “hei…lihat itu…” tunjuk Farhad ke semak belukar. Merekapun mendekat, tapi zidan agak ketakutan… “seorang wanita….” Jelas Zafir. “bagaimana ini? Aku paling tidak tega melihat wanita tergeletak tak sadarkan diri seperti ini…” kata Qasim. “kita bawa saja dia…tapi sebelumnya kita gantikan dulu pakaiannya dengan pakaian pria” jelas Zafir. “aku saja yang menggatikannya” kata Qasim dengan semangat. “hei…hargailah wanita…apalagi dia..dia bukan muhrim mu” sela Farhad.
            Mereka pun membawa Sarah ke tempat pemandian milik nenek Fatimah. Nenek Fatimah memandikan Sarah dan menggantikan pakaiannya. Setelah itu Sarah yang masih belum sadarka diri itu di bawa ke salah seorang teman mereka yang bernama Tsaqafi. Ia berprofesi sebagai tabib. Sarah pun beristirahan di rumah tsaqafi, saat Sarah sadarkan diri, sudah ada 5 Pria yang berkerumun, tentu saja itu membuat sarah kaget… “siapa kalian?” Tanya sarah ketakutan, “ kami orang yang menyelamatkanmu..” jelas Zidan sambil makan kudapan beras, “baju…siapa yang mengganti pakaianku?”, “tenang saja, yang mengganti pakaianmu adalah seorang wanita pemilik pemadian di Masthuriah”, jelas Zafir, “Masthuriyah” Sarah kebingungan.
            Keesokan harinya Sarah bersama empat orang bersahabat pergi ke pusat kota, mereka membicarakan bahwa Sarah harus memilih kembali atau pura-pura menjadi seorang pria. Tapi Sarah memilih untuk menjadi seorang pria. Rombongan pun tiba di kediaman kepala suku yang tak lain ayah dari zafir. “Ayah…perkenalkan dia….” , “Namaku Ziyad”, jelas Sarah. “kau siapa?” Tanya Kepala Suku, “euh…dia adalah seorang pengembara…kami bertemu dengan nya di perbaatasan dan kami berbincang, lalu ziyad tertarik untuk tinggal di sini.” Jelas Zafir. “berapa tempat yang sudah kau kunjungi?” Tanya Kepala Suku lagi. “Ayah…sepertinya ziyad sangat kelelahan, aku akan berbagi kamar dengannya…ayo kita ke atas…” ajak Zafir guna menghindar dari pertanyaan ayahnya.
            Keadaan Wathaniyah semakin tak terkendali, di tambah ada berita hilangnya Sarah. Pangeran pun naik tahta menjadi seorang Sultan, dan berusaha menekan serangan dari luar dan membereskan masalah intern. Di sisi lain Raja mencari tahu tentang keberadaan Sarah. Setelah satu tahun berlangsung, Saraqah datang menemui Sultan. “apa kau tau? Sarah binti Ziyadatullah ada bersama ku. Kini dia menjadi istriku, dan apa kau tau? Dia yang membocorkan strategi perang milikmu. Itulah sebabnya pasukan kami bisa dengan mudah menekan negeri Wathaniyah..ha..ha..ha”, “penghianat…bawa dia pergi…”, kata Sultan Haikal kepada para pengawalnya.
            Dua tahun berlalu, tekanan demi tekanan datang kepada Wathaniyah, di sisi lain keempat sahabat, di tambah Sarah mengikuti armada perang. Karena kepiawaian Sarah menunggang kuda, Sarah di tempatkan di barisan pasukan berkuda bersama  Farhad, sedangkan Zafir, zindan, dan Qasim ditempatkan di barisan utama. Saat pelatihan, Sarah memang agak lamban jelas saja, dia adalah seorang wanita. Tapi keempat sahabat barunya selalu mendukungnya, apalagi jika tiba waktu shalat, secara diam-diam sarah memakai mukena dan shalat di tempat tertutup yang dijaga oleh keempat sahabatnya.
            Pasukan Masthuriyah sudah mengikuti 4 ekspedisi, salah satunya ekspedisi Manshuriyah. Masturiyah melakukan ekspansi ke Manshuriyah untuk mengambil kembali hak mereka yang berupa tanah kekuasaan yang telah di klaim oleh para penguasa Manshuriyah. Hal ini terdengar langsung oleh Sultah Haikal Syah.

***
(Bergabungnya Wathaniyah dan Masthuriyah)
            Persamaan tujuan antara wathaniyah dan Masthuriyah untuk menekan Manshuriyah membuat mereka bergabung. Ini adalah ide dari Sultan.
            Seperti biasa di barak prajurit kelima sahabat berkumpul dan bercanda. “aku hampir tertusuk pedang, sebelumnya aku kekenyangan jadi gerakanku agak lambat”,kata Zidan. “kau kekenyangan, sedangkan aku lambat karena kelaparan”, kata Farhad. “setiap kali ziyad shalat saat di camp pertahanan, kenapa aku yang harus di korbankan? Sampai saat ini aku terkenal si tukang buang angin”. Kata Qasim (setiap kali sarah shalat di kamp prajurit, Zafir, Farhad, dan Zidan berada di luar dan melarang masuk ke kamp, karena kamp x sedang berbau tak sedap dan itu adalah perbuatan Qasim, sedangkan di dalam Qasim menjaga Sarah takut ada yang mengintip).. “ha..ha..ha..ma’afkan aku…tapi jujur saja.. yang membuatku tenang adalah, bukan karena masalah menang dalam perang, tapi merasa aman beribadah dan dijaga oleh kalian..terima kasih semuanya.” Ujar Sarah “tapi sampai kapan kau akan seperti ini?” Tanya Zidan “sampai aku merasa siap untuk kembali” jelas Sarah “jangan kembali…tetaplah disisiku…” batin Zafir yang kini mulai menyukai Sarah sebagai lelaki kepada wanita. “oiya kudengar Sultan dari Wathaniyah ingin pasukan kita bergabung dengan pasukan Wathaniyah.” Kata Farhad “ya..jika Sultan mengijinkan, maka apa salahnya? Di sini kita hanya bertarung dan memenangkan pertarungan”. Jelas Zafir. “tapi…” potong Sarah “ada apa?” Tanya Farhad, “ah tidak..hanya saja…apa kalian tahu? Pangeran euh maksud ku sultan Wathaniyah adalah calon suamiku, tapi itu dulu.” Jelas Sarah dengan nada datar. Suasana tiba-tiba hening, lalu “Ha..ha,,ha..ha.aahahaaa” semua tertawa terbahak-bahak. “ha..ha..ha bercandamu sangat berlebihan…aduh perut ku sampai sakit” ujar Zidan sambil memegang perutnya. “ha..ha..jika raja itu calon suamimu, maka ratu Farah adalah calon istriku” kata Farhad sambil tertawa dengan wajah memerah. “hah..sudah-sudah…aku serius…hentikan, ini hanya membuka luka lama.” Sarah pun pergi. Zafir hanya terdiam, ia tersadar bahwa ia hampir tak pernah bertanya darimana Sarah berasal. Zafir mengikuti Sarah dari belakang, dan memandangnya dari kejauhan. “astaghfirullahaladzim…ya Allah…perasaan apa ini?” Zafir dengan segera memalingkan pandangannya dan pergi.
            Keesokan harinya, semua prajurit Masthuriyah berkumpul di depan istana Mashturiyah. Sultan berkata di depan para panglima dan prajurit “saudara-saudara ku, hari ini kita kedatangan seorang tamu kehormatan dari negeri Wathaniyah dengan tujuan ingin meminta bantuan kita untuk bersama-sama melawan kedzaliman yang telah diperbuat oleh Musailamah, demi terbentuknya sebuah hubungan persaudaraan antara Wathaniyah dan Masthuriyah, alangkah baiknya kita ikut bergabung dalam ekspedisi kali ini…lawan kemungkaran..Allahu Akbar…” jelas Sultan dengan semangat. Semua pun menggemakan takbir.
            Setelah selesai, para prajurit kembali ke barak, Sarah yang kala itu bersama-sama dengan keempat sahabatnya hendak kembali ke barak, tiba-tiba berpapasan dengan sang Sultan dari Wathaniyah, dan itu membuat Sarah salah tingkah dan bukannya memberi kan penghormatan, sarah malah memalingkan muka, iyu membuat Sultan Haikan merasa heran.
            Di Istana Mashturiyah, Sultan Haikal dan Sultan Masthur baru saja selesai melaksanakan shalat Isya berjama’ah. Sultan Mashtur membuka pembicaraan “ma’af…di sini tidak senyaman di negerimu” , “hemh…jangan begitu, disini sangat tenang, sekali lagi aku sangat berterima kasih atas keridloannya membantu kami melawan Musailamah” jelas Haikal “tapi, sebenarnya negeri kami sedang mengalami kekeringan, dan itu berimbas pada bahan pangan negeri ini…” kata Sultah Masthur dengan agak sedih, “jangan khawatir besok pagi akan ada kiriman bahan pangan dari kami”. “terima kasih…” kata Sultan Masthur sambil menggenggam tangan Sultan Haikal.
            Di subuh hari, semua masih berada di Masjid melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah, kali ini Sultan Haikal bertindak sebagai seorang imam, setelah selesai membaca wirid, Sultan memberikan nasehat dan mengatakan bahwa orang kafir akan sangat takut jika melihat masjid penuh dengan orang yang berjama’ah shalat shubuh sebanyak shalat jum’ah. Semua pun menggemakan takbir dengan semangat.
            Hari sudah mulai siang, zidan yang kala itu dekat dengan perbatasan, berlari menuju barak dan berteriak “bahan pangan sudah tiba….” Terus berlari dan memberitahukan kepada yang lainnya. “hah..urusan makanan saja, dia sangat gesit..” cela Qasim. Prajurit di bagi dua kelompok, yang satu membagikan pangan ke seluruh negeri, dan yang satu lagi membuat system irigasi. Sarah dan Zidan memilih untuk membagikan bahan pangan, sedangkan Qasim, farhad dan Zafir memilih untuk membuat system irigasi. Pembagian pangan dipimpin langsung oleh Sultan Masthur, dan irigasi dipimpin oleh Sultan Haikal. “wuah sudah lama rasanya tidak memakan makanan seperti ini, aku sangat butuh buah-buahan, akhir-akhir ini aku sembelit…he” ujar Sarah sambil memakan Jeruk, “hah…jika suatu hari nanti aku berhenti menjadi seorang panglima, aku akan berkebun…aku akan menanam kacang-kacangan, buah-buahan, sayur-sayuran wuaahhh itu sangat menyenangkan…bagaimana dengan mu?” Tanya Zidan, “aku akan kembali menjadi seorang wanita yang patuh dan berbakti kepada suaminya”, “ah iya…bagaimanapun kau seorang wanita,”. Lalu Sultan Masthur memerintahkan prajurit yang sudah selesai membagikan pangan, untuk membantu proses pembuatan irigasi.
***
(tatapan itu)
            Sarah, Zindan bersama prajurit lainnya pergi ke tempat pembuatan irigasi. Lagi-lagi Sarah berpapasan dengan Sultan Haikal. Sultan Haikal hanya berlalu… “dia masih dingin seperti dulu”, gumam Sarah “siapa yang kau maksud?” Tanya Zidan “Ah bukan siapa-siapa” sarah mengalihkan pembicaraan.
            Di malam hari ba’da isya, semua panglima beserta kedua Sultan mengadakan rapat untuk mengatur strategi. “kita harus tetap berada di atas bukit, bagaimana pun caranya” jelas Sultan Haikal “jangan tertipu oleh strategi lawan, panglima Zafir, kau memimpin pasukan pedang, panglima Zidan dan Ziyad (agak teringat)…kalian memimpin pasukan berkuda, dan Panglima Ghaisan memimpin pasukan panah. Mungkin hanya itu yang saya sampaikan” jelas Sultan lalu pergi. Sarah yang kala itu sedang bergegas pulang ke barak, tiba-tiba berpapasan, dan berbeturan antara bahunya dengan lengan Sultan Haikal, Sarah yang jelas lebih lemah pun terjatuh “Ma’afkan aku…” kata sarah sambil agak menunduk “apa kau baik-baik saja?” Tanya Sultan Haikal. Sarah pun menaikan tatapannya, dua pasang mata itu pun bertabrakan dan terdiam untuk beberapa saat, sultan Haikal langsung menghentikan tatapannya itu dan segera pergi. “ck..ck..ck..dia memang tidak berubah,dan tidak akan pernah berubah,” Sarah kesal sendiri.
            Dalam perjalan pulang menuju pavilion, Haikal mengingat kejadian tadi dan ia teringat dengan tatapan datar, mata yang focus melihat ke dalam matanya, garis halis yang sedikit turun dan dikerutkan, untuk beberapa saat, haikal berbalik ke masa itu, masa dimana ia akan segera melangsungkan pernikahan, dan tatapan agak kesal namun cenderung datar menatap nya dengan dingin dan tak peduli, haikal pun langsung tersadar “Sarah?” Haikal menjadi bingung sendiri, “ah mungkin ia kesakitan maka dari itu ia menatapku seperti itu, itu tatapan yang wajar” ujar Haikal berbicara sendiri.
            Ketika Sultan Haikal selesai membaca Mushaf Alquran, Sultan pun pergi keluar untuk mencari udara segar ke lapang badar. Disana ia melihat seseorang yang sedang berlatih memanah, tapi lagi-lagi meleset, sang Sultan pun merasa kesal melihatnya, lalu Sultan menghampiri orang itu. “kau harus meluruskan tangan mu seperti ini..(memperagakannya), lalu bagian ibu jarimu harus sejajar dengan pipimu” papar Haikal. “lalu bagaimana jika tidak sejajar?”, Tanya Sarah “pipimu akan terkena ekor anak panah” jelas Haikal sambil memegang panah dan mencoba menembak ke sasaran dan…..ssssbbbb..anak panah tepat sasaran. “wuah…” sarah terkesima… “apa kau prajurit yang membantu panglima zidan?” Tanya Haikal. “benar…”, “bagaimana bisa kau dipercaya oleh panglima, sedangkan kau terlihat sangat lemah”, “meskipun begitu, aku sudah mengikuti beberapa ekspedisi, dan sampai sekarang aku masih diizinkan tetap hidup, itu artinya, aku bisa menghadapi semuanya, bukan berarti aku agak lemah, aku bisa kalah begitu saja, aku menggunakan otak dan sedikit keberanian ketika ditengah-tengah medan pertempuran”, “ha..ha..ha..baik-baik…tapi apa kau berperilaku seperti ini terhadap sultan-sultan yang lain?” Tanya Haikal agak mendesak, “itu….euh..ma’afkan aku, aku memang agak emosional…aku pergi dulu” kata Sarah sambil berjalan dengan cepat.. “hah…kenapa harus begini?...sshhhh…memalukan…lebih baik aku bersembunyi sampai akhir…”, gerutu sarah. “gaya bicara….bukankah dia itu seorang lelaki?” Haikal semakin bingung dan berkutat di dalam pusaran pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya.
            Keesokan harinya 1000 prajurit beserta panglima, dan Sultan melaksanakan shalat shubuh berjama’ah dan membaca do’a qunut di raka’at kedua,ba’da shalat shubuh Pasukan yang berjumlah 1000 orang pergi menuju tanah dan bukit kosong tak berpenghuni untuk melangsungkan perang melawan Musailamah, sesuai dengan rencana awal, pasukan gabungan menempati atas bukit. Tak lama kemudian, pasukan Musailamah yang jumlahnya 3 kali lipat dari pasukan gabungan tersebut tiba, dan melangsungkan serangan nya. Pasukan panah yang dipimpin Panglima Ghaisan pun melancarkan serangan balik dari pasukan Musailamah. Tahap kedua, pasukan berkuda dilancarkan oleh Zidan dan Sarah. Seperti biasa, sarah hanya menunggang kuda dengan cepat, dan cukup menggoyang-goyangkan pedangnya ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah, sarah masih belum berani jika ia harus menggerakan pedang ke depan para lawan. “meskipun lawan kita banyak, tapi jika mereka berada di bawah kita, kita bisa dengan mudah mengalahkan mereka” tegas Sultan Haikal “Sultan…kau memang yang terbaik “ puji Sultan Masthur. Pasukan berkuda kembali ke atas bukit, tiba-tiba Sultan Musailamah melakukan strategi, ia memerintahkan para pasukannya untuk meninggalkan medan perang dan meninggalkan pedang mereka di bawah bukit. “mereka sudah mundur….” Teriak salah satu prajurit. “kejadian di perang uhud jangan sampai terulang kembali…ini adalah siasat mereka, apapun yang terjadi, kita harus tetap berada di atas bukit,” kata Haikal dengan gagah berani. Semua pun menuruti kata-kata Haikal.
            Hari sudah mulai petang, pasukan Musailamah tak kunjung tiba, tapi sebelum tengah malam, pasukan gabungan itu belum juga turun dari bukit. Pasukan gabungan ini mendirikan kemah di atas bukit dan atas perintah Sultan Haikal dan Sultan Masthur, para prajurit silih berganti untu berjaga dan istirahat.
            Di dalam kemah, Sarah tidak berani untuk terlelap meski hanya sekejap, karena melihat banyak sekali pria, dan jika ia tertidur, takut jika ada seseorang yang mendekati dan mengetahui bahwa dirinya adalah seorang wanita. Sarah pun memilih untuk berjalan-jalan ke sekeliling, dan dilihatnya di bawah bukit ada serombongan pasukan yang hendak menyerang. Sarah pun langsung berlari dan memberitahukan bahwa ada serangan. Karena ini terjadi begitu cepat, banyak pasukan yang terlelap dan mati tak berdaya. Suasana tengah malam yang sangat menggetirkan, suara takbir dimana-mana, darah berceceran, jenazah di mana-mana. Kedua sultan pun turun tangan menghadang lawan, dan tiba lah pertempuran antara kedua sultan. Sultan Haikal dan Sultan Musailamah. “ha.ha..ha..bocah tengik, kau hanya memikirkan dirimu sendiri, kau lebih mementingkan tahtamu dan menyebabkan hilangnya pasukanmu dan pasukan Masthuriyah, lebih baik kau menyerah saja,” tekan Sultan Musailamah. Kata-kata itu benar-benar mebuat Sultan Haikal menjadi lemah, ini adalah hal yang diinginkan oleh Sultan Manshur. Dari kondisi inilah, Sultan Musailamah hendak membelah Sultan Haikal mejadi dua, tapi, pedang dari Sarah maju ke depan mengenai punggung Sultan Musailamah dan menembus jantung, Sultan Musailamah pun menghembuskan nafas terakhir. Sarah terdiam, dan menjatuhkan pedangnya… “apa yang telah aku lakukan?”, Sultan Haikal ikut terdiam, ia baru sadar bahwa Allah masih mengijinkan nya untuk tetap hidup.



***
(Sesosok Wanita di Tengah Perang dan pencarian yang hilang)
Di belakang Sarah ada seorang pasukan Musailamah yang hendak menusuk Sarah dari belakang, namun Sultan Haikal menahannya dan pasukan itu tak sengaja melepas sorban tutup kepala Sarah, rambut panjang berwana coklat tua pun terurai. Sesosok wanita ditengah perang pun langsung dirasakan oleh Sultan Haikal, untuk beberapa saat Sultan hanya terdiam, Sarah dengan cepat menutup kepalanya dengan sorban dan melindungi rambutnya agar tidak terlihat oleh seseorang yang bukan muhrim baginya. Sultan langsung memalingkan wajahnya. Saat itu pula Sarah pergi dengan terburu-buru.
“Sarah…..” ucap Haikal tanpa sadar… pasukan Manshuriyah pun mundur dan menerima; kekalahan, 300 dari 1000 pasukan gabungan masih bisa selamat atas izin Allah dan menerima kemenangan. “Semoga mereka diterima disisi Allah”jelas Sultan Masthur. Sepulang dari perang, semua masyarakat melaksanakan shalat jenazah, dan mengebumikan para syuhada yang gagah pemberani melawan kemungkaran.
Di barak, Sarah memikirkan tentang peristiwa itu, ia merentangkan badannya di atas kursi dan hendak memejamkan matanya, tapi bayangan bahwa ia sudah membunuh seseorang selalu datang, dan itu membuatnya agak tertekan, meski yang dibunuhnya adalah orang kafir, tapi tetap saja Sarah masih merasa bersalah. Karena sarah mengalami resah yang tiada henti, Sarah melaksanakan shalat tahajud, tanpa penjagaan dari keempat sahabatnya, sarah dengan yakin memakai murkah dan shalat, saat itu Sultan Haikal sedang berjalan-jalan, ia melihat sesosok makhluk yang mengenakan kain putih yang sedang terduduk memajatkan do’a kepada sang penguasa. “seorang wanita…? Sarah…..”ujar Haikal dengan pasti, dengan tergesa-gesa Sarah melepaskan Murkahnya, dan hanya mengenakan sorban yang hanya menutup kepalanya, seperti seseorang yang sedang mengenakan jilbab. “apa kau benar-benar Sarah yang selama ini aku cari?” Tanya Haikal lebih meyakinkan. Sarah hanya terdiam. “jadi selama ini kau berada di sini?” Tanya Haikal lagi, tapi tetap saja Sarah hanya terdiam dan pergi.
Pagi pun tiba. Karena ekspedisi telah berhasil, Sultan Haikal beserta sisa pasukannya hendak kembali ke negeri Wathaniyah, tapi sebelum itu Sultan mengumumkan berita. “selama ini aku mencari seseorang yang telah lama hilang, aku hanya minta do’anya agar dia mau ikut kembali bersama ku” jelas Haikal, dibarisan belakang Sarah terdiam dan menahan tangis. “perlu kalian ketahui…diantara kita ada sesosok wanita yang ikut dalam perang.” Semua kebingungan, namun Zafir, Zidan, Farhad dan Qasim sudah mengetahui nya. “dia adalah Sarah binti Ziyadatullah yang selama ini kita kenal sebagi Ziyad seorang pendamping panglima berkuda”. Semua menyingkir dan semua mata tertuju pada Sarah. Semua sangat merasa heran, bingung, dan aneh bagaimana bisa?. “tolong bawa dia” perintah Sultan Masthur kepada para dayang istana. Ternyata Sultan Masthur sudah lebih dulu diberi tahu oleh Sultan Haikal.
Di istana Sultan Masthur, Sarah dilayani layaknya seorang putri. “lenganmu penuh memar…”jelas seorang dayang dengan nada miris “hemh…ini sudah biasa..”kata Sarah. “tapi bagaimana kau bisa….” Tanya Dayang, “emh ini berawal dari kekesalan, yang berubah menjadi suatu keberanian dan kekuatan” jelas Sarah lagi. Sarah pun mengenakan pakaian wanita dan memakai jilbab.
Sultan Haikal pun menemui Sarah yang kala itu sedang berada di Barak. “wuah kau sangat canti…”jelas qasim terpukau “hemh…hanya dengan pakaian seperti ini kau bilang aku cantik?”sela Sarah. “hei dia sangat terlihat cantik ketika dia sedang berkuda” jelas Zidan, lagi-lagi Zafir membatin, “dari awal kau terlihat cantik, seperti apapun dirimu, kau tetap cantik’’. “apa yang sedang kalian bicarakan?tidak baik jika seorang wanita berada di tempat para pria”, kata Haikal yang datang tiba-tiba. “sultan…bagaimanapun, dari awal kami sudah mengetahui bahwa dia adalah seorang wanita”. Jelas Farhad. “apa?...baiklah kalau begitu, apa aku boleh meminjam teman wanita kalian untuk beberapa saat?”tanya Haikal, “tidak boleh….”jawab Zafir yang secara tiba-tiba. “Zafir…..” desak Qasim takut. “aku hanya bercanda…silahkan..yang mulia…teman-teman ayo kita pergi dari sini”. Mereka berempat pun pergi. “maafkan aku…” ujar Haikal yang membuka pembicaraan, “waktu begitu lama dan sudah berlalu, dan seperti yang kau katakan, mengenai perang, aku tak hanya sekedar mendengar, tapi aku harus mengetahuinya,” jelas Sarah. “jadi…apa kau mau kembali ke negeri asalmu?” Tanya Haikal, “lalu?” Sarah balik bertanya, “aku akan memperbaiki sikapku padamu” jawab Haikal dengan tegas “jika aku menolak dan akan tetap tinggal disini, apa jawabanmu?” Tanya Sarah, “aku akan menunggu…”, “cchh…aneh sekali…tiba-tiba bersikap terbalik seperti ini, kenapa? Apa kau mulai menyukaiku? Sejak kapan?”, “sejak pertama kali kita menunggang kuda bersama, kau terlihat seperti wanita yang tangguh, dan bijaksana, tapi karena keadaan aku harus terus meninggalkanmu, ku kira kau akan sabar menungguku hingga akhir, tapi kau malah pulang dan…”, “aku diculik oleh Saraqah, tapi untung saja ditengah perjalanan ada sekelompok penyamun dan menyelamatkanku dari Saraqah dan akhirnya aku berada disini”, “aku benar-benar minta maaf, dan…apakah kau ingin menemui ayahmu?”, “ayah?” sarah mulai menangis. “ayahmu sakit-sakitan ketika mendengar kau menghilang, tapi dia yakin bahwa kau masih hidup, dan pesan dari sultan terdahulu, bahwa aku harus menikahi mu. Dan mulai sekarang, kita akan memulainya kembali dari awal.”, “sebenarnya aku masih kesal, tapi ini sudah sangat lama, dan kau sudah berubah meski itu hanya sedikit”, “sedikit? Maksudmu?”, “kau sering berkata seadanya dan pergi tiba-tiba, sshhh….jujur saja aku merasa terbuang saat itu, aku terus menunggumu, tapi sekarang kau yang berbalik menungguku.” Sarah tersenyum senang tak percaya, dan keduanya pun saling tersenyum bahagia.
Keesokan harinya, Sultan beserta rombongan kembali ke Wathaniyah, selang seminggu kemudian, Sultan Haikal menjemput Sarah dan kembali bersam-sama ke negeri Wathaniyah. Sarah pun bertemu dengan Ayahnya dan melangsungkan pernikahan dengan Sultan Haikal, dan dinobatkan sebagi Ratu di Negeri Wathaniyah.
Ratu Sarah mendedikasikan dirinya di dunia pendidikan, ia pun mengajar strategi berperang, dan ikut andil dalam strategi ekspedisi perluasan wilayah. Bidang pendidikan, arsitektur, terutama bidang militer yang sangat pesat, sehingga negeri Wathaniyah memiliki julukan The Great Emperor yang memiliki daerah kekuasaan yang luas dan berpengaruh di dunia militer.
5 tahun kemudian, Sarah memiliki 3 orang anak, 2 orang perempuan dan satu orang laki-laki, zafir yang baru saja memulai hidup barunya dengan seorang gadis yang dijodohkan oleh ayahnya, qasim yang serius menekuni bidang ekonomi Negara, Farhad yang mendalami ilmu kemiliteran, dan Zidan yang lebih memilih tinggal dipedesaan dan mengurus beberapa kebun miliknya.
Setelah peristiwa itu berakhir, semua menjadi tentram, damai dan bahagia di bawah bendera agama Allah islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Bahkan kini banyak pemeluk islam termasuk para pasukan Musailamah yang selamat dari perang itu yang kini lebih memilih berada di jalan Allah.
Tamat
05 April 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar